Skip to main content

Menentukan Garis Finish. Goals. Ayolah ...

Akhirnya saya kelelahan ...

Setelah beberapa hari ngasuh Sahla, lalu Roif dan Miftah yang gantian sakit panas sementara orang tuanya ke Cirebon, lalu terburu-buru berangkat ke Jatinangor tanpa sempat makan siang. Besoknya menemani Teteh dan Mamah ikut seminar di ITB, lalu janjian dengan Dhya ke alun-alun Bandung, nyasar-nyasaran cuma mau ke Viaduct doang karena saya sotoy, ikut kajian tentang Pemilu, malamnya Mabit, tidur jam setengah satu malam. Pagi-pagi meluncur ke Pindad untuk penggalangan dana, lalu saya ke Cimahi karena Mamah dan kedua kakak saya sedang disana. Lalu pulang lagi ke Jatinangor dengan seperti biasa ... lupa makan dari pagi. Makan sih, bakso.

Saya baru sadar kalau tubuh saya ngedrop ketika badan saya agak hangat dan pusing. Saya tahu kalau saya nggak segera makan saya bisa demam. Akhirnya saya makan, pusing berkurang tapi badan masih hangat. Tinggal dibawa tidur supaya kembali ke suhu normal. Asumsiku adalah karena malam kemarin ketika mabit saya tidur di karpet tanpa selimut, lalu mandi dengan suhu air dan udara yang dingin.

Sibuk? Tidak juga. Saya sendiri tidak menyangka agenda saya tetap saja padat meski sudah tidak mengikuti organisasi intra kampus. Lantas kenapa memadati agenda sendiri padahal skripsi belum kesentuh seminggu ini? Suram.

Saya tidak ingin sibuk. Saya ingin produktif. Buat apa agenda padat tetapi gini-gini aja. Badan capek. Agenda, yang mungkin lebih penting, keganggu. Seperti salah satu cerita Seven Something ... gimana ya nyeritainnya, saya selalu terlalu panjang menceritakan sesuatu sampai akhirnya kesana kemari ... mencari alamat ... jreng jreng. Ehm, pokoknya ceritanya tentang seseorang yang dunianya sedang jungkir balik lalu dia ingin 'lari' dari sesuatu. Akhirnya dia benar-benar lari. Lari pagi. Lalu dia bertemu dengan seseorang, siperankan oleh Nickhun yang mengajaknya untuk mengikuti lomba marathon. Jadi ... apa ya ... sesuatu muncul di benak saya, dia ingin lari, pertanyaannya bukan lari dari apa? tapi, dia mau lari kemana?

Nickhun berjanji bahwa ketika dia berlari. Lari dalam arti sebenarnya. Dia akan merasa hidup kembali. Karena sepanjang lari maraton yang panjang banget itu dia akan memikirkan dan menemukan banyak hal. Ada adegan klimaks dimana Nickhun mengatakan bahwa dia selalu mendengarkan suara setan di KM tertentu, beberapa meter menuju garis finish. Setan itu berbisik di kepalanya, 'kenapa kamu berlari?' 'siapa suruh kamu berlari?' Hal itu karena Nickhun sebenarnya didiagnosa penyakit yang membuatnya tidak boleh berolahraga berat. Makanya dia menyukai marathon.

Well, poin yang benar-benar saya cermati di cerita tersebut adalah mengenai 'mengejar garis finish'. Dan sebelum kesana kita harus tahu terlebih dahulu dimana garis finish kita. Kamu tidak mau kan berlari tanpa arah. Dan ... terkadang apa yang kamu cari tidak ada di tempat tujuan, tapi akan kamu temukan di perjalanan.

Baiklah, jadi kita akan fokus membahas mengenai garis finish. Emh, sebenarnya garis finish itu kematian sih. Bagaimana kalau kita ganti menjadi goals. Atau apapun itulah nama yang layak ...

2014 -> lulus sarjana - novel spasi dan insting - nulis nulis nulis sampai mabok
2015 -> lulus profesi - kakolova dan helo, ners - keep nulis atulah
2016 - 2018 -> kuliah S2 psikologi sains, manajamen SDM atau yang sejenis. dimana? saya masih menimbang. nikah? entahlah.
2018 ->

Oke, stop ... saya masih bargaining untuk apa yang akan saya lakukan setelah lulus profesi. Yang jelas saya tidak memikirkan akan bekerja menjadi perawat pelaksana. Mungkin mengajar di Akper. Mungkin bekerja di KPAD Bandung. Atau Askes. Atau langsung bekerja di RS Al Islam di bagian manajerial. Sebenarnya saya masih punya angan untuk ke pedalaman, lewat program Indonesia Mengajar, program Pengabdian Staipi, program Sokola Rimba, atau program manapun. Kamu akan merindukan keheningan setelah kamu menjalani kehidupan yang bising. Kamu ingin menemukan kamu yang baru di perantauan setelah jenuh dengan kamu yang konstan. Itu sih yang saya pikirkan.

Sepertinya saya tidak akan melanjutkan dulu tulisan ini ... I need a rest.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…