Search This Blog

Pengalaman dengan Mimpi


Setahun terakhir aku mengendalikan mimpi. Bukan daydream, tapi dream when we're sleeping. Mimpi secara sadar. Ini serius karena aku tidak pandai melawak. Bagi mereka yang menekuni dunia kreatif, seni, dan imajinasi, aku tidak heran jika mereka punya pengalaman dengan mimpi. Konon Stephanie Mayer membuat novel fantasinya karena sebuah alam pikirannya dalam mimpi. Jangan kaget, toh mimpi juga hasil kerja otak. Alam pikiran dihasilkan oleh gelombang otak dan gelombang otak memiliki beberapa tingkatan. Gelombang beta: waspada, konsentrasi. Gelombang alfa: kreatifitas, relaksasi, visualisasi. Gelombang tetha: relaksasi mendalam, meditasi, peningkatan memori. Gelombang delta: penyembuhan, tidur sangat nyenyak. Gelombang gamma: aktivitas mental yang sangat tinggi. Ada lagi yang lebih tinggi, hypergamma dan lambda. Menurut Dr, Jeffrey D. Thompson dari Center for Acoustic Research (di artikel lain dia dikatakan dari Neuroacoustic Research), gelombang hypergamma dan lambda berhubungan dengan kemampuan supranatural dan metafisika. Dia juga mengatakan bahwa ada frekuensi terendah di bawah delta, yaitu frekuensi epsilon yang juga sangat mempengaruhi aktifitas mental seseorang.

Maaf jika pembahasan di atas tidak menarik, aku memang baru selesai membaca buku berjudul Gelombang. Dan mungkin pembahasan di bawah lebih tidak menarik lagi untukmu. Aku sudah memberitahu.

Biarkan aku ceritakan dulu pengalaman mimpiku, yang sebagian besar sudah kulupakan karena aku jarang menganggap mimpi-mimpi penghias tidur itu penting. Ini pertama kalinya aku bercerita tujuh halaman A4 hanya mengenai mimpi, yeah, maksudku bunga tidur.

Kita awali dengan ... darimana aku belajar berimajinasi.

Aku membaca buku cerita sendiri sejak umur 4 tahun. Senang menonton teve, tentu saja. Bolak-balik ke perpustakaan yang terletak di kantor guru. Karena bosan dengan buku cerita, umur segitu aku sudah baca novel. Kebanyakan novel islami milik kakak dan kakak sepupu. Tapi sepertinya aku pernah kecolongan baca novel berat, aku lupa novel apa, yang jelas isinya agak roman. Ketika nonton film kartun pun kerjaanku memperhatikan dialog dan menulisnya ulang. Untuk apa? Untuk aku baca ulang. Kebiasaan yang agak kurang kerjaan memang. Lazimnya anak kecil, aku selalu main drama-dramaan dengan kakakku. Teh Rahmi/Ami. Kadang adik bungsuku ikutan kalau sedang tak rewel. Akhirnya jika aku dan teman-teman SD sedang bermain, aku selalu menjadi orang yang mengatur drama-dramaan, siapa yang jadi siapa, ceritanya seperti apa. Waktu itu aku sedang sering menonton film horor yang dibintangi Suzanna, jadi kami pun sering bermain cerita horor. Cerita semacam sumur berdarah misalnya karena SD kami dekat dengan sumur ...

Aku sudah menulis sejak SD. Maksudku mengarang-ngarang cerita. Sampai habis tiga buku tulis. Semuanya bertema persahabatan karena saat itu aku sering menonton Amigos. Karena aku dan Teh Ami pisah rumah ketika SD, aku sering berkirim surat dan menceritakan pengalamanku. Beberapa kadang diceritakan secara berlebihan. Selain itu, aku sering berangkat mengaji sambil melamun. Percayalah, aku pendiam meski menurut teori aku ekstrovert. Dan pada lamunan-lamunan itulah, mungkin lazimnya anak kecil seumuranku, aku menciptakan teman imajiner yang aku sebut "Puteri Ahulmah". Bayangkan seorang anak SD berangkat mengaji magrib dan pulang isya sambil ngobrol sendiri dalam hati dengan teman imajinasinya. Makanya dari kecil aku tidak begitu takut gelap dan terbiasa jalan sendiri. Juga ... bergumam sendiri, tentu saja. Maaf jika ini terdengar aneh. Saat itu aku berpikir anak-anak lain juga pasti melakukannya jika sedang sendirian.

Tentu saja jika sedang bermain aku menggunakan daya imajinasiku. Kalian juga pasti begitu ketika kecil. Menganggap pohon adalah monster yang menyamar. Rumah bisa bergerak dan berlayar seperti perahu. Bulan adalah mata-mata yang menguping pembicaraanmu dengan teman imajinasimu. Lantai menjadi sarang buaya yang tidak boleh diinjak. Hingga spiteng menjadi sudut penyelamat ketika bermain penjahat-penjahatan di kamar mandi. Aku tidak tahu bahwa ketika tidur dan bermimpi, otak masih bekerja seperti saat tersadar, bahkan lebih liar karena gelombangnya melemah.

Pengalaman mimpiku yang kuingat adalah saat di Cicalengka, umuran SD. Lupa persisnya kapan. Tapi pengalaman itu tidak akan pernah aku lupakan. Mungkin ada pengalaman-pengalaman yang lain, tapi itu yang paling diingat. Aku mengalami lucid dream, mimpi sadar, sepertinya begitu. Mimpinya biasa saja, tidak seram, namun entah kenapa aku sadar bahwa aku sedang bermimpi. Berkali-kali aku mengingatkan diri sendiri bahwa terakhir kali yang terjadi padaku adalah aku tengah tertidur di kursi ruang tamu dan kejadian yang sedang berlangsung ini tidak nyata. Aku sedang bermimpi.

Saat itu aku berniat untuk bangun. Ini mimpi. Aku harus bangun. Lalu aku merasa diriku terbangun dari tidur, bangun dari kursi, lalu menuju pintu ruang tamu hendak keluar. Aneh, untuk apa aku ke pintu depan? Aku sedang apa? Mau kemana? Sial. Aku masih dalam mimpi. Lalu aku menguatkan diriku berkali-kali untuk bangun dan aku merasa diriku bangun, kembali berjalan. Kali ini menuju jendela ruang tamu. Rasanya aneh. Payah. Aku masih bermimpi. Entah berapa kali pola itu berulang, lima kali, mungkin enam. Sampai rasanya capek dan kepalaku pusing. Aku tidak ingat saat itu bagaimana caranya aku terbangun. Sepupuku pernah bercerita bahwa dia pernah merasakan, you know ... eureup-eureupan, itu semacam ditindih bayangan hitam dalam mimpi dan membuat kita sesak dan sulit bangun. Saat itu aku sedikit lega bahwa yang aku alami hanya 'susah bangun' ketika sadar sedang bermimpi. Tidak ada itu si bayangan hitam.

