Search This Blog

Zohrah The Mixer

Huwah, sudah lama saya nggak edit-edit video. Terakhir saya membuat video berjudul Apologia Sebuah Perjalanan pada bulan Desember dengan memakai Movie Studio Platinum. Setelah laptop BEM saya kembalikan, saya susah cari software Movie Studio Platinum, jadi banyak video yang nggak terolah.

Kali ini saya ngorek-ngorek lagi software, belajar menghilangkan vokal tapi musiknya masih ada. Kayak karaokean gitu lah. Saya belajar pakai tiga software, Adobe Audition, Audicity, dan Video Karaoke Maker. Belajar darimana? Google, Youtube, coba-coca, otodidak, klik sana klik sini.


Berawal dari saya mengerutkan kening melihat penampilan anak-anak MDA yang mau tampil nyanyi tanpa musik. Akhirnya saya bilang sama Mamah, "Mah, itu anak-anak nyanyi pakai musik aja ya."

"Ya sok, asal jangan nyewa. Jangan bayar."

Awalnya ga ngeh apa maksudnya nyewa? Ternyata nyewa organ tunggal. Duh, mamah. Kalau dia tahu bahwa saya bisa menampilkan banyak musik di laptop saya, penampilan anak-anak MDA pasti lebih bervariasi. Maaf ya, skripsi dan mata kuliah gadar menahan saya di kosan.

Dan selalu, ketika saya asyik di depan laptop, saya lupa makan.

Hei, Sarah El Zohrah, What's Up?

Saya hobi menulis sejak umur 5 tahun, surat-suratan dengan kakak ke-4, Rahmi Nurfadhilah, ketika saya SD, senang main drama dan bertindak sebagai penguasa skenario. Sejak SMP (I mean tsanawiyyah in boarding school) saya nulis diary, punya buku komunikasi dengan sahabat saya, Salma Fathia Al Huda, yang isinya celotehan-celotehan penting nggak penting. Pernah bikin cerpen tentang Penjara Suci di tahun 2007. Keluar dari pesantren diajarin bikin cerpen dan novel sama Pak Bagja, guru Bahasa Indonesia. Tahun 2009 sempat coba-coba nulis dua cerpen judulnya Sang Calon Ketua dan Harry Potter Freaks, dan satu novel judulnya Mutiara Islam. Masuk kuliah semakin gila menulis dan bersahabat dekat dengan internet. Mendapatkan informasi tentang ajang menulis dan lahirlah anak-anak saya dari antologi di bawah ini:

1. Sebilah Pisau Tumpul (Cerpen)
Foto saya terpampang nyata di sebelah kanan atas, sebelah Mbak Achie TM. Nama saya tersemat di bingkai cover. Cerpen ini bercerita tentang seorang gadis yang stres menjalani cuci darah selama empat tahun. Terinspirasi dari teman dekat saya, M. Fauzan Adly Haqiki, yang didiagnosa gagal ginjal pada saat berumur 16 tahun dan menjalani cuci darah selama empat tahun. Fauzan meninggal dunia saat berumur 20 tahun.

2. Telaga Kausar Indonesia (Puisi)
Saya nggak terlalu ingat saat proses membuat puisi ini. Saya nggak terlalu mahir bikin puisi. Kadang asal-asalan, seenak saya bikinnya aja. Kadang tanpa pola ataupun stimulus. Puisi ini pernah dimuat di Interval 21 juga. Ini bukan puisi terbaik saya, menurut saya sih gitu.

3. Rembulan itu Menebas Bintang Timur (Cerpen)
Ini cerpen terlebay yang pernah saya buat.Ceritanya tentang saya yang ditinggal nikah sama teman saya. Padahal saya kira kita sudah sepakat untuk saling menunggu. Ternyata saya kepedan -_-"

4. Sajak Reofilia (Puisi)
Saya lebih suka puisi ini daripada puisi Telaga Kausar Indonesia, karena puisi yang saya buat disini lebih berpola. Isinya tentang negara Indonesia yang sedang ditimpa musibah dari tanah, air, dan Bumi. Selalu begitu.

 5. Duhai, Tania ... Duhai, Tiara ... (Cerpen)
Ini cerpen terenggak banget. Saya aja kalau baca ulang jijik bacanya :D. Ceritanya tentang ... ah, sudahlah.

6. Orientasi Mahasiswa Dodol (Cerpen)
Ini salah satu cerpen yang agak bagus menurut saya. Tapi sayangnya dari sepuluh penulis yang lolos audisi menulis di Sekolah Tinggi Menulis Jogja ini, judul Diaduk Jablay lah yang menjadi judul cover. Entah tulisan siapa itu, saya lupa. Saya pernah menemukan buku ini di Gramedia dan Tisera, tapi saya nggak kebayang kalau saya beli buku ini dengan dandanan muslimah saya, apa kata kasirnya :|. Oh iya, cerpen ini terinspirasi dari masa-masa saya Mabim di Fkep Unpad.

7. Cinta Kasih Kelapangan Hati (Cerpen)
Salah satu cerpen terbaik saya karena bercerita tentang keluarga. Ibu saya menangis waktu baca cerpen ini :).

8. Dari yang Jutek Hingga yang Gokil (Cerpen)
Meski temanya tentang cinta, tapi isinya nggak bikin saya jijik kok. Ini cuma tulisan saya tentang tipe-tipean itu loh, lagian saya nulis ini pas saya lagi nggak galau.

Sejujurnya kalau kalian melihat rak buku saya, nggak akan ada judul-judul buku di atas. Meski buku-buku tersebut memuat tulisan saya, tapi saya nggak beli buku itu. Pertama, karena saya selektif dalam membeli buku, saya nggak pernah beli buku antologi macam buku-buku di atas. Kedua, sayang uang. Ketiga, ini bukan pencapaian terbaik saya, karena saya maunya bikin novel sendiri, bukan antologi cerpen atau puisi (maksa -_-"). Makanya saya tulis celotehan ini di blogspot bukan di tumblr. Nanti kalau saya sudah berhasil menceklis pencapaian saya, baru saya show up di tumblr.

By the way, saya senang mengetahui bahwa saya pernah semangat belajar menulis dan uji publik tentang kelayakan tulisan saya. Meski buku-buku di atas adalah tulisan saya zaman tahun 2010-2011, sebelum saya resmi jadi aktivis. Tapi, hei, saya independen sekarang. Seharusnya saya bisa meneruskan masa-masa Sarah el Zohrah itu. Nama yang saya buang semenjak saya jadi aktivis. Tapi perlu diketahui bahwa aktivis bukan penyebab saya tidak melanjutkan proses belajar menulis fiksi. Justru menjadi aktivis mematangkan intuisi dan kepekaan saya dalam hal tulisan. Terbukti, saya tidak pernah menulis hal-hal sepele yang galau nggak jelas lagi. Setelah jadi aktivis semua yang saya tulis berbentuk rilis dan artikel dengan memakai nama asli, Sarah nurul Khotimah. Beberapa contoh judulnya:

- Aksi dan Mahasiswa (2012)
- UKT Untuk Kesejahteraan dan Kecerdasan Mahasiswa (2013)
- Menelusuri Jejak Medfo (2014)
- Mempertanyakan Kongres Mahasiswa (2014
- Rilis-rilis event dan aksi, dll

Dan, by the way, what's up Sarah El Zohrah? Miss you so much ... :*

Suka-sukaan, eh -_-

Menjelang nonton Divergent ...
Teman: Kamu suka sama orang seperti apa sih? 
Saya: Suka? Sama orang yang bikin saya suka.

Saya: Tahu Jesse di film Pitch Perfect? 
Teman: Gak tau sar, kenapa gitu? 
Saya: Aku jadi inget aja lagi jatuh cinta sama tokoh Jesse di Pitch Perfect :D (si tengil yang peka dan bawel). Pernah suka sama Peeta di Hunger Games (si kalem dengan kharisma memimpin), cuma dia terlalu baik.

Dipikir-pikir saya bukan suka sama orangnya, sih. Saya suka sama karakter yang dimainkan. Sebagai pecinta fiksi, ya :p. Saya juga nggak terlalu rewel degan tipe-tipean. Salah satu tulisan saya pernah mengulas ini kayaknya, bahwa saya bisa menyukai orang sedingin Rangga di film AADC dengan buku di tangannya tapi saya juga bisa menyukai Ipang di film Realita Cinta Rock n Roll dengan kehidupan liarnya. Masalah prinsip bisa dibicarakan lah, selama nyambung kalau berkehidupan sosial.

Jadi, saya suka sama orang seperti apa? Yang nggak bikin mood saya jadi jelek, I think. Dibikin marah, nangis, kesel, itu nggak masalah. Tapi mematikan mood baik, bagi seorang penulis moody seperti saya, it's everything. No offense ya, cuma lagi nggak ada teman ngobrol.

Have You been Married?

Menggigil lagi,
Pada suatu sore yang mempertemukan udaraku dan udaramu
Pada suatu dingin yang mengingatkanku pada cuacamu

Tergenang lagi,
Pada suatu sudut yang tak bisa dicapai siapapun
Pada suatu rasa yang kita coba injak bersama

Mati, perlahan ...
Membusuk dalam diam

Meletupkan kembang api
Mengoyak perut

Baikkah jika kita bertemu?

Hhhhh ...

Jika semuanya terjadi karena sebuah alasan
Untuk alasan apa kita dipertemukan?

Kita tidak perlu menerkanya

***

Sepertinya kita sama-sama tahu bahwa kita akan cocok menjadi tiga sahabat yang berbagi dunia. Aku sendiri tidak tahu tembok macam apa yang menghalangi pertemuan kita bertiga. Atau mungkin kita berdua. Atau berempat. Aku tidak tahu, aku benar-benar tidak mau mendobrak tembok itu. Kita sudah menjadi pribadi yang berbeda. Sangat berbeda. Mungkin kamu akan lupa kita sering mendiskusikan kehidupan sosial. Seperti aku yang lupa sastra macam apa yang aku pelajari darimu.

Kamu mengenalkanku Tuhan. Aku mengingatkanmu Islam. Kamu meracuniku dengan sastra. Aku berusaha menjadikannya nyata. Menulislah. Kita hanya perlu menulis, kataku. Tulisanmu jelek, picisan, itu katamu. Lalu kalimat cemoohan apa lagi yang akan kita keluarkan setelah kita mendewasakan diri di tempat yang berbeda. Ah, teman ... tulisan kita saja sudah berbeda. Aku tidak mengerti puisi-puisimu sekarang. Seperti kamu yang tidak akan mengerti artikel-artikel politikku. Atau resume patofisiologiku.

Apa yang kamu pikirkan tentang demokrasi? politik? Islam? Kita akan menemukan banyak hal berbeda yang telah mengalir dalam keseharian kita. Aku tahu kamu semakin mempertanyakan Tuhan. Aku tidak bisa membantumu menjawabnya. Gelisahlah, Tuhan akan memberimu jawaban.

Aku merindukan teater, juga pertunjukan. Tapi aku tidak ingin melihat pertunjukanmu meski dulu mimpikulah melihatmu berada di panggung teater. Menggila. Menerima tepuk tangan. Sorakan tengah malam. Apakah gelap tetap menjadi temanmu? Aku sudah menyukai terang sekarang.

Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan menemukan sepenggal kisah hidup yang aku sendiri tidak bisa menjelaskannya. Tanya yang tidak pernah bisa aku jawab. Bagaimana bisa? Aku akan semakin tidak bisa menjawab. Teman, maaf otakku runyam jika kembali pada masa itu. Bisakah kita bertemu kembali tanpa masa lalu?

Ada duniaku yang terampas terhembus awan. Aku tidak berani mengambilnya. Duniaku kini cukup mempelajari ilmu kesehatan, membaca novel, berorganisasi. Kemana hasrat seniman yang dulu meletup-letup? Aku tidak tahu. Mungkin sudah sama-sama terkubur. Seperti terkuburnya lukisan dan hasrat melukis Lena, ibunda Keenan.



***

Menggigil lagi
Pada pena yang memuntahkan tinta
Pada kertas yang kusut tak berupa

Disini, diam, mengamati
Semuanya masih berirama

Gemuruh langit yang memuntahkan hujan
Sapuan jemari dalam ketukan dan ketikan

Sore bersama hari yang basah
Sore bersama pandangan yang kabur

Apakah disana masih sedingin pertemanan kita?

