Search This Blog

Ketika Saya Bilang 'Nggak Mau Kerja'

Siang tadi, ketika saya sedang jenuh dengan basa-basi matkul Civic (sorry to say that), Teh Erna posting sebuah cerita di whatsapp. Isinya tentang perdebatan antara wanita karir dengan wanita rumah tangga. Come on, semua punya jalan perjuangannya masing-masing sebagai ibu, dan ibu, siapapun dia, tetap menyimpan syurga di telapak kakinya. Begitu kesimpulannya.

Saya yakin seorang ibu juga bekerja untuk kesejahteraan anaknya.

Saya jadi teringat perdebatan yang akhir-akhir ini sering muncul di sekitar saya. Masalah karir. Ners enggak? Kalau nggak Ners sayang loh, ngapain kuliah 4 tahun tapi nggak jadi perawat. Ilmunya sayang. S.Kep kalau mau jadi PNS harus Ners dulu tahu.

Lalu ketika saya nyeletuk kalau saya nggak kepikiran untuk kerja maka ocehan lain bermunculan. Kamu hidup mau mengandalkan suami? Jadi sarjana pengangguran? Wanita itu harus maju, jangan tergantung sama penghasilan laki-laki. And the zeng and the zong ...

Berisik. Saya yang gampang terpengaruh oleh orang lain sudah toleransi dengan orang-orang yang berisik. Akhirnya hidup saya nggak terarah. Udah mah ayah saya meninggal sejak saya masih bayi. Ibu saya stres. Orang-orang pada berisik kalau saya harus begini, saya harus begitu, jadilah hidup saya terombang-ambing nggak jelas. Yeah, saya tahu maksudnya perhatian, tapi jadinya saya jadi orang yang nggak konsisten.

Tapi nggak apa-apa. Ada Allah.

Jika berbicara mengenai karir. Goal saya cuma satu. Jadi penulis. Dan sekolah menjadi penulis hanya memiliki satu tugas belajar, yaitu MEMBACA. Bukan hanya membaca buku tapi juga 'membaca kehidupan'.

Jika berbicara mengenai manfaat. Saya punya dua proyek tahun ini. Membantu Mamah mengelola madrasah di Nagreg dan membantu Teh Erna membangun Taman Bacaan di Cicalengka.

Lalu diwisuda Agustus 2014. Amin.

Kurang sibuk apa saya? Eh, jangan sombong.

Berbicara mengenai berpenghasilan sebelum kuliah. Setelah dipikir-pikir, saya juga tengah proses melakukannya. Bukan ikut Pimnas, Mawapres, atau ajang bergengsi lainnya. Saya terlalu Kuper untuk itu. Tapi freelance untuk keluarga. Keren kan, saya bekerja untuk keluarga.

Sebagai contoh, dulu saya sudah biasa diminta tolong menjemput Faiq (anak sepupu), dari pesantren di Garut seminggu sekali. Ongkosnya bolak-balik hanya 15.000 tapi saya dikasih uang 50.000. Jadi dalam sebulan saya bisa dapat uang 140.000. Sayangnya Faiq sudah berhenti mesantren.

Saya juga sering dititipi anak-anak (ada 3 anak sekarang, dulu 5) di Cicalengka kalau saya sedang pulang. Biasanya saya pulang ke Cicalengka satu minggu sekali. Setiap ke Cicalengka saya dikash 50.000 sama Teh Erna dan 50.000 oleh Teh Teni. Kalau Wa Euis lagi ada uang dia suka ikut ngasih. Sebulan saya bisa dapat 400.000. Tapi dengan catatan itu juga kalau saya sedang pulang ke Cicalengka. Selama nge-BEM dan sekarang skripsi jadwal pulang saya random.

Kemarin ketika Uwa saya sakit, saya bolak-balik ke Borromeus. Murni karena saya tahu kalau orang yang menjaga keluarganya di Rumah Sakit beresiko stres, kelelahan, panik, dll, saya yang dari tsanawiyyah (SMP) sudah terbiasa jadi penunggu keluarga yang sedang sakit dan alhamdulillah jarang (hampir enggak) stres, kelelahan, dan panik (karena udah agak tahu ilmunya)  dengan sukahati menjadi penunggu Wa Acep. Jadinya adalah setiap ada yang menengok Wa Acep dan kenal saya, selain mereka memberi uang ke istrinya Wa Acep, mereka juga memberi saya uang. Alasannya untuk saya jajan bakso di Borromeus, ongkos bolak-balik ke Jatinangor, dll. Akhirnya Wa Acep sembuh dan saya bisa mengumpulkan uang 300.000 selama menunggu Wa Acep sakit.

Saya juga termasuk anggota keluarga yang sering bersilaturahmi kesana-kemari. Niatnya main doang. Tapi biasanya pulangnya dompet saya tebel. Yang paling asik ketika liburan sama adik saya kemarin, saya yang awalnya khawatir uang saya habis karena memenuhi kehidupan saya dan adik saya selama liburan malah ternyata enggak mengeluarkan uang sepeser pun karena semuanya ditanggung keluarga yang kami kunjungi. Akhirnya saya bisa pakai uang saya buat main ke Baduy. Yeay. Lalu skripsi saya terlantar. Heah.