Masih ketika umuran SD, ketika aku sedang ada di Garut, pagi-pagi ibuku bercerita semalam aku sleep walking. Tentu ibuku tidak pakai istilah itu, dia bilang aku 'ngalindur', berjalan dari kamar ke ruang tamu dan memanggil-manggil sepupuku. Aku kira hal itu wajar, ibuku juga tidak mempermasalahkannya, meski aku merasa agak ajaib karena aku tidur sambil berjalan atau berjalan-jalan dalam tidur. Seharusnya itu direkam. Aku ingin lihat. Karena kejadian lucid dream dimana aku menghampiri pintu keluar di ruang tamu dan juga sleep walking dimana aku berjalan ke pintu ruang tamu juga, aku punya kesimpulan asal, ternyata aku yang ada di dalam mimpi adalah seorang anak yang menyimpan keinginan untuk keluar rumah. Mungkin, itu hanya asumsiku.

Menjelang umur belasan, aku menghindari film horor karena hal itu sangat mengganggu dalam mimpi. Kalian pasti sering mendengar bahwa orang yang sudah menonton film horor selalu terbayang-bayang dalam mimpi. Atau kalian juga sering mengalaminya? Maka bayangkanlah ketika seseorang yang suka berimajinasi mendadak kepalanya penuh dengan hal-hal horor. Itu akan jadi teror. Ditambah jika dalam mimpi itu tetap menjadi teror yang nyata. Aku pernah bermimpi dikejar vampir China yang meloncat-loncat dan berlari mengelilingi rumah di Cicalengka. Zaman saya SD film vampir China sering gentayangan di teve. Dalam mimpiku aku ingat bahwa cara terjitu dikejar vampir adalah menahan nafas. Maka aku menahan nafas, berlari, menahan nafas lagi, bertemu vampir, berlari lagi, menahan nafas. Sampai akhir usahaku menahan nafas, aku ingat bahwa ini hanyalah mimpi, seharusnya aku tidak mati dalam mimpi. Tapi aku lebih baik mati menahan nafas dalam mimpi daripada mati digigit vampir dalam mimpi. Aku berpikir setelah aku mati di dalam mimpi, aku pasti akan bangun karena cerita tamat. Lantas aku terus menahan nafas sampai rasanya kepalaku pusing dan otakku memberitahuku bahwa aku sedang benar-benar menahan nafas ... saat aku bangun seketika aku langsung ngos-ngosan. Menyebalkan. Ngapain aku nahan nafas sebegini lama ketika tidur.

Ternyata bukan hanya film horor yang seharusnya aku hindari, tapi juga action. Entah sudah berapa kali aku mimpi dikejar orang. Dari mulai dikejar penjahat sampai aku yang menjadi penjahat. Seharusnya tidak secapek itu dikejar-kejar orang dalam mimpi jika bukan karena semua emosi yang aku rasakan sangat jelas, bahkan semua adegan, semua alur, semua figur mimpi. Rasa takut, cemas, marah, bingung, sampai kehabisan nafas rasanya nyata. Sial. Bisa berimajinasi dengan detail sangat berguna ketika menulis novel, tapi kalau sampai mimpi pun dibuat serasa nyata itu sungguh sangat amat mengganggu. Sampai sekarang aku menonton film action hanya jika jalan ceritanya bagus, tapi tetap saja rasanya ingin memprotes jika ada adegan kejar-kejaran. Harry Potter dikejar pelahap maut. Katnis Everdeen dikejar pemain hunger games lainnya. Frodo dikejar anak buah Sauron. Four dikejar mogadore. Trish dikejar anti-divergent. Jack Sparrow dikejar Davy Jones.

Lalu siapa yang memburuku di alam mimpi? Imajinasiku sendiri. Kita tahu bahwa mimpi adalah hasil dari gelombang otak (brainwave) dan gelombang otak itu tidak hanya menunjukan kondisi pikiran dan tubuh seseorang, tetapi juga distimulasi oleh kondisi mental dan emosional. Ketika tertidur dan bermimpi, yang bertanggung jawab mengatur gelombang otak kita adalah gelombang alfa. Aku bisa mengingat mimpi-mimpiku karena kualitas gelombang alfa yang baik. Trims, Alfa, tapi lain kali jika aku bermimpi buruk segera buat aku lupa isi mimpi itu.

Hal paling menyebalkan ketika bermimpi adalah kamu sadar bahwa itu mimpi tapi kamu tidak bisa bangun. Aku selalu khawatir tragedi 'susah bangun' ketika aku SD kembali terulang. Maka aku selalu membiarkan adegan kejar-kejaran di mimpi berlanjut daripada frustasi karena nggak bangun-bangun.

Ketika masuk pesantren aku jarang mengalami mimpi aneh. Mungkin karena aku jarang ketiduran menjelang tidur panjang, yang mana jadi lupa berdoa dan tak sempat wudhu. Mimpi-mimpi masih ada, tapi tak semengganggu ketika SD. Hanya saja aku pernah mengalami kejadian aneh ketika tidur. Tepatnya ketiduran. Saat itu Kamis malam, kami semua berkumpul di asrama bawah untuk menonton teve. Setiap kamis sore sampai Jumat sore kami dikasih pinjam teve oleh ibu asrama. Aku yang nggak kebagian tempat duduk nekat naik lemari, menyimpan kerudung di sampingku untuk persiapan ke kamar mandi sebelum tidur. Aku tidak sadar kalau aku ketiduran sampai keesokan harinya ketika bangun aku sudah ada di asrama atas, dengan kasur lipat yang sudah jadi alas, bantal dan selimut, tak lupa kerudungku tersimpan rapi di pinggir bantal. Lalu aku mendapat cerita dari temanku bahwa semalam mati lampu dan seisi asrama bubar jalan dengan memakai senter. Bagaimana ceritanya aku bisa turun dari lemari dan berpindah dari asrama ke bawah ke asrama atas tidak ada yang tahu. Aku juga tidak tahu. Tidak ingat. Kemungkinan logisnya satu, aku sleep walking lagi.

