Search This Blog

banci atensi

banci atensi. saya dapat istilah ini dari sebuah artikel tentang orang yang sering menceritakan dirinya di blog/media sosial untuk dapat perhatian dari orang lain. agak sarkas bahasanya, tapi ngena. saya sendiri menulis di blog karena ingin menulis, tidak peduli ada yang baca atau tidak. terkecuali di tumblr, memang jadi sarana berbagi. kalau di blogspot, sarana curhat just to my self ...

malam ini akan jadi malam yang panjang bagi si 'skripsi abal-abal'. besok saya harus mengumpulkan draft untuk diuji pada hari jumat. ah, daftar sidang kemarin adalah hal terbodoh kedua di tahun ini yang saya lakukan karena saya daftar padahal belum siap. dan hal terbodoh pertama di tahun ini adalah daftar seminar proposal tapi belum siap. untungnya saya dapat dosen pembimbing yang nggak menyusahkan. rasanya saya sudah ingin langsung skip dan wisuda. tapi sidang ini harus terlewati.

lalu profesi.

jadi beberapa hari yang lalu ibu saya mengajak ngobrol serius (dan seseriusnya kami pasti kelihatan nggak serius). bertanya tentang kenapa saya belum bawa calon suami (yang saya respon dengan joged-joged sambil tertawa), bertanya tentang profesi ("ga wajib profesi mah. yang wajib mah sholat."), bertanya tentang keseriusanku membuat novel (tumben :p). ditambah kemarin kakak pertamaku bersama ketiga anak dan suaminya mampir ke rumah Nagreg. disela-sela pertanyaan sidang skripsi, dia berceloteh, "Siapkeun engke wisudana jang PW. Teu aya mah ngarental we."

saran macam apa itu -_-

banci atensi. kayaknya saya sudah kadaluwarsa untuk hal tersebut. dulu sih iya, sekarang rasanya nggak ada yang memperhatikan juga nggak masalah. nggak ada yang peduli kehidupan saya juga nggak apa-apa. bahkan untuk urusan menikah saya sudah lepas selepas-lepasnya. rasa-rasanya bukannya membuka kesempatan, saya malah membangun benteng setinggi-tingginya. nggak juga deng, itu terlalu lebay.

dan perjalanan skripsi ini tidak akan berakhir minggu ini. setelah sidang nanti saya harus merevisi, bimbingan perbaikan, ngurus ini dan itu, yudisium, wisuda, lalu saya baru bisa membakar sampah-sampah skripsi yang berserakan di meja belajar. saya ganti dengan proyek novel. haha.

ada beberapa hal yang saya sadari akhir-akhir ini. saya tidak terlalu ambisius lagi untuk apapun. kayak ada saklar yang nggak sengaja kepencet mati terus saya kebingungan meraba-raba dimana saklarnya di dalam kegelapan. terus nggak ketemu juga dan akhirnya menyerah, lalu tidur mendengkur.

semuanya bermuara kepada masalah profesi. sebenarnya saya sudah bertekad jadi perawat sejati #asikgitu. andai perang akhir zaman terjadi, dan mereka harus memilih membiarkan hidup si perawat atau si novelis, maka si perawat akan terasa lebih bermanfaat. oh, ayolah ... merawat orang lain itu menyenangkan. bagaimana kalau kita kembalikan ajaran nabi isa. non-materialis. jadi, kita merawat tanpa bayaran. tapi saya nggak sekaya itu untuk hidup tanpa perputaran materi. akhirnya kembali ke rencana awal, kan ... menulis karena hobi. menulis dapat royalti. merawat karena profesi. merawat tanpa bayaran.

merawat tanpa bayaran itu sangat cocok dilakukan di perbatasan wilayah. di wilayah peperangan. di area bencana. keren, ya.

banci atensi. gimana lagi, orang hidup akan merasa hidup kalau ada yang tahu keberadaan dia. apalagi kalau diperhatikan. sejak kepikiran untuk memelosokkan diri, maka terpikir juga untuk melepaskan atribut kebutuhan materi yang diracuni oleh manusia modern (ari saya bukan manusia modern kitu -_-). orang baduy saja bisa hidup tanpa uang. tapi itu memang bertentangan dengan mimpiku jadi novelis, yang tulisannya dibaca orang, yang namanya diketahui para pecinta novel, dan seminarnya ditunggu-tunggu. sebenarnya bukan itu juga sih yang dulu dibayangkan. motivasi saya menulis cuma karena saya berpikir, ah gini doang mah saya juga bisa bikin. eh, ternyata gede di omongan doang ... :p

oh ya, coba kamu pikirkan. kenapa kalau udah sidang skripsi kamu meng-upload fotomu yang sudah sidang. nanti pas udah yudisium juga. apalagi pas udah wisuda. apalagi wisuda profesi. apalagi nikah. terus ini. terus itu. butuh perhatian? banci atensi? haha. saya kira sih itu simbol. manusia itu punya label dan melalui media sosial saya memberi tahu orang label apa yang bisa kalian lihat dalam bandrol saya (bandrol?).

