Search This Blog

Memahami Perjalanan dan Teman Perjalanan

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13].

Ayat di atas bukanlah dalil yang berhubungan dengan ide pluralisme agama. Ayat ini hanya menjelaskan keberagaman (pluralitas) suku dan bangsa. Terlebih mengenai diciptakannya dua gender yang berbeda, laki-laki dan perempuan. Setelah tulisan ini dibuka dengan ayat al-quran, mari kita simak salah satu teori perbedaan laki-laki dan perempuan.

Ada tiga teori yang dikenal mengenai perbedaan gender, yaitu teori nurture, nature, dan equil.

Teori nurture: adanya perbedaan perempuan dan laki-laki  adalah hasil  kontruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda.

Teori nature: adanya perbedaan laki-laki dan perempuan adalah kodrat, sehingga harus diterima. Seperti perbedaan biologis dimana laki-laki dan perempuan memiliki jenis kelamin yang berbeda.

Teori equil: adanya perbedaan karena biologis, naluri, dan sosial budaya. Juga memerlukan kerjasama saling melengkapi dalam kemitraan yang harmonis.

Siapapun bisa menginterpretasikan teori perbedaan laki-laki dan perempuan secara berbeda, tergantung dari suku, budaya, pola asuh, pelajaran, dan pengalaman yang didapatkan. Berbicara mengenai pengalaman, kita mengenal satu ungkapan ‘belajar dari pengalaman’. Pengalaman siapa? Bisa diri sendiri, orang terdekat, bahkan orang yang tidak dikenal, termasuk dari pengalaman yang diada-adakan seperti pengalaman para tokoh fiktif di film dan novel.

Saya ingin berbagi pengalaman yang saya pelajari dari pengalaman fiktif di film Seven Something, sebuah film dari Negara Thailand. Seven Something merupakan sebuah film omnibus yang berisi tiga cerita dari tiga suradara yang berbeda. Di Indonesia, tipe film omnibus bisa kita lihat di film Rectoverso. Arti dari judul film dan angka-angkanya tidak akan saya jelaskan disini karena panjangnya tulisan saya akan menjelaskan hal yang lain.

Cerita dibuka dengan “14” dengan cerita Puan dan Milk. Puan adalah seorang remaja lelaki yang freak terhadap media sosial. Ketika akhirnya dia dekat dengan Milk, maka setiap momen yang mereka alami akan Puan bagikan di media sosial. Mungkin sekedar mengubah status facebook menjadi in relationship masih dianggap wajar tapi bagaimana jika pasanganmu merekam setiap kejadian termasuk hal memalukan, membagikan video obrolan skype di youtube, mendiskusikan tempat kencan di twitter, dan membuat status di facebook setiap kali mereka ada masalah.

Klimaks dari cerita ini adalah ketika Puan membagikan video Milk sedang menyanyi untuknya lewat skype. Saat itu Milk sedang di kamarnya dengan pakaian rumah yang apa adanya. Ketika keesokan harinya sekolah heboh dengan video tersebut dengan penonton yang sudah jutaan, Milk mengeceknya dan melihat komentar macam-macam mengenai dirinya, termasuk pakaiannya yang tidak pantas.

“Saya ingin kamu menghapus video itu.” Kata Milk.

“Tapi kenapa? Penontonnya sudah jutaan. Itu berarti orang-orang suka menontonnya.”

Drama pertengkaran pun terjadi sampai Puan berkonsultasi kepada para pengguna internet (netizen) mengenai apa yang harus dia lakukan. Ketika ada seorang netizen yang menyarankan bahwa Puan harus datang ke rumah Milk dan meminta maaf, Puan mendatanginya.

“Kenapa harus meminta saran kepada publik apa yang harus kamu lakukan?” Tanya Milk. “Kamu tidak butuh saya. Masih banyak jutaan pengguna media sosial yang peduli dengan kamu.”

Sampai disini coba kita perhatikan bahwa akar masalahnya hanyalah media sosial. Puan tidak mengerti kenapa Milk harus marah ketika video dirinya dibagikan di Youtube. Milk tidak mengerti kenapa Puan harus melakukan itu. Bahkan akhir cerita ini ditutup dengan Puan membuat sebuah permintaan maaf dan ungkapan perasaannya yang dia bagikan di Youtube. Disini saya tahu bahwa dengan kegilaan Puan terhadap media sosial, bukan hanya wanita yang ingin dimengerti tapi juga laki-laki. Karena kesimpulannya adalah Puan tidak bisa menghentikan candunya terhadap media sosial.

Berbeda dengan cerita kedua yaitu “21/28”. Cerita yang menggunakan alur maju-mundur ini, menunjukan bahwa wanitanya yang harus dimengerti. Dalam arti tidak bisa menjadi pengalah dalam masalah. Bercerita tentang Jon dan Mam, Jon yang merupakan fans Mam mengikuti casting dan bermain film dengan Mam. Sampai akhirnya mereka berdua membintangi film yang sama, sukses, terkenal, terkena cinta lokasi, dan hidup bersama.

Mam berambisi menjadi bintang film. Jon tidak. Baginya satu kali bermain film dengan Mam dan bisa hidup bersama dengannya sudah cukup. Tapi Mam selalu menerima film apapun yang datang kepadanya, termasuk film yang sebenarnya tidak pantas. Ketika dalam suatu perhelatan, Jon menerima award dan dalam ucapan persembahannya dia mengatakan bahwa Mam, yang dulu dia kenal sebagai wanita baik telah berubah menjadi wanita murahan.

