Search This Blog

Melego Masa Depan

Rasanya saya seperti Tansen yang mengisi blog hanya seminggu sekali. Rasanya saya juga seperti Tansen yang hidupnya diobrak-abrik layaknya surfing dihantam ombak. Rasanya saya seperti Tansen yang siap menggimbalkan rambut ... What? Ngegimbal? Nggak, nggak. Kalau itu enggak.

Hidup itu seperti irama nada. Ada harmoninya. Dung tak tak dung tak tak dung ... Tak tak tak tak dung ... Itu ceritanya irama musik tarian di film Life of Pi. Nggak mirip, ya? Iya lah, musik dan tulisan kan nggak sama. Kalau saya pernah bilang sama, berarti saya sedang berpikir sama.

Hidup itu seperti irama nada. Kita mengharapkan harmoni yang enak didengar. Jika terdengar sumbang, mohon maaf, kamu belum belajar nada dengan benar. Tak tak tak ... musik itu terdengar indah tanpa jeda. Tahu setelah nada ini akan berlanjut kemana. Seperti ketika kita tahu hidup ini mau dibawa kemana. Uwoo, Sarah lebay, wooo.

Temanku pernah berkata, ketika kita berpikir bahwa masa depan adalah kuliah, kerja, lalu nikah, itu monoton. Ah, memangnya apa yang dia mau. Menghabiskan waktu hanya bersantai, atau bermain dari satu tempat ke tempat lain, jalan-jalan dengan the real jalan kaki, atau naik gunung setiap hari, surfing di laut, main-main. Atau yang lebih heroik merantau ke perbatasan, berkeliaran di area lawan konflik untuk membantu yang terluka. Atau memulai usaha ini dan itu. Try and error an error and try and error and try again and don't know what the goals... Atau mendaftar jadi Office Boy gedung DPR, sedikit-sedikit mencuri ilmu politik, tetiba jadi Caleg. Atau tidak peduli dengan pernikahan sampai meninggal?

Jadi, apa? Justru orang yang berkeliaran dengan kebebasannya dia sama sekali tidak bebas jika masih juga diliputi pertanyaan apa yang akan saya lakukan esok hari. Guys, kamu tidak akan pernah bebas karena dunia ini penjara.

Oke, lima paragraf yang nggak jelas. Artinya pikiran saya sedang tidak jelas. Biar saya jelaskan sesuatu, saya sudah belajar untuk tidak terlalu khawatir dengan masa depan. Tapi saya masih punya seorang ibu yang memikirkan saya setiap saat. Terkadang saya memiliki pikiran liar untuk mencuci otaknya dengan suara-suara. "Tenang, Mah. Saya baik-baik saja, oke. Sekarang tidur yang nyenyak, makan yang benar, olahraga yang teratur, dan jangan terlalu sering mengerutkan kening. Apalagi menangis."

Ayah saya sudah meninggal. Jadi tugas menenangkan ibu saya dan membuatnya berpikir rasional menjadi tugas saya sendiri. Oh, ayolah, saya jadi kayak pacaran sama ibu saya sendiri. Nggak juga sih, ibu saya pacaran sama adik saya, sahabatan sama saya. Dianalogikan seperti itu karena ibu saya dan adik saya lebih romantis daripada saya yang memang lebih ketus, sementara jika dia butuh sesuatu (butuh kurir, teman dianter kesana kemari, atau bahkan orang yang bisa mengurus adik saya) maka dia langsung menghubungi saya. Alasannya simple, karena saya satu-satunya anaknya yang belum nikah dan paling mandiri. Juga keren, yeah.

Kini hal yang sedang menjadi topik populer adalah kuliah profesi saya. Setelah empat tahun saya menyerahkan jiwa dan raga untuk melalui masa-masa indah tak indah di Fkep, maka saya sudah memantapkan dan memaksakan diri untuk ikut profesi. Lalu tiba-tiba Mamah menawarkan untuk tidak ikut profesi di bulan Agustus. What? Bukan saya tidak setuju karena ingin profesi, tapi saya berpikir daripada daftar nanti Februari mending enggak sama sekali.

Saya sudah pasrah menjadi perawat dan di detik-detik saya akan mengabdikan hidup saya menjadi perawat, ibu saya memberi saya kupon berhadiah lain. Kamu bisa stay di rumah selama enam bulan dan melakukan apapun yang kamu mau. That's it. Nggak juga sih, saya di rumah harus jaga warung, ngajar di madrasah, angkat jemuran, lipetin baju, masak, ke pasar, dan semacam itu. Gila, emak-emak banget.