***

Ah, kamu memang manusia ajaib. Abnormal. Aku tidak bisa merusak kotak tertawamu, untuk apa? Hanya karena aku iri dengan kebahagiaanmu. Itu picik. Aku tahu.

Ajaib sekali sore ini, seajaib pertemanan kita. Hanya satu pertanyaan yang membuatku terusik setelah tiga tahun keheningan kita, have you been married?

***
PS: melankolis sebentar boleh lah, bro :p

-------------

Beberapa jam setelah menulis ini saya benar-benar mengirim pesan kepada teman saya.
Saya : have you been married?
Intan: begitulah sar :) 
Saya: Jawaban apa tuh tan :D 
Intan: alhamdulillah udah :D. gini yah.. 
Saya: kok ga bilang-bilang tan 
Intan: ntar sabtu kok resepsinya juga sar. makanya aku ngundang-ngundangnya pas resepsi aja.
 Ada lebih dari beribu kata yang ingin saya tulis mendengar kabar ini, teman.

Apa ya?

#1
Saya resmi jadi volunteer HUT Museum KAA untuk opening seremoni. Saya sudah mendaftar citizen journalist club.

#2
Saya baru tahu kalau Panti dan Fuad menikah hari ini. Mereka jadi pasangan ke-4 teman saya yang nikah dengan teman sekelas. Setelah Irfan-Wilda, Eka-Rani, dan Iin-Jajang.

#3
Saya sudah fiks daftar FIM lagi.

#4
Saya belum kirim tulisan saya ke Bentang.

#5
Saya belum membuka file novel.

#6
Saya belum membuka skripsi lagi

#7
Saya seminar proposal minggu depan

dan saya sakit kepala ...

Menghidupkan Kembali Tumblr :)

Tadi pagi saya kuliah Critical Care Nusing dengan kasus keracunan, luka bakar, dan resusitasi cairan. Lalu sambil makan siang saya diskusi dengan Ria Amalia tentang Kristologi, film Son of God (tentang Nabi Isa) dan film Noah (tentang Nabi Nuh). Sepertinya keduanya cerita versi Kristen or Yahudi. Kita belum nonton. Belum ada (atau mungkin nggak akan tayang) di Indonesia. Terus kita nyimak dialog kristiani dan muslim di youtube. Membahas tentang mitos dewa-dewi klasik dan modern. Terus Nabila datang. Lalu kita bertiga bahas penulis novel, Rick Riordan, Stephanie Meyer, Dan Brown, Rowlink, penulis Hunger Games dan Narnia. Yeah, kami adalah kumpulan pecinta novel terjemahan.

Setelah sholat zuhur Asri minta dianterin ke Bale Santika, karena Sinta sudah duluan kesana. Dia nggak ada teman. Karena saya baik jadi saya antar dia ke Bale dengan janji jam 2 siang sudah di fakultas lagi untuk nonton seminar proposal Erma. Di Bale saya bertemu Fikri, Kang Azis, Kang Rendi, dan Nia. Yeay, agregasi protagoni. Kkkkkk. Lalu menyimak cerita seseorang yang keren abis. Jujur, saya yang mungkin emang cengeng, udah pengen nangis mendengar dia melepas passion-nya dalam nge-band dan sempat terpuruk, jatuh miskin. Dia menemukan spiritualitasnya. Tahu tujuan hidupnya apa. Melangkah dengan keyakinannya sendiri. Keren, ya. Menurut saya sih keren. Terlepas dari bisnis-bisnisnya, saya lebih standing applause dengan titik balik dalam hidupnya. Dan kesadarannya bahwa saatnya dia balik badan. Keprok, bro.

Jam dua saya nonton UP-nya Erma yang diuji sama Pak Iyus dan Bu Efri. Surga banget lah diuji sama Pak Iyus. Pak Iyus tuh baik banget. Ya Allah, semoga kebaikan Pak Iyus terhadap mahasiswa yang dia uji menjadi syafaat buat saya agar dibaikin juga sama dosen penguji. Aamin. Di sela-sela UP Erma, saya ketemu Ibu Wadek yang nanti jadi penguji saya. Mencocokan jadwal. Salam Satu April.

Lalu saya peer teaching dengan alur cerita, pasien itu pankreatitis (pankreas-nya ada bakteri) -> SIRS (ada tanda inflamasi) -> ga diobatin kali ya -> sampai nekrotik (ada jaringan yang mati) -> pankreas ga berfungsi dengan baik -> eksokrin dan endokrin tidak berfungsi -> perineum-nya (rongga perut) ikut terinfeksi -> tidak terlokalisir jadi namanya pertonitis difus -> terus dia  dioperasi namanya post laparotomy (perutnya dibedah terus si isi perutnya usus dan lain sebagainya dikeluarin terus nanti kalau udah selesai dimasukin lagi) -> kena infeksi lagi -> malah jadi sepsis berat (agak mengingatkan saya dengan almarhumah Uphie) -> muncul tuh tanda-tanda sepsis berat -> gagal organ (jantung, paru-paru, ginjal) -> di jantung bikin pasien bradikardi (nadi rendah), hipotensi, hematokrit rendah, gangguang perfusi lah pokoknya. -> di paru-paru bikin pasien efusi pleura (paru-paru basah) -> di ginjal bikin pasien jadi gagal ginjal akut dengan ciri ureum kreatinin-nya tinggi -> terus dirumuskan permasalahannya, diagnosanya, intervensinya, rasionalnya. begitulah.

Ini ditulis cuma segini doang. Kalau dijelaskan patofisiologinya (gimana ceritanya si organ dari dia sehat terus jadi sakit) itu si bagan panah-panahnya bisa menuhin papan tulis yang gede itu loh. Belum istilah-istilah yang kadang bikin kita loading-nya lama. Tadi saja kelompok tutor saya peer teaching dari jam 3 sore dan selesai jam 5 sore. Hyih. Pulangnya saya ngobrol dulu dengan Wiwi tentang ... apalagi kalau bukan tentang UP.

Panjang ya, padahal saya bukan mau menulis ini. Tapi blog ini namanya juga Daily Zohrah, kalau diterjemahkan jadi Harian Zohrah. Udah kayak koran aja :D. Jadi isinya tentang keseharian saya dalam menjalani hidup disana, disini, dan dimana-mana. Buat apa? Pertama buat terapi saya yang lagi jomblo (geuleuh). Maksudnya writing is struggle againts silence tea geuning. Saya itu kalau dikenali lebih dekat bukan orang yang pendiam. Tanya sama keluarga dan sahabat dekat saya, Hanna deh yang sekarang sekamar kosan. Nggak ada pendiam-pendiamnya sama sekali. Tapi karena saya sudah agak nyaman dengan (rada) pendiamnya saya ditambah kadang saya nggak ada teman ngobrol, saya menuangkan kebawelan saya di blogspot. Postingan maha sih yang saya nggak banyak ngomong. Eh, ada sih kayaknya. Postingan pas saya lagi nggak mood :p.

Kedua, untuk mengingatkan saya tentang apa yang sudah terjadi, apa yang pernah saya pikirkan, dan apa yang pernah saya rencanakan. Saya sering buka-buka tulisan lama saya dan jadinya kayak menelusuri masa lalu, masuk pensieve gitu. Nggak tahu pensieve ya? Nggak gaul. Itu loh ada film Yahudi terkenal yang bercerita tentang pensieve. Judul filmnya Harry Potter. Yeah, itu film Yahudi sejati memang.

Ketiga, mungkin ini alasan yang agak lucu. Saya ingin anak-anak saya tahu bahwa saya manusia normal, pernah remaja, dan melewati masa remaja itu dengan cara saya. Mereka akan tahu itu lewat celotehan-celotehan saya di blog. Saya ingin anak-anak saya mengerti saya, ketika saya memiliki prinsip ini, aturan ini, kebiasaan ini, saya ingin anak-anak saya tahu kenapa ibunya bisa memiliki pola pikir dan karakter seperti itu yaitu dari apa yang sudah saya alami dan saya tuliskan. Sama seperti ketika mencari staff di BEM, saya mencari orang yang agak kayak saya. Untuk anak pun begitu, saya berharap anak saya nggak jauh dari kayak saya. Itu sih alibinya, sebenarnya harusnya kata anak-anak saya itu diganti dengan seseorang berjenis kelamin pria yang Allah titipkan seorang saya untuk dia jaga, dia bentuk, dia amanahi menjadi wanita sholihah di dunia dan berbahagia di syurga. *kenapa sih Sar, mepet kesana terus -_-* *tapi Aamin, deh :)* Mungkin sebelum *ehm* menerima pinangangan saya akan bilang, if you want to know me so well, try to read my blogspot. and then we can discuss about my mind, my daily. and then we can ... *uhuk* plan and create our future ... together *pret*.

Oke, itu untuk blogspot. Lalu kenapa saya membuat tumblr? Entahlah. Saya membuat tumblr tahun 2010, apa 2011 ya. Saya masih ingat posting-an pertama saya adalah Cicak di Dinding, sebuah prosa tentang seseorang yang hanya senang mengamati, berdecak, lalu diam. Maba, bro. Tapi saat itu saya masih suka membuat Note di Facebook jadi Tumblr jarang diisi. Makanya di Blogspot, posting-an saya tahun 2010 cuma ada satu. Itu karena pada tahun itu saya lebih suka posting Note di Facebook. Masih anak alay yang butuh eksistensi gitu lah. sekarang udah enggak ya, sorry.

Tahun 2012, saya masih posting-posting di Note Facebook. Tahun 2013, saya berhenti. Waktu itu saya jadi Medfo BEM Kema, jadi separuh otak saya tentang Medfo. Kadang nggak ngerti gitu mau posting cerita apa. Akhirnya saya masih iseng-iseng nulis di Blogspot, tapi beberapa saya hidden karena sering dibahas di Sekre sama Kang Wildan. Sorry ya, Blogspot saya bukan untuk dieksploitasi. Saya juga mulai berhenti menulis di Note Facebook karena sekarang Facebook terlalu berisik buat saya, teman saya 4.424, follower facebook 1.380. Itu cukup membuat saya memilah-milah apa yang mau saya posting di Facebook.

Nah, karena saya berpikir Blogspot juga isinya hanya saya yang sedang meracau dan tidak' layak baca, maka saya berinisiatif untuk menagktifkan kembali Tumblr pada tahun 2013 kemarin. Tapi tetap saja saya lebih senang nulis di Blogspot. Mungkin karena Blogspot adalah sahabat lama saya, tak tergantikan. Ciee. Bukan sih, karena alasannya tulisan saya tetap racauan nggak keren.

Tapi kemarin saya berpikir sesuatu tentang 'menulis dengan serius'. Bukan bikin novel, artikel, atau apapun. Maksudnya saya mau membuat blog yang layak baca. Saya jarang nge-share blogspot kecuali kalau saya ingin seseorang membacanya. Bukan karena butuh eksistensi sih, saya cuma nggak mau orang baca blogpsot saya aja. Soalnya menurut saya isinya sampah. Jadi saya menghidupkan kembali Tumblr yang mudah-mudahan lebih layak baca. Kalau Voldemort sih butuh darah musuh, tulang ayah, dan daging abdi untuk menghidupkan dirinya. Saya hanya butuh laptop, internet, dan mood yang bagus untuk menghidupkan Tumblr. Mudah-mudahan sih nggak ada aplikasi web lainnya untuk menulis ya, biar saya setia sama Blogspot dan Tumblr :p. Meski saya pernah tertarik dengan MySpace, Wordpress, Kompasiana, Detikblog, Okezone, dan ini, dan itu.

Jadi mulai sekarang saya ubah semua info blog dengan Tumblr. Semoga sih istiqomah 'menulis dengan serius', no trash :p. Jika tidak (bukan 'Jika Ada', itu mah Kang Wildan), I'm back.

Hei, Tumblr. Let's write seriously :)

Let's Scream! April MOP!



Akhirnya jadwal seminar proposal keluar juga dan itu lumayan bikin saya pusing nggak karuan.

Pertama karena jadwal seminar saya bersamaan dengan jadwal ujian praktikum Critical Care. Ada tiga skill lab yang harus saya kuasai. RJP dan ventilasi lima siklus. Bidai dan beberapa pertolongan sistem muskulo skeletal. Terakhir adalah titrasi obat. Satu April akan menjadi hari paling enggak banget buat saya.