Drama pertengkaran pun (kembali) terjadi. Mereka berpisah selama 7 tahun. Jon menjadi seorang ahli biota laut, sementara karir Mam semakin terpuruk. Ketika ada kabar bahwa film yang dulu mereka bintangi akan dibuat sekuel, Mam bersemangat untuk mencari Jon karena dia tahu ini kesempatannya untuk mengembalikan karirnya yang hilang.

Disinilah konfliknya, ketika Mam mendesak Jon untuk mau kembali berakting dengannya tapi Jon menolak. Baginya dunia keartisanlah yang membuat Mam berubah dan mengubah perasaan Jon, membuatnya jatuh cinta secara cepat dan membenci secara cepat pula.

“Aku tidak mau main film lagi denganmu karena aku tidak mau jatuh cinta lagi kepadamu.”
Tapi Mam tidak peduli. Dia hanya peduli dengan karirnya. Akhirnya Mam pun berusaha dengan semua cara yang bisa dia lakukan tapi karena tidak ada progress dari Mam dan Jun, pembuat film tersebut akhirnya menerima artis pemeran utama melalui casting.

Meski cerita “14” dan “21/28” sama-sama bercerita mengenai ambisi seseorang dan penolakan pasangannya terhadap ambisinya itu, namun cerita “21/28” menunjukan bahwa orang dewasa lebih mudah memahami masalah dan mengalah karena di akhir cerita ketika Mam mengamuk di depan Jon, ada satu kalimat dari Jon yang membuat Mam tersenyum dan terlihat menerima.

Cerita terakhir adalah “42.195”. Mengenai perumpamaan hidup yang diibaratkan seperti berlari maraton. Seorang wanita muda bernama She ditinggalkan oleh suaminya yang meninggal karena kecelakaan pesawat dan dia sampai di titik ingin ‘lari dari kenyataan’. Akhirnya dia berlari dalam arti sebenarnya. Jogging.Dalam perjalanan dia bertemu dengan seorang lelaki bernama He, berkenalan, berbincang, lalu mengajaknya untuk ikut lomba lari maraton tanpa mengerti bahwa maksud perkataan She bahwa dia ‘ingin berlari’ adalah lari dari nasibnya yang tidak baik.

Di cerita ini saya mulai memahami bahwa ketika kita berlari, pertanyaan terbesarnya adalah bukan sekedar ‘kamu lari dari apa’ tapi ‘kamu mau berlari kemana, sampai kapan, berapa lama’. Dan dalam cerita tersebut He memberikan garis finish-nya kepada She.

“Kamu akan berlari sampai garis finish.”

Titik-titik penting kehidupan manusia ibarat tanda kilometer yang kita temui ketika kita berlari maraton. Bahkan diceritakan bahwa He selalu mendengar pikiran-pikiran yang menyuruhnya menyerah ketika di KM tertentu, beberapa meter sebelum garis finish. Sama seperti ungkapan ‘Ketika kamu menyerah di percobaan yang ke-99, mungkin sebenarnya kamu akan sukses di percobaan yang ke-100’. Seperti Edison.

Bukankah hidup memang seperti itu. Sebuah perjalanan panjang dimana kita tahu bahwa kita memiliki garis finish. Sebutlah capaian atau targetan yang kita inginkan dan terkadang apa yang kita cari kita temukan dalam perjalanan, bukan tujuan. Seperti She yang merasa tenang ketika melihat matahari terbit ketika berlari di lomba maraton. Hal lain yang lebih keren dari cerita ini adalah tidak seberapa penting apakah kamu sampai di garis finish lebih cepat atau lebih lama. Kapanpun kamu sampai di garis finish, kamu adalah juara, dan akan ada yang mengalungkan medali ketika kamu sampai di garis finish. Jadi jika peserta lomba lari ada 1000 orang, maka ada 1000 medali yang siap dikalungkan.

Dua hal yang saya pelajari dari ketiga cerita ini yaitu mengenai perjalanan dimana kita tahu ada titik-titik kilometer yang kita perhatikan. Sudah berapa kilometer ini? Masih lamakah? Apakah saya bisa mencapai garis finish? Mungkin bisa jika saya terus bergerak. Tapi mungkin saya bisa menyerah saat ini juga. Seberapa berharganya mencapai garis finish sehingga saya harus kelelahan untuk mencapainya? Itulah hidup.  Kumpulan pertanyaan. Bukankah Allah menyuruh kita berfikir?



Hal lain yang saya pelajari adalah mengenai teman perjalanan dimana kita ditakdirkan untuk bertemu seseorang yang Allah titipkan untuk saling mengenal dan menjadikannya mulia karena taqwa. Akan banyak pertanyaan tentang manusia yang ada di hadapan kita. Apa maunya dia? Kenapa dia melakukan itu? Tidakkah dia mengerti? Mungkin seharusnya saya bisa mengingatkannya dengan lebih baik. Tapi mungkin saya bisa memilih berpisah saat ini juga. Seberapa berharganya orang ini sampai saya harus kesulitan memahaminya. Itulah pasangan. Saling mempertanyakan. Bukankah Allah menyuruh kita saling mengenal?

0 komentar:



Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.