Namun aku tidak pernah mengalami lucid dream lagi. Aku juga hampir menganggap mimpiku biasa saja. Mimpi horor dan kejar-kejaran sudah biasa. Lagipula aku sudah terbiasa membaca doa sebelum tidur. Bukan doa pendek bismika allahuma ahya wa amut. Aku membaca doa panjang yang diajarkan ketika di asrama, allahuma aslamtu nafsii ilaika, wa wajjahtu wajhi ilaika, wa fawwadtu amri ilaika, wa alja'tu zahri ilaika, rogbatan warohbatan ilaika, laa maljaa'a, walaa manja minka ila ilaika, aamantu bikitaabikallazi anzalta wanabiyyika llazi arsalta. Tentu saja berdoa sebelum tidur membuat kita lebih tenang, gelombang yang terpancar ketika kita sedang mengantuk penuh dengan doa pengharapan.

Ketika memasuki masa aliyah tidak ada gangguan mimpi yang aku ingat. Hanya saja ada mimpi bertemakan sama yang aku benci. Aku pernah pindah-pindah sekolah ketika tahun 2007-2008. Dari Soreang, aku ke Tarogong, balik lagi ke Soreang, lalu pindah lagi ke aliyah di Garut. Sejak saat itu aku sering bermimpi kembali pada adegan dimana aku pindah sekolah lagi ke Soreang, berkali-kali mimpi itu datang sejak aliyah, bahkan sampai aku masuk kuliah. Pernah aku bermimpi dimana aku balik lagi sekolah ke Soreang dan aku merasa heran sendiri karena aku sudah kuliah di Unpad. Akhirnya dalam mimpi tersebut aku sekolah lagi di Soreang sekaligus jadi mahasiswa Unpad. Rasanya jengah.

Ternyata gelombang otak tidak hanya berfungsi menjadikan daya imajinasku menjadi baik, tapi juga membuat otakku menyimpan emosi-emosi dalam kenangan yang tidak aku suka. Lalu kenangan itu muncul dalam mimpi. Maaf, tapi aku harus katakan bahwa itu menyebalkan.

Lantas bagaimana ketika aku kuliah? Mimpi-mimpi berpola kembali ke masa lalu masih ada sampai aku kuliah. Sepertinya aku dihantui oleh rasa bersalah pada masa laluku sendiri sehingga aku kembali lagi dan lagi kesana. Hanya saja aku mulai tidak sadar bahwa aku sedang bermimpi.

Namun ada mimpi yang lebih mengganggu lagi dari sekedar kembali ke masa lalu. Mimpi yang berisi emosi-emosi negatif selama aku di BEM. Puncaknya adalah ketika aku sedang di Cicalengka, aku bermimpi bersama temanku di BEM dikejar orang dengan pistol. Aku mengenal orang tersebut. Orang yang kehadirannya saja mampu membuatku ingin tenggelam menembus lantai Sekre. Mungkin ini terdengar konyol, seharusnya ini mimpi biasa saja karena aku sudah biasa mimpi dikejar orang. Tapi dalam mimpi itu aku begitu takut dan panik sampai ketika terbangun aku menangis histeris. Sejak saat itu aku merasa BEM bisa membuatku tidak waras.

Selama itu pula aku hampir mengalami sulit tidur. Bukan insomnia. Hanya tidur yang kurang berkualitas. Aku masih bisa tidur tapi tidak bisa cepat jika sebelumnya otakku baru saja bekerja maksimal. Misalnya baru mengurusi Proker, mengerjakan resume tutorial, menulis. Yang paling menguras gelombang otak sebenarnya menulis. Maksudku berimajinasi, you know ... mengarang-ngarang. Akhirnya aku belajar 'memaksa tidur'. Aku tidak bisa tidur dengan musik. Bunyi-bunyian malah akan membuatku tersadar. Aku memaksa tidur dengan ... tidur. Memejamkan mata bermenit-menit, sampai aku sering berpikir dalam tidur. Apakah aku sudah tidur? Belum? Aku masih mengoceh dalam pikiran. Apa aku masih tersadar? Atau sudah tidur? Suara apa itu? Ah, kenapa aku tidak tidur-tidur? Dan aku tahu jika aku membuka mata maka aku gagal.

Menghitung domba dalam hati malah membuatku terjaga. Membaca adalah aktivitas dengan lampu terang, aku harus tidur tanpa cahaya. Membaca doa-doa lain membuat pikiranku sama sibuknya.  Maka yang aku lakukan ketika memejamkan mata tidak terlalu sukses membuatku tidur adalah menenangkan pikiranku. Aku memberi sugesti kepada pikiranku sendiri untuk berhenti membuat otakku bekerja. Awalnya aku memakai teknik melamun. Setidaknya melamun membuat otakku lebih ringan daripada mengingat hasil rapat tadi sore atau isi resume besok pagi. Namun lamunanku sering berlanjut dalam mimpi. Itu membuatku jadi merasa tidak tidur sama sekali. Akhirnya aku memakai teknik lain, mengosongkan diriku sendiri.

Kamu sering lihat di teve bagaimana roh manusia terangkat dari jasadnya ketika bermimpi. Itu yang aku rasakan. Awalnya hanya otak/pikiran. Aku berusaha mengosongkan pikiranku dengan cara meninggalkannya. Itu seperti ... otakmu menggoda untuk bekerja dan kamu mengabaikannya. Kamu berfokus pada pikiranmu tapi untuk mengusir apa yang sedang nangkring disana. Aku tidak pernah dihipnotis jadi tidak tahu bagaimana rasanya mengosongkan pikiran. Tapi dalam proses mengendalikan gangguan mimpi itu aku tahu rasanya seperti ... kosong. Mesin-mesin yang memberati otak kita diangkat dan itu ditandai dengan kepalamu yang merasa ada badai kecil di otak, lalu berdenyut pelan di kepala bagian atas telinga, dibantu dengan bola mata yang berputar cepat ke dalam (mungkin ini namanya Rapid Eye Movement atau REM dan aku sering merasakan REM secara sadar). Selanjutnya aku akan merasakan tubuhku merinding, bukan merinding kedinginan, tapi seperti ada udara halus yang terangkat dari tubuhku. Saat itulah aku tahu bagaimana rasanya seperti roh terangkat dan melumpuhkan. Saat proses itu terjadi, jika aku berinisiatif gerak sedikit saja maka proses menuju tidur akan gagal. Aku akan tersadar. Tidak mudah menahan diri untuk tidak bergerak saat proses sadar tak sadar itu berlangsung, aku merasa pegal sekaligus tak nyaman, ingin segera tak sadar tapi masih sadar.