Begitulah. Uang saya nggak banyak dan saya termasuk orang yang cuek sama manajamen keuangan. Tapi saya punya celengan dan dibobol kalau saya lagi wajib menetap di Nangor berminggu-minggu. Ibu saya ngasih jatah 150.000 untuk satu minggu. Awalnya 100.000 seminggu, tapi setelah saya audiensi jatah uang saya jadi naik. Ehehee. Tapi pemasukan saya memang bukan hanya dari ibu. Itu tadi, saya freelance ke keluarga yang lain. Modalnya silaturahmi, care, dan mau dimintain bantuan. Awalnya saya nggak orientasi ke uang kok, murni karena saya nggak bisa menolak permintaan orang lain. Apalagi keluarga. Alhamdulillah rejeki mah ada aja.

Berbicara mengenai silaturahmi keluarga. Pernah ada salah seorang keluarga (dekat secara nasab tapi tidak terlalu dekat secara emosional) yang pas saya main ke rumahnya ketika saya masih tsanawiyyah dia mengeluarkan uang 50.000 dan dia bilang, "Ini untuk sedekah anak yatim." dan memberikan uang itu ke saya.

Saya tidak pernah bersedih hati  mengakui kalau saya yatim tapi entah kenapa saya nggak suka digituin sama keluarga sendiri sambil dikasih uang. Kayak kaum dhuafa di depan keluarga sendiri -_-. Akhirnya saya nggak pernah datang lagi ke rumahnya.

Balik lagi ke freelance untuk keluarga. Kali ini sedikit profesional. Dua bulan yang lalu saya bantu A Indra input data buat KPAD dan saya dikasih honor satu juta. Minggu ini saya bantu input data lagi buat tesisnya A Indra dan dikasih honor 500.000. Nah, itu kerja kan? Bukti kalau saya juga peduli dengan isi dompet saya. Ketika saya mengatakan saya tidak mau bekerja bukan berarti saya mengatakan saya nggak butuh penghasilan. Saya hanya tidak mau pekerjaan yang mengikat. Untuk sementara ini sih pikiran saya begitu. Jangan kaget aja kalau 3 tahun lagi menemukan saya bekerja full jadi perawat di Rumah Sakit.

ini gambar saya lagi ngerjain transkrip buat tesis.
iseng aja di-posting biar ada gambarnya. ehehee.


Dan ketika saya mengatakan saya tidak mau bekerja, bukan berarti saya ingin jadi pengangguran. Sudah sering saya katakan kalau saya sangat penasaran ingin membuat novel. Ketika saya bekerja, otak saya kehabisan porsi untuk berimajinasi dan mengetiknya. Sebagai contoh, selama semester satu saya produktif menulis cerpen, prosa, dan puisi. Setelah saya nge-BEM selama tiga tahun, cuma rilis kegiatan BEM yang ada di otak saya. Novel pun terselesaikan selama saya KKN dan saya menyatakan cuti dari BEM. Nah, itu ... jadi jangan berpikiran saya nggak punya gairah hidup. Menjadi penulis novel itu hampir sama seperti wirausaha. Lebih fokus tanpa bekerja terikat dengan orang lain.

Dan ketika saya mengatakan saya tidak mau bekerja tapi mau jadi ibu dan istri yang baik, it's just like ... lo bilang kalo lo mau ke sekolah untuk belajar. Right? Sampai di sekolah, berapa persen kamu belajar? Bahkan guru menerangkan adakalanya kita tidur atau melamun, sisanya makan, main, jailin temen, ngegosip. Katakan kita 10 jam di sekolah, apakah kita selama 10 jam belajar? Enggak lah, tapi kamu tetap mengatakan kalau kamu ke sekolah untuk belajar.

Itu maksudku. Ketika saya mengatakan cita-cita saya adalah menjadi ibu dan istri yang baik. Itu hanya poin utama tujuan dari masa depan saya untuk jalan ibadah yang ingin saya tempuh. Di sela-sela itu saya bisa terlihat sedang menjadi seorang penulis, seorang perawat, seorang guru. Apapun itu. Okay, clear?

Lagipula saya tidak Asbun ketika saya berbicara mengenai orientasi keluarga. Saya menyaksikan sendiri perjalanan dan perbandingan antara kakak-kakak dan sepupu-sepupu saya dalam berumah tangga dan saya belajar banyak dari mereka.

Oh iya, tambahan. Ketika saya terlihat sebagai perawat atau bekerja untuk orang lain berarti saya sedang mengumpulkan uang sebelum saya bisa menerbitkan novel. Saya sering berfikir bahwa uang saya akan berputar. Saya bekerja sebagai perawat, uangnya saya pakai untuk menerbitkan novel, lalu setelah buku-buku saya terjual, uangnya saya pakai untuk kuliah S2 psikologi sains, setelah dapat gelar magister saya bekerja di bagian manajerial Rumah Sakit atau dosen di psikologi/keperawatan, bikin buku teori tentang spiritual (keukeuh), lalu uangnya saya pakai untuk bikin usaha penerbitan novel, bikin perpustakaan, atau apapun yang berhubungan dengan buku, lalu saya hidup sejahtera, menginspirasi, meninggal, ketemu malaikat, ditanya di kubur, ditimbang, dikirim ke padang mahsyar, melewati jembatan sirothol mustaqim, masuk surga, ketemu Allah >.<. Simpel, ya. Tapi masih bisa berubah. Misalkan diajak jihad ke Palestina buat jadi tenaga medis. Bukan nggak mungkin loh. Meninggal langsung syahid tapi belum menikah. Cita-cita banget itu.

Well, semua orang punya orientasi masing-masing, yang mungkin ketika dipaksakan ke dalam kehidupan orang lain itu nggak akan bisa dan nggak akan nyambung. Tapi semoga di setiap pilihan kita ada Allah yang memberi petunjuk. Aamiin.