Akhir-akhir ini saya dan adik saya banyak nonton  film action dan komentar kami (saya doang sih, didukung adik saya) adalah kenapa pemeran antagonisnya nggak beruntung. Misalkan di detik-detik Ron dan Hermione sudah pasrah menghadapi Nagini dan Nagini siap menyerang untuk mencabik-cabik mereka, tiba Neville datang membawa pedang Gryffindor dan menebas leher Nagini. Bas! Saya langsung protes, dih Neville jangan datang cepat-cepat dong, keseleo kek, kelilipan apa gitu, jadi Nagini bisa bunuh Ron sama Hermione dulu. Gila, psikopat ternyata pikiran saya. Atau ketika Tony Stark berkelahi dengan musuhnya di ketinggian, saya bersemangat supaya Stark jatuh lalu meninggal, dan Iron Man tamat. Ah, sepertinya saya sedang terobsesi dengan kehidupan yang selalu diperlihatkan memihak protagonis.

Rowlink pernah menjelaskannya melalui Potter yang polos, bahwa semua kehebatan yang didapatkan oleh protagonis adalah kebetulan yang bertemu dengan keinginan untuk survive. Atau kita sebut kebetulan itu adalah berkah dari Tuhan (Allah).

Mungkin sebagian orang percaya idiom 'rajin pangkal pandai', jika kamu rajin maka kamu akan pandai. Saya nggak gitu, terlihat pandai karena survive. Saya nggak rajin-rajin amat. Sering tidur di pojok sambil sembunyi di bawah meja selama pelajaran (masalahnya, kamu tahu lah, guru saya itu ustad dan ustad itu kadang terlalu banyak cerita ngaler ngidul). Saya rajin hanya ketika ada tes. Tapi setidaknya saya survive. Apa yang guru saya komandokan, maka saya laksanakan. Saya lebih suka memahami, daripada sekedar mendengarkan. Maka jika cerita guruku sudah nggak tentu arah, saya tidur. It's my survive.

Umur 16 menemukan survive baru, stripping belajar IPA. Sama seperti berperang, kadang ketakutan kamu akan menghadapi kematian lebih menguatkanmu daripada ambisi membunuh lawanmu. Saya belajar hanya karena khawatir diri saya nggak bisa apa-apa, menjadi pecundang di tengah murid-murid lama, lulus dengan nggak ngerti apa-apa, sekolah hanya untuk lulus. Pikiran itu lebih menguatkan daripada ambisi mengalahkan murid lain atau menaklukan guru. Lalu ketika umur 18 saya menemukan survive yang baru, kuliah. Saya mengikuti enam seleksi untuk kuliah. Yang lulus hanya dua: Akper Pemda Garut dan Fkep Unpad. Saya niat banget jadi perawat? Nggak. Mungkin itulah awal dari kegagalan pertama saya untuk survive. Ibarat kamu berperang di medan yang tidak kamu inginkan. Seperti Potter, si ahli sihir, dimasukan ke dunianya Percy Jackson. Itu nyasar abis tapi masih bisa dipaksakan.

Sekarang umur saya 22. Menarik. Ibaratnya saya Ksatria Penulis yang melawan Ratu Perawat (dua-duanya sama, jadi perang melawan diri sendiri gitu). Saya sudah terjebak dan pasrah untuk dimusnahkan jiwanya seperti Dementor. Lalu tiba-tiba Patronus berbentuk Richard Parker datang dan menyelamatkanku untuk sementara. Apakah saya selamat? Tidak. Saya masih berperang dan saya berada dalam kondisi super posisi antara melanjutkan hidup sebagai Ksatria Penulis atau bergabung menjadi pasukan Ratu Perawat.

Nggak ngerti, ya. Imajinasi saya terlalu kemana-mana. Maaf, saya pembaca cerita fantasi.

Jadi begini, ketika ibu saya mengatakan bahwa saya tidak perlu mengikuti profesi bulan Agustus, artinya saya memiliki waktu enam bulan tanpa ada ikatan dan kewajiban yang menuntut diri saya untuk stay and focus. Artinya apa? Artinya saya memiliki cukup waktu untuk menulis novel. Saya punya proyek novel empat tahun lalu dan karena alasan organisasi dan kuliah, saya tidak menyelesaikannya. Lalu sekarang kesempatan itu hadir dan saya harus membuktikan diri saya dalam enam bulan, mau dibawa kemana super posisi saya? Saya jadi tegang menghadapinya :)


0 komentar:



Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.