Skip to main content

Multitasking, Multiple Choice :|

Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat untuk Mente, Tri Nur, Fuji, dan Evi yang Jumat ini mau seminar proposal. Yeah, saya ikut tegang. Juga Vrian, partner bimbingan Pak Irman yang seminar proposal hari Senin depan. Saya harus dapat kursi istimewa buat nonton UP kamu, Vri!

Lalu, saya mau bahas sedikit tentang status facebook saya:
Sepertinya facebook saya terlalu banyak berteman dengan kader PKS.PKS, PKS, everywhere ...
Sebenarnya saya mau mejelaskan di facebook juga tapi baru status segitu saja banyak yang komen. Yeah, saya nggak mau bikin kontroversi dulu. Cukup skripsi saya yang jadi kontroversi di dalam pikiran ini.

Well, keluarga saya kan islami ya (lumayan). Orang tua saya dulu PPP, setelah Masyumi nggak ada kali ya. Orang tua asuh saya PBB, gara-gara Persis dulu milih PBB. Sementara kakak laki-laki saya yang terpapar keluarga Tasik itu PKS banget gitu lah. Intinya keluarga saya akan memilih partai islam because we love islam, yeah keprok, eh Allahu Akbar. Lalu kenapa saya bikin status tentang PKS?

Saya pernah bikin tulisan di blog ini, lupa judulnya apa, bahwa seharusnya dulu tahun 1999 Persis itu milih PKS, bukan PBB. Saya dengar itu dari ... Ustad Atip kalau nggak salah, apa siapa ya. Lupa. Nah, karena kakak laki-laki saya PKS banget, maka sejak tahun 1999 saya sudah diracuni dengan hal-hal tentang PKS, dulu namanya Partai Keadilan kan ya. Saya nggak akan pernah lupa bahwa saya yang masih berumur 7 tahun saat itu, lari-larian di Kampung sambil bawa-bawa bendera Partai Keadilan, pake topi Partai Keadilan, sambil nyanyi-nyanyi, "Islam cinta keadilan ... tak kan takut akan rintangan ..."

Jadi sebenarnya saya bikin status itu bukan karena saya tidak suka dengan PKS, tapi karena saya sedang serius mengerjakan skripsi maka semua status tentang PKS yang melakukan konsolidasi atau apel atau apalah namanya di GBK itu mendistrak saya. Saya jadi pengen kesana. Hanya saja komentar orang jadi bikin saya ngeri buat menjelaskan itu :D. You know lah, mengakui kalau kita (emmh, saya sih bukan kader ya) simpatisan PKS sama canggungnya dengan mengakui kalau kita alumni Persis. Seolah-olah kita akan melihat di mata semua orang yang mendengar pengakuan itu, "Shut up your mouth. Or ... hush! Don't speak. I don't care about your affiliation. We live in one world. Live and then ... die. Your affiliation is annoying, useless, nonsense, and something like that." Yaps, saya nggak sesiap itu dicaci maki orang. Biar kakak laki-laki saya saja yang jadi kader PKS sejati.

Oke, bukan itu yang ingin saya ceritakan malam ini sepulangnya saya dari Eyckman dan DU. Tapi yang jelas lain kali saya harus menjaga diri untuk bikin status yang nggak bikin tangan orang gatel untuk komentar hal yang gengges, right.

Oke, apa tadi judulnya, multitasking ya. Jadi tadi pagi, sama seperti pagi biasanya di Cicalengka, Teh Erna masak dengan tumpukan piring kotor di dapur dan baju kotor di kamar mandi yang siap dicuci. Saya dan Sahla main di ruang tamu yang berantakan. Saya selalu serius ketika saya mengatakan saya ingin mengurus anak dan rumah saja sebagai rutinitas. Tidak terikat dengan orang lain selain keluarga saya karena saya sudah merasakan bagaimana tinggal bersama ibu muda yang harus repot ngurus ini itu sambil jadi wanita karir. Di grup whatsapp keluarga saya juga sebagian besar adalah curhatan ibu-ibu mengenai anak, urusan rumah, dan karir ataupun bisnis dan semacamnya. Itu benar-benar jadi Sekolah Pra Nikah buat saya dan adik saya yang mash unyu-unyu.

Dari situ saya berpikir, wanita zaman sekarang memang dituntut untuk multitasking karena ada embel-embel 'wanita karir' dan itu dianggap keren. Saya pernah dengar, entah di pengajian atau apa, bahwa sebenarnya tugas rumah semacam mencuci piring dan mencuci baju adalah tugas pria, tapi karena pria lebih banyak di luar maka dia menitipkannya pada wanita. Gitu apa ya? Nggak tahu deh. Dan saya hidup di zaman dimana perempuan menuntut hak ... hak apa namanya? Persamaan derajat? Kesetaraan gender? Macam itulah. Betapa itu malah jadi mengganggu homeostatis kehidupan berumah tangga.

Intinya adalah nanti saya perlu melakukan kontrak sosial dengan ... emh, saya sebut dia pasangan *uhuk* *siapapun itu* tentang gerak hidup saya setelah ... apa namanya? Menikah, ya? Ya ... itu *mendadak tengsin* *I've promised no talking about married*.

Jadi apa? Kejauhan ya kalau ngomongin 'itu'. Berkaca dulu dengan diri saya sekarang. Mau mengerjakan skripsi, harus serius. Mau menulis novel, harus serius. Mau berorganisasi, harus serius. Jadi yang mana yang mau diseriusin?

Nah loh?!

Kenapa saya tiba-tiba berpikir seperti itu? Tentang passion (menulis), keharusan (skripsi), dan naluri (organisasi). Karena dari dulu masalah saya ngubek-ngubek disitu. Sampai sekarang.

Pertama, ternyata novel saya belum kesentuh. Tahu nggak sih, saya memang (lumayan) bisa nulis novel tapi harus dengan moodbuster yang benar-benar sedang stabil. No mood, no writing seriously. Jush trash, same like this post. Kedua, tadi siang saya peerteaching di Eyckman dengan sangat tidak bergairah sampai ditegur dosen. Lalu saya bertemu dengan Pak Irman, untuk bimbingan BAB 3. Dan kemudian dapat kabar jadwal seminar proposal keperawatan dasar sudah keluar. Oh my God! Eh, saya sih keperawatan jiwa ya, bukan dasar. Tapi tetap saja tegang. Pikiran saya langsung kemana-mana.

Ketiga, yeah ... setelah dari eyckman saya mampi dulu ke DU dan saya bertemu dengan aktivis PW Himi Persis yang pernah minta saya buat gabung di PW Himi sejak ... sejak tahun kemarin sebenarnya. Saya mati gaya, masalahnya dia nangis di depan saya gitu -_-", my God ... lalu saya bertemu dengan Restu dan Riri, junior-junior saya di BEM. Lantas ... saya makan sama Riri dan bercerita lalala yeyeye tentang BEM. Saya jadi mikir ulang, sepertinya masa aktivis saya tidak ada tanggal kadaluwarsanya. Memangnya kata siapa saya sudah kadalauwarsa jadi aktivis? Cuma gara-gara saya nggak nge-BEM lagi bukan berarti saya say goodbye I'm not activist now :p

So ... thinking about -> menulis novel, skripsi, dan organisasi.

Tapi balik lagi, kegarap nggak bro? Katanya mau nulis novel, gimana sih ini bocah. Kan mau lulus Agustus. Dih ... Bukan meragukan kemampuan diri sendiri tapi ya sadar diri. Hal yang membuat saya merasa kadaluwarsa-kadaluwarsa itu gara-gara saya tahu kalau saya orangnya gampang jenuh, bosenan, nggak suka rutinitas, dan ada masalah dengan hal-hal berbau birokrasi dan hirarki. Saya aktivis yang nggak organisatoris banget memang. Menulis novel pun nggak beres-beres karena itu adalah suatu yang struktural. Nggak kayak blog pribadi, if you want to write something, you just need to write. Klik, klik, klik.

Lantas bagaimana? Hal ini jadi renungan saya sepanjang perjalanan DU-Jatinangor. Apalagi tadi Cileunyi-Jatinangor macet parah. Lalu apa kesimpulannya? Kalau saya bertanya sama ibu saya sudah pasti dia bilang, "Skripsi heula bereskeun. Tong mikiran nu lain. Ngke teh loba alasan kitu kieu. Mamah mah alim ngadenger mun lulus teu Agustus."

Curhat sama Allah? Saya suka nggak ngerti sama tanda-tanda-Nya. Kadang intinya let it flow aja. Kayak tadi, tiba-tiba saya ketemu sama aktivis Himi Persis, apa itu tandanya saya harus ikut Himi Persis? Saya tadi ketemu Riri dan Restu, apa itu tandanya saya harus makan rendang di Sekre? Dih, saya kan udah males banget ke Sekre ...

Akhirnya pikiran-pikiran itu meleber ke apa yang akan saya lakukan di bulan Agustus, pasca wisuda. Obrolan profesi atau tidak masih jadi obrolan paling panas saat ini. Kalau saya profesi, saya harus siap setahun mabok to be a nurse. Not a real nurse but it's same ... exhausted. Heuah. Sebenarnya saya tertarik ikut pengabdian dakwah gitu ke Kalimantan atau Sulawesi lewat ... apa namanya? Dukhat? Dhat? Apalah itu. Teman-teman saya banyak yang kesana. Syaratnya adalah kemauan dan ... mau. Ustad Tiar sudah nanya-nanya, "Siap nggak diberangkatkan?"

Tapi kayaknya, eh bukan kayaknya tapi pastinya, tidak akan ada izin dari ibu. Tapi kalau saya ikut pengabdian tahun 2015 setelah profesi. Yakin saya lulus profesi belum ... apa namanya? Nikah *uhuk*? Mungkin sih, saya nggak nikah-nikah sampai tua juga itu mungkin banget :p

Pikiran tentang masa depan memang selalu menjebak saya untuk mengerangkeng kehidupan saat ini. Dan kadang cuma bisa menghela nafas karena saya hanya bisa berdiskusi dengan diri saya sendiri, and you ... blogspot :D, because you always listening my 'lalala yeyeye' every time :p.

You wanna hear my singing? ... yeah ...

I don’t dream about the way
That I never heard you say
“I need you I need you”
I don’t need you now

Don’t need you
Don’t need you now

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…