Teralihkan Keluarga ~

Pernah nggak sih kamu disuruh ibu kamu untuk cuci piring lalu di saat bersamaan kamu disuruh belanja ke warung. Bete kan. Biasanya aku suka ngoceh, "Tadi nyuruh ini, sekarang nyuruh itu. Nurul kan cuma ada satu, Mah."

Kemarin begitu lagi ... tapi lebih complicated. Mamah mengamanahi saya untuk menyelesaikan skripsi semester ini tapi saya masih di'sandera' untuk menjadi asistennya. Sampai Mamah bilang, ya sudah ngerjain skripsinya di Nagreg (rumah mamah) saja. Heuh, yang ada saya males buka laptop dan bimbingan. Untung masih ada jadwal kuliah jadi saya teguh hati untuk menetap di Nangor.

Jumat siang Mamah nelfon dengan satu pertanyaan. "Lagi kuliah?" Karena saya jawab enggak, maka dia langsung mengatur jadwal agar saya menemaninya ngubek Palasari untuk membeli Iqra. Yeah, Mamah sedang asik mengurus madrasahnya. Tanpa saya duga, 30 menit kemudian Mamah mengetuk pintu kosan. Buset. Dan ... saya harus meng-cancel janji dengan Sarita untuk ikut acaranya BEM, apa ya ... tentang hari sampah gitu pokoknya.

Dengan lobi-lobi di grup whatsapp keluarga, akhirnya Teh Dwi mau membelikan iqra ke Palasari. Tapi Mamah tetap ngajak ke Cimahi, ke rumah Teh Dwi untuk mengambil Iqra-Iqra itu.

"Mah, jangan mengabaikan teknologi dong. Kan sekarang bisa kirim lewat paket."

"Butuhnya kan lusa, Neng." Mamah tetap ngotot untuk pergi.

"Sehari juga nyampe, Mah. Paling bayar berapa. Dibanding ongkos, capek ..."

"Ya udah atuh, Mamah udah tanggung ada di Jatinangor. Kita ke Cimahi we, sekalian silaturahmi."

"Baiklah ..." Saya pun mengalah. Memasukan barang-barang perjalanan ke dalam tas. Dan tentu saja harus begitu.

Sebelum ke Cimahi, kita makan Ramen dulu, terus ke Sakinah, ke Jatos, naik eksplore, jalan-jalan dulu di Cimahi Mall, pulangnya beli martabak, nyampe deh ...

Semalam nginep di Cimahi, besoknya saya iseng ngajak Afiya (2 tahun 1 bulan) main ke Nagreg. Eh dia mau :D. Akhirnya selama tiga hari saya full jadi Nanny-nya Afiya. Main di Cagak, perosotan, ayunan, dan mainan TK lainnya, lalu ke Cipanas, berenang (Fiya sempet kelelep sekali ehehee), makan-makan, terus dibawa ke Cicalengka, main sama Sahla (2 tahun 3 bulan), Dila (2 tahun 5 bulan), Miftah (TK), dan Roif (3 SD).

Hari Senin, Teh Dwi ke Cicalengka buat jemput Fiya, Selasa pagi saya baru ke Jatinangor untuk mengikuti praktikum Bantuan Hidup Dasar (BHD) dengan tiga prinsip Circullation dikasih Resusitasi Jantung Paru (RJP), Air Way ngecek jalan nafas, sama Breathing dikasih nafas buatan. Seru :D.

And then ... saya baru balik lagi ke skripsi. *nunduk* *pusing* *kenapa harus ada skripsi di dunia ini*

Buka laptop malah kejebak dengan blog tiga anak-anaknya Bu Septi. Keren bro, anaknya yang berumur 17 sudah tiga tahun sekolah di Singapura, anaknya yang kedua baru setahun di Singapura, anaknya yang ketiga punya cita-cita belajar robot di Jerman. Anak saya gimana ya .... *skripsi heula bro*

Ini tiga blog anaknya Bu Septi:

Enes: Suka Duka Si Sulung
Ara: Suka Cita Si Tengah
Elan: Suka Suka Si Bungsu

Oke, bicara tentang keluarga, skripsi, dan ... keluarga. Kemarin malam sepupuku panik karena laptopnya kesiram air oleh anak pertamanya, laptopnya mati padahal bahan skripsi semua ada disana dan nggak ada copy-annya. Pas hari Senin juga Teh Dwi baru bimbingan skripsi dari kampus sambil bawa Sabiq (5 bulan). A Indra tesisnya nggak selesai selesai jadi harus molor satu semester dan akhirnya minta bantuan saya buat input data *fweeeh untung dibayar :D*. A Heri, kakak laki-lakiku satu-satunya lebih memilih mengejar kerjaan di dunia al-quran daripada menyelesaikan skripsinya. Teh Fitri, kakak ke-3, sudah lulus sidang dengan revisi tapi draft skripsinya entah kemana karena dia mengerjakan skripsi bertahun-tahun lalu.

Kalau kata Pak Iyus, "Kerjakan tanggung jawabmu sekarang juga. Jangan tunggu semuanya menjadi sulit."

Hayu, biar bisa nulis novel lagi, bro .... >.<

Okay, it's enough. Malam ini saya tidak akan menyentuh skripsi. Pertama karena saya belum mengambil data ke RSAI. Kedua karena Aqo, teman saya di Cianjur, belum selesai membantu saya menerjemahkan tesis. Ketiga  karena tiba-tiba saya dapat Jarkom bahwa saya harus melakukan peer teaching besok sementara saya belum nyari materi sama sekali. Materinya tentang Coronary Artery Disease dan Syok Kardiogenik. Dalem banget bro ....

