Search This Blog

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual


Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.

Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.

Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual yang pernah dia alami, dewi membuat novel berjudul Supernova. Bercerita tentang Diva, si Supernova, Bodhi - Akar - yang beragama Buddha, Elektra - Petir - yang beragama kristen, Zarah - Partikel - yang beragama islam, dan Alfa - Gelombang - yang beragama Hindu.

Dalam perjalanan menceritakan Supernova, Dewi pindah agama menjadi Buddha. Lalu setelah bercerai dari Marchell, dia menikah Reza Gunawan yang beragama islam. Dewi seorang yang cerdas, apa yang ditulisnya tentang spiritualitas yang dialami oleh tokoh-tokohnya juga gampang dicerna akal. Belakangan ini saya baru tahu bahwa pemahaman yang Dewi bawa di Supernova adalah New Age Movement. Satu Tuhan. Satu agama.

Saya bukan pengikut Dewi Lestari. Saya pembaca novel-novelnya. Dan karena tulisan-tulisannya, saya tertarik untuk mempelajari tentang spiritualitas. Prinsipnya tetap I trust my religion, Islam.

Sementara ketertarikan saya dengan Reza Gunawan memiliki cerita lain, yaitu karena Reza adalah seorang 'penyembuh' holistik. Reza adalah alumni FE UI yang mempelajari tentang pengobatan alami di luar negeri, Amerika, Tibet, India, dll. Seperti juga Dewi yang tidak berkarir sesuai dengan gelar sarjana Hubungan Internasional-nya, Reza juga melepas karirnya sebagai seorang ekonom. Dia memilih menjadi seorang penyembuh, terapis, semacam itu. Semua teori Reza tentang kesehatan selalu menjadi bahan diskusi saya dan Teh Erna, kakak saya yang bekerja sebagai bidan, sampai akhirnya saya berniat untuk mempelajari ilmu-ilmu yang Reza pelajari. Saya ingin menjadi perawat holistik, seorang penyembuh yang menggunakan bahan-bahan langsung dari alam dan memanfaatkan body, main, dan spirit pasien dalam penyembuhan. Alur yang saya pikirkan tetap saya harus mendapatkan uang dari menerbitkan novel dan uangnya saya pakai untuk mempelajari penyembuhan holistik.

Kembali lagi ke skripsi. Variabel yang saya pakai ada dua, kecerdasan spiritual dan perilaku sosial. Saya semangat mempelajari kecerdasan spiritual karena novel-novel Dewi, bahkan saya berniat untuk melanjutkan S2 ke psikologi dan membuat tesis tentang spiritual. Yeah, mimpi banyak nggak apa-apa kan :D. Alurnya tetap pakai uang dari novel untuk kuliah lagi. Haha. Yang kedua adalah perilaku sosial, seru mempelajari ini karena saya jadi belajar tentang karakter orang. Lumayan buat referensi novel. Soalnya saya mau bikin novel tentang remaja yang dulu pas kecilnya didiagnosa sakit jiwa :D.

Ini adalah pikiran saya selama perjalanan dari Fkep sampai FISIP. Di depan Gedung FISIP saya lihat pohon-pohon hijau di dekat tribun stadion Gor Jati. Tiba-tiba iseng berpikir, pasti ada alasan kenapa bentuk daunnya seperti itu, pasti juga ada alasan kenapa warnanya hijau, dan ada juga yang hijau muda. Pasti ada alasan kenapa pepohonan itu warna hijau, menyejukkan mata. Atau kita katakan sejuk karena kita sudah terbiasa melihat pepohonan hijau. Kenapa dedaunan nggak warna merah saja? Kayak sajadah di mesjid illuminati :D

Agak ribet ya saya. Kalau sama mudir am (kepala sekolah) saya di pesantren, pasti saya sudah dimarahi. Apalagi kalau ketahuan saya mempelajari tentang ketuhanan. Pasti saya dianggap keblinger. Dulu juga begitu. Katanya kamu akan gila jika terus memikirkan konsep Tuhan. 

Saya membayangkan bagaimana Dewi Lestari mencapai titik spiritual center-nya. Saya belajar dari Dewi tentang perbedaan agama dan spiritual. Orang yang agamis belum tentu memiliki kualitas spiritual yang baik karena spiritual adalah urusan manusia dengan Tuhan-nya, bukan tentang nilai, doktrin, dan dogma dalam sebuah agama. Orang yang atheis bukanlah orang yang tidak bertuhan, tapi tidak menemukan Tuhan-nya dalam agama yang ditawarkan. (maaf ya Allah, kalau bahasa saya salah)

Akhirnya saya memikirkan bahwa ahli spiritual beda dengan ahli agama. Saya memikirkan ini karena mudir am pernah berkata bahwa kalian dipesantrenkan disini bukan agar kalian mengerti agama, tapi agar kalian menjadi ahli agama. Ya, ahli agama, bukan ahli spiritual. Itulah kenapa orang yang dipesantrenkan ketika keluar dari sana, bisa saja dia masih mempertanyakan Tuhan.