Kedua karena Ketua Penguji saya adalah Ibu Wakil Dekan Satu yang sudah bergelar Ph.D yang ahli banget dalam masalah kejiwaan dan riset keperawatan. Saya ngerasa beliau terlalu tinggi ilmunya buat menguji saya. Dari semua yang mengerjakan skripsi keperawatan jiwa, hanya saya dan Lia Mas'udah yang Ketua Penguji-nya Wadek Satu. Oke, saya jadi merasa terhormat.

Ketiga karena sebenarnya saya masih belum mengerjakan BAB dua. Akhirnya saya memutuskan untuk memasukan teori Zohar dan Marshall. Duh, saya pusing sendiri dengan judul ini.

Yeaaaaah ... Let's SCREAM untuk SATU APRIL!

Salam Satu April :p

Jadi Mikir :-/

*I've promised no talking about married*

Celotehan di postingan sebelumnya. Karena malam ini saya lagi acak-acakan. Oh iya, tadi saya makan rendang loh di sekre sama Teh Ela, Riri, Restu, Vira, Nini, Iyan. Ketemu Yuni, Nimas, Nia, Chantik. Yeah, agregasi Protagonis. Haha.

Tadinya  malam ini mau rekap data tesis A Indra, tiba-tiba ngerasa jenuh baru rekaman pertama. Geje gitu. Mau revisi BAB 2, no mood, sorry. Mau bikin resume, emmh ya bikin resume aja deh. Sudah posting ini saya akan membuat resume. Karena kalau nggak bikin resume pilihan lainnya adalah saya baca Manga atau youtube-an. Itu sungguh tidak produktif, kawan-kawan.

Sorry basa-basi nggak keren. Cuma keingetan obrolan kemarin sore dengan seorang teman di FH Unpad.

Teman     : Sarah kapan nikah? 
Saya        : Enggak tahun ini kayaknya, Teh. 
Teman     : Kenapa? Bukannya udah ditanyain terus sama adik kamu. 
Saya        : Aah, dia mah seneng godain kakaknya.
Teman     : Eh, teman saya aja ada yang nanyain nomor Sarah. Tapi nggak saya kasih, soalnya saya tahu lah dia gimana, Sarah gimana. Nggak akan nyambung. 
Saya        : *mengerutkan kening* 
Teman     : Maksud saya tuh, gimana ya. Sarah tuh orangnya kan pemikir, beda lah sama dia. 
Sarah       : Emang iya ya? *tiba2 tidak mengenali diri sendiri*
Sejak kecil saya orangnya emang mikir, apa-apa dipikirin sambil mengerutkan kening sampai disebut 'tukang kerung', gampang kepikiran, senang pelajaran berpikir daripada menghapal, dikit-dikit dipikirin, mikir ininya, mikir itunya. Lalu kalau saya tipe pemikir kenapa .... -_-" Jadi mikir :-/

Multitasking, Multiple Choice :|

Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat untuk Mente, Tri Nur, Fuji, dan Evi yang Jumat ini mau seminar proposal. Yeah, saya ikut tegang. Juga Vrian, partner bimbingan Pak Irman yang seminar proposal hari Senin depan. Saya harus dapat kursi istimewa buat nonton UP kamu, Vri!

Lalu, saya mau bahas sedikit tentang status facebook saya:
Sepertinya facebook saya terlalu banyak berteman dengan kader PKS.PKS, PKS, everywhere ...
Sebenarnya saya mau mejelaskan di facebook juga tapi baru status segitu saja banyak yang komen. Yeah, saya nggak mau bikin kontroversi dulu. Cukup skripsi saya yang jadi kontroversi di dalam pikiran ini.

Well, keluarga saya kan islami ya (lumayan). Orang tua saya dulu PPP, setelah Masyumi nggak ada kali ya. Orang tua asuh saya PBB, gara-gara Persis dulu milih PBB. Sementara kakak laki-laki saya yang terpapar keluarga Tasik itu PKS banget gitu lah. Intinya keluarga saya akan memilih partai islam because we love islam, yeah keprok, eh Allahu Akbar. Lalu kenapa saya bikin status tentang PKS?

Saya pernah bikin tulisan di blog ini, lupa judulnya apa, bahwa seharusnya dulu tahun 1999 Persis itu milih PKS, bukan PBB. Saya dengar itu dari ... Ustad Atip kalau nggak salah, apa siapa ya. Lupa. Nah, karena kakak laki-laki saya PKS banget, maka sejak tahun 1999 saya sudah diracuni dengan hal-hal tentang PKS, dulu namanya Partai Keadilan kan ya. Saya nggak akan pernah lupa bahwa saya yang masih berumur 7 tahun saat itu, lari-larian di Kampung sambil bawa-bawa bendera Partai Keadilan, pake topi Partai Keadilan, sambil nyanyi-nyanyi, "Islam cinta keadilan ... tak kan takut akan rintangan ..."

Jadi sebenarnya saya bikin status itu bukan karena saya tidak suka dengan PKS, tapi karena saya sedang serius mengerjakan skripsi maka semua status tentang PKS yang melakukan konsolidasi atau apel atau apalah namanya di GBK itu mendistrak saya. Saya jadi pengen kesana. Hanya saja komentar orang jadi bikin saya ngeri buat menjelaskan itu :D. You know lah, mengakui kalau kita (emmh, saya sih bukan kader ya) simpatisan PKS sama canggungnya dengan mengakui kalau kita alumni Persis. Seolah-olah kita akan melihat di mata semua orang yang mendengar pengakuan itu, "Shut up your mouth. Or ... hush! Don't speak. I don't care about your affiliation. We live in one world. Live and then ... die. Your affiliation is annoying, useless, nonsense, and something like that." Yaps, saya nggak sesiap itu dicaci maki orang. Biar kakak laki-laki saya saja yang jadi kader PKS sejati.

Oke, bukan itu yang ingin saya ceritakan malam ini sepulangnya saya dari Eyckman dan DU. Tapi yang jelas lain kali saya harus menjaga diri untuk bikin status yang nggak bikin tangan orang gatel untuk komentar hal yang gengges, right.

Oke, apa tadi judulnya, multitasking ya. Jadi tadi pagi, sama seperti pagi biasanya di Cicalengka, Teh Erna masak dengan tumpukan piring kotor di dapur dan baju kotor di kamar mandi yang siap dicuci. Saya dan Sahla main di ruang tamu yang berantakan. Saya selalu serius ketika saya mengatakan saya ingin mengurus anak dan rumah saja sebagai rutinitas. Tidak terikat dengan orang lain selain keluarga saya karena saya sudah merasakan bagaimana tinggal bersama ibu muda yang harus repot ngurus ini itu sambil jadi wanita karir. Di grup whatsapp keluarga saya juga sebagian besar adalah curhatan ibu-ibu mengenai anak, urusan rumah, dan karir ataupun bisnis dan semacamnya. Itu benar-benar jadi Sekolah Pra Nikah buat saya dan adik saya yang mash unyu-unyu.

Dari situ saya berpikir, wanita zaman sekarang memang dituntut untuk multitasking karena ada embel-embel 'wanita karir' dan itu dianggap keren. Saya pernah dengar, entah di pengajian atau apa, bahwa sebenarnya tugas rumah semacam mencuci piring dan mencuci baju adalah tugas pria, tapi karena pria lebih banyak di luar maka dia menitipkannya pada wanita. Gitu apa ya? Nggak tahu deh. Dan saya hidup di zaman dimana perempuan menuntut hak ... hak apa namanya? Persamaan derajat? Kesetaraan gender? Macam itulah. Betapa itu malah jadi mengganggu homeostatis kehidupan berumah tangga.

Intinya adalah nanti saya perlu melakukan kontrak sosial dengan ... emh, saya sebut dia pasangan *uhuk* *siapapun itu* tentang gerak hidup saya setelah ... apa namanya? Menikah, ya? Ya ... itu *mendadak tengsin* *I've promised no talking about married*.

Jadi apa? Kejauhan ya kalau ngomongin 'itu'. Berkaca dulu dengan diri saya sekarang. Mau mengerjakan skripsi, harus serius. Mau menulis novel, harus serius. Mau berorganisasi, harus serius. Jadi yang mana yang mau diseriusin?

Nah loh?!

Kenapa saya tiba-tiba berpikir seperti itu? Tentang passion (menulis), keharusan (skripsi), dan naluri (organisasi). Karena dari dulu masalah saya ngubek-ngubek disitu. Sampai sekarang.

Pertama, ternyata novel saya belum kesentuh. Tahu nggak sih, saya memang (lumayan) bisa nulis novel tapi harus dengan moodbuster yang benar-benar sedang stabil. No mood, no writing seriously. Jush trash, same like this post. Kedua, tadi siang saya peerteaching di Eyckman dengan sangat tidak bergairah sampai ditegur dosen. Lalu saya bertemu dengan Pak Irman, untuk bimbingan BAB 3. Dan kemudian dapat kabar jadwal seminar proposal keperawatan dasar sudah keluar. Oh my God! Eh, saya sih keperawatan jiwa ya, bukan dasar. Tapi tetap saja tegang. Pikiran saya langsung kemana-mana.

Ketiga, yeah ... setelah dari eyckman saya mampi dulu ke DU dan saya bertemu dengan aktivis PW Himi Persis yang pernah minta saya buat gabung di PW Himi sejak ... sejak tahun kemarin sebenarnya. Saya mati gaya, masalahnya dia nangis di depan saya gitu -_-", my God ... lalu saya bertemu dengan Restu dan Riri, junior-junior saya di BEM. Lantas ... saya makan sama Riri dan bercerita lalala yeyeye tentang BEM. Saya jadi mikir ulang, sepertinya masa aktivis saya tidak ada tanggal kadaluwarsanya. Memangnya kata siapa saya sudah kadalauwarsa jadi aktivis? Cuma gara-gara saya nggak nge-BEM lagi bukan berarti saya say goodbye I'm not activist now :p

So ... thinking about -> menulis novel, skripsi, dan organisasi.

Tapi balik lagi, kegarap nggak bro? Katanya mau nulis novel, gimana sih ini bocah. Kan mau lulus Agustus. Dih ... Bukan meragukan kemampuan diri sendiri tapi ya sadar diri. Hal yang membuat saya merasa kadaluwarsa-kadaluwarsa itu gara-gara saya tahu kalau saya orangnya gampang jenuh, bosenan, nggak suka rutinitas, dan ada masalah dengan hal-hal berbau birokrasi dan hirarki. Saya aktivis yang nggak organisatoris banget memang. Menulis novel pun nggak beres-beres karena itu adalah suatu yang struktural. Nggak kayak blog pribadi, if you want to write something, you just need to write. Klik, klik, klik.

Lantas bagaimana? Hal ini jadi renungan saya sepanjang perjalanan DU-Jatinangor. Apalagi tadi Cileunyi-Jatinangor macet parah. Lalu apa kesimpulannya? Kalau saya bertanya sama ibu saya sudah pasti dia bilang, "Skripsi heula bereskeun. Tong mikiran nu lain. Ngke teh loba alasan kitu kieu. Mamah mah alim ngadenger mun lulus teu Agustus."

Curhat sama Allah? Saya suka nggak ngerti sama tanda-tanda-Nya. Kadang intinya let it flow aja. Kayak tadi, tiba-tiba saya ketemu sama aktivis Himi Persis, apa itu tandanya saya harus ikut Himi Persis? Saya tadi ketemu Riri dan Restu, apa itu tandanya saya harus makan rendang di Sekre? Dih, saya kan udah males banget ke Sekre ...

Akhirnya pikiran-pikiran itu meleber ke apa yang akan saya lakukan di bulan Agustus, pasca wisuda. Obrolan profesi atau tidak masih jadi obrolan paling panas saat ini. Kalau saya profesi, saya harus siap setahun mabok to be a nurse. Not a real nurse but it's same ... exhausted. Heuah. Sebenarnya saya tertarik ikut pengabdian dakwah gitu ke Kalimantan atau Sulawesi lewat ... apa namanya? Dukhat? Dhat? Apalah itu. Teman-teman saya banyak yang kesana. Syaratnya adalah kemauan dan ... mau. Ustad Tiar sudah nanya-nanya, "Siap nggak diberangkatkan?"

