Skip to main content

Ahli Agama dan Politik ~

Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat kepada Ustad Atip Latifulhayat, sosok yang sangat menginspirasi saya di Persis dan di Unpad, karena telah lolos seleksi sebagai calon hakim konstitusi. check this -> http://m.metrotvnews.com/read/news/2014/02/17/216604/UU-MK-Dibatalkan-DPR-Ngebut-Uji-6-Calon-Hakim-Konstitusi#.UwSYDs1K2FY.facebook

Dua tahun lalu ketika saya masih aktif di Persis, saya bertemu dengan beliau beberapa kali, salah satunya saya tulis di blog persis unpad -> http://persisunpad.blogspot.com/2011/09/dialog-bersama-ustad-atip-latifulhayat.html

Ustad Atip berasal dari Tasikmalaya dan saya tidak tahu bagaimana dia bisa bergabung dengan Persis. Well, Ustad Atip adalah Ustad pertama di Persis yang membuat saya berpikir, gila, ada ternyata Ustad di Persis yang pikirannya nggak ke hal-hal berbau kitab terus. Padahal dia keren abis, kok mau ya aktif di Persis.

Dulu ketika tsanawiyyah (SMP) saya sampai mempertanyakan ngapain sih kita belajarnya nahwu, sharaf, mustholah hadis, faraidl, muthala'ah, qiraat, bagaimana baca arab gundul, bagaimana membagikan warisan orang meninggal, bagaimana meneliti sanad hadis, bagaimana menyusun kalimat arab dan ble ble ble lainnya. Sementara anak muda di luar sana belajar biologi, fisika, kimia, matematika, bagaimana makhuk hidup berkembang biak, bagaimana rumus membuat sesuatu benda bergerak konstan, dan bagaimana reaksi pencampuran untuk membuat sebuah bahan kimia yang tidak berbahaya. Lebay. Tapi memang iya, saya agak mirip dengan Alif di film Negeri Lima Menara, lebih suka ilmu umum daripada ilmu agama. Bedanya saya dipesantrenkan sejak tsanawiyyah dan saya baru sadar bahwa yang saya pelajari adalah ilmu yang tidak saya suka ketika saya sudah bertahun-tahun di pesantren.

Saya juga pernah ditegur Ustad di pesantren gara-gara baca buku Iblis Menggugat Tuhan. Dulu saya memang baca segala jenis buku. Apapun yang penting baca. Bahkan saya baca buku 24 Wajah Billy ketika masih umur 14 tahun. Sekarang saya agak pilih-pilih. Nah, karena bacaan saya dianggap nyeleneh akhirnya saya diminta mengembalikan buku tersebut ke perpustakaan daerah Soreang, padahal saya baru baca setengahnya. Sekarang setiap saya menceritakan isi buku tersebut, orang yang sudah baca akan bilang, kamu salah sih bacanya nggak sampai tamat, di akhirnya kan ada penjelasan bahwa apa yang digugat Iblis itu keliru. Nah loh, yang salah bukan saya, Ustad saya yang nyuruh saya jangan namatin buku itu dan mulangin ke perpus.

Berbicara tentang buku dan perpus, ketika kelas 1 muallimin (SMA) saya pernah berkeliaran di perpus mempelajari tentang NII. Aneh, ya. Sampai akhirnya keanehan saya berhenti karena saya memilih keluar dari pesantren dan melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah. Masuk kelas IPA. Yeah, tepuk tangan. Niat banget.

Sampai ketika di Aliyah saya nggak nyantri banget karena sudah mulai pakai celana panjang kalau keluar. Kerudung mulai pendek-pendek, nggak pendek banget, prinsipnya tetap nutup dada. Baju mulai nggak gojobar-gojober sampai gamis jaman pesantren nggak ernah saya sentuh.Tapi Allah masih membelokkan saya ke jalan baik. Kelas 3 Aliyah saya dipertemukan dengan aktivis Persis dan saya diminta jadi Bidgar Dakwah cuma karena saya banyak ngomong.

Lulus Aliyah masuk Unpad. Awalnya nggak menunjukan identitas kesantrian terutama di BEM. Masuk Persis (lagi) tapi ketarik-tarik di Politik-nya BEM, baik itu politik kampus maupun politik negeri. Nge-BEM tiga tahun baru di tahun terakhir saya ketahuan kalau saya pernah nyantri, bahkan lahir di lingkungan pesantren. Saya nggak ngeh bagaimana itu bisa tersebar. Sampai akhirnya saya yang awalnya suka pakai kerudung asal-asalan mulai dipanjangin. Bahkan kembali pakai gamis dan baju atasan selutut. Subhanallah ya :p. Teh Ami saja sampai bilang, ciee sekarang kerudungnya panjang lagi. Heyah.

Sejak 2011 saya sempat cekcok tentang SBY sama aktivis Persis, sampai tahun 2014 ketika diskusi Pemilu, saya sering meledeki mahasiswa yang aktif di Persis sebagai gerakan politik wacana. Kalau ngomongin politik basa-basi doang. Tahunya cuma kitab. Hehehehee. Sampai saya bilang, kalau kesimpulan diskusi hari ini adalah pemuda harus punya peran di pemerintahan, lalu apa gerakan kalian? Mau nyaleg, udah ditutup, mau nyalonin jadi presiden harus masuk partai. Sekarang mau gerakannya apa? Sekedar pencerdasan kalau pemuda harus nyoblos mah saya nggak ikut diskusi sama kalian (Persis) juga saya bakalan nyoblos. Kita bicara yang konkret-konkret saja lah.

Dari situ orang-orang speechless. Saya sendiri nggak tahu kenapa saya songong banget ngomong kayak gitu.

Ada yang mengatakan bahwa agama dan politik itu hal yang terpisah dan berbeda. Fikri sih yang ngomong kayak gitu karena dia pernah dapat tugas kuliah tentang itu, agama dan politik. Buat saya yang memang sedang concern di masalah spiritual, pemisahan agama dan politik itu memang upaya orang-orang semacam new age movement. Menurutku loh ya. Harapannya adalah ketika seseorang menjadi nasionalis maka nilai yang ditanamkan adalah nilai dan norma kenegaraan, bukan keagamaan. Sehingga aturan yang diterapkan dalam kehidupan adalah aturan politik, bukan agama. Hmm, agak serem.

Bagaimana dengan Muslim Negarawan yang diusung oleh sebuah organ ekstra yang memakai nama M. Natsir dalam organisasinya?

Wait ... perut saya tiba-tiba lapar, skripsi belum selesai di-revisi (as always).

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…