Ketika seseorang sudah menemukan spiritual center-nya, itulah makna dari mendekatkan diri pada Allah. Atau makna dari Allah lebih dekat daripada urat nadimu. Teman saya yang kuliah di Psikologi UPI, pernah mengajak berdiskusi mengenai Tuhan. Bahwa menurutnya Tuhan hanya ada dalam pikiran manusia. Ya, mau dimana lagi? Islam mengajarkan bahwa Allah bersemayan di atas arsy. Ada yang memperdebatkan hal tersebut, tapi saya lebih tertarik dengan Allah lebih dekat dari urat nadimu. Entah itu ada dalam pikiran kita, jiwa kita, spiritual center kita, saya percaya Allah ada.

Ketika saya sudah sampai pada perjalanan melewati Gerbang Lama (ini masih renungan perjalanan), saya duduk sambil membeli Mocacino. Akhirnya saya memikirkan tentang agama. Allah memberikan sesuatu panduan hidup, yang kita sebut agama, untuk kita agar tidak bingung hidup di dunia. Menjalankan atau mengikuti apa yang diajarkan oleh agama bukanlah sebuah keharusan, tapi kebutuhan. Kita harusnya bisa sampai pada suatu pemahaman bahwa kita butuh agama. Bukan sekedar hal yang kita anggap sebuah doktrin dan dogma dengan ritual-ritualnya.

Lalu saya jewantahkan hal itu dengan Rukun Islam. Yaitu sholat. Kemarin sore, saya berdiskusi dengan Sarita mengenai masalah spiritual karena dia mengambil skripsi tentang meditasi. Saya bilang kenapa ada orang Islam yang melarang meditasi. Bukannya yang Nabi Muhammad lakukan ketika mendapatkan kenabian di Gua Hira itu seperti meditasi? Sama seperti ... apa ya, saya lupa ... ada sebuah ritual ibadah di agama Buddha dengan membasuh bagian-bagian badan tertentu dengan air. Mirip seperti berwudhu. Tapi saya tetap memegang larangan tidak mencampuradukan hal yang batil dengan yang benar. Tidak tasyabuh juga. Eh, nggak tasyabuh sih ini mah.

Lalu sarita mengatakan bahwa ada pendapat yang mengatakan bahwa sholat juga meditasi dalam bentuk lain. Setelah mengingat diskusi dengan Sarita hari itu, saya memikirkan bahwa Allah menyuruh atau menyarankan atau mengajarkan kita untuk sholat adalah agar kita bisa menyisihkan waktu untuk menenangkan jiwa dan pikiran sehingga menemukan spiritual center kita. Bukan gurunggusuh sekedar melakukan gerakan sholat. Itu yang disebut khusyu. Meditasi juga tidak akan berhasil jika kita tidak khusyu toh. Sama seperti tujuan utama meditasi adalah menenangkan jiwa atau bagian dari penyembuhan juga. Sholat pun begitu, kalau kita khusyu. Jadi bukan sekedar Allah ingin disembah sehari lima kali, tapi itu juga cara kita untuk menjalani kehidupan yang bising ini agar tetap waras. Ada kan ayat yang mengatakan bahwa sholat mencegahmu dari berbuat kerusakan dan kemunkaran. Itu maknanya dalam banget. Orang yang sholatnya khusyu, menjadikan jiwanya sehat karena hubungannya dengan Allah (spiritual center), akan memiliki perilaku sosial yang baik.

Ada ya teman saya, no name, pesantren 6 tahun, anak Ustad yang khutbah dimana-mana, lalu dia tiba-tiba 'menikah karena kecelakaan'. Sahabat saya tiba-tiba nyeletuk, "Heran deh. Tuh anak suka sholat nggak sih. Kok kelakuannya gitu." Ketika itu saya tidak menemukan korelasinya, antara rajin sholat apa enggak dengan 'menikah karena kecalakaan'. Sekarang saya baru menemukan hubungan antara sholat dengan terhindar dari kerusakan dan kemunkaran.