Begitulah yang aku alami selama kuliah. Proses tidur paksa. Maka aku tidak heran jika beberapa orang selalu menganggap mukaku terlihat pucat.

Sampai pada suatu ketika aku mengoceh tentang mimpi di twitter, salah satu teman aktivisku dari UPI memberitahuku mengenai film Inception yang sepertinya bisa menjelaskanku mengenai gangguan mimpi. Saat itu aku langsung mencari film tersebut. Aku butuh kemungkinan, meski itu tidak masuk akal. Dan dari film itulah aku tahu mengenai lucid dream.

Penjelasan singkatnya, lucid dream atau mimpi sadar adalah kondisi dimana kamu menyadari bahwa kamu sedang bermimpi. Tentu saja itu membuatku ingat dengan pengalamanku ketika SD dan juga mimpi-mimpi yang seolah nyata dimana ketika terbangun aku merasa baru saja dilempar dari dimensi lain dan mengalami semua kejadian di mimpi secara nyata. Akhirnya aku mempelajari lucid dream, membaca berbagai artikel mengenai mimpi. Tidak, aku tidak gila. Tidak mengalami gangguan tidur berlebihan. Aku hanya terlalu antusias untuk mengetahui apa yang terjadi pada diriku yang mungkin juga terjadi pada banyak orang.

Maka sejak saat itu aku belajar menguasai tidur dan mimpiku. Aku juga menghindari emosi-emosi yang berlebih karena hal itu akan mengejar-ngejarku di alam mimpi. Seperti saat aku selalu menghindari satu dosen dan merasa apes karena beliau menyandera nilaiku di semester lima, karena firasatku tidak enak aku selalu menghindari dosen tersebut sampai aku hampir tidak bisa yudisium karena tidak ada nilai darinya. Aku sadar aku agak keterlaluan, seharusnya aku menemuinya di semester lima tapi aku baru menemuinya di semester delapan. Setahun setengah aku menghindari dosen tersebut, selama itu pula dia menjadi mimpi burukku.

Itulah kenapa aku semakin berusaha keras menjadi anak baik, tanpa konflik, tanpa beban pikiran berlebih, tanpa emosi berlebih. Lebih karena aku menjaga diriku sendiri dari ... dari pikiran-pikiranku sendiri.


Maaf, tulisan ini bersambung karena aku merasa lapar. Aku bilang juga apa, menulis selalu menjadi pekerjaan yang menguras otak lebih besar. Dan selain belajar mengendalikan mimpi, aku sudah belajar mengendalikan lapar sejak SD. Jadi, jika aku merasa lapar berarti aku benar-benar sangat lapar. Tentu saja, sudah dua hari aku tidak menyentuh nasi ...

Bersambung.

Hidup Begini Adanya


Catatan ini aku tulis atas permintaan kawanku yang telah bercerita panjang lebar mengenai hidupnya tapi tidak aku respon sama sekali. Akhirnya dia memintaku menulis agar dia tahu apa yang harus dia lakukan. Aku katakan bahwa kemungkinan besar tulisanku tetap tidak akan memberikan solusi apa-apa tapi katanya tidak masalah, setidaknya dia tahu apa yang aku pikirkan. Lalu karena aku sudah panjang-panjang menulis, aku rasa aku share saja disini. Siapa tahu berguna.

--------

“… Lately I’ve been, I’ve been losing sleep
Dreaming about the things that we  could be …”
(Counting Stars - One Republic)

Akhir-akhir ini beberapa undangan pernikahan tidak aku datangi karena tak sempat. Undangan dari adik asuhku di SMA. Teman sekelasku di SMP. Teman SD-ku. Seniorku di Fkep Unpad. Dalam satu bulan ada lima undangan. Dan ada undangan yang ke-6. Adik dari kawan lamaku di Garut. Mendadak, diundang sehari sebelumnya.

Sampai jam 12 siang aku masih berada di Bandung. Ketika jam 2 siang aku harus berangkat ke rumah Kakak ke-1 di Garut, aku pikir sekalian saja. Toh dari rumah kawanku itu ke rumah kakakku hanya 15 menit. Satu pesan aku kirimkan, “Aku masih boleh datang kesana jam segini?”

Dia mengiyakan. Akhirnya aku datang sendirian. Beberapa saat benar-benar disana sendirian karena kawanku pergi bolak-balik mengurusi ini itu. Untungnya aku sudah mengenal keluarganya, meski sudah lama sekali. 2-3 tahun yang lalu. Sampai ibunya mengerutkan kening melihatku.

“Bentar, ini teh siapa?” Dia bertanya, melirik suaminya. “Perasaan kenal, tapi siapa?”

Aku tertawa ramah. “Sarah, Bu.”

“Oh, astaghfirulloh! Sarah … ! Iya, ini teh Sarah. Kenapa makin kecil?” Spontan dia memelukku erat, seperti bertemu anaknya yang hilang bertahun-tahun.

Untungnya adiknya masih mengingatku dengan baik. Meminta maaf karena tidak memberitahuku dan tidak memberi kabar apa-apa. Setelah lulus SMA, dia sempat terputus kontak dengan banyak orang. Lalu aku makan dan duduk-duduk ditemani kakak tiri kawanku.

Seperti memungut kembali kenangan yang berserakan.

Hampir sejam aku disana. Kawanku tak membuang kesempatan kedatanganku yang bisa dikatakan langka. Menahanku sampai resepsi selesai. Biasanya dia sampai harus niat datang ke Jatinangor hanya untuk bicara di depanku atau hanya untuk melihat wujudku yang ada. Tumpahlah semua cerita, keluh kesah, dan semua yang dialaminya. Hari itu aku sukses jadi pendengar yang baik. Hanya mendengarkan.

Coba aku ingat-ingat dulu, kawan saya ini termasuk orang yang radarnya selalu berfungsi untuk menemukanku. Ketika dia masih tinggal di DU, pernah suatu kali aku sedang berada di DU namun ponselku mati sehingga aku pikir tak mungkin menemuinya yang entah ada di DU bagian mana. Sebelum pulang aku mampir ke Warnet untuk mengecek sesuatu. Karena komputernya sulit untuk log in, aku memanggil penjaga kasir. And tadaa … orang di sebelahku tiba-tiba menegur, sepertinya dia mengenal suaraku. Ternyata itu kawanku. Tepat di sebelahku. Tertawalah kita akan kebetulan yang lucu ini. Selama dia tinggal di DU, hanya sekali itu aku bertemu dengannya disana.

Lalu dia mencari peruntungan di Garut. Aku tidak pernah tahu di Garut sebelah mana dia tinggal. Karena sudah bertahun-tahun dia tidak tinggal dengan keluarganya. Dia bisa ada dimana saja. Komunikasi pun sangat jarang. Hampir tidak pernah. Suatu ketika aku tengah mengantar temanku penelitian di Garut. Kita berangkat agak siang karena dia harus bimbingan dengan dosen terlebih dahulu. Ketika kami sudah memasuki daerah Garut, aku bertugas mengawasi jalanan, plang-plang, tanda-tanda, karena kami sama-sama tidak tahu letak Panti Werdha Garut. And tadaa … dari kejauhan aku melihat seseorang keluar dari apotek, menyalakan motornya, semakin dekat aku semakin mengenali sosoknya. Spontan aku berteriak memanggilnya. Gila. Kenapa bisa ketemu dia disini. Akhirnya dia mengikuti motor kami dan menunjukan jalan ke Panti Werdha. Belakangan aku tahu bahwa pada hari itu seharusnya dia sudah pergi ke apotek dari pagi tapi baru sempat ketika siang hari. Tepat saat motor kami melewati apotek. Tepat saat dia baru keluar dari apotek. Bisa gitu, ya.

Pada hari itu pun, saat aku menjadi pendengar yang baik. Ada beberapa kebetulan lagi. Dia memang punya hobi fotografi, belakangan dia jadi founder komunitas fotografi di Garut. Saat itu dia menunjukan kepadaku karya-karyanya yang bertemakan shadow. Foto-foto dreamy/sureal. Aneh, karena baru beberapa hari yang lalu aku memotret bayangan-bayanganku sendiri dan sinar matahari di tembok kamar. Sejak beberapa bulan yang lalu pun, entah kenapa, aku suka memotret awan. Jatuh cinta dengan awan. Lalu saat kita membahas mengenai proses kreatifku membuat tulisan, dia berceloteh tiba-tiba. Aku tidak begitu ingat kalimat-kalimat yang dia ucapkan, namun intinya seperti ini …

“Awan. Terletak sangat jauh. Namun sangat indah. Kita bisa melihatnya setiap saat. Megah di atas langit. Namun sulit untuk digapai. Seberapa tinggi bangunan yang didirikan tak akan bisa menggapai awan. Seberapa tinggi gunung yang didaki, sama saja, awan itu tidak akan pernah bisa kita dapatkan. Itulah kamu.”

Aku tertawa, menyamarkan rasa kagetku akan tema ‘awan’ yang dia ambil. Mungkinkah dia stalking twitter-ku dan tahu aku sedang jatuh cinta dengan awan? Aku seakan disudutkan dengan pesan tersirat, kamu sendiri kenapa menyukai awan? Sudah tahu itu akan sulit digapai. Kamu mendaki gunung yang tinggi hanya untuk mencari awan? Bodoh.

Lalu dia memperlihatkan foto terbarunya. Sebuah gang di Kota Garut, diapit oleh dua bangunan abu-abu yang tinggi berdampingan, hanya menyediakan ruang untuk satu motor. Di depannya sebuah bangunan berwarna putih seolah-olah menutup jalan karena jalan tersebut berbelok di depan. Lalu sisanya jalan setapak dan siluet langit. Aku sendiri tidak yakin warnanya, karena fotonya sengaja bernuansa hitam putih. Pengambilan gambar itu dilakukan saat dia berjalan kaki, menangkap pemandangan, lalu tiba-tiba berjongkok, membidikkan kamera ponselnya. Mengingatkanku akan proyek phonetography-nya Samsung yang diikuti Dewi Lestari.

“Apa ya judulnya? Border of city? Beside of city?” Dia meminta saran.

Center of Urban.” Aku memberi saran sesuai dengan saran awalnya.

“Di tengah kota? Tapi ini pinggiran kota. Keadaan di pinggir kota yang penuh beton.” Komentarnya.

Lama kita berdebat hanya membicarakan judul, lalu berbelok membicarakan hal lain, berputar lagi untuk kembali ke obrolan mengenai judul foto.

“Ini dulu apa judulnya. Saya mau upload di grup komunitas fotografi. Coba lihat lagi. Kira-kira apa judulnya?” Kali ini dia menyerahkan ponselnya.

Aku mengamatinya lebih lama. Melupakan judul-judul awal yang disarankan. Kenapa urusan judul ini jadi begitu rumit. Come on, it’s just title.

“Sesak.” Jawabku singkat.

“Sesak? Heurin?”

“Sempit. Sesak. Kehilangan ruang. Ya, intinya hareurin.”

Dia kembali mengambil ponselnya, mengamatinya ulang. “Bener, ya. Heurin.”

Tanpa pikir panjang dia mengirimkan fotonya, memberi judul foto itu “Heurin.” Menuliskan momen dimana foto itu diambil dan dengan kamera apa foto itu didapatkan. Baru beberapa detik sudah banyak yang me-like, dan satu komentar paling atas yang aku ingat. “Bagus. Heurin-nya dapet.”

Dia pun tertawa. “Benar apa kata kamu. Heurin.”

Judulnya sederhana tapi ngena. Sudah aku bilang hidup itu sederhana. Kamu sendiri yang membuatnya rumit. Dan aku si sederhana yang rumit. Si rumit yang sederhana. Naon lah. Dan tebak-tebakan judul ini mengingatkanku akan Kugy yang menebak lukisan Keenan dengan judul ‘bebas’, dan Keenan ternyata memberikan judul lukisan itu ‘freedom’.

“Kemarin di studio temanku ada novel Partikel.”

“Aku udah baca.” Komentarku pendek.

“Katanya mau terbit lanjutannya ya? Lagi PO.”

“Iya. Tapi aku mau kesana pas launching aja. Sekalian main ke Bandung.”

“Sama siapa?”

“Sendiri. Sama siapa lagi? Biasanya juga sendiri.”

“Kasihan.” Dia tertawa dengan sungguh-sungguh.

“Biar sendiri juga tapi masih punya semangat hidup.”

“Kamu nyindir?”

“Nggak nyindir, keingetan hidup kamu aja.”

Baru saja dia bercerita dari sejak ketika dia memutuskan tidak tinggal lagi di rumah bersama keluarganya (awal kami berdua sama-sama kehilangan kontak). Keluar dari pekerjaannya. Pindah ke Bandung dan mulai dari nol lagi. Mencari pekerjaan. Jadi karyawan, dipecat karena kerjaannya hanya tidur. Menjadi penjual gorengan, berhenti karena tidak laku. Bertemu teman baru dan pindah ke Dipati Ukur. Mulai lagi dari nol. Pindah ke Garut. Mulai lagi dari nol … Kemarin ayahnya sakit dan harus dioperasi. Adiknya yang kabur saat lulus SMA dan sekarang menikah di usia muda. Dia si tulang punggung keluarga yang merasa belum bisa diandalkan keluarganya. Baginya fotografi adalah hidupnya, bagi kebanyakan orang fotografi harusnya hanya hobi baginya. Karena dia harus mencari pekerjaan. Bagiku, dia … manusia super labil dan super nggak jelas yang aku kenal.

Dia berkata, “Tujuan hidup saya sekarang mungkin … hanya ingin membuat something untuk Garut atau menjadi something untuk Garut.”

Lalu kemudian, “Cita-cita saya … mau jadi bos.”

Setelah itu, “Yang saya bayangkan saya mau memiliki kafe sekaligus kantor, kantor yang ada kafenya. Di atasnya baru rumah. Minimalis.”

Dan tiba-tiba, “Saya sudah cape punya mimpi, punya rencana. Setiap bangun tidur rasanya saya nggak ada harapan apa-apa. Setiap punya rencana kayaknya ‘gagal’ udah nungguin.”

Akhirnya, “Saya lagi pengen ngerasain gagal yang segagal-gagalnya dulu sekarang. Seperti kata kamu, saya sedang menghabiskan jatah gagal saya dulu.”

Sebenarnya dia tidak separah itu. Kata salah seorang partner-nya, Garut sekarang bangga punya anak itu.

Dia pemuda yang punya semangat juang sekaligus paling rapuh. Komunitas fotografinya menjadi komunitas nomor satu yang diminati banyak orang. Dia bisa diandalkan untuk setiap event. Ada beberapa video hasil proyek kegiatan fotografinya di youtube, dan menurutku itu keren. Sesuatu yang biasa aku bilang ‘full of passion’. Tapi aku sendiri tidak tahu dimana celah yang membuat dia selalu bergerak stagnan. Dia sendiri tidak bisa menemukannya, apalagi aku.

Saya mendengarkan ceritanya, duduk tenang, bersandar, dan … melipat tangan. Berkomentar, bergumam, menjawab pertanyaan yang sebenarnya tidak butuh dijawab, membantu memikirkan kemungkinan. Selamat, saya bisa menjadi pendengar yang baik. Karena baginya aku orang yang tertutup (padahal menurut teori aku dominan extrovert). Tentu saja untuk orang yang baru aku temui, meski kawan lama, aku tak begitu suka ditanya tentang diriku sendiri. -Sibuk apa sekarang?- Ya, gitu. - Gitu gimana?- Nggak gimana-gimana, gitu aja. -Gimana nulisnya?- Gitu-gitu aja. -Udah ngelamar kerja kemana?- Nggak kemana-mana. -Ada proyek apa lagi?- Ya, ada beberapa. -Ada teh apa?- Ya, ada lah pokoknya. (Kayaknya dia greget pengen noyor kepalaku).

Perlu bermenit-menit dan pertanyaan berulang-ulang sampai akhirnya aku nyaman bercerita tentang diri sendiri. Itulah kenapa dia lebih senang membaca tulisan-tulisanku. Katanya, dalam tulisan aku lebih jujur dan terbuka. Dalam tulisan aku menjadi diriku sepenuhnya yang begitu bersahabat. Aku nyata di tulisan, palsu dalam realitas. Mungkin seperti itu.

Kisahnya tiba pada masa saat seminggu yang lalu, saat dia meneleponku tiba-tiba ketika aku baru turun dari Gunung Gede.

“Saya lagi di mobil, maaf ya, nanti telpon ulang.” Klik. Saya tutup.

Ternyata saat itu dia tengah terperosok dalam kesulitan yang begitu dalam. Dua minggu tanpa uang. Makan entah dapat dari mana. Motornya kena tilang, belum bisa diambil, ga ada uang. Di kosan hampir diusir karena nunggak, ibu kosan sempat menggulung kasurnya dan mengeluarkan barang-barangnya. Event-nya akhir bulan ini masih kurang peserta, yang berarti biayanya nombok sekitar 2juta. Komputer dan kamera dia jual untuk membayar hutang.

Ini yang namanya sesak. Sempit. Heurin. Sesak sampai bernafas pun rasanya enggan, karena begitu sakit. Hidup begini adanya, Kawan. Dia tengah berada di titik nol. Minus.

Pantas saja sepanjang minggu itu dia tidak kembali menghubungiku sama sekali. Aku rasa saat itu dia mulai sadar betapa egoisnya aku. Kawan sedang terpuruk, aku malah berkeliaran di gunung. Pantas saja aku menjadi orang terakhir yang dia undang ke pernikahan adiknya. Mungkin tadinya dia tidak berpikir sama sekali untuk mengundangku. Sayangnya aku datang memenuhi undangan yang mendadak.

Dengan mendengar cerita itu, dan juga sebenarnya beberapa cerita teman kampus lain yang sejenis, aku jadi merasa kondisiku yang labil antara berkarir dan melanjutkan kuliah adalah kegelisahan yang tidak ada apa-apanya. Belakangan ini aku pusing karena ibu berat mengizinkanku bekerja, apalagi di luar Bandung/Garut. Di tambah keadaannya yang lemah dan rawan sakit. Setiap mencuci baju, pasti ada noda darah di kerudung atau bajunya. Nikah,  nikah, nikah, aku sampai sakit kepala karena ibu terlalu sering menyinggungnya. Sampai kadang aku menutup pembicaraan dengan kalimat, ‘Ya sudah, Mamah saja yang nikah.’ Sementara kawanku ini, menikah adalah pembicaraan ke sekian puluh sekian. Karena bahkan baginya, jatuh cinta saja merupakan birokrasi yang menyusahkan. Pamungkas, mungkin dia akan memikirkannya tiga atau empat tahun lagi. Well, kenapa aku menyinggungnya juga?

“Saya nggak mau kamu ikut kepikiran, tapi saya butuh teman cerita.” Sambungnya. “Saya nggak bisa cerita sejujur ini ke orang lain.”

“Kepikiran pun saya nggak tahu solusinya. Karena untuk diriku saja, solusi selalu hadir sama misteriusnya dengan masalah yang datang.” Saya mengatakannya sambil mengingat masalah terakhir yang saya hadapi, saya sampai konsultasi dengan dua teman saya di Unpad. Fauzan dan Jhovy. Tapi solusi tidak hadir melalui orang yang saya kira. Tidak juga dalam bentuk yang saya harapkan. Solusi itu hadir tiba-tiba, bahkan aku hampir tak mengenalinya (apa ini si solusi yang saya cari?) seperti masalah yang saya pikirkan secara tiba-tiba pula. Maaf, Kawan, hidupku memang terlalu penuh dengan spontanitas.

“Kamu kenapa, sih, kalau aku lagi cerita responnya cuma diem? Suka tiba-tiba hening.”

“Aku emang pendiam.”

“Nggak. Kamu bukan pendiam. Judes.”

“Aku nggak judes. Aku baik.” Aku mencoba membela diri seperti biasa meski entah berapa orang yang sudah berkomentar aku judes, jutek, ketus.

“Kalau menurut kamu saya orangnya pede (percaya diri)?” Tiba-tiba dia meminta pendapat.

“Ya, pertama kenal begitu. Lebih kayak belagu, sih.”

“Terus menurut kamu saya orangnya minder?” Dia bertanya lagi.

“Iya.” Jawab saya yakin.

“Kok bisa saya pede sekaligus minder?”

“Ya … ada masa dimana orang memiliki perasaan ekstrim yang sama. Seperti bipolar. Seperti saya. Saya bisa cuek dengan perasaan secuek-ceuknya. Tapi saya bisa sensitif sesensi-sensinya.”

Tentu saja dia begitu, bagaimana bisa dia bercerita ingin jadi bos, berguna buat Garut, memiliki kafe-kantor, sekaligus bercerita sudah tidak berani bermimpi lagi.

“Saya lagi minder-mindernya sekarang. Cuma ke kamu saya nggak minder buat cerita semua ini. Karena kamu teman saya yang sudah tahu gimana saya sampai ke buruk-buruknya.”

“Dan kamu nggak pernah berubah. Bertahun-tahun loh kita temenan. Kalau dibilang capek ngeliat kamu kayak gini, ya capek.” Kataku, bukan protes, lebih seperti menyindir. Menusuk. Ketika di DU aku bertemu dia dengan kondisi yang sama parahnya. Bahkan lebih parah karena saat itu dia masih tinggal menumpang di kosan orang lain. Tanpa proyek yang jelas.

“Orang-orang juga berkomentar seperti itu. Aku kenapa gini-gini aja, nggak ada perubahan.”

Aku menerawang, mengingat-ingat seperti apa dia dulu. “Kamu yang pertama saya kenal lebih ‘hidup’, meski kadang belagu dan sok, tapi punya kepercayaan diri. Tidak heran karena pekerjaanmu termasuk kategori public figure. Pekerja kreatif. Pegiat seni. Itu kan yang membuat kita dekat dan berteman. Kalau kita baru kenal sekarang kayaknya kamu akan sama mindernya seperti mendekati Sarah-Sarah yang lain. Ditambah waktu itu mungkin aku sedang bosan dengan rutinitas di Unpad. Dan … waktu itu aku lagi sial saja bisa temenan sama kamu.”

Dia tergelak, menyetujuinya. “Iya, kamu waktu itu memang lagi sial.”

Akhirnya aku memberikannya sebuah kesimpulan: Aku adalah manis, sekaligus pahitmu. Mimpi, sekaligus realitasmu. Bayangan, sekaligus mataharimu. Aku menuliskannya di buku catatan miliknya. Anggap saja cindera mata.

“Mungkin kamu mencari saya karena saya bisa membuatmu tenang. Bukan sekedar karena wajah saya yang manis, tapi karena saya sudah jadi bagian dari hidup kamu. Tapi bertemu dengan saya pun, akan membuatmu pahit, kan? Karena katamu saya tak tergapai. Kamu bebas menceritakan mimpi-mimpimu tanpa khawatir dianggap tak waras. Tapi bercerita denganku berarti dituntun untuk berpikir realistis. Aku juga menjadi bayangan dalam pertemanan ini, entah apa dan entah siapa. Katamu saya menghantui padahal saya belum mati, jadi bagaimana bisa gentayangan. Tapi bagaimana bisa juga ternyata saya jadi mataharimu, yang menaungimu, mengayomi, dan memberimu sinar. Terdengar gagah dan maskulin, ya. Padahal saya perempuan.”

Dia terdiam mendengar penjelasan dari tulisan pendekku. Tidak mengiyakan, ataupun menyangkal. Hanya tersenyum pahit. Tanda ingin mengiyakan sekaligus ingin menyangkal.

Kenapa pula aku harus bertemu dengan manusia satu ini, saat event akhir tahun 2010 dulu, di warnet DU, papasan di Garut. Kenapa pula aku harus sempat menghadiri undangan ini. Pernah kawanku ini mengajak pergi kepantai, naik gunung, tidak ada yang aku penuhi. Tidak sempat. Kenapa pula dengan keadaan dia yang semi artis lokal, kenal banyak orang, hanya aku yang bisa dia jadikan ‘tempat sampah’ yang mengeluarkan sisa-sisa terburuk dari kehidupan. Kenapa pula dari banyaknya temannya yang bernama Sarah, harus Sarah yang ini yang mengenalnya dengan baik. Everything happen for the reason, kan? So, for what? What the reason?

Saya membuka-buka buku catatannya hanya karena iseng. Kebanyakan catatan mengenai event-event yang dia organisir atau konsep project mengenai fotografi atau sebuah video. Tiba-tiba di coretan belakangan aku menemukan namaku berderet dengan coretan nama yang tadinya dia akan buat untuk manajamen fotografinya. Hanya ada dua kata. Sarah. Zohrahs. Itu jelas-jelas aku.

