Skip to main content

Jam Akhwat, Hmm ...

"Apablia datang malam hari, atau menjelang malam (maghrib) maka tahanlah anak-anakmu karena setan telah bertaburan pada saat-saat itu. Lalu jika telah berlalu sesaat malam itu, maka boleh kamu lepas mereka." (H.R Al Bukhari)

Saya mendapatkan pesan di grup Protagonis dari salah seorang rekan. Bacanya langsung tertohok gitu. Bukan karena saya punya anak-anak yang harus dilarang keluar maghrib tapi karena saya anak-anak yang biasanya masih berkeliaran di luar ketika maghrib. Saya tidak familiar dengan hadis ini dan saya juga masih belum mengerti arti dari 'jika telah berlalu sesaat malam itu', apa maksudnya subuh?

Entah sejak kapan, entah karena apa, entah tertular dari siapa, entah hidayah dari mana, sekarang saya mulai jadi orang yang benar-benar takut dosa dan apa-apa mikirin Allah. Alasan termungkin adalah karena saya sudah sangat sering memikirkan kematian dan akhirat. Semoga semua hal yang saya rasakan ini positif.

Berbicara mengenai magrib-magrib, di kalangan aktivis dakwah ada istilah populer namanya 'jam akhwat'. Dimana ketika jam sudah menunjukan pukul 18.00 WIB, akhwat sudah harus pada ke kosannya masing-masing. Saya tidak ada masalah dengan itu. Yang mau pulang, ya pulang saja. Tapi saya masih banyak urusan. Makan sih yang paling sering.

Apakah jam akhwat itu timbul karena hadis ini? Atau ada hadis lain yang lebih ekstrim dibanding setan yang bertaburan? Sepertinya saya yang kurang gaul dan kurang ngaji karena nggak ngeh dengan larangan-larangan ini. Karena dulu ketika saya di asrama (pesantren) malah saya biasa berkeliaran malam-malam, magrib kita wajib berangkat ke mushola yang letaknya lumayan dari asrama. Melewati rumah pembina asrama, melewati kantor TU, melewati mesjid, baru nyampe ke mushola. Ba'da maghrib kita ada kegiatan semacam mentoring, kadang belajar khutbah gabungan, atau sesuatu yang lebih asik. Tempatnya bisa di mushola, kelas, atau asrama. Isya kita kembali ke mushola dan ba'da Isya adalah jam belajar kita di kelas. Makanya saya sudah biasa berada di luar ketika malam-malam, karena batas belajar di kelas sampai jam 10 malam. Sebelum jam 10 malam kita tidak boleh pulang ke asrama.

Bahkan kebiasaan itu sudah saya jalani ketika saya SD. Saya sekolah Diniyyah di madrasah yang cukup jauh. Jaraknya seperti dari Jatos ke FISIP lah. Ketika kelas 4-6 SD, saya dapat waktu belajar ba'da maghrib dan selesai jam 8 malam. Kadang kalau sepupu saya lagi sakit saya pulang sendirian malam-malam. Dan itu sudah jadi kebiasaan, makanya saya tidak takut gelap dan tidak takut berjalan sendirian malam hari. Alhamdulillah, tidak pernah terjadi apa-apa. Allah melindungi saya, kok.

Kembali ke jam akhwat. Setelah disentil dengan hadis diatas, saya akhirnya berjanji saya akan jadi lebih baik lagi. Saya juga nggak mau temenan sama setan. Sekarang yang paling mungkin membuat saya keluar malam adalah main sama sahabat saya. Atau karena saya (lagi-lagi kebiasaan) sering menunggu sore untuk pergi-pergian. Alhasil saya sering sampai di tempat tujuan malam hari. Ibu saya sudah sering mengingatkan kalau saya jangan keluar malam-malam. Tapi ya ... gimana ... siang panas, Mah ...

Well, setidaknya saya bukan orang yang menolak hidayah. Bukan orang yang menutup telinga ketika dinasihati. Jika saya agak rewel ketika dilarang atau disuruh-suruh, mungkin saya sedang lapar jadi tidak bisa berpikir jernih. Mungkin, ya :).

Oh, iya. Ceritanya saya nyari gambar yang pas buat tulisan ini. Terus nemu gambar ini yang bikin saya ngakak. Alhamdulillah, nggak pernah kayak gini. Jadi cewek jutek kadang ada positifnya, jadi kejaga sama virus merah jambu sebelum waktunya :p.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…