Oh ya, saya jadi benar-benar tertarik dengan meditasi, yoga, dan hipnosis sekarang. Seperti layaknya Reza Gunawan yang memiliki 'Rabu Hening' dengan menjadikan kehidupannya benar-benar hening dan juga Nabi Muhammad yang bertahannus di Gua Hira. Bahkan ada sumber yang mengatakan bahwa bertahannus itu juga kebiasaan dari Nabi Ibrahim.

Oh ya, ngomong-ngomong tentang Nabi. Kalau saya UP bulan ini, saya mau nonton film Noah. Cerita epik, mungkin israiliyat, tentang Nabi Nuh. Eh sebenernya nggak UP bulan ini juga saya tetep pengen nonton sih :D.

Kembali ke rukun islam, yaitu shaum. Aturan ini simpel, Allah tahu banget detail anatomi tubuh kita. Dan yang saya pelajari adalah tubuh kita akan rusak, selain karena ada kelainan dari sananya, misalkan cacat lahir, penyakit kongenital, atau organ yang memang ada kelainan, tubuh kita bisa rusak atau sakit karena pengaruh luar. Bisa bakteri, virus, jamur, apapun. Dan yang paling banyak memasuki tubuh kita adalah makanan dan minuman. Banyak makan bisa obesitas, pembuluh darah tersumbat, penyakitan. Kurang makan bisa hipoglikemi, kurang glukosa ke otak, nggak ada protein di tubuh, penyakitan. Banyak makan garam, bisa hipertensi. Banyak makan gula, bisa diabetes. Banyak makan pedas, kasihan lambung, bisa gastritis. Belum kalau merokok, alkohol, junk food, keracunan.

Dari tujuh hari dalam seminggu, Allah menyuruh atau menyarankan atau mengajarkan untuk shaum selama dua hari saja. Satu hari shaum, lalu dua hari enggak, satu hari shaum, lalu, lalu tiga hari enggak. Namanya shaum Senin-Kamis. Lalu shaum 30 hari dari 367 hari dalam setahun. Tentu itu bukan aturan iseng. Oh ya, ngomong-ngomong tentang shaum, saya diajarkan oleh Ustad saya untuk menyebutnya shaum, bukan puasa. Karena puasa itu dari bahasa sansekerta yang maksudnya hanya menahan lapar dan haus saja. Sementara shaum maknanya lebih dalam dari itu. Sensitif banget kan Ustad-Ustad di pesantren saya dalam masalah ibadah.

Nah, jadi seharusnya memang kita sampai pada kesadaran bahwa shaum itu untuk kesehatan kita. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk tubuh kita. Karena selain kebutuhan tidur, kebutuhan makan adalah salah satu hal yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Oh iya, bicara tentang kebutuhan tidur, saya juga pernah berpikir tentang waktu-waktu sholat yang diatur sedemikian rupa sesuai dengan waktu metabolisme tubuh kita, juga waktu gerakan matahari. Kan matahari juga mempengaruhi keadaan tubuh manusia. Karena dalam hadis juga kan waktu sholat ditandai dengan pergerakan matahari. Ih, keren ya. Saya harus banyak-banyak baca buku tentang beginian kayaknya. 

Oke, rukun iman yang selanjutnya tentang keuangan, zakat. Sejak dulu harta benda dan kepemilikan menjadi salah satu masalah duniawi yang seolah-olah menjadi kebutuhan utama. No money no live. Serem. Maka Allah menyuruh atau menyarankan atau mengajarkan tentang zakat adalah untuk menyadari bahwa ada keterkaitan kepemilikan kita dengan milik orang lain. Atau bahwa kita sebenarnya nggak memiliki apa-apa karena uang yang kita dapat dari hasil usaha sendiri sebenarnya ada rezeki orang lain. Kalau Butterfly Effect-nya Lorentz berbunyi kepakan kupu-kupu di Hongkong bisa menyebabkan badai di London, saya analogikan dengan bisa jadi bahwa keuntungan 1000 rupiah yang kita zakatkan bisa menyebabkan seorang miskin tidak jadi meninggal karena kelaparan. Keren, kan.