Tapi kayaknya, eh bukan kayaknya tapi pastinya, tidak akan ada izin dari ibu. Tapi kalau saya ikut pengabdian tahun 2015 setelah profesi. Yakin saya lulus profesi belum ... apa namanya? Nikah *uhuk*? Mungkin sih, saya nggak nikah-nikah sampai tua juga itu mungkin banget :p

Pikiran tentang masa depan memang selalu menjebak saya untuk mengerangkeng kehidupan saat ini. Dan kadang cuma bisa menghela nafas karena saya hanya bisa berdiskusi dengan diri saya sendiri, and you ... blogspot :D, because you always listening my 'lalala yeyeye' every time :p.

You wanna hear my singing? ... yeah ...

I don’t dream about the way
That I never heard you say
“I need you I need you”
I don’t need you now

Don’t need you
Don’t need you now

Main-Main di Ipersonic

Gara-gara nyentil kepribadian, jadi iseng nyoba tes kepribadian di www.ipersonic.net. Haha dasar. Kali ini tanpa komentar karena saya 90% setuju dengan hasilnya. This is the result:

Saya tipe kepribadian: Idealis Spontan

Tipe Idealis Spontan adalah orang-orang kreatif, periang, dan berpikiran terbuka. Mereka penuh humor dan menularkan semangat menikmati hidup. Antusiasme dan semangat mereka yang menyala-nyala menginspirasi orang lain dan menghanyutkan mereka. Mereka menikmati kebersamaan dengan orang lain dan sering memiliki intuisi yang jitu mengenai motivasi dan potensi orang lain. Tipe Idealis Spontan adalah pakar komunikasi dan penghibur berbakat yang sangat menyenangkan. Keriaan dan keragaman dijamin saat ada mereka. Namun demikian, kadang-kadang mereka terlalu impulsif saat berhubungan dengan orang lain dan dapat menyakiti orang tanpa bermaksud demikian, karena sifat mereka yang blak-blakan dan terkadang kritis.

Tipe kepribadian ini adalah pengamat yang tajam dan awas; mereka tidak akan ketinggalan satu kejadian pun di sekitar mereka. Dalam kasus ekstrem, mereka cenderung terlalu sensitif serta waspada berlebihan dan dalam hati siap melompat. Kehidupan bagi mereka adalah drama yang menggairahkan penuh keragaman emosi. Namun demikian, mereka cepat menjadi bosan ketika hal-hal terjadi berulang dan dibutuhkan terlalu banyak detail serta ketelitian. Kreativitas, daya khayal, dan orisinalitas mereka paling mudah dikenali ketika mengembangkan proyek atau ide baru – kemudian mereka menyerahkan seluruh pelaksanaan rincinya kepada orang lain. Secara singkat, tipe Idealis Spontan sangat bangga akan kemandiriannya, baik di dalam diri maupun yang tampak dari luar, dan tidak suka menerima peran bawahan. Oleh karena itu mereka memiliki masalah dengan hirarki dan otoritas.

Jika Anda memiliki tipe Idealis Spontan sebagai teman, Anda tidak akan pernah bosan; bersama mereka, Anda dapat menikmati kehidupan sebaik-baiknya dan merayakannya dengan pesta-pesta terbaik. Di saat bersamaan, mereka hangat, peka, penuh perhatian, dan selalu bersedia membantu. Jika seorang Idealis Spontan baru jatuh cinta, langit dipenuhi biola dan pasangan mereka akan dihujani perhatian dan kasih sayang. Tipe ini kemudian berlimpah dengan pesona, kelembutan, dan imajinasi. Namun, sayangnya, begitu kebaruan itu luntur dengan cepat akan membosankan bagi mereka. Kehidupan berpasangan sehari-hari yang membosankan tidak cocok untuk mereka sehingga banyak tipe Idealis Spontan keluar-masuk percintaan sesaat. Namun demikian, jika pasangannya bisa membuat rasa ingin tahu mereka tetap hidup dan tidak membiarkan rutinitas dan keakraban melanda, tipe Idealis Spontan dalam menjadi pasangan yang menginspirasi dan penuh kasih sayang.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: spontan, antusias, idealis, ekstrovert, teoritis, emosional, santai, ramah, optimis, memesona, suka membantu, mandiri, individualis, kreatif, dinamis, periang, humoris, penuh semangat hidup, imajinatif, mudah berubah, mudah menyesuaikan diri, setia, peka, menginspirasi, mudah bergaul, komunikatif, sulit ditebak, ingin tahu, terbuka, mudah tersinggung.

Main-Main di Psikologi Zone

Ngenes banget malam ini bikin resume tentang peningkatan tekanan intrakranial dan hubungannya denga meningitis TB. Ini mengingatkan saya pada Uphi, teman saya yang meninggal karena meningitis TB. Oke, lupakan. Kita tidak akan membahas itu.

Di sela-sela pembuatan resume saya iseng ngisi tes apalah namanya di www.psikologizone.com yang saya lihat di statusnya Teh Hani. Yeah, beginilah, saya memang gampang jenuh kalau melakukan hal yang buat saya membosankan. Pertama saya coba, hasil dari tes saya adalah E-N-F-P. Sama dengan Teh Hani. Tapi saya berharap saya tidak dapat pasangan I-N-T-J. Pasti membosankan.

This is the result dan komentar iseng saya yang saya tulis di dalam kurung (....).

Tipe Kepribadian ENFP
The Inspirer (cieee haha)
ENFP adalah inisiator dalam perubahan (saya ga pernah jadi inisiator), tajam dalam perseptif adanya kemungkinan (yeah). Mereka memberi energi dan merangsang orang lain melalui api antusiasme mereka (sedikit). Mereka tak kenal lelah dalam mengejar sesuatu yang baru ditemukan (kalau saya suka). ENFP mampu mengantisipasi kebutuhan orang lain, lalu menawarkan bantuan (yeah, kadang saya tiba-tiba pengen bantu orang lain secara random). Mereka membawa semangat (hm?), sukacita (masa?), keaktifan (lumayan), dan menyenangkan (haha apa iya saya menyenangkan) untuk semua aspek kehidupan mereka.
Mereka adalah yang terbaik dalam situasi yang memungkinkan mereka untuk mengekspresikan kreativitas mereka dan menggunakan karisma mereka (gitu ya?). Mereka cenderung mengidealkan orang (memang), dan bisa kecewa ketika realitas gagal memenuhi harapan mereka (bener banget). Mereka mudah frustasi jika proyek tersebut membutuhkan banyak perhatian terhadap “detail” (eta pisan).
ENFP paling memiliki kemampuan besar (kemampuan apaan?). Mereka benar-benar hangat dan tertarik pada orang (iya sih), dan sangat mementingkan hubungan antar-pribadi (iya, kadang jadinya berlebihan). ENFP hampir selalu memiliki kebutuhan yang kuat untuk disukai (iya).
Mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk memahami secara intuitif seseorang setelah waktu yang sangat singkat (iya, kadang jadinya sok tahu :D), dan menggunakan intuisi mereka dan fleksibilitas untuk berhubungan dengan orang lain (iya banget).
ENFP menganggap sebuah rincian dalam kehidupan sehari-hari merupakan sesuatu hal yang sepele dan membosankan (yeah memang haha). Ketika mereka dihadapkan dengan tugas yang perlu kerincian dan runtutan aturan, mareka tidak menikmatinya dan bisa membuat frustrasi (bener, bener).
ENFP pada dasarnya orang yang bahagia (aamiin ^_^). Mereka mungkin menjadi tidak senang ketika mereka terbatas karena sebuah jadwal yang ketat atau tugas-tugas rutin (betul). Akibatnya, ENFP dapat bekerja dengan baik dalam situasi di mana mereka memiliki banyak fleksibilitas (yups, saya gampang jenuh), dan di mana mereka dapat bekerja dengan orang-orang yang penuh ide (yo'i). Banyak dari mereka membuat bisnis sendiri (lebih tepatnya melakukan sesuatu sendiri). Mereka memiliki kemampuan cukup produktif (aamiin), selama mereka sangat antusias tentang apa yang mereka lakukan (memang :D).
Ringkasan: Hangat (kadang-kadang kalau mood-nya lagi stabil), antusias (oh tentu) dan imajinatif (yeah, imajinasi saya terlalu liar). Melihat hidup penuh dengan kemungkinan (tentu). Membuat hubungan antara peristiwa dan informasi (yaps, saya kan media informasi), dan percaya diri untuk melanjutkan sesuatu berdasarkan pola yang mereka lihat (selama dikerjakan sendiri). Ingin banyak penegasan dari orang lain (emmmh *mengerutkan kening*), dan siap memberikan apresiasi dan dukungan (lumayan). Spontan dan fleksibel (yap), sering mengandalkan kemampuan mereka untuk berimprovisasi (yap) dan kefasihan lisan mereka (saya tertarik dengan public speaking dari SD).
Keywords: Gagasan dan kemungkinan (okay), antusiasme (yap), energi tinggi (dalam hal-hal yang disukai), keterampilan (especially, menulis), beradaptasi (yap, saya sudah biasa di tempat baru), kreatif (lumayan).
Karir pekerjaan: Konseling (saya ga terlalu suka denger curhatan orang), psikolog (sains mungkin ya), guru (ini cita-cita saya kok), agama (yo'i), seniman (seniman bahasa lah ya), hubungan masyarakat (asal bukan keperawatan komunitas), musisi (saya suka musik), komposer (tapi belum belajar musik dengan serius :D.
-----------------------------
Akhirnya karena saya banyak denial dengan tipe ini, saya mengulang tes dan merubah beberapa jawaban yang awalnya saya jawab dengan ragu. And the result is I-N/S-F-P. Nah loh ada garis miringnya. Jadi mungkin maksudnya saya bisa INFP, atau ISFP. Akhirnya saya buka dua-duanya dan saya komentari lagi.

Tipe Kepribadian INFP
The Artist (wow)
ISFP adalah orang yang damai dan santai (tergantung mood eung, tapi saya suka kedamaian dan kesantaian), prinsipnya “hiduplah dan biarkan hidup” (he'emh). Mereka menikmati mengambil hal-hal sesuai dengan kemampuan mereka (yop) dan cenderung untuk hidup di saat ini (dulu sih gitu, 4-5 tahun lalu lah). Meskipun tenang, mereka menyenangkan (pernah sih ada yang bilang saya orangnya hangat dan menyenangkan haha), perhatian (ga juga), peduli (kadang-kadang), dan dikhususkan untuk orang-orang dalam hidup mereka (iya banget). Meskipun tidak cenderung untuk berdebat (kadang saya suka ngedebat orang), mereka bisa mengungkapkan pandangan mereka, terutama nilai yang penting bagi mereka (tentu saya ungkapkan, eh tergantung ke siapa juga sih).
ISFP didasarkan paham saat ini, disini dan sekarang (dulu sih gitu, kayaknya sekarang enggak). Mereka sangat sensitif terhadap lingkungan mereka, selaras dengan persepsi pancaindra mereka (yops). Mereka sangat sensitif untuk menyeimbangkan dan memahami dengan baik apa yang dilakukan atau tidak sesuai, baik dalam sebuah karya seni atau aspek lain dari kehidupan mereka (yops, kadang perfeksionis. kadang ya). ISFP cenderung emosional (ember) berpengetahuan luas (lumayan, efek suka baca sih) dan empati terhadap orang lain (iya).
ISFP hidup di dunia perasaan (ehehee). Mereka tajam selaras dengan cara melihat, merasa, bersuara, perasa (eheheheee lagi). Mereka memiliki apresiasi estetika yang kuat untuk seni, dan cenderung menjadi seniman dalam beberapa bentuk (yeah, saya suka lukisan ketika masih umur belasan), karena mereka luar biasa berbakat untuk menciptakan dan menyusun hal-hal yang akan sangat mempengaruhi indera (iyaa). Mereka memiliki satu set nilai-nilai yang kuat (iya sih, tapi ada pengaruh lingkungan juga), yang mereka berusaha untuk konsisten memenuhi dalam hidup mereka (saya ga terlalu konsisten orangnya). Mereka perlu merasa seolah-olah mereka menjalani kehidupan mereka sesuai dengan apa yang mereka rasakan benar (iyaps), dan akan memberontak melawan apa pun yang bertentangan dengan tujuan tersebut (kadang saya rebel). Mereka cenderung memilih pekerjaan dan karir yang memungkinkan mereka melakukan kebebasan menuju terwujudnya nilai berorientasi tujuan pribadi mereka (yo'i banget).
ISFP cenderung tenang dan pendiam (beberapa ada yang bilang saya pendiam, dan sulit untuk mengenal dengan baik (ga juga). Mereka memegang kembali ide-ide dan pendapat mereka kecuali pada orang yang dekat dengan mereka (tentu saja). Mereka cenderung untuk bersikap baik (kayaknya sih gitu), lembut (?)dan sensitif dalam berhubungan dengan orang lain (iya haha). Mereka tertarik untuk berkontribusi dalam perasaan masyarakat tentang baik makhluk dan kebahagiaan (mungkin iya), dan akan menempatkan banyak usaha dan energi untuk tugas-tugas yang mereka yakini (ooh, tentu).
Ringkasan: Tenang (tergantung situasi), ramah (ada yang bilang saya jutek), sensitif (ng~) dan baik (alhamdulillah ya sesuatu). Lebih suka menikmati saat ini dan apa yang terjadi di sekitar mereka (dulu gini, tapi ga tahu deh, kayaknya sekarang masih ada sisa-sisa gini). Ingin memiliki ruang mereka sendiri (iyaps) dan bekerja dalam kerangka waktu mereka sendiri (iyaaapss). Loyal dan berkomitmen terhadap nilai-nilai mereka dan untuk orang-orang yang penting bagi mereka (agree). Tidak suka perbedaan pendapat dan konflik (saya tertarik dengan konflik), tidak memaksakan pendapat atau nilai-nilai pada orang lain (emmh, kayaknya saya malah gitu deh).
Kata kunci: pembujuk yang lembut (noooo), sensitif (yeaaaah).
Karir pekerjaan: Relawan (bisa jadi), wirausaha (asal bukan dagang), kerajinan (apaan, enggak kayaknya), seniman (yops).
----------------------
Dan saya pun membuka tipe kemungkinan yang selanjutnya ... INFP

