Search This Blog

Pagi yang Aneh ~

Menepi sebentar dari skripsi. Pagi ini saya dapat telepon aneh dari seorang mahasiswa Psikologi UPI. Ternyata Hanna mengenalkan saya ketika manusia ini mengatakan sedang mencari 'pasangan'. Tuh kan, teman-teman saya itu kenapa sih selalu merasa aneh kalau saya single dan selalu berlomba-lomba mencarikan pasangan buat saya. Heuh ... Tapi nggak apa-apa, saya hargai niat baik mereka. Meski akhirnya malah bikin saya pusing karena orang yang dikenalkan enggak 'saya banget'.

Saya muslimah, alumni pesantren, tapi bukan berarti akhlak saya top banget dalam urusan bermuamalah dengan laki-laki. Ketika di Baduy, Kang Ojan pernah nanya, "Sarah lebih memilih laki-laki yang urakan/berantakan atau laki-laki yang rapi, kalem, santun."

"Buat dijadikan apa dulu nih? Kalau berteman, saya gampang berteman sama yang urakan. Pas pesantren saya deketnya sama ikhwan yang nakal, tukang bikin ribut di kelas, daripada sama ikhwan yang ahlul kitab kemana-mana bawa kitab. Tapi kalau dijadikan pasangan, belum tahu, belum kepikiran ... kalau sama yang urakan terus kan apa kabar anak saya nanti."

That's the point. Ketika saya bisa dekat dengan tipe laki-laki apapun seharusnya saya bisa lebih kuat lagi menjaga diri saya. Misalnya ketika di BEM, sudah biasa ketika saya makan malam sama Fikri, Abu, Andi, dan para cowok lain yang udah saya anggap bro banget. Bahkan pernah di suatu kesempatan saya pulang makan sama Fikri dan Iqbal, terus ketika pulang ketahuan sama Kang Rendi. Itu seperti mengingatkan saya pada momen dimana saya dipelototin Ustad Dayat hanya gara-gara ngobrol dengan A Opik di Wartel pesantren. Mengenaskan.

Pernah juga suatu hari saya makan sama Fikri, Abu, Kang Azis, dan Kang Dadieh sambil ngobrolin kunjungan IPB sebelumnya. Saat pulang ke kosan saya baru sadar kalau tadi hanya saya saja perempuan yang ada di kelompok itu. Akhwat yang lain mungkin akan canggung atau malu atau merasa berdosa jika makan dengan empat ikhwan. Tapi akhirnya ketika BEM selesai, kebiasaan makan sama teman laki-laki pun sudah berkurang. Alhamdulillah. Dulu kan kita makan sambil diskusi. Bukan karena sekedar makan bareng.

Lalu apa hubungannya cerita bertele-tele tadi dengan penelepon aneh yang pagi-pagi sudah merusak suasan hati saya? Ternyata penelepon itu termasuk tipe laki-laki yang gampang dekat dengan saya sebagai 'bro zone'. Dia tipe urakan. Asal ngomong. Ketawa ngakak. Sebenarnya agak belagu.

Karena kita sudah tanggung akrab di telepon. Saya sampai berpikir ini gimana yaa ... salah nggak yaa ... apa mending saya jutekin ... atau saya tutup terus nggak diangkat-angkat lagi kalau dia nelepon ... duh, bisa nggak ya cuma temenan doang ... ini anak sekuler banget lagi ... pasti pengaruh buruk buat saya ... gusti ...

Kalau obrolannya sudah sampai dia mau ke Jatinangor kan ribet ya. Saya jadi inget ketika beberapa hari lalu kejebak sama teman laki-laki yang malam-malam pinjem jas almamater terus pas saya kasih jasnya dia ngajak makan. Cuma berdua. Buset dah, saya sampai mengerutkan kening selama perjalanan berharap Allah ngejaga (hati) saya. Dulu juga pernah kejadian ketika ada teman yang lagi pedekate terus tiba-tiba ngajak makan, saya tolak karena nggak enak kalau cuma berdua doang. Sampai akhirnya dia mulai menjauh. Salahnya adalah ketika itu saya nolak dengan kasar. Sejujurnya saya memang bukan orang yang pintar berkata-kata manis.

Pintar-pintar menjaga hati. Menjaga hubungan sosial. Seharusnya saya sudah pintar ... seharusnya, ya. Kan saya alumni pesantren. Termasuk diantaranya masalah motor-motoran. Saya nggak anti dibonceng teman laki-laki karena saya berpikir toh saya kan 'ojegers', bedanya kalau dibonceng teman kita lebih banyak ngobrol daripada sama tukang ojeg. Salah emang. Tapi kalau memang ada perempuan pasti saya milih dibonceng perempuan. Pernah suatu hari saya pinjem motor seorang ikhwan buat pergi ke percetakan. Terus dia nanya. "Emang siapa yang mau bawa motor?"

"Ari PSDMO yang bawa. Saya dibonceng."

"Ya udah, biar saya aja yang kesana. Percetakan mana?"

Saya lega banget waktu itu. Persimpangan antara harus cepat-cepat ke percetakan tapi saya nggak bisa bawa motor sendiri. Akhirnya saya ngerasa ada yang ngejaga saya biar nggak terlalu mepet-mepet sama ikhwan.