Masalah keterikatan dan keterhubungan, saya pernah berpikir tentang kenapa Allah menciptakan makhluk berpasang-pasangan dan akhirnya menghasilkan keluarga. Karena ketika kita berambisi terhadap hal-hal duniawi begitu tinggi, yang membuat kita down to earth atau menikmati kesederhanaan adalah keluarga. Saya sering menemukan, terutama wanita, yang ketika lajang dia punya ambisi untuk jadi wanita karir tapi ketika menikah dia menikmati kehidupan sebagai seorang ibu rumah tangga dengan malaikat kecil di dalam gendongannya. Salah satu wanita yang seperti itu adalah Dian Sastrowardoyo. Bayangkan jika kita diciptakan dari ketiadaan tanpa keterikatan dengan siapapun. Kemungkinan untuk menjadi seorang yang individualis dan egosentris akan terbuka lebih besar. Tapi dengan keterikatan erat sebagai keluarga, kita jadi belajar makna sosial hubungan antara kita dengan manusia lainnya. By the way, itu salah satu item dari sub variabel kecerdasan spiritual yang ada dalam skripsi saya -> menyadari keterkaitan antara kita dengan manusia lain.

Rukun Islam yang selanjutnya adalah ibadah haji. Karena saya belum pernah ibadah haji dan saya tahu poin-poin dalam ibadah haji itu sangat banyak, Sa'i, Thawaf, Wukuf, Tahalul, dan lain sebagainya. Saya hanya menyimpulkan bahwa Allah memberikan satu perayaan, selain idain, untuk manusia yaitu musim haji tersebut. Dan ramai kan informasi mengenai lokasi ka'bah yang menjadi titik pusat antara planet Bumi dengan langit. Atau hajar aswad yang katanya batu istimewa yang satu-satunya di Bumi. Seru ih, seru tahu :D.

Oh ya, saya melewatkan rukun islam yang pertama, yaitu syahadat, karena fokus saya sudah pada ritual keagamaan. Inti dari syahadat adalah kesaksian tentang Allah dan Nabi Muhammad. Beruntunglah mereka yang benar-benar mencintai Allah dan Nabi Muhammad. Dewi pernah mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Pencemburu, karena dia tidak mau diduakan. Untuk hal ini saya tidak terbawa teori Dewi. Ngeri Bro, dosa terbesar kan musyrik. Waktu diniyyah saya berpikir bahwa saya nggak mungkin musyrik, memangnya saya mau menyembah siapa lagi selain Allah. Tapi melihat fenomena berpikir kritis masa kini, ternyata kemungkinan itu bisa saja terjadi. Bukan tentang menyembah saja, tapi juga mempercayai adanya kekuatan dan kekuasaan lain juga musyrik kan. Atau malah menuhankan diri sendiri. Dalam teori Dewi, dan juga teori Dan Brown, bahkan di teori kecerdasan spiritual yang saya pelajari, God Spot atau kesadaran Unitive adalah bahasa keren dari menuhankan apa yang ada di dalam diri (atau mungkin) pikiran kita. Ya, gitu lah. Saya nggak akan menjelaskan secara sistematis karena ini bukan skripsi.

Ternyata tulisan saya sepanjang ini. Padahal saya memikirkan tentang rukun islam selama saya menunggu ketika membeli mocaccino. Dalam perjalanan menuju kosan, saya masih berpikir tentang spiritual. Kadang saya takut apa yang dikhawatirkan teman-teman saya benar. Bahwa saya terlalu terbawa teori spiritual dari orang-orang New Age. Saya mohon ampun kalau pikiran saya salah. Dan kita memang tidak boleh menafsirkan ajaran Allah (quran maupun hadis) dengan pikiran kita saja. Nggak boleh. Makanya kita harus jadi ahli agama juga, supaya kita nggak mengawang-awang ketika ingin memahami al-quran maupun hadis. Ah, jadi pengen mesantren lagi.

Di tengah perjalanan pandangan saya berhenti mendadak pada sebuah tulisan di sebuah kafe baru. Tulisan itu besar sekali sampai orang yang cuma lewat di seberang bisa membacanya. "Kehidupan itu sederhana. Yang hebat-hebat hanyalah tafsirannya." Saya berhenti beberapa detik sambil memandangi tulisan itu. Seperti tersihir. Seolah-olah tulisan itu sedang melambai-lambai ke arah saya. Lalu saya menengadah melihat langit (asli ini bukan puitisme) karena ketika berbicara mengenai Tuhan biasanya mereka akan menunjuk langit, mengisyaratkan sesuatu yang ada Di Atas. Berharap, sangat berharap, Allah menyayangi saya. Selalu. Bahwa apa yang saya pikirkan tentang spiritual, agama, dan ketuhanan, adalah cara Allah untuk mengenalkan dirinya kepada saya.

Sarita bilang, "Udah, Sar, yang penting kan kamu seneng ngerjain skripsi tentang spiritual."
Ya, entah kenapa saya selalu bahagia ketika sedang membaca atau mempelajari hal-hal tentang spiritual.