Tipe Kepribadian INFP
The Idealist (katanya sih saya gitu, katanya)
INFP memfokuskan banyak energi mereka pada dunia batin (saya suka ilmu kebatinan :D) dikuasai oleh perasaan yang sangat kuat dan etika yang dipegang teguh (sedikit). Mereka mencari kehidupan eksternal yang sesuai dengan nilai-nilai ini (yeah terutama yang berhubungan dengan spirit). Setia kepada rakyat (apaan?) dan penyebab penting bagi mereka (yaps, keluarga), INFPs dapat dengan cepat melihat peluang untuk melaksanakan cita-cita mereka (iyaaaa dongs, cita-cita jadi guru, aktivis, penulis selalu jadi poros utama). Mereka ingin tahu untuk memahami orang di sekitar mereka (iyaps), dan begitu juga menerima dan fleksibel kecuali ketika nilai-nilai mereka terancam (bener banget).
INFP menikmati percakapan dalam suasana hati bergaul (yaps), humor (kadang saya humoris, cenderung gila dan abstrak) dan pesona (saya menjaga karisma). Dalam sebuah lingkaran orang-orang terdekatnya, INFP menjaga kesejahteraan emosional orang lain (yeah, saya memilah-milah mana saya harus saya jaga dan mana yang bisa saya jadikan sasak :D), menghibur mereka bila dalam kesulitan (saya tidak ahli dalam hal menghibur). INFP lebih memilih untuk menjadi fleksibel kecuali ketika peraturan mengikatnya (tah eta pisan, lebih suka jadi aktivis daripada organisatoris). Mereka sering dapat mempengaruhi pendapat orang lain melalui kebijaksanaan, diplomasi, dan kemampuan untuk melihat sisi berbagai masalah (kadang gitu).
INFP mengembangkan wawasan melalui refleksi (yaps), dan mereka memerlukan banyak waktu sendirian untuk merenungkan dan memproses informasi baru (iyaps pisan). Sementara mereka dapat cukup bersabar dengan sesuatu yang kompleks (kadang gitu sih), mereka umumnya bosan dengan rutinitas (yo'i). Meskipun tidak selalu terorganisir (tuh kan), INFP sangat teliti tentang hal-hal yang mereka nilai (yeah). Perfeksionis (tuh kaaaan), mereka mungkin memiliki kesulitan dalam menyelesaikan tugas karena tidak dapat memenuhi standar tinggi mereka (tuh, kan, iya, sih ....).
INFP adalah tipe kreatif dan sering memiliki bakat untuk bahasa (ih iya pisan). Sebagai introvert (saya introvert gitu?), mereka mungkin lebih memilih untuk mengekspresikan diri melalui tulisan (iyaps). Mereka memiliki bakat untuk simbolisme (haha iya pisan), mereka menikmati metafora dan similes (iyaa, jadi keingetan buku metafora saya ada di siapa ya). Mereka terus mencari ide-ide baru dan beradaptasi dengan baik terhadap perubahan (emmh, lumayan). Mereka lebih suka bekerja di lingkungan yang menghargai karunia-karunia dan memungkinkan mereka untuk membuat perbedaan positif di dunia, sesuai keyakinan pribadi mereka (ih iya, dulu sih enggak tapi sekarang begitu).
Ringkasan: idealistik (mungkin iya), setia pada nilai-nilai mereka dan untuk orang-orang yang penting bagi mereka (tentu lah). Ingin kehidupan eksternal yang kongruen dengan nilai-nilai mereka (iyaps). Penasaran (iya lah kan saya anak media informasi), cepat untuk melihat kemungkinan (yaps), bisa menjadi katalis untuk menerapkan ide-ide (kadang iya). Berusahalah untuk memahami orang dan untuk membantu mereka memenuhi potensi mereka (apaan ini, saran?). Beradaptasi (mudah), fleksibel (yaps) dan menerima kecuali nilai mengancam mereka (yaaaaaapppsss).
Kata kunci: Tujuan (okay), kreatif (lumayan), orang dengan keterampilan (keterampilan menulis kali ya), beradaptasi (yaps), pembujuk yang lembut (saya lembut sama anak kecil doang).
Karir pekerjaan: Konselor (again? saya ga suka denger curhatan orang bro), psikolog (sains), pekerja sosial (boleh lah), artis (wew).
-------------------------

It's enough. Meskipun saya penasaran ingin mengulang tes supaya saya yakin dengan hasilnya tapi saya sudah ngantuk sekarang. Well, dari ketiga hasil di atas, saya lebih banyak cocok dengan INFP. Meskipun saya jadi berpikir, saya introvert gitu? Tapi bisa jadi iya, karena saya lebih suka menghabiskan waktu membaca dan menulis daripada ngobrol dengan orang lain.

Emh, terus ... apa lagi? Oh iya, resume belum selesai. Besok peer teaching. Duh, ngantuk -_-"

Apakah ini Menginspirasi

Saya hanya mau memposting tulisan saya yang saya kirim ke ... apa nama lombanya tadi, yang man jadda wajadda di postingan sebelumnya. Kalau lolos, otomatis saya harus menghapus postingan ini, karena tulisannya akan dimuat. Kalau tidak lolos, saya akan biarkan postingan ini disini. Ini adalah dua tulisan yang saya buat dalam waktu kurang lebih sejam. Cuma satu halaman, kalau lolos seleksi, harus dipanjangin jadi 8-12 halaman kalau nggak salah. Tulisan ini akan saya endapkan dulu. Jiga naon wae :D.

Semoga saya masih ada gairah buat membuka folder novel. Eh, bukan semoga, tapi harus. Ceritanya lagi keras sama diri sendiri. Oh ya, cerita yang kedua berjudul 'Rumah Virtual' belum selesai, karena saya tiba-tiba nangis pas lagi nulis cerita itu ehehee.

------

Tema: Kisah Para Lulusan Pesantren

Mengabaikan Hipotesa
Selalu akan ada turbulensi ketika hendak mencapai garis finish. Seperti lari maraton. Tantangan terberat ada di kilometer menjelang garis finish. Antara berteriak, “Yeah, akhirnya saya akan sampai.” dengan ekspresi bergairah atau bergumam pelan, “Yeah, akhirnya saya akan sampai.” dengan nada kepayahan. Ketika hendak mencapai garis finish, saya kembali membayangkan apa yang saya tekadkan pada garis start. Mengingat titik-titik kilometer pencapaian dalam perjalanan ini. Dan saya mengingat guncangan terhebat dalam hidup saya, yaitu ketika memilih keluar dari pesantren setelah lima tahun tinggal disana.
Lalu saya sampai pada pertanyaan mendasar dalam hidup. Kenapa? Seperti mencari akar permasalahan. Kenapa, lalu kenapa, lalu kenapa, lalu kenapa, dan terus begitu sampai pertanyaan itu menemui kebuntuan. Sehingga saya memaksakan diri untuk menemukan hipotesis awal.
Kenapa dulu saya masuk pesantren?
Karena orangtua saya baru menyadari ketika sampai masa tuanya bahwa manusia memerlukan ilmu agama untuk menjalani kehidupan.
Kenapa dulu saya keluar dari pesantren?
Karena dalam benak saya ilmu pengetahuan adalah matematika, fisika, biologi, kimia, dsb, bukan nahwu, tafsir, qira’at, ushul fiqih, dsb.
Kenapa saya masih berhubungan dengan teman-teman di pesantren setelah keluar?
Karena persahabatan yang tumbuh di asrama berkembang layaknya sebuah keluarga. Tidak ada kalimat ‘hubungan kita selesai’ dalam sebuah kekeluargaan.
Kenapa saya enggan mengakui bahwa saya pernah mesantren ketika kuliah di kampus negeri?
Karena selalu ada beban dan tanggung jawab yang terlalu berat ketika diri kita sudah dilabeli sebagai ‘lulusan pesantren’. Ahli agama, diantaranya.
Cerita ini berlatar belakang renungan saya mengenai destinasi diri yang pernah tinggal di pesantren lima tahun dari tujuh tahun yang seharusnya dijalani. Memilih untuk mempelajari ilmu-ilmu umum karena pesantren saya termasuk pesantren tradisional yang hanya mengajarkan ilmu agama. Kebingungan dengan pelajaran matematika dasar ketika menjadi murid baru di sekolah umum. Lantas mengejar ketertinggalan dengan ‘nodong’ ke rumah guru dan kakak kelas untuk minta diajarkan ilmu umum, khususnya eksak.
Enam tahun setelah peristiwa keluar dari pesantren, saya merenungi kembali pilihan itu dan menemukan banyak hikmah dan ‘tangan’ Allah yang bergerak di dalamnya. Hingga perenungan itu sampai pada kerinduan saya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama di pesantren dulu. Mungkin lain kali saya tidak memerlukan pertanyaan-pertanyaan masalah. Mungkin lain kali saya harus mengabaikan hipotesa-hipotesa yang berkeliaran dalam kepala saya.

Tema: Orangtuaku Pahlawanku
Rumah Virtual
            Saya perlu memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para ilmuwan di bidang teknologi. Karena mereka saya bisa terkoneksi dengan keluarga saya yang sejak dulu tidak pernah tinggal satu rumah. Dalam era percepatan komunikasi seperti sekarang, kita berkumpul dalam satu ‘rumah virtual’ pada sebuah grup aplikasi pesan. Kita tidak mengenal obrolan di meja makan, sholat bersama, berdiskusi di depan televisi, atau hal-hal yang biasa dilakukan keluarga, karena kita tidak pernah satu rumah. Namun kini kita memiliki rumah virtual yang nyaman.
Dalam obrolan di rumah virtual tersebut saya baru mengetahui bahwa almarhum ayah saya adalah penikmat musik, jago main catur, dan membuat satu ruangan khusus untuk buku-bukunya tanpa ada yang boleh diizinkan masuk. Saya tidak tahu apapun tentang ayah saya karena beliau meninggal di tahun yang sama dengan tahun kelahiran saya. Sedikit demi sedikit saya menyadari bahwa ayah saya tidak mewariskan harta banyak tapi dia mewariskan karakternya pada saya. Kecintaannya pada musik, buku, dan sifat-sifatnya. Saya menyimaknya di rumah virtual.
Di sela-sela saya kuliah, makan siang, belajar di perpustakaan, saya selalu merasa berada di sekeliling keluarga saya dan membicarakan kehidupan bersama. Sampai pada suatu hari salah seorang kakak saya memulai diskusi. “Teteh baru tahu kalau Mamah kuliah lagi untuk syarat sertifikasi. Katanya sekarang lagi KKN. Kayaknya beberapa bulan lagi wisuda.”
Lalu anggota ‘rumah virtual’ yang berjumlah sembilan orang mulai merincikan satu-satu tentang keadaan ibu saya, ibu kita. Bagaimana dia berjuang ketika suaminya meninggal, prasangka dalam pembagian warisan, terusir dari rumah, terpaksa menitipkan anak-anaknya di tempat yang berbeda, berjuang agar anak-anaknya bisa sekolah, tinggal di rumah yang kecil sendirian, dan bagaimana dia merahasiakan kesusahannya dari anak-anaknya. Dari saya.
Ketika masih kecil, saya selalu iseng bertanya kepada ibu saya, “Mah, kenapa sih Mamah punya anak malah dititip-titipin. Jauh-jauhan lagi.” Ibu saya tidak pernah menjawab. Sekarang saya baru sadar bahwa itu adalah pertanyaan yang jahat. Seharusnya tidak memerlukan sebuah grup aplikasi pesan untuk bisa mengetahui pengorbanan seorang ibu.

Limabelas Maret ~

Ada apa dengan tanggal 15 Maret. Yang saya tahu tanggal 17-21 Maret adalah jadwal UP. Asik, tepuk tangan.

Hanna mendapat kabar temannya nikah tanggal 15 Maret. Teman seangkatan saya sekaligus rekan di BEM, akan dikhitbah tanggal 15 Maret. Lalu ... SAHABAT SAYA, yeah lebay. Sahabat saya, teman berbagi kebusukan (haha) selama sepuluh tahun, akan dikhitbah tanggal 15 Maret.

Itu Sabtu ini, bro. Sahabat saya dikhitbah sabtu ini menjelang saya UP. Ah, simelekete.

Saya anak bungsu (dari ayah) yang punya satu adik. Bersahabat dengan dua orang akhwat (hey, girls! I call you 'akhwat' :D) yang merupakan anak pertama di keluarganya masing-masng. Wajar lah kalau saya menjadi yang terakhir nikah.

Oh, Man ... Enjoy! Let it flow ~ and the zeng and the zong. Menghibur diri ble ... ble ... ble ... I don't care ... e, e, e, e, e ... *joged 2NE1*

Untuk mendistrak kabar yang bikin saya ngakak ini, malam ini saya harus menyelesaikan proyek lomba menulis bareng A. Fuadi. This is the project:

Saya akan ambil dua tema, yaitu Kisah para Lulusan Pesantren (aih, curhat pisan) dan Orangtuaku Pahlawanku (lebih tepatnya Ibuku Pahlawanku, sih). Well, saya harus bertanggung jawab dengan mimpi saya sendiri. Nulis yang serius, jangan nge-trash di blog terus. Sekali-kali keras sama diri sendiri, minimal sebulan sekali bikin artikel berbentuk opini. Biar nggak meracau bebas dengan EYD yang berantakan.

Terakhir, dengan motivasi nikah saya yang semakin kesini semakin rendah, kayaknya saya nggak mungkin nikah tahun ini. Tahun depan juga nggak tahu. Akhir-akhir ini masalah jodoh udah serba nggak tahu dan serba diabaikan. Saya memang gampang gagal fokus. Jadi sekali mikirin skripsi, ya udah, skripsi. Tidak ada 'kamu'. Siapapun itu. Haha, geli.

Pikiran Saya tentang UP

Yeaaaah ... saya udah ngumpulin draft. Akhirnya ... oh, God ...

Sekarang saya tinggal menunggu jadwal UP dan siapa yang jadi dosen penguji saya. Semoga sesuai ekspektasi. Demi menghargai teman-teman yang belum mengumpulkan draft, saya menghindari membuat status di Medsos tentang UP. Saya tahu kok rasanya melihat yang lain sudah UP, tapi kita masih revisi-an.

Selagi menunggu jadwal UP keluar, saya masih harus mengerjakan lima tugas bahasa arab, menghapal dialog bahasa arab tentang ... entah tentang apa, membuat resuma tentang Tekanan Intra Kranial, lusanya Peer Teaching, belum kuliah Kewarganegaraan. Heaaaah ...

Tapi kalau dibayangkan memang ribet, ketika dikerjakan biasa saja. Sama seperti beberapa hari yang lalu, saya berpikir buset saya harus ngejar dosen-dosen buat acc seminar, eh pas dijalanin biasa saja. Tinggal ketemuan, tanda tangan, senyum deh.

Saya sudah mulai membuat power point, beberapa quote tentang spiritual saya masukin. Nggak apa-apa kali ya.




Saya juga memikirkan beberapa pertanyaan yang mungkin muncul ketika UP.

1. Kenapa kamu meneliti tentang Kecerdasan Spiritual?
Karena kecerdasan spiritual itu sama seperti kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional, keahlian bawaan tapi bisa dikembangkan. Dan kecerdasan ini dimiliki oleh semua orang. Bahkan ada literatur yang mengatakan bahwa diantara tiga kecerdasan ini, kecerdasan spiritual yang paling penting dan mempengaruhi dua kecerdasan lainnya. Ibarat sebuah lingkaran, kecerdasan spiritual berada di lingkaran terdalam. Nah, karena ada juga literatur yang mengatakan bahwa spiritual berbeda dengan agama, namun agama menjadi kendaraan terbaik untuk spiritualitas. Maka saya meneliti tentang kecerdasan spiritual pada perawat yang memang memiliki basis agama yang baik, yaitu Rumah Sakit Al Islam, untuk mengetahui apakah mereka mempunyai  kecerdasan spiritual yang bagus atau tidak.

2. Rumah Sakit Al Islam kan berbasis agama islam, kenapa teori yang kamu gunakan adalah teori dari Canada, bukan teori berdasarkan agama islam?
Yang pertama karena teori itu tadi, spiritual berbeda dengan agama. Spiritual lebih kepada "makna", sementara agama lebih kepada "nilai" dan "aturan". Orang yang tidak beragama bisa saja memiliki kecerdasan spiritual yang bagus, sementara orang yang agamanya bagus malah memiliki kecerdasan spiritual yang rendah. Dari awal penelitian saya sudah mengetahui bahwa kecerdasan spiritual tidak seperti kecerdasan intelektual yang memiliki alat ukur yang pasti, maka saya mencari instrumen baku untuk kecerdasan spiritual ini. Ada ilmuwan islam yang meneliti tentang ini, diantaranya Dadang Hawari dan M. Utsman Najati, tapi instrumen yang mereka buat berdasarkan nilai-nilai keislaman, sementara ilmu pengetahuan bersifat universal. Maka saya pakai instrumen yang bisa dipakai oleh orang dengan agama apapun. Entah itu muslim atau nasrani.

3. Seberapa valid instrumen ini?
Instrumen kecerdasan spiritual dibuat oleh David Brian King dalam tesisnya, sudah diuji dengan hasil ....  ng .... kayaknya untuk menjelaskan ini saya harus belajar lagi :D

4. Kenapa Anda hubungkan dengan Perilaku Sosial?
Kecerdasan spiritual dan perilaku sosial sama-sama keadaan mental seseorang dan merupakan keahlian bawaan yang bisa dikembangkan/berkembang dengan sendirinya. Pada awalnya saya ingin meneliti mengenai gambaran kecerdasan spiritual perawat yang mengikuti mentoring keagamaan. Namun kemudian muncul pertanyaan, kenapa kecerdasan spiritual perawat harus diteliti? Lalu saya menemukan literatur mengenai perilaku sosial yang dipengaruhi, diantaranya oleh budaya, agama, pendidikan, dan sebagainya. Tujuan dari mentoring keagamaan di Rumah Sakit Al Islam pun untuk membentuk karakter perawat. Nah, akhirnya saya tertarik untuk meneliti karakter perawat yang diwujudkan dengan perilaku sosial di Rumah Sakit Al Islam Bandung. Lalu akhirnya muncul pertanyaan apakah ada hubungan antara kecerdasan spiritual dengan perilaku sosial perawat di Rumah Sakit Al Islam Bandung.

5. Dalam populasi Anda menuliskan seluruh perawat di ruang rawat inap, kenapa hanya di ruang rawat inap saja yang Anda teliti?
Karena pasien dan perawat melakukan hubungan sosial selama 24 jam karena pasien menginap disana. Maka perilaku sosial perawat akan lebih terasa oleh pasien di ruang rawat inap. (pendek amat ya jawabannya -_-)

6. Mengenai perilaku sosial, kenapa hasil ukurnya bisa empat komponen ini?
Itu merujuk pada teori Moskowitz tahun 1994 yang kemudian divalidasi ulang oleh Hoessler pada tahun 2008. Jadi perilaku sosial yang saya telitimerujuk kepada sifat seseorang. Sebenarnya ada dua bagian dalam perilaku itu (teori siapa ini saya lupa di buku Psikologi Sosial Untuk Perawat), yaitu sikap dan sifat. Sikap lebih ke prinsip dalam diri, sifat lebih ke cara kita berhubungan degan orang lain (dih, saya nggak yakin dengan definisi ini. Harus baca ulang :D). Kalau dalam teori Catell, ada banyak sekali komponen sifat (harus dilihat lagi ada berapa bro), termasuk didalamnya ramah, dominan, keras kepala, dan sebagainya. Namun dalam penelitian Moskowitz ini disimpulkan empat sifat besar yaitu ramah, dominan, penurut, dan suka bertengar.

7. Lalu hasil ukurnya bagaimana?
Nah, kalau kecerdasan spiritual saya mengukur dengan scoring, sesuai dengan penelitian David King. Pada perilaku sosial hasil ukurnya adalah empat komponen tadi, ramah, dominan, penurut, dan suka bertengkar. Maka nanti pada analisa data dikelompokan jawaban dari item empat komponen ini. lalu dirata-ratakan. Komponen yang memiliki rata-rata paling tinggi akan menjawab apakah perawat ini ramah, dominan, penurut, atau suka bertengkar. Pada akhirnya akan terlihat perilaku sosial perawat di Rumah Sakit Al Islam itu apa. Lalu dikorelasikan dengan skor kecerdasan spiritual dengan memakai analisis one-way varians (Anova). Duh ... sebenarnya masih nggak ngerti dengan analisa data -_-"

8. Itu tadi perilaku sosial, ya. Coba sekarang Anda jelaskan masing-masing komponen dalam kecerdasan spiritual?
Di kecerdasasn spiritual menurut David King ini, ada empat komponen. Singkatnya adalah tentang eksistensial, transendental, makna pribadi, dan kesadaran. Yang pertama berpikir kritis mengenai keberadaan kita di dunia, jika ada yang berpikir bahwa saya di dunia hanya makan, minum, buang kotoran, tidur, lalu meninggal, maka dicurigai bahwa kecerdasan spirtualnya rendah. Bahkan jika ada perawat yang dia berprofesi menjadi perawat bukan karena keinginannya sendiri, maka bisa dicurigai bahwa kecerdasan spiritualnya rendah.
Yang kedua adalah kesadaran transendental, gampangnya adalah mengenai makna 'kebetulan'. Ketika seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini terjadi dengan sendirinya, maka dicurigai kecerdasan spiritualnya rendah. Atau dalam agama islam ada yang dinamakan ihsan, artinya adalah kita merasa bahwa kita bisa melihat Allah, jika kita tidak bisa merasa bahwa kita bisa melihat Allah, maka kita harus merasa bahwa Allah melihat kita. Nah, dalam teori ini hal tersebut dinamakan kesadaran transendental.
Yang ketiga adalah persepsi makna pribadi. Hal ini lebih merujuk kepada hubungan kita dengan manusia lain, alam, dan lingkungan. Jika eksistensial lebih ke pikiran kita terhadap diri kita sendiri. Maka makna pribadi lebih mengarah kepada kebermanfaatan kita untuk orang lain.
Yang terakhir adalah pengembangan area kesadaran ... (belum begitu paham yang ini. haha)

9. Coba jelaskan tentang alat ukur yang kamu pakai dan bagaimana kamu menggunakannya?
Alat ukur yang pertama adalah Spiritual Intelligence self-Report Inventory dengan 24 item dan memakai skala Likert. Ini merupakan tesis dari David Brian King dari trent University. Yang kedua adalah Social Behavior Inventory dengan 46 item, juga memakai skala Likert. Inventroy ini dari Moskowitz (1994), cuma saya pakai yang sudah divalidasi oleh Hoessler pada tahun 2008.

----------

Baru nulis segini saya langsung pusing. Tapi sebenarnya sebelum tanya jawab pun saya sudah akan menerangkan tentang apa yang saya tulis di atas. Saya belum pernah nonton UP, jadi saya nggak kebayang mau ditanya apa aja. Katanya sih seputar yang di atas itu. Tapi nggak tahu lah ya. Fyuuh .... saya berharap ini akan berakhir. Tapi meski saya kelelahan sampai pengen muntah setiap saat, saya bahagia karena saya belajar tentang teori spiritual dan perilaku sosial. Kan mau lanjut S2 ke Psikologi Sains, kan :p. Dan ... ceritanya malam ini saya akan buka folder novel lagi. Yeay! Setelah enam bulan nggak disentuh :D. Ada draft novel yang harus dikirim ke sebuah perlombaan bulan Maret ini. Saya nggak yakin bisa beres sebenarnya. Tapi siapa tahu ya ... yeah, siapa yang tahu. Allah lah ...

Berbahagialah ^_^

Alhamdulillah, setelah hari Jumat dapat acc seminar dari Pak Iyus, hari ini saya dapat acc seminar dari Pak Irman. Meski dengan melongo dulu di depan Pak Irman karena disuruh memberi contoh analisa data dari instrumen Social Behavior.

"Nih, saya isi kuesioner kamu ya." Pak Irman melingkari 46 item dalam instrumen saya. "Sekarang kamu analisa hasilnya. Saya tunggu."

Horor. Padahal saya nggak ngerti itu cara menganalisa instrumen. Akhirnya cuma saya jumlahin dan ... ternyata memang begitu caranya. Mengelompokkan data, lalu mencari rata-rata, dilihat indikator apa yang terbesar. Simpel tapi ribet. Sorenya saya langsung janjian sama Teh Mutya, senior saya di Statistik 2009. Kursus kilat mengenai metode penelitian.

Dari awal saya sudah membayangkan, sama Pak Iyus saya akan banyak berdiskusi masalah spiritual. Justifikasi saya mengambil masalah penelitian itu. Sama Pak Irman bakal ngubek metode penelitian. Salahnya adalah saya terlalu asik sama Pak Iyus, sampai saya bimbingan ke Pak Irman mepet-mepet deadline pengumpulan draft.

"Saya sudah boleh seminar, Pak?" Tanya saya ragu-ragu sama Pak Irman.

"Boleh. Asal kamu sudah bisa menjelaskan tentang hasil ukur." Jawab Pak Irman sambil menulis kata acc di Kartu Bimbingan.

Yippi. Akhirnya ... meski besok saya harus berjuang sekuat tenaga untuk meminta tanda tangan pengesahan dari Pak Iyus, Pak Irman, dan Bu dewi, kuliah dua mata kuliah lalu bolak-balik Jatiannagor-Eyckman tapi yeaaaaah ... akhirnya saya UP. UP bro ...! Semoga besok lancar >.<

Tadi pagi kata Mamah, "Bari digawean, ulah cicing."

Alhamdulillah ... banyak gerak, akhirnya acc. Kekekekeee ...

Oh ya, bicara tentang bahagia, saya sekarang sedang sangat banget (naon ieu bahasa) mencintai musik. Saya sudah jatuh cinta sama musik. Sekarang memainkan harmonika lebih mengasikan daripada naik gunung. Tapi saya tetap tertarik untuk travelling. Bukan suka naik gunungnya, saya suka jalan-jalannya.

Dalam teknik meditasi kan kita belajar mengatur pernafasan ya. Begitu juga dengan main harmonika. Itu kayak kamu nafas aja. Cuma nafas kamu berirama gitu. Asik kan.

Dan ... kemarin ketika saya pulang ke Cicalengka, saya, A Indra, dan Teh Erna belajar Cup Song seharian, dan yeeeaaaay ... saya yang paling pertama menguasai Cup Song dengan nada dan ketuka yang pas.

this is my favourite cup song ^_^

Saya sampai ketawa-tawa mainin Cup Song. Kayak kalau kita main Ampar-Ampar Pisang tahu nggak. Main musik tapi dengan konsentrasi permainan yang asik. Bikin bahagia. Yeah, saya sudah jatuh cinta pada musik seperti ayah saya yang menyukai gitar dan harmonika :)

Antara Spiritual dan Canada

Nanti pas seminar proposal, dosen bakal nanya nggak ya kenapa saya pakai teori ilmuwan dari Canada? Karena jawaban yang saya punya adalah ya nemunya itu. Teori orang indonesia nggak ada instrumen bakunya. Termasuk Instrumennya Dadang Hawari, itu mah lebih kayak instrumen buat kepatuhan muslim dalam beragama daripada tentang spiritual.

Dari kemarin saya ngelirik youtube-nya Sacha Stevenson, tapi nggak saya klik. Takut garing. Eh, akhirnya saya klik karena ada tulisan di-Insya Allah-in. Apaan tuh ada bule bawa-bawa Allah? Oh, ternyata dia orang Indonesia yang berasal dari Canada. Di akhir video itu Sacha bilang bahwa orang Indonesia itu selalu mengatakan kepada wanita, "kamu cantik deh kalau pakai jilbab." Lalu Sacha bilang, jangan-jangan kalau babi pakai jilbab jug dibilang cantik. Dan ternyata babi pakai jilbab memang cantik.

Saya sendiri nggak suka dengan omongan Sacha. Kayaknya banyak yang nyerang Sacha gitu gara-gara video itu. Tapi akhirnya Sacha bikin video permintaan maaf lewat Sacha on "JILBAB". Kaget sih mendengar ceritanya, saya jadi berpikir macam-maca. Semoga saya punya kesempatan bertemu dengan Sacha suatu saat nanti.
Sacha on "JILBAB"


Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual


Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.

Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.

Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual yang pernah dia alami, dewi membuat novel berjudul Supernova. Bercerita tentang Diva, si Supernova, Bodhi - Akar - yang beragama Buddha, Elektra - Petir - yang beragama kristen, Zarah - Partikel - yang beragama islam, dan Alfa - Gelombang - yang beragama Hindu.

Dalam perjalanan menceritakan Supernova, Dewi pindah agama menjadi Buddha. Lalu setelah bercerai dari Marchell, dia menikah Reza Gunawan yang beragama islam. Dewi seorang yang cerdas, apa yang ditulisnya tentang spiritualitas yang dialami oleh tokoh-tokohnya juga gampang dicerna akal. Belakangan ini saya baru tahu bahwa pemahaman yang Dewi bawa di Supernova adalah New Age Movement. Satu Tuhan. Satu agama.

Saya bukan pengikut Dewi Lestari. Saya pembaca novel-novelnya. Dan karena tulisan-tulisannya, saya tertarik untuk mempelajari tentang spiritualitas. Prinsipnya tetap I trust my religion, Islam.

Sementara ketertarikan saya dengan Reza Gunawan memiliki cerita lain, yaitu karena Reza adalah seorang 'penyembuh' holistik. Reza adalah alumni FE UI yang mempelajari tentang pengobatan alami di luar negeri, Amerika, Tibet, India, dll. Seperti juga Dewi yang tidak berkarir sesuai dengan gelar sarjana Hubungan Internasional-nya, Reza juga melepas karirnya sebagai seorang ekonom. Dia memilih menjadi seorang penyembuh, terapis, semacam itu. Semua teori Reza tentang kesehatan selalu menjadi bahan diskusi saya dan Teh Erna, kakak saya yang bekerja sebagai bidan, sampai akhirnya saya berniat untuk mempelajari ilmu-ilmu yang Reza pelajari. Saya ingin menjadi perawat holistik, seorang penyembuh yang menggunakan bahan-bahan langsung dari alam dan memanfaatkan body, main, dan spirit pasien dalam penyembuhan. Alur yang saya pikirkan tetap saya harus mendapatkan uang dari menerbitkan novel dan uangnya saya pakai untuk mempelajari penyembuhan holistik.

Kembali lagi ke skripsi. Variabel yang saya pakai ada dua, kecerdasan spiritual dan perilaku sosial. Saya semangat mempelajari kecerdasan spiritual karena novel-novel Dewi, bahkan saya berniat untuk melanjutkan S2 ke psikologi dan membuat tesis tentang spiritual. Yeah, mimpi banyak nggak apa-apa kan :D. Alurnya tetap pakai uang dari novel untuk kuliah lagi. Haha. Yang kedua adalah perilaku sosial, seru mempelajari ini karena saya jadi belajar tentang karakter orang. Lumayan buat referensi novel. Soalnya saya mau bikin novel tentang remaja yang dulu pas kecilnya didiagnosa sakit jiwa :D.

Ini adalah pikiran saya selama perjalanan dari Fkep sampai FISIP. Di depan Gedung FISIP saya lihat pohon-pohon hijau di dekat tribun stadion Gor Jati. Tiba-tiba iseng berpikir, pasti ada alasan kenapa bentuk daunnya seperti itu, pasti juga ada alasan kenapa warnanya hijau, dan ada juga yang hijau muda. Pasti ada alasan kenapa pepohonan itu warna hijau, menyejukkan mata. Atau kita katakan sejuk karena kita sudah terbiasa melihat pepohonan hijau. Kenapa dedaunan nggak warna merah saja? Kayak sajadah di mesjid illuminati :D

Agak ribet ya saya. Kalau sama mudir am (kepala sekolah) saya di pesantren, pasti saya sudah dimarahi. Apalagi kalau ketahuan saya mempelajari tentang ketuhanan. Pasti saya dianggap keblinger. Dulu juga begitu. Katanya kamu akan gila jika terus memikirkan konsep Tuhan. 

Saya membayangkan bagaimana Dewi Lestari mencapai titik spiritual center-nya. Saya belajar dari Dewi tentang perbedaan agama dan spiritual. Orang yang agamis belum tentu memiliki kualitas spiritual yang baik karena spiritual adalah urusan manusia dengan Tuhan-nya, bukan tentang nilai, doktrin, dan dogma dalam sebuah agama. Orang yang atheis bukanlah orang yang tidak bertuhan, tapi tidak menemukan Tuhan-nya dalam agama yang ditawarkan. (maaf ya Allah, kalau bahasa saya salah)

Akhirnya saya memikirkan bahwa ahli spiritual beda dengan ahli agama. Saya memikirkan ini karena mudir am pernah berkata bahwa kalian dipesantrenkan disini bukan agar kalian mengerti agama, tapi agar kalian menjadi ahli agama. Ya, ahli agama, bukan ahli spiritual. Itulah kenapa orang yang dipesantrenkan ketika keluar dari sana, bisa saja dia masih mempertanyakan Tuhan.

Ketika seseorang sudah menemukan spiritual center-nya, itulah makna dari mendekatkan diri pada Allah. Atau makna dari Allah lebih dekat daripada urat nadimu. Teman saya yang kuliah di Psikologi UPI, pernah mengajak berdiskusi mengenai Tuhan. Bahwa menurutnya Tuhan hanya ada dalam pikiran manusia. Ya, mau dimana lagi? Islam mengajarkan bahwa Allah bersemayan di atas arsy. Ada yang memperdebatkan hal tersebut, tapi saya lebih tertarik dengan Allah lebih dekat dari urat nadimu. Entah itu ada dalam pikiran kita, jiwa kita, spiritual center kita, saya percaya Allah ada.

Ketika saya sudah sampai pada perjalanan melewati Gerbang Lama (ini masih renungan perjalanan), saya duduk sambil membeli Mocacino. Akhirnya saya memikirkan tentang agama. Allah memberikan sesuatu panduan hidup, yang kita sebut agama, untuk kita agar tidak bingung hidup di dunia. Menjalankan atau mengikuti apa yang diajarkan oleh agama bukanlah sebuah keharusan, tapi kebutuhan. Kita harusnya bisa sampai pada suatu pemahaman bahwa kita butuh agama. Bukan sekedar hal yang kita anggap sebuah doktrin dan dogma dengan ritual-ritualnya.

