Skip to main content

Write! It's make you feel better ...

Saya sedang on the way menerjemahkan dua tesis. Yang satu tentang Kecerdasan Spiritual berjudul Rethinking Claims of Spiritual Intelligence: A Definition, Model, and Measure, dan yang satu lagi tentang Perilaku Sosial berjudul Social Behavior Inventory: To Ipsatize or Not To Ipsatize, That's The Question. Lieur ya? Saya sih lieur ... posisi meja belajar sekarang selalu sesak. Laptop yang tersambung dengan kabel charger, kabel cooling pad, kabel internet, kabel hard disk, dan kabel earphone. Buku-buku yang sudah biasa berjejer. Uang sisa jatah hari ini. Botol minuman, ungu yang biasa dipake, hitam cuma jadi pajangan. Gelas berisi kopi. Minuman Pulpy Orange. Bondu yang dipakai kalau saya lagi nggak pakai earphone. Lalu tas kuliah yang tergeletak begitu saja. Lantas di sebelah kiri menumpuk dua bungkus sampah ciki Taro, sampah bekas jeruk, bungkus wafer tango, al-quran yang dibaca dua jam sekali, nasi dari hipotesa yang belum habis, keranjang cucian, dan berkas-berkas skripsi.

Saya butuh printer. Saya baru ingat. SMS Kakak ke-1 dulu deh ...

Oke, cuma butuh waktu 10 menit sampai akhirnya kakak saya bilang dia mau bawa printer ketika nanti nengok Wa Acep. Yeah, Uwa-ku tersayang. Om favoritku ...

Banyak yang hal yang terjadi akhir-akhir ini. Beberapa memancingku untuk menulis. Tapi akhirnya tidak pernah aku tuliskan karena tulisan yang serius harus ditulis dengan serius. Right? Aku pernah ingin menulis tentang Wajah Partai di Mata Rakyat Indonesia. Nggak jadi ... kalau aku menulis itu, maka aku mengendapkan teori-teori kecerdasan spiritual dan perilaku sosial yang meluap-luap. Aku juga pernah ingin menulis tentang Mengapa Kita Harus Peduli Politik? Nggak jadi juga ... karena sepertinya ada sisi lain dalam diriku yang menahanku untuk kembali lagi memikirikan politik.

Saya hanya peduli dengan apa yang terjadi di negeri ini.

Dua hari ini saya ikut menunggui Wa Acep di RS Santo Borromeus. Sebelumnya saya menjenguk tiga orang Medfo KKN. Saya senang bisa menjadikan satu hari KKN mereka istimewa karena kehadiran saya. Huwohohoo. Yang membuat saya senang adalah saya bisa ke Tasik, Pesantren Cintawana ... Makam Bapak ...

Dua minggu lalu saya dipinang lagi untuk menjadi aktivis di Himpunan Mahasiswi Persatuan Islam. Awalnya saya diajak di Pimpinan Daerah (PD) Bandung. Tapi akhirnya saya diajak di Pimpinana Wilayah (PW) Jawa Barat karena mereka tahu saya sudah enggak di BEM lagi. It's too high karena saya bukan anak Himi Persis banget. Oh ya, saya juga pernah kepikiran ingin menulis tentang Menjadi Persatuan Islam, tapi nggak jadi ... bukan nggak jadi sih, belum saja.

Kemarin saya sudah diminta bertemu dengan Ketua PW Jabar-nya. Saya masih menimbang-nimbang. Agak keterlaluan sih, karena saya menimbang-nimbang sudah dua minggu. Kadang saya merasa masa aktivis saya sudah kadaluwarsa. Tapi apa iya? Sampai sekarang kemungkinan saya aktif disana masih 50-50. Saya nggak tahu saya harus berkonsultasi sama siapa. Curhat sih memang sama Allah tapi kan saya nggak bisa tiba-tiba mendapatkan wahyu begitu saja seperti para Nabi. Saya perlu seseorang untuk diajak diskusi. Memikirkan kemungkinan ... keharusan ... dan juga ketidakharusan ... naon coba -_-

Bersyukur ini adalah blog saya. Bukan kumpulan jurnal yang akan diperiksa dosen. Jadi ... saya hanya menulis di sela-sela pembuatan skripsi. Setidaknya ini membuat saya lebih baik :)

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…