Maka sesampainya di kosan saya tidak sabar untuk menulis ini :)

>> tambahan setelah tulisan ini di-post: saya tiba-tiba ngeliat facebook sepupu saya, Dewi Noor Ainy, nge-link sebuah artikel dan saya baca. isinya agak-agak nyambung dengan renungan spiritual saya. http://m.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/lakum-dinukum-nya-quraish-shihab.htm terima kasih ya Allah, lain kali saya akan lebih bijak lagi dalam berpikir. tegur saya di dunia saja.

13 komentar:



R. Melati said...

Salah Kenal Sarah :)

Reza Gunawan said...

Tidak sengaja menemukan tulisan ini. Tanpa bermaksud kege-eran, terimakasih ya. Semoga perjalanan spiritualmu jernih, membuahkan bahagia dan kebaikan bagi sesama. Salam waras :)

Abdul Azis bin Lukman Ali said...

semoga perjalanan spiritual mu lancar,
and trust your religion, ISLAM

Abdul Azis bin Lukman Ali said...

semoga perjalanan spiritual mu lancar,
and trust your religion, ISLAM

afidatun nasiha said...

Jadi inget seseorang yg mengalami hal serupa

Unknown said...

Shallom alechim.. Ga sengaja juga ngebaca nih tulisan ini, dan membawa saya kembali pada tahun 2006-an, dimana saya terjebak dalam alam filsafat, sehingga saya mengajak diskusi teman2 sejurusan (IP-FISIP) mengenai ketuhanan, termasuk teman yg fanatik islam sekalipun. Singkat cerita, karena terlanjur agak dalam terjebaknya saya pun menantang TUHAN mengenai eksistensiNYA "jika KAU ada, maka mudahlaah jalanku utk tamat kuliah". Dan, secara perlahan disetiap harinya doa saya terjawab, sehingga saya harus tersungkur utk mengakui TUHAN itu ada, dan YESUS KRISTUS itu adalah Kalimat ALLAH serta berperan sbg Hakim Surga. mungkin itu cerita spiritual di hidup saya.

Dinda Anggraini said...

Terima kasih untuk tulisan yang bagus ini :)

Bisot Palawarukka said...

Salam kenal Sarah, tulisannya mengalir menghanyutkan. Membaca ini saya jadi ingat kata-kata Jalaluddin Rumi, kurang lebih " Apa yang kau cari, sedang mencarimu" :) semoga kita semua tetap dalam lindungan-Nya dalam perjalanan mengenal-Nya. Amiin

Andi said...

Gk sengaja nemu tulisan ini saya sangat trtarik.
Apakah salah jika saya mengajak teman untuk berdiskusi tentang tuhan??
Jika ada di antara kalian yg ingin memberikan ilmunya tentang ketuhanan bisa email saya di andywwijaya@yahoo.co.id
terimakasih jika merespon kalimat ini

Irma Dayo said...

salam kenal kak. saya gak sengaja nemu tulisan ini, dan saya terhanyut dalam tulisan kakak. bikin saya merenung juga lho, hehe. salam kenal kak '.')/

intan hildayana said...

Terimakasih sudah mengingatkan, saya seakan memiliki konsep pemikiran baru akan keyakinan dan jalan hidup yang seharusnya. Menjadi salah satu pembaca buku buku dee, jujur ia memang cerdas dalam memaparkan perjalanan religi dalam kemasan fiksi menarik, memandang setiap perbedaan menjadi lebih jelas dari sudut pandang berbeda. Menemukan tanda tanda dari kehidupan yang syarat makna untuk hidup bahagia. Manusia

teddy sagittarius said...

Cara berpikir anda menarik dan kritis. Semoga perjalanan spiritual kita semua dpt menemukan kedamaian.

Ayu Utari said...

Lagi kepoin nama Reza Gunawan, nemu blog inih, eehhh keasyikan baca sampe ujung. Asyik banget bacanya. Hihihi. Saya belum selevel mbaknya dalam banyak pemahaman soal agama, tapi kalau soal mempertanyakan soal konsep ketuhanan *mohon koreksi kalau salah ngomong* saya sering. Karena baca buku dee juga sih *haha. Jadi pas baca tulisan mbaknya berasa kaya nemu orang yang sekiranya bisa memahami isi kepala tanpa harus berlelah lelah membuka jalan cerita. Dan ngga perlu merasa takut bakal dicap musyrik. Bersyukur sekali bisa tersesat ke blog ini. Sukses ya mbaknya. . .

Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.