Iya ... gitu. Harus ada yang bantuin ngejaga biar saya istiqomah. Tapi yaa sudahlah. Berusaha lebih keras saja untuk jadi independent woman.

Memahami Perjalanan dan Teman Perjalanan

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13].

Ayat di atas bukanlah dalil yang berhubungan dengan ide pluralisme agama. Ayat ini hanya menjelaskan keberagaman (pluralitas) suku dan bangsa. Terlebih mengenai diciptakannya dua gender yang berbeda, laki-laki dan perempuan. Setelah tulisan ini dibuka dengan ayat al-quran, mari kita simak salah satu teori perbedaan laki-laki dan perempuan.

Ada tiga teori yang dikenal mengenai perbedaan gender, yaitu teori nurture, nature, dan equil.

Teori nurture: adanya perbedaan perempuan dan laki-laki  adalah hasil  kontruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda.

Teori nature: adanya perbedaan laki-laki dan perempuan adalah kodrat, sehingga harus diterima. Seperti perbedaan biologis dimana laki-laki dan perempuan memiliki jenis kelamin yang berbeda.

Teori equil: adanya perbedaan karena biologis, naluri, dan sosial budaya. Juga memerlukan kerjasama saling melengkapi dalam kemitraan yang harmonis.

Siapapun bisa menginterpretasikan teori perbedaan laki-laki dan perempuan secara berbeda, tergantung dari suku, budaya, pola asuh, pelajaran, dan pengalaman yang didapatkan. Berbicara mengenai pengalaman, kita mengenal satu ungkapan ‘belajar dari pengalaman’. Pengalaman siapa? Bisa diri sendiri, orang terdekat, bahkan orang yang tidak dikenal, termasuk dari pengalaman yang diada-adakan seperti pengalaman para tokoh fiktif di film dan novel.

Saya ingin berbagi pengalaman yang saya pelajari dari pengalaman fiktif di film Seven Something, sebuah film dari Negara Thailand. Seven Something merupakan sebuah film omnibus yang berisi tiga cerita dari tiga suradara yang berbeda. Di Indonesia, tipe film omnibus bisa kita lihat di film Rectoverso. Arti dari judul film dan angka-angkanya tidak akan saya jelaskan disini karena panjangnya tulisan saya akan menjelaskan hal yang lain.

Cerita dibuka dengan “14” dengan cerita Puan dan Milk. Puan adalah seorang remaja lelaki yang freak terhadap media sosial. Ketika akhirnya dia dekat dengan Milk, maka setiap momen yang mereka alami akan Puan bagikan di media sosial. Mungkin sekedar mengubah status facebook menjadi in relationship masih dianggap wajar tapi bagaimana jika pasanganmu merekam setiap kejadian termasuk hal memalukan, membagikan video obrolan skype di youtube, mendiskusikan tempat kencan di twitter, dan membuat status di facebook setiap kali mereka ada masalah.

Klimaks dari cerita ini adalah ketika Puan membagikan video Milk sedang menyanyi untuknya lewat skype. Saat itu Milk sedang di kamarnya dengan pakaian rumah yang apa adanya. Ketika keesokan harinya sekolah heboh dengan video tersebut dengan penonton yang sudah jutaan, Milk mengeceknya dan melihat komentar macam-macam mengenai dirinya, termasuk pakaiannya yang tidak pantas.

“Saya ingin kamu menghapus video itu.” Kata Milk.

“Tapi kenapa? Penontonnya sudah jutaan. Itu berarti orang-orang suka menontonnya.”

Drama pertengkaran pun terjadi sampai Puan berkonsultasi kepada para pengguna internet (netizen) mengenai apa yang harus dia lakukan. Ketika ada seorang netizen yang menyarankan bahwa Puan harus datang ke rumah Milk dan meminta maaf, Puan mendatanginya.

“Kenapa harus meminta saran kepada publik apa yang harus kamu lakukan?” Tanya Milk. “Kamu tidak butuh saya. Masih banyak jutaan pengguna media sosial yang peduli dengan kamu.”

Sampai disini coba kita perhatikan bahwa akar masalahnya hanyalah media sosial. Puan tidak mengerti kenapa Milk harus marah ketika video dirinya dibagikan di Youtube. Milk tidak mengerti kenapa Puan harus melakukan itu. Bahkan akhir cerita ini ditutup dengan Puan membuat sebuah permintaan maaf dan ungkapan perasaannya yang dia bagikan di Youtube. Disini saya tahu bahwa dengan kegilaan Puan terhadap media sosial, bukan hanya wanita yang ingin dimengerti tapi juga laki-laki. Karena kesimpulannya adalah Puan tidak bisa menghentikan candunya terhadap media sosial.

Berbeda dengan cerita kedua yaitu “21/28”. Cerita yang menggunakan alur maju-mundur ini, menunjukan bahwa wanitanya yang harus dimengerti. Dalam arti tidak bisa menjadi pengalah dalam masalah. Bercerita tentang Jon dan Mam, Jon yang merupakan fans Mam mengikuti casting dan bermain film dengan Mam. Sampai akhirnya mereka berdua membintangi film yang sama, sukses, terkenal, terkena cinta lokasