Skip to main content

Tentang Hidup

Maaf, Blogspot. Tadinya aku ingin menulis ini di kamu -> http://zohrahs.tumblr.com/post/87589443380/dead-line-garis-kematian-line-of-death tapi aku ingin berbagi dengan orang lain (yang mungkin membacanya), jadi aku tuliskan di tumblr. Terima kasih kalau kamu memahamiku. Aku tahu aku semakin tidak produktif menulis, skripsi ini mengkerangkeng imajinasiku. Kemarin-kemarin aku mual setiap membuka laptop. Sepertinya aku benar-benar sudah muak dengan skripsi. Tidak apa-apa, aku tetap akan mengerjakannya. Jangan khawatir.

Hari Rabu aku sudah menyelesaikan skripsi. Lengkap sampai abstrak dan lampiran. Tapi ternyata kedua dosenku sibuk. Tidak apa-apa, ada Allah. Sorenya aku ke rumah Teh Teni dengan Sahla. Sahla semakin apet (sori aku nggak tahu bahasa indonesia-nya) denganku. Setidaknya kalau aku mau pergi aku harus pamit sama Sahla. Jika tidak, dia akan menangis mencariku. Manis, kan? :)

Aku juga sudah memberi Miftah hadiah yang aku janjikan. Jam Beker. Aku menolak memberikan mainan karena aku berpikir mainan tidak akan bermanfaat apa-apa untuknya. Tapi ketika menyaksikan Miftah dan Roif main robot-robotan, aku menyadari mainan berguna untuk mengembangkan otak kanannya. Bukankah aku bisa menulis sekarang karena aku selalu 'menghidupkan' semua mainanku. Berceloteh sendiri seakan mainanku itu bernyawa.

Dari Miftah aku juga belajar mengenai 'berlari mengejar layang-layang'. Kemarin sedang musim layang-layang, aku memperhatikan anak kecil yang berlari-lari mengejar layang-layang yang putus. Aku tertawa memikirkan bahwa aku bisa membelikan mereka sepuluh layang-layang tanpa mereka harus berlarian mengejar layang-layang yang belum tentu akan mereka dapatkan.

Tidak, rasanya tidak sama.

Mereka bisa membeli banyak layang-layang tapi mereka memilih berlari mengejar layang-layang putus.
Mereka bisa membeli banyak kelereng tapi mereka memlihi mendapatkan kelereng dari mengalahkan temannya.

Bukankah begitu juga caramu dulu bermain?

Ah, iya ... Aku juga ikut berlari meski aku tahu aku tidak mungkin mendapatkan layang-layang karena sepupuku selalu lari lebih cepat. Tapi aku ikut berlari mengikutinya, ikut bersorak ketika sepupuku mendapatkan layang-layang. Lalu berlari lagi, menatap langit, berharap ada layang-layang putus. Sesekali aku membantu sepupuku menerbangkan layang-layang untuk mengalahkan layang-layang yang lain. Menatap langit, bekerja sama dengana angin.

Saat itu, aku tidak pernah berpikir untuk duduk diam dan berharap ada layang-layang yang tidak sengaja jatuh di kakiku. Meski itu mungkin terjadi, tapi aku memilih waspada memperhatikan langit. Mengetahui tanda-tanda bahwa layang-layang akan putus. Lalu berlari bersama sepupuku.

Aku tersenyum. Ternyata aku yang dulu lebih ambisius daripada aku yang sekarang. Bagaimana bisa aku berpikir bahwa aku akan mendapatkan sesuatu tanpa kecapean? Berlarilah, setidaknya ketika kamu tidak mendapatkan layang-layang, kamu akan mendapatkan tubuh yang bugar, pikiran yang awas, dan kebersamaan dengan sepupumu. Tertawa, berharap, kecewa, menerima, lalu kembali mengawasi langit.

Stop! Kenapa aku mulai filosofis (lagi) -_-"

Oh ya, ketika aku ke Cicalengka aku juga bertemu sepupuku itu, Fajri - partner in struggle forever and ever. Lalu hari Kamis aku menginap di rumah Teh Erna - sepupu kesayangan (yang juga kakak kandung Fajri). Kami mengunjungi pabrik baju sisa eksport.

Hari Jumat - Minggu aku di Jalan Cagak, rumah Mamah. Memberi arahan kepada adik bungsu tentang hidup di Unpad. Memberi gambaran mengenai psikologi (sejauh yang aku tahu) dan mengingatkannya bahwa setelah dia mendapatkan kartu perpustakaan Fapsi, dia harus meminjam buku Spiritual Quotient-nya Zohar & Marshall dan Psikologi Saing-nya Abraham Maslow ... untuk aku baca.

Hari Minggu aku dan adikku ke Jatinangor. Mampir sebentar, bayar DP kosan, makan, lalu berangkat ke Buah Batu. Bertemu Veni (saudaraku yang sudah jadi guru Kimia) dan Friska (saudaraku yang seangkatan denganku dan kuliah di ITT Telkom. Aku lebih banyak bercerita dengan Friska, mungkin karena seumuran, tentang kehidupan mahasiswa tingkat akhir, tentang skripsi kami masing-masing, tentang aktivitas kami dan juga tentang Ketua BEM Telkom yang pernah terancam skorsing. Tentang ... entahlah, aku sudah lupa kami membicarakan apa saja.

Hari senin, tepatnya hari ini, aku ke kampus. Meminta surat bebeas perpustakaan, surat bebas laboratorium, dan surat bebas administrasi. Untuk syarat sidang.  Mengintip meja Pak Iyus, draft-ku sudah tidak ada, artinya sedang dipejari oleh beliau. Mengintip meja Pak Irman, draft-ku masih tersimpan rapi. Ah ... lalu membantu junior menyiapkan acara International Nursing Conference. Lalu berdiskusi dengan Wiwi mengenai isi BAB 4. Dan aku yakin aku harus banyak me-revisi setelah bimbingan nanti.

Oh ya, aku menemukan fotoku ketika tahun 2010 dengan ekspresi (so') innocent. Dan iseng saja, aku memolesnya.



Dan ... ah, sudahlah. Aku lapar sekali.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…