“Kok ada nama saya disini?”

“Iya gitu?”

Aku menutup buku itu dan menyerahkannya. “Jelas-jelas itu tulisan kamu. Di halaman belakang.”

Dia sibuk membuka-buka bukunya, menemukan namaku disana, lalu nyengir. “Orang password ponsel lamaku yang rusak saja masih nama kamu.”

Konyol. Aku hanya diam tak merespon. Tak memberikan ekspresi apa-apa.

“Saya kan sudah bilang, kamu itu menghantui saya terus. Kayak bayangan.”

“Jadi saya harus bagaimana? Saya juga sudah susah payah kabur dari kamu. Biasanya kalau ke yang lain efektif, disinisin sekali juga langsung mundur, diabaikan berkali-kali juga nyerah, didiamkan langsung menghilang.”

“Saya juga nggak tahu. Memangnya saya ngejar kamu? Kan nggak.” Tambahnya setengah bergurau. Obrolan yang sama-sama membuat kita jengah. Dia akhirnya membicarakan topic lain.“Kayaknya sosial saya juga sekarang nggak begitu baik. Ada yang bilang saya orang yang paling bisa diandalkan buat ngumpulin orang, tapi sekarang ketika mereka saya undang buat ke nikahan adik saya saja nggak ada yang datang satupun.”

“Saya datang.”

“Yaa maksudnya teman-teman saya.”

“Kan saya juga teman kamu.”

“Yaa, maksudnya tadi. Kan kamu datangnya telat.”

“Oke.” Perdebatan nggak penting, pikirku. “Aku juga mengalaminya, kok. Aku yang biasanya paling semangat buat ngumpulin orang. Mau itu bikin agenda sendiri, agenda resmi, nengok yang sakit, ke nikahan. Tapi ketika aku berharap mereka datang ke acaraku tanpa aku koordinir, aku sadar … nggak akan ada yang datang. Aku saja kaget saat akhirnya ada temanku yang mau nengok ibu. Kamu tahu kenapa? Karena dari kecil manusia sudah belajar berhitung, segala sesuatu yang terjadi di depannya akan jadi objek hitung-hitungan. Ketika aku mengumpulkan orang pun, aku berhitung, sepenting apa ini bagi mereka, semenarik apa, berapa kemungkinan agenda prioritas lain yang mereka miliki. Dan mereka pun akan berhitung, kalau datang apa untungnya, kalau nggak datang apa ruginya, akan ketinggalan apa, akan kehilangan apa. Seberapa berharganya kehadirannya. Di pikiran manusia masa kini, dunia berjalan secara matematis.”

“Jadi, menurutmu mereka tidak datang karena merasa tidak ada untungnya untuk datang?”

“Dan tidak ada ruginya jika tak hadir. Untung rugi disini bukan hanya materi. Sesuatu yang ‘berharga’ tapi tak berwujud. Diantaranya … datang karena merasa beruntung ingin bertemu orang yang disuka, kangen, atau segan kalau menolak hadir. Mungkin kamu belum sampai di tahap itu, jadi orang yang disukai, ngangenin, ataupun disegani.”

“Ya, ya, saya ngerti. Kalau begitu kamu kenapa datang?”

“Karena aku orang baik.” Jawabku spontan, mengangkat alis meyakinkan. “Dan aku sedang menabung kebaikan. Melihat kamu senang karena aku datang buatku jadi tabungan kebaikan. Seperti saat musim mudik kemarin, aku sangat butuh bantuan kamu, aku jadi enak buat minta tolong karena aku sudah menabung kebaikan di kamu. Agak jahat sih, kebaikan juga menjadi sesuatu yang matematis. Tapi … memangnya diantara saya dan kamu, siapa yang paling jahat.”

“Saya, sih.” Jawabnya yakin. “Tapi saya juga ingin jadi orang baik, kemarin temanku menggadaikan kameranya. Kalau besok tidak ditebus bakalan hangus. Tapi aku nggak punya uang. Akhirnya aku pinjam uang untuk dia pakai dulu, atas namaku karena dia malu kalau orang lain tahu.”
Aku tersenyum, cerita yang paling baik yang kudengar sepanjang ceritanya. “Kamu beruntung. Setidaknya kamu nggak miskin nurani. Berusaha menjadi orang baik kadang sama sulitnya dengan berusaha menjadi orang hebat.”

Hening yang cukup untuk menciptakan ruang pikir sendiri. Karena hidup ini kadang disamakan dengan ilmu pasti. Jika kamu pemeran utama, kalau bukan protagonis, berarti antagonis. Kalau bukan superhero, berarti penjahat. Kalau bukan orang hebat, berarti pecundang. Siapa yang ingin menjadi pecundang dalam sebuah kehidupan dimana dia menjadi pemeran utamanya? Tapi jika tidak bisa menjadi orang hebat, jangan tersinggung jika berstatus pecundang. Angin berhembus terlalu kencang seakan ingin menyibak tenda resepsi yang sudah ditata rapi. Bulan purnama ditambah gerhana selalu menghadirkan angin kencang yang cukup untuk mematahkan sebuah pohon. Namun, seharusnya tidak bisa mematahkan sebuah harapan.

“Sar.”

“Hm ...” Aku merespon dengan bergumam, nada suaranya melembut.

“Saya minta maaf. Saya belum bisa menjadi hebat.”

Permintaan maaf itu berarti banyak bagi dua orang yang sudah dewasa.

Aku menghela nafas sebelum menjawab tegas. “Tidak masalah. Itu urusan kamu. Saya sudah cukup dengan pertemanan kita yang sekarang. Tidak akan berharap apa-apa.”

Apa lagi yang bisa menjadi jawabanku untuknya. Dia paham betul kondisi masing-masing dari kami. Dia tahu betul mengenai ‘jaring laba-laba kehidupan’ di sekelilingku. Karena di dunia yang lain, mungkin kita saudara kembar.

“Apa aku harus mengajakmu menghitung bintang saja daripada menghitung uang?” Aku mencairkan suasana. Mengenalkannya dengan lagu Counting Stars milik One Republic (Said no more counting dollars. We’ll be counting stars. Yeah, we’ll be counting stars).

Kita tertawa. Menertawakan hidup. Hidup begini adanya, Kawan. Benar kata Dee, tidak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu. Tidak juga aku.

“ … Sing in the river
The lesson I learned …”

(Counting Starts – One Republic)