Oh iya, terakhir. saya mau cerita. nggak penting sih, tapi lucu aja. pas ngasuh bocil-bocil, saya suka pake
'bro, bro'. misalkan mau pasang celana terus saya nyeletuk, "kakinya diangkat bro" atau "kita makan dulu bro". akhirnya keponakan saya suka ikut-ikutan saya 'bwo, bwo'. hihi, lucu ya. kalau enggak, berarti saya yang aneh. ya udah, saya  makan dulu ya ... bro >.<

Ahli Agama dan Politik ~

Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat kepada Ustad Atip Latifulhayat, sosok yang sangat menginspirasi saya di Persis dan di Unpad, karena telah lolos seleksi sebagai calon hakim konstitusi. check this -> http://m.metrotvnews.com/read/news/2014/02/17/216604/UU-MK-Dibatalkan-DPR-Ngebut-Uji-6-Calon-Hakim-Konstitusi#.UwSYDs1K2FY.facebook

Dua tahun lalu ketika saya masih aktif di Persis, saya bertemu dengan beliau beberapa kali, salah satunya saya tulis di blog persis unpad -> http://persisunpad.blogspot.com/2011/09/dialog-bersama-ustad-atip-latifulhayat.html

Ustad Atip berasal dari Tasikmalaya dan saya tidak tahu bagaimana dia bisa bergabung dengan Persis. Well, Ustad Atip adalah Ustad pertama di Persis yang membuat saya berpikir, gila, ada ternyata Ustad di Persis yang pikirannya nggak ke hal-hal berbau kitab terus. Padahal dia keren abis, kok mau ya aktif di Persis.

Dulu ketika tsanawiyyah (SMP) saya sampai mempertanyakan ngapain sih kita belajarnya nahwu, sharaf, mustholah hadis, faraidl, muthala'ah, qiraat, bagaimana baca arab gundul, bagaimana membagikan warisan orang meninggal, bagaimana meneliti sanad hadis, bagaimana menyusun kalimat arab dan ble ble ble lainnya. Sementara anak muda di luar sana belajar biologi, fisika, kimia, matematika, bagaimana makhuk hidup berkembang biak, bagaimana rumus membuat sesuatu benda bergerak konstan, dan bagaimana reaksi pencampuran untuk membuat sebuah bahan kimia yang tidak berbahaya. Lebay. Tapi memang iya, saya agak mirip dengan Alif di film Negeri Lima Menara, lebih suka ilmu umum daripada ilmu agama. Bedanya saya dipesantrenkan sejak tsanawiyyah dan saya baru sadar bahwa yang saya pelajari adalah ilmu yang tidak saya suka ketika saya sudah bertahun-tahun di pesantren.

Saya juga pernah ditegur Ustad di pesantren gara-gara baca buku Iblis Menggugat Tuhan. Dulu saya memang baca segala jenis buku. Apapun yang penting baca. Bahkan saya baca buku 24 Wajah Billy ketika masih umur 14 tahun. Sekarang saya agak pilih-pilih. Nah, karena bacaan saya dianggap nyeleneh akhirnya saya diminta mengembalikan buku tersebut ke perpustakaan daerah Soreang, padahal saya baru baca setengahnya. Sekarang setiap saya menceritakan isi buku tersebut, orang yang sudah baca akan bilang, kamu salah sih bacanya nggak sampai tamat, di akhirnya kan ada penjelasan bahwa apa yang digugat Iblis itu keliru. Nah loh, yang salah bukan saya, Ustad saya yang nyuruh saya jangan namatin buku itu dan mulangin ke perpus.

Berbicara tentang buku dan perpus, ketika kelas 1 muallimin (SMA) saya pernah berkeliaran di perpus mempelajari tentang NII. Aneh, ya. Sampai akhirnya keanehan saya berhenti karena saya memilih keluar dari pesantren dan melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah. Masuk kelas IPA. Yeah, tepuk tangan. Niat banget.

Sampai ketika di Aliyah saya nggak nyantri banget karena sudah mulai pakai celana panjang kalau keluar. Kerudung mulai pendek-pendek, nggak pendek banget, prinsipnya tetap nutup dada. Baju mulai nggak gojobar-gojober sampai gamis jaman pesantren nggak ernah saya sentuh.Tapi Allah masih membelokkan saya ke jalan baik. Kelas 3 Aliyah saya dipertemukan dengan aktivis Persis dan saya diminta jadi Bidgar Dakwah cuma karena saya banyak ngomong.

Lulus Aliyah masuk Unpad. Awalnya nggak menunjukan identitas kesantrian terutama di BEM. Masuk Persis (lagi) tapi ketarik-tarik di Politik-nya BEM, baik itu politik kampus maupun politik negeri. Nge-BEM tiga tahun baru di tahun terakhir saya ketahuan kalau saya pernah nyantri, bahkan lahir di lingkungan pesantren. Saya nggak ngeh bagaimana itu bisa tersebar. Sampai akhirnya saya yang awalnya suka pakai kerudung asal-asalan mulai dipanjangin. Bahkan kembali pakai gamis dan baju atasan selutut. Subhanallah ya :p. Teh Ami saja sampai bilang, ciee sekarang kerudungnya panjang lagi. Heyah.

Sejak 2011 saya sempat cekcok tentang SBY sama aktivis Persis, sampai tahun 2014 ketika diskusi Pemilu, saya sering meledeki mahasiswa yang aktif di Persis sebagai gerakan politik wacana. Kalau ngomongin politik basa-basi doang. Tahunya cuma kitab. Hehehehee. Sampai saya bilang, kalau kesimpulan diskusi hari ini adalah pemuda harus punya peran di pemerintahan, lalu apa gerakan kalian? Mau nyaleg, udah ditutup, mau nyalonin jadi presiden harus masuk partai. Sekarang mau gerakannya apa? Sekedar pencerdasan kalau pemuda harus nyoblos mah saya nggak ikut diskusi sama kalian (Persis) juga saya bakalan nyoblos. Kita bicara yang konkret-konkret saja lah.

Dari situ orang-orang speechless. Saya sendiri nggak tahu kenapa saya songong banget ngomong kayak gitu.

Ada yang mengatakan bahwa agama dan politik itu hal yang terpisah dan berbeda. Fikri sih yang ngomong kayak gitu karena dia pernah dapat tugas kuliah tentang itu, agama dan politik. Buat saya yang memang sedang concern di masalah spiritual, pemisahan agama dan politik itu memang upaya orang-orang semacam new age movement. Menurutku loh ya. Harapannya adalah ketika seseorang menjadi nasionalis maka nilai yang ditanamkan adalah nilai dan norma kenegaraan, bukan keagamaan. Sehingga aturan yang diterapkan dalam kehidupan adalah aturan politik, bukan agama. Hmm, agak serem.

Bagaimana dengan Muslim Negarawan yang diusung oleh sebuah organ ekstra yang memakai nama M. Natsir dalam organisasinya?

Wait ... perut saya tiba-tiba lapar, skripsi belum selesai di-revisi (as always).

Soulmate ~

Aku ingin jatuh cinta kepadamu. Pada apa yang ada pada dirimu. Pada apa yang kamu berikan untukku.

Bagaimana kamu tersenyum. Bagaimana kamu menatap. Bagaimana kamu marah. Bagaimana kamu menyayangi. Aku ingin mencintaimu secara menyeluruh. Pada kekurangan dan kelebihanmu. Pada masa lalu dan masa depanmu.

Aku menunggumu dalam setiap pencarian. Pada setiap interaksi keseharianku. Pada setiap perjalanan kehidupanku. Aku selalu berharap kamu ada diantara orang-orang di sekitarku.

Ya, aku belum jatuh cinta kepadamu. Mungkin Allah belum mengijinkan. Mungkin Allah belum menunjukan bahwa kamulah yang aku tunggu.

Atau mungkin kita belum bertemu. Sampai sekarang belum mengenal satu sama lain. Aku tidak mau menduga-duga.

Kamu akan tahu bahwa aku telah menghabiskan banyak waktu dalam hidupku untuk mengenali diriku sendiri. Memahami setiap jengkal kehidupan yang aku tapaki. Bukankah kamu adalah belahan jiwaku. Aku akan mengetahui itu jika aku mengenali jiwaku sendiri. 

Kamu akan tahu bahwa aku memandang masa depan sesederhana aku harus bermanfaat untuk orang lain dan aku harus menjadi inspirasi untuk orang lain. Orang pertama dan utama yang harus aku berikan manfaat dan inspirasi adalah keluargaku. Lalu sama-sama kita menginspirasi banyak orang.

Kita akan menjadi sepasang jiwa yang membicarakan Allah dalam setiap kejadian. Menjadikan al quran dan hadis sebagai konstitusi kehidupan kita. Aku percayakan setengah agama kita tersempurnakan dalam kebersamaan ini.

Inilah aku apa adanya. Aku percaya kamu akan mencintaiku saat aku marah, pesimis, tidak percaya pada dunia, dan di saat-saat terpuruk dalam kehidupan. Kamu sendiri tahu bahwa aku tidak sempurna. Maka aku pun percaya bahwa kamu tidak akan menyempurnakanku jika aku enggan membuka diri.

Sekarang aku serahkan padamu dan Allah. Apakah kita harus bertemu, atau tidak, aku ikut pada kehendak-Nya. Bukankah mimpi-mimpi kita sudah terlalu banyak yang tertunda hanya karena saling menunggu.


---------

Catatan rusuh di tengah-tengah mood pembuatan skripsi yang menurun drastis.

Sesederhana Bahagia

Banyak yang bilang sederhana itu bahagia ... apapun yang membuat hatimu lapang dan menerima.


Bagiku bahagia juga sesederhana kelapangan kita dalam memahami takdir terbaik dari Allah. Sesederhana pencapaian puncak penerimaan. Dan kepercayaanmu bahwa kamu sebenarnya layak untuk bahagia kapanpun dan dalam kondisi apapun.



Menginspirasilah ~

Kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah oleh kejahatan yang terorganisir. Yahudi, yang keren banget itu, memiliki manajemen yang bagus untuk bisa mencapai tujuan mereka. Di Bandung, yang mayoritas muslim, terdapat empat Rumah Sakit Nasrani dan tiga Rumah Sakit Islam. Rumah Sakit yang berkualitas bagus adalah Rumah Sakit Nasrani karena standarnya sudah internasional. Contohnya Borromeus, itu tuh bagian dari Rumah Sakit yang dikelola se-Asia. Wajar kalau standarnya internasional.

Saya ingin jadi orang yang baik. Saya ingin memberikan hal-hal yang baik. Apa harus ikut organisasi? Saya udah ketendang dari BEM. Diajakin ikut DM KAMMI sama Kang Ojan tapi harus dari nol lagi. Diminta ikut di PW Himi Persis Jabar tapi masih ragu. Juga dipinang (lagi) jadi guru di PPI 28 Cicalengka. Bingung. Selalu saya berpikir saya selalu salah mengambil keputusan. Termasuk ketika beli tas dan sepatu. Pasti selalu ada pikiran kok saya beli tasnya yang kayak gini. Hehe, nyambung kan.

