Skip to main content

Pagi yang Aneh ~

Menepi sebentar dari skripsi. Pagi ini saya dapat telepon aneh dari seorang mahasiswa Psikologi UPI. Ternyata Hanna mengenalkan saya ketika manusia ini mengatakan sedang mencari 'pasangan'. Tuh kan, teman-teman saya itu kenapa sih selalu merasa aneh kalau saya single dan selalu berlomba-lomba mencarikan pasangan buat saya. Heuh ... Tapi nggak apa-apa, saya hargai niat baik mereka. Meski akhirnya malah bikin saya pusing karena orang yang dikenalkan enggak 'saya banget'.

Saya muslimah, alumni pesantren, tapi bukan berarti akhlak saya top banget dalam urusan bermuamalah dengan laki-laki. Ketika di Baduy, Kang Ojan pernah nanya, "Sarah lebih memilih laki-laki yang urakan/berantakan atau laki-laki yang rapi, kalem, santun."

"Buat dijadikan apa dulu nih? Kalau berteman, saya gampang berteman sama yang urakan. Pas pesantren saya deketnya sama ikhwan yang nakal, tukang bikin ribut di kelas, daripada sama ikhwan yang ahlul kitab kemana-mana bawa kitab. Tapi kalau dijadikan pasangan, belum tahu, belum kepikiran ... kalau sama yang urakan terus kan apa kabar anak saya nanti."

That's the point. Ketika saya bisa dekat dengan tipe laki-laki apapun seharusnya saya bisa lebih kuat lagi menjaga diri saya. Misalnya ketika di BEM, sudah biasa ketika saya makan malam sama Fikri, Abu, Andi, dan para cowok lain yang udah saya anggap bro banget. Bahkan pernah di suatu kesempatan saya pulang makan sama Fikri dan Iqbal, terus ketika pulang ketahuan sama Kang Rendi. Itu seperti mengingatkan saya pada momen dimana saya dipelototin Ustad Dayat hanya gara-gara ngobrol dengan A Opik di Wartel pesantren. Mengenaskan.

Pernah juga suatu hari saya makan sama Fikri, Abu, Kang Azis, dan Kang Dadieh sambil ngobrolin kunjungan IPB sebelumnya. Saat pulang ke kosan saya baru sadar kalau tadi hanya saya saja perempuan yang ada di kelompok itu. Akhwat yang lain mungkin akan canggung atau malu atau merasa berdosa jika makan dengan empat ikhwan. Tapi akhirnya ketika BEM selesai, kebiasaan makan sama teman laki-laki pun sudah berkurang. Alhamdulillah. Dulu kan kita makan sambil diskusi. Bukan karena sekedar makan bareng.

Lalu apa hubungannya cerita bertele-tele tadi dengan penelepon aneh yang pagi-pagi sudah merusak suasan hati saya? Ternyata penelepon itu termasuk tipe laki-laki yang gampang dekat dengan saya sebagai 'bro zone'. Dia tipe urakan. Asal ngomong. Ketawa ngakak. Sebenarnya agak belagu.

Karena kita sudah tanggung akrab di telepon. Saya sampai berpikir ini gimana yaa ... salah nggak yaa ... apa mending saya jutekin ... atau saya tutup terus nggak diangkat-angkat lagi kalau dia nelepon ... duh, bisa nggak ya cuma temenan doang ... ini anak sekuler banget lagi ... pasti pengaruh buruk buat saya ... gusti ...

Kalau obrolannya sudah sampai dia mau ke Jatinangor kan ribet ya. Saya jadi inget ketika beberapa hari lalu kejebak sama teman laki-laki yang malam-malam pinjem jas almamater terus pas saya kasih jasnya dia ngajak makan. Cuma berdua. Buset dah, saya sampai mengerutkan kening selama perjalanan berharap Allah ngejaga (hati) saya. Dulu juga pernah kejadian ketika ada teman yang lagi pedekate terus tiba-tiba ngajak makan, saya tolak karena nggak enak kalau cuma berdua doang. Sampai akhirnya dia mulai menjauh. Salahnya adalah ketika itu saya nolak dengan kasar. Sejujurnya saya memang bukan orang yang pintar berkata-kata manis.

Pintar-pintar menjaga hati. Menjaga hubungan sosial. Seharusnya saya sudah pintar ... seharusnya, ya. Kan saya alumni pesantren. Termasuk diantaranya masalah motor-motoran. Saya nggak anti dibonceng teman laki-laki karena saya berpikir toh saya kan 'ojegers', bedanya kalau dibonceng teman kita lebih banyak ngobrol daripada sama tukang ojeg. Salah emang. Tapi kalau memang ada perempuan pasti saya milih dibonceng perempuan. Pernah suatu hari saya pinjem motor seorang ikhwan buat pergi ke percetakan. Terus dia nanya. "Emang siapa yang mau bawa motor?"

"Ari PSDMO yang bawa. Saya dibonceng."

"Ya udah, biar saya aja yang kesana. Percetakan mana?"

Saya lega banget waktu itu. Persimpangan antara harus cepat-cepat ke percetakan tapi saya nggak bisa bawa motor sendiri. Akhirnya saya ngerasa ada yang ngejaga saya biar nggak terlalu mepet-mepet sama ikhwan.

Iya ... gitu. Harus ada yang bantuin ngejaga biar saya istiqomah. Tapi yaa sudahlah. Berusaha lebih keras saja untuk jadi independent woman.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…