sarah, temennya si ini ... (ada soalnya foto mereka di fb). sarah, adiknya yang itu ... (mereka suka mention2an sih). sarah, yang suka ngomongin keponakannya (sorri, it's just ... because I love them). sarah, udah mau sidang dia mah. kayaknya agustus wisuda ... (tuh di statusnya ada). sarah, kayaknya dia belum punya calon ... (da galau wae di twitter -_-). sarah, orang bandung dia mah bukan orang garut ... (pernah baca di blognya). sarah, yang pernah nge-bem ... yang alumni persis ... yang suka nulis cerpen ... yang pilihan politiknya ga jelas ... yang ini ... yang itu ...

yeah, setidaknya saya bisa menggiring opini orang-orang untuk memberikan label saya seperti apa.

karena pernah ada juga isu yang beredar bahwa saya pernah dikhitbah ... saya dijodohkan ... saya ditungguin si anu ... atau saya nungguin siapaaa ... siapa? sampai salah seorang teman ada yang nanya dalam suasana semi-serius, 'sarah udah nolak proposal berapa kali?' lalu saya melongo, tertawa, dan menjawab. 'saya nggak pernah nerima proposal.'

percayalah, kalau saya sudah dikhitbah pasti kelihatan, kok. sadar nggak sadar saya pasti kelihatan norak karena lagi kasmaran (itu yang saya lihat pada teman2 saya yang sudah menemukan pasangannya :p). saya sendiri nggak pandai berpura-pura. saya nggak pintar menyembunyikan sesuatu. emmmh, nggak juga sih. gini-gini juga saya punya rahasia :D.

banci atensi. kadang kalau saya nge-medsos, saya ngeledek diri sendiri dulu. emang orang peduli kamu lagi ngapain, habis ngapain, mau ngapain. atau ... memangnya kamu harus membagi apa yang kamu pikirkan? tapi karena saya juga selalu iseng membaca status orang dan beberapa ada yang menginspirasi saya, maka itu jadi kuncinya, kamu harus nulis sesuatu yang bisa menyentuh hati orang, menginspirasi, dan memberikan pengaruh. bukan sekedar status sampah seperti 'duh ... ngantuk nih. dosennya kayak nyanyi opera gitu di depan.' dih, kan nggak menimbulkan manfaat untuk orang banyak. gila, sarah udah dewasa gitu sekarang :D.

tapi kadang saya masih geli buat bikin status nggak penting. jadi biasanya nyampah di twitter. kenapa coba? karena kalau mereka tidak suka dengan apa yang saya tulis, mereka bisa unfollow. yeey, siapa suruh follow saya. saya nggak di-follow juga nggak rugi-rugi amat. dan blogspot ... seperti sekarang. saya nggak tahu ya, tulisan ini penting atau nggak, tapi saya lagi pengen nulis. kalau tulisan saya sudah terlalu banyak celotehan di dalam kurung dan tulisan 'haha' berarti tulisan ini semi-gaje.

sebenarnya dari kemarin ada beberapa tulisan serius yang ingin dibuat, tentang opposite attrack, tentang gua plato, tentang menjelang ramadhan, tentang madrasah. sayangnya otakku lagi nggak bisa diajak serius karena lagi bersenang-senang dengan skripsi. ah iya, ini juga harusnya lagi ngerevisi bab empat. hehe. tapi nge-blog dulu buat refreshing.

menurutku menulis disini adalah salah satu cara membuatku tetap waras, selain haha hihi dengan si bungsu. jik ada tulisan yang tidak layak (benar-benar tidak layak, memangnya tulisanku yang mana yang layak -_-), biasanya saya simpan di draft tanpa di-publish ... seperti kemarin saya menulis sesuatu tentang feminisme, tentang gender, si estrogen dan si testosteron, si feminim dan si maskulin. karena isinya terlalu sarkas, saya simpan saja di draft bersama tulisan-tulisan hidden lainnya.

dan sesungguhnya saya heran melihat pengunjung blog ini terus bertambah. sekarang saja sudah 59.226 pengunjung. apanya yang asik dengan tulisan saya, saya jadi merasa bersalah.

0 komentar:



Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.