Akhirnya masih free like a bird. Tadi pagi setelah menginap di RS Santo Borromeus, saya ikut (ikutan) acaranya BSLF dengan pembicara Ridwan Kamil, Bima Arya, Ahmad Fachmi, dan moderatornya Kang Yusuf. Sumpah, saya makasih banget sama BSLF yang bersemangat untuk memotivasi kaum muda buat mencintai negerinya ini. Gokil. Keren. Saya sampai kepikiran bercita-cita mau jadi Bupati Garut. Saya sampai nyesel nggak ikut nyalon di Prama. Dan saya akhirnya ikhlas kalau nanti suami saya mau jadi politikus, bahkan presiden. Saya memang agak gampang terdistorsi kalau masalah kebaikan. Wew.

Orang yang sudah cukup dengan dirinya, akan berani berkoraban untuk negerinya. Iya nggak sih? Nah, makanya saya ingin mencukupi diri saya dulu. Antara saya dengan Allah. Antara saya dengan keluarga. Dan antara saya dengan passion saya. Menulis. Ayolah, satu buku saja dan saya bisa melihat kalau memang takdir saya adalah menginspirasi orang lain melalui tulisan saya akan tenggelam di dalamnya. Kamu bisa memancing anak-anak muda untuk mencintai negerinya lewat novel. Gokil nggak tuh.

Oke, sebelumnya saya harus menyelesaikan skripsi dulu. Skripsi dahulu, novel kemudian, right?

Terima kasih untuk hari ini.

Terima kasih ya Allah ... karena Engkau telah menjadikanku mahasiswa keperawatan yang menjadi aktivis kampus Mengenal orang-orang hebat yang mencintai negerinya.

Terima kasih ya Allah ... karena Engkau telah menjadikanku anak bungsu yang sayang keluarga. Siap diminta bantuan oleh keluarga kapanpun. Baik itu saudara dekat, maupun jauh.

Terima kasih ya Allah ... karena Engkau telah menempatkanku dari kecil untuk rajin ngaji, mengajarkan banyak kehidupan di pesantren, dan Engkau menjadikanku mencintai-Mu secara menyeluruh. Tanpa keraguan.

Terima kasih ya Allah ... karena Engkau selalu mengingatkanku, menegurku lewat isyarat yang paling halus. Membiarkanku sadar akan pilihan yang harus kubuat.

Terima kasih ya Allah ... atas duapuluh dua tahun yang begitu bermakna. Atas titik balik dan belok yang sudah menuntunku melewati banyak kehidupan.

Terima kasih ya Allah ... dan maaf ... aku akan berusaha lebih baik lagi.

It's Just ... 5-6 Februari

Kemarin saya cuma keluar kosan buat memindahkan data dari Kang Agil. Lalu dia cabs ke ... entah kemana ... dan saya kembali bersemedi di kamar. Menerjemahkan tesis-nya David, ilmuwan Canada yang teorinya saya pakai untuk penelitian.

Sorenya saya tiba-tiba ditelfon ibu dan diminta buat mengantar beliau ke RS Santo Borromeus. Uwa masih dirawat disana dan ibu saya nggak berani pergi-pergian sendiri. Terbukti baru sampai Cileunyi dia teriak-teriak minta turun karena elp-nya ngebut. Akhirnya kita nunggu Damri ke DU.

Malamnya saya ikut-ikutan Bella, Fikri, dan Andi buat nonton acaranya FIM Bandung. Young Leader Talk 4. Ada Syauqi, Ridwansyah Yusuf, Gita Wirjawan, Ulil Abshar Abdala, dan Ramadhan Pohan. Ketika baru datang saya langsung disapa Kang Azam. Kaget, karena saya nggak ingat sama sekali dia siapa. Cuma saya berasumsi dia pasti aktif di BEM Rema karena dia menanyakan Wildan. Akhirnya setelah kita ngobrol muter-muter, saya bertanya, "Semester Delapan?"

"Bukan. Saya angkatan 2009."

Saya langsung ngeh. Di BEM Rema UPI yang angkatan akhir itu kalau nggak Presma-nya, ya Wapres-nya. Karena saya ingat wajah Presma-nya, berarti dia ... "Ooh, saya tahu kamu." Celetuk saya dengan agak polos. "Kakaknya Fahmi, kan?"

Dan saya jadi malu sendiri karena ternyata dari tadi saya ngoceh nggak jelas di depan eks-Wapresma BEM Rema UPI. Selain Kang Azam, saya juga ketemu Yoga (kalau ini udah kenal banget), Idam, dan Yorga dari ITB.

Di tempat acara saya ketemu Andi yang langsung ngajak saya duduk di kursi paling depan. Beberapa saat kemudian Bella dan Fikri datang sementara rombongan Gita Wirjawan baru datang jam setengah sembilan malam.

Saya nggak akan menceritakan hasil diskusi semalam sekarang karena terlalu berat, sementara saya masih ingin menjaga otak saya tetap menjadi 'otak skripsi'. Acara selesai jam 11 malam. Saya ketemu Donny, nyapa sebentar. Basa-basi. Haha-hihi. Terus kita berempat makan di pinggir jalan sambil membicarakan banyak hal. Jam 12 malam kita baru selesai makan dan menginap di RS Santo Borromeus.