Lalu saya jewantahkan hal itu dengan Rukun Islam. Yaitu sholat. Kemarin sore, saya berdiskusi dengan Sarita mengenai masalah spiritual karena dia mengambil skripsi tentang meditasi. Saya bilang kenapa ada orang Islam yang melarang meditasi. Bukannya yang Nabi Muhammad lakukan ketika mendapatkan kenabian di Gua Hira itu seperti meditasi? Sama seperti ... apa ya, saya lupa ... ada sebuah ritual ibadah di agama Buddha dengan membasuh bagian-bagian badan tertentu dengan air. Mirip seperti berwudhu. Tapi saya tetap memegang larangan tidak mencampuradukan hal yang batil dengan yang benar. Tidak tasyabuh juga. Eh, nggak tasyabuh sih ini mah.

Lalu sarita mengatakan bahwa ada pendapat yang mengatakan bahwa sholat juga meditasi dalam bentuk lain. Setelah mengingat diskusi dengan Sarita hari itu, saya memikirkan bahwa Allah menyuruh atau menyarankan atau mengajarkan kita untuk sholat adalah agar kita bisa menyisihkan waktu untuk menenangkan jiwa dan pikiran sehingga menemukan spiritual center kita. Bukan gurunggusuh sekedar melakukan gerakan sholat. Itu yang disebut khusyu. Meditasi juga tidak akan berhasil jika kita tidak khusyu toh. Sama seperti tujuan utama meditasi adalah menenangkan jiwa atau bagian dari penyembuhan juga. Sholat pun begitu, kalau kita khusyu. Jadi bukan sekedar Allah ingin disembah sehari lima kali, tapi itu juga cara kita untuk menjalani kehidupan yang bising ini agar tetap waras. Ada kan ayat yang mengatakan bahwa sholat mencegahmu dari berbuat kerusakan dan kemunkaran. Itu maknanya dalam banget. Orang yang sholatnya khusyu, menjadikan jiwanya sehat karena hubungannya dengan Allah (spiritual center), akan memiliki perilaku sosial yang baik.

Ada ya teman saya, no name, pesantren 6 tahun, anak Ustad yang khutbah dimana-mana, lalu dia tiba-tiba 'menikah karena kecelakaan'. Sahabat saya tiba-tiba nyeletuk, "Heran deh. Tuh anak suka sholat nggak sih. Kok kelakuannya gitu." Ketika itu saya tidak menemukan korelasinya, antara rajin sholat apa enggak dengan 'menikah karena kecalakaan'. Sekarang saya baru menemukan hubungan antara sholat dengan terhindar dari kerusakan dan kemunkaran.

Oh ya, saya jadi benar-benar tertarik dengan meditasi, yoga, dan hipnosis sekarang. Seperti layaknya Reza Gunawan yang memiliki 'Rabu Hening' dengan menjadikan kehidupannya benar-benar hening dan juga Nabi Muhammad yang bertahannus di Gua Hira. Bahkan ada sumber yang mengatakan bahwa bertahannus itu juga kebiasaan dari Nabi Ibrahim.

Oh ya, ngomong-ngomong tentang Nabi. Kalau saya UP bulan ini, saya mau nonton film Noah. Cerita epik, mungkin israiliyat, tentang Nabi Nuh. Eh sebenernya nggak UP bulan ini juga saya tetep pengen nonton sih :D.

Kembali ke rukun islam, yaitu shaum. Aturan ini simpel, Allah tahu banget detail anatomi tubuh kita. Dan yang saya pelajari adalah tubuh kita akan rusak, selain karena ada kelainan dari sananya, misalkan cacat lahir, penyakit kongenital, atau organ yang memang ada kelainan, tubuh kita bisa rusak atau sakit karena pengaruh luar. Bisa bakteri, virus, jamur, apapun. Dan yang paling banyak memasuki tubuh kita adalah makanan dan minuman. Banyak makan bisa obesitas, pembuluh darah tersumbat, penyakitan. Kurang makan bisa hipoglikemi, kurang glukosa ke otak, nggak ada protein di tubuh, penyakitan. Banyak makan garam, bisa hipertensi. Banyak makan gula, bisa diabetes. Banyak makan pedas, kasihan lambung, bisa gastritis. Belum kalau merokok, alkohol, junk food, keracunan.

Dari tujuh hari dalam seminggu, Allah menyuruh atau menyarankan atau mengajarkan untuk shaum selama dua hari saja. Satu hari shaum, lalu dua hari enggak, satu hari shaum, lalu, lalu tiga hari enggak. Namanya shaum Senin-Kamis. Lalu shaum 30 hari dari 367 hari dalam setahun. Tentu itu bukan aturan iseng. Oh ya, ngomong-ngomong tentang shaum, saya diajarkan oleh Ustad saya untuk menyebutnya shaum, bukan puasa. Karena puasa itu dari bahasa sansekerta yang maksudnya hanya menahan lapar dan haus saja. Sementara shaum maknanya lebih dalam dari itu. Sensitif banget kan Ustad-Ustad di pesantren saya dalam masalah ibadah.

Nah, jadi seharusnya memang kita sampai pada kesadaran bahwa shaum itu untuk kesehatan kita. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk tubuh kita. Karena selain kebutuhan tidur, kebutuhan makan adalah salah satu hal yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Oh iya, bicara tentang kebutuhan tidur, saya juga pernah berpikir tentang waktu-waktu sholat yang diatur sedemikian rupa sesuai dengan waktu metabolisme tubuh kita, juga waktu gerakan matahari. Kan matahari juga mempengaruhi keadaan tubuh manusia. Karena dalam hadis juga kan waktu sholat ditandai dengan pergerakan matahari. Ih, keren ya. Saya harus banyak-banyak baca buku tentang beginian kayaknya. 

Oke, rukun iman yang selanjutnya tentang keuangan, zakat. Sejak dulu harta benda dan kepemilikan menjadi salah satu masalah duniawi yang seolah-olah menjadi kebutuhan utama. No money no live. Serem. Maka Allah menyuruh atau menyarankan atau mengajarkan tentang zakat adalah untuk menyadari bahwa ada keterkaitan kepemilikan kita dengan milik orang lain. Atau bahwa kita sebenarnya nggak memiliki apa-apa karena uang yang kita dapat dari hasil usaha sendiri sebenarnya ada rezeki orang lain. Kalau Butterfly Effect-nya Lorentz berbunyi kepakan kupu-kupu di Hongkong bisa menyebabkan badai di London, saya analogikan dengan bisa jadi bahwa keuntungan 1000 rupiah yang kita zakatkan bisa menyebabkan seorang miskin tidak jadi meninggal karena kelaparan. Keren, kan.

Masalah keterikatan dan keterhubungan, saya pernah berpikir tentang kenapa Allah menciptakan makhluk berpasang-pasangan dan akhirnya menghasilkan keluarga. Karena ketika kita berambisi terhadap hal-hal duniawi begitu tinggi, yang membuat kita down to earth atau menikmati kesederhanaan adalah keluarga. Saya sering menemukan, terutama wanita, yang ketika lajang dia punya ambisi untuk jadi wanita karir tapi ketika menikah dia menikmati kehidupan sebagai seorang ibu rumah tangga dengan malaikat kecil di dalam gendongannya. Salah satu wanita yang seperti itu adalah Dian Sastrowardoyo. Bayangkan jika kita diciptakan dari ketiadaan tanpa keterikatan dengan siapapun. Kemungkinan untuk menjadi seorang yang individualis dan egosentris akan terbuka lebih besar. Tapi dengan keterikatan erat sebagai keluarga, kita jadi belajar makna sosial hubungan antara kita dengan manusia lainnya. By the way, itu salah satu item dari sub variabel kecerdasan spiritual yang ada dalam skripsi saya -> menyadari keterkaitan antara kita dengan manusia lain.

Rukun Islam yang selanjutnya adalah ibadah haji. Karena saya belum pernah ibadah haji dan saya tahu poin-poin dalam ibadah haji itu sangat banyak, Sa'i, Thawaf, Wukuf, Tahalul, dan lain sebagainya. Saya hanya menyimpulkan bahwa Allah memberikan satu perayaan, selain idain, untuk manusia yaitu musim haji tersebut. Dan ramai kan informasi mengenai lokasi ka'bah yang menjadi titik pusat antara planet Bumi dengan langit. Atau hajar aswad yang katanya batu istimewa yang satu-satunya di Bumi. Seru ih, seru tahu :D.

Oh ya, saya melewatkan rukun islam yang pertama, yaitu syahadat, karena fokus saya sudah pada ritual keagamaan. Inti dari syahadat adalah kesaksian tentang Allah dan Nabi Muhammad. Beruntunglah mereka yang benar-benar mencintai Allah dan Nabi Muhammad. Dewi pernah mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Pencemburu, karena dia tidak mau diduakan. Untuk hal ini saya tidak terbawa teori Dewi. Ngeri Bro, dosa terbesar kan musyrik. Waktu diniyyah saya berpikir bahwa saya nggak mungkin musyrik, memangnya saya mau menyembah siapa lagi selain Allah. Tapi melihat fenomena berpikir kritis masa kini, ternyata kemungkinan itu bisa saja terjadi. Bukan tentang menyembah saja, tapi juga mempercayai adanya kekuatan dan kekuasaan lain juga musyrik kan. Atau malah menuhankan diri sendiri. Dalam teori Dewi, dan juga teori Dan Brown, bahkan di teori kecerdasan spiritual yang saya pelajari, God Spot atau kesadaran Unitive adalah bahasa keren dari menuhankan apa yang ada di dalam diri (atau mungkin) pikiran kita. Ya, gitu lah. Saya nggak akan menjelaskan secara sistematis karena ini bukan skripsi.

Ternyata tulisan saya sepanjang ini. Padahal saya memikirkan tentang rukun islam selama saya menunggu ketika membeli mocaccino. Dalam perjalanan menuju kosan, saya masih berpikir tentang spiritual. Kadang saya takut apa yang dikhawatirkan teman-teman saya benar. Bahwa saya terlalu terbawa teori spiritual dari orang-orang New Age. Saya mohon ampun kalau pikiran saya salah. Dan kita memang tidak boleh menafsirkan ajaran Allah (quran maupun hadis) dengan pikiran kita saja. Nggak boleh. Makanya kita harus jadi ahli agama juga, supaya kita nggak mengawang-awang ketika ingin memahami al-quran maupun hadis. Ah, jadi pengen mesantren lagi.

Di tengah perjalanan pandangan saya berhenti mendadak pada sebuah tulisan di sebuah kafe baru. Tulisan itu besar sekali sampai orang yang cuma lewat di seberang bisa membacanya. "Kehidupan itu sederhana. Yang hebat-hebat hanyalah tafsirannya." Saya berhenti beberapa detik sambil memandangi tulisan itu. Seperti tersihir. Seolah-olah tulisan itu sedang melambai-lambai ke arah saya. Lalu saya menengadah melihat langit (asli ini bukan puitisme) karena ketika berbicara mengenai Tuhan biasanya mereka akan menunjuk langit, mengisyaratkan sesuatu yang ada Di Atas. Berharap, sangat berharap, Allah menyayangi saya. Selalu. Bahwa apa yang saya pikirkan tentang spiritual, agama, dan ketuhanan, adalah cara Allah untuk mengenalkan dirinya kepada saya.

Sarita bilang, "Udah, Sar, yang penting kan kamu seneng ngerjain skripsi tentang spiritual."
Ya, entah kenapa saya selalu bahagia ketika sedang membaca atau mempelajari hal-hal tentang spiritual.

Maka sesampainya di kosan saya tidak sabar untuk menulis ini :)

>> tambahan setelah tulisan ini di-post: saya tiba-tiba ngeliat facebook sepupu saya, Dewi Noor Ainy, nge-link sebuah artikel dan saya baca. isinya agak-agak nyambung dengan renungan spiritual saya. http://m.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/lakum-dinukum-nya-quraish-shihab.htm terima kasih ya Allah, lain kali saya akan lebih bijak lagi dalam berpikir. tegur saya di dunia saja.