Besoknya Fikri, Bella, dan Andi pulang ke Nangor sementara saya berangkat ke RSHS untuk bimbingan. Sebelum pergi ke RSHS saya ngider sama Mamah nyari ATM dan Teller BRI untuk bayar semesteran. Saya belum pernah bayaran lewat ATM. Machine error lebih menyebalkan daripada human error.

Setelah sampai di RSHS, beberapa saat saya termenung di perpustakaan karena ternyata hard disk saya kebawa sama Fikri. Dan masih dengan keadaan termenung saya dapat kabar kalau bimbingan tidak jadi dilaksanakan di RSHS, tapi di Jatinangor, jam itu juga. Heuh ...

And then ... saya benar-benar berambisi menyelesaikan skripsi ini secepat mungkin. Karena selama skripsi belum selesai, saya nggak bisa fokus menulis novel.

The Meaning of "Sarah"

Awalnya ayahku ingin memberikan nama Farah, supaya saya selalu bahagia. Tapi Mamah nggak setuju, katanya nanti anaknya diledekin 'Parah Parah' gitu. Akhirnya pakai nama Sarah, dan akhirnya saya memang tidak diledekin 'Parah', tapi 'Sarap'. Serius.

Katanya nama saya berarti luas, lega, lapang. Dalam bahasa arab itu memakai Syin, 'Syarah'. Bisa juga diartikan penjelasan, seperti kitab yang suka pakai nama 'Syarah Hadis'. Tapi nama saya tidak memakai Syin, tapi Sin.

Lalu guruku di pesantren memberitahu bahwa nama Sarah, yang juga nama istri pertama Nabi Ibrahim sekaligus ibunda Nabi Ishaq, berasal dari bahasa Ibrani atau Hebrew. Itu adalah bahasa asli kaum Yahudi. Arti dari Sarah sendiri adalah puteri yang cantik, begitu kata guruku.

Dan kemudian saya pun menemukan arti nama Sarah di sebuah situs. Dalam kitab yang berbahasa asli Hebrew, Sarah memang berasal dari 'Saray' yang berarti Puteri/Princess/Lady. Sementara Siti Sarah sebelumnya dikenal sebagai 'Sarai' dan ... agak nyengir ketika baca bahwa artinya adalah 'contetious, quarrelsome' yang berarti suka mendebat, suka cek-cok, dan semacamnya. Yeah ... sepertinya saya dan Siti Sarah memiliki sifat yang agak mirip.

Dalam bahasa Ibrani, arti Sarah memang Princess. Dan ternyata dalam bahasa Arab pun Sarah diartikan Happy.

Well, thank you Daddy for the name ... :)

Write! It's make you feel better ...

Saya sedang on the way menerjemahkan dua tesis. Yang satu tentang Kecerdasan Spiritual berjudul Rethinking Claims of Spiritual Intelligence: A Definition, Model, and Measure, dan yang satu lagi tentang Perilaku Sosial berjudul Social Behavior Inventory: To Ipsatize or Not To Ipsatize, That's The Question. Lieur ya? Saya sih lieur ... posisi meja belajar sekarang selalu sesak. Laptop yang tersambung dengan kabel charger, kabel cooling pad, kabel internet, kabel hard disk, dan kabel earphone. Buku-buku yang sudah biasa berjejer. Uang sisa jatah hari ini. Botol minuman, ungu yang biasa dipake, hitam cuma jadi pajangan. Gelas berisi kopi. Minuman Pulpy Orange. Bondu yang dipakai kalau saya lagi nggak pakai earphone. Lalu tas kuliah yang tergeletak begitu saja. Lantas di sebelah kiri menumpuk dua bungkus sampah ciki Taro, sampah bekas jeruk, bungkus wafer tango, al-quran yang dibaca dua jam sekali, nasi dari hipotesa yang belum habis, keranjang cucian, dan berkas-berkas skripsi.

Saya butuh printer. Saya baru ingat. SMS Kakak ke-1 dulu deh ...

Oke, cuma butuh waktu 10 menit sampai akhirnya kakak saya bilang dia mau bawa printer ketika nanti nengok Wa Acep. Yeah, Uwa-ku tersayang. Om favoritku ...

Banyak yang hal yang terjadi akhir-akhir ini. Beberapa memancingku untuk menulis. Tapi akhirnya tidak pernah aku tuliskan karena tulisan yang serius harus ditulis dengan serius. Right? Aku pernah ingin menulis tentang Wajah Partai di Mata Rakyat Indonesia. Nggak jadi ... kalau aku menulis itu, maka aku mengendapkan teori-teori kecerdasan spiritual dan perilaku sosial yang meluap-luap. Aku juga pernah ingin menulis tentang Mengapa Kita Harus Peduli Politik? Nggak jadi juga ... karena sepertinya ada sisi lain dalam diriku yang menahanku untuk kembali lagi memikirikan politik.

Saya hanya peduli dengan apa yang terjadi di negeri ini.

Dua hari ini saya ikut menunggui Wa Acep di RS Santo Borromeus. Sebelumnya saya menjenguk tiga orang Medfo KKN. Saya senang bisa menjadikan satu hari KKN mereka istimewa karena kehadiran saya. Huwohohoo. Yang membuat saya senang adalah saya bisa ke Tasik, Pesantren Cintawana ... Makam Bapak ...

Dua minggu lalu saya dipinang lagi untuk menjadi aktivis di Himpunan Mahasiswi Persatuan Islam. Awalnya saya diajak di Pimpinan Daerah (PD) Bandung. Tapi akhirnya saya diajak di Pimpinana Wilayah (PW) Jawa Barat karena mereka tahu saya sudah enggak di BEM lagi. It's too high karena saya bukan anak Himi Persis banget. Oh ya, saya juga pernah kepikiran ingin menulis tentang Menjadi Persatuan Islam, tapi nggak jadi ... bukan nggak jadi sih, belum saja.

Kemarin saya sudah diminta bertemu dengan Ketua PW Jabar-nya. Saya masih menimbang-nimbang. Agak keterlaluan sih, karena saya menimbang-nimbang sudah dua minggu. Kadang saya merasa masa aktivis saya sudah kadaluwarsa. Tapi apa iya? Sampai sekarang kemungkinan saya aktif disana masih 50-50. Saya nggak tahu saya harus berkonsultasi sama siapa. Curhat sih memang sama Allah tapi kan saya nggak bisa tiba-tiba mendapatkan wahyu begitu saja seperti para Nabi. Saya perlu seseorang untuk diajak diskusi. Memikirkan kemungkinan ... keharusan ... dan juga ketidakharusan ... naon coba -_-

Bersyukur ini adalah blog saya. Bukan kumpulan jurnal yang akan diperiksa dosen. Jadi ... saya hanya menulis di sela-sela pembuatan skripsi. Setidaknya ini membuat saya lebih baik :)

Jam Akhwat, Hmm ...

"Apablia datang malam hari, atau menjelang malam (maghrib) maka tahanlah anak-anakmu karena setan telah bertaburan pada saat-saat itu. Lalu jika telah berlalu sesaat malam itu, maka boleh kamu lepas mereka." (H.R Al Bukhari)

Saya mendapatkan pesan di grup Protagonis dari salah seorang rekan. Bacanya langsung tertohok gitu. Bukan karena saya punya anak-anak yang harus dilarang keluar maghrib tapi karena saya anak-anak yang biasanya masih berkeliaran di luar ketika maghrib. Saya tidak familiar dengan hadis ini dan saya juga masih belum mengerti arti dari 'jika telah berlalu sesaat malam itu', apa maksudnya subuh?

Entah sejak kapan, entah karena apa, entah tertular dari siapa, entah hidayah dari mana, sekarang saya mulai jadi orang yang benar-benar takut dosa dan apa-apa mikirin Allah. Alasan termungkin adalah karena saya sudah sangat sering memikirkan kematian dan akhirat. Semoga semua hal yang saya rasakan ini positif.

Berbicara mengenai magrib-magrib, di kalangan aktivis dakwah ada istilah populer namanya 'jam akhwat'. Dimana ketika jam sudah menunjukan pukul 18.00 WIB, akhwat sudah harus pada ke kosannya masing-masing. Saya tidak ada masalah dengan itu. Yang mau pulang, ya pulang saja. Tapi saya masih banyak urusan. Makan sih yang paling sering.

Apakah jam akhwat itu timbul karena hadis ini? Atau ada hadis lain yang lebih ekstrim dibanding setan yang bertaburan? Sepertinya saya yang kurang gaul dan kurang ngaji karena nggak ngeh dengan larangan-larangan ini. Karena dulu ketika saya di asrama (pesantren) malah saya biasa berkeliaran malam-malam, magrib kita wajib berangkat ke mushola yang letaknya lumayan dari asrama. Melewati rumah pembina asrama, melewati kantor TU, melewati mesjid, baru nyampe ke mushola. Ba'da maghrib kita ada kegiatan semacam mentoring, kadang belajar khutbah gabungan, atau sesuatu yang lebih asik. Tempatnya bisa di mushola, kelas, atau asrama. Isya kita kembali ke mushola dan ba'da Isya adalah jam belajar kita di kelas. Makanya saya sudah biasa berada di luar ketika malam-malam, karena batas belajar di kelas sampai jam 10 malam. Sebelum jam 10 malam kita tidak boleh pulang ke asrama.

Bahkan kebiasaan itu sudah saya jalani ketika saya SD. Saya sekolah Diniyyah di madrasah yang cukup jauh. Jaraknya seperti dari Jatos ke FISIP lah. Ketika kelas 4-6 SD, saya dapat waktu belajar ba'da maghrib dan selesai jam 8 malam. Kadang kalau sepupu saya lagi sakit saya pulang sendirian malam-malam. Dan itu sudah jadi kebiasaan, makanya saya tidak takut gelap dan tidak takut berjalan sendirian malam hari. Alhamdulillah, tidak pernah terjadi apa-apa. Allah melindungi saya, kok.

Kembali ke jam akhwat. Setelah disentil dengan hadis diatas, saya akhirnya berjanji saya akan jadi lebih baik lagi. Saya juga nggak mau temenan sama setan. Sekarang yang paling mungkin membuat saya keluar malam adalah main sama sahabat saya. Atau karena saya (lagi-lagi kebiasaan) sering menunggu sore untuk pergi-pergian. Alhasil saya sering sampai di tempat tujuan malam hari. Ibu saya sudah sering mengingatkan kalau saya jangan keluar malam-malam. Tapi ya ... gimana ... siang panas, Mah ...

Well, setidaknya saya bukan orang yang menolak hidayah. Bukan orang yang menutup telinga ketika dinasihati. Jika saya agak rewel ketika dilarang atau disuruh-suruh, mungkin saya sedang lapar jadi tidak bisa berpikir jernih. Mungkin, ya :).

Oh, iya. Ceritanya saya nyari gambar yang pas buat tulisan ini. Terus nemu gambar ini yang bikin saya ngakak. Alhamdulillah, nggak pernah kayak gini. Jadi cewek jutek kadang ada positifnya, jadi kejaga sama virus merah jambu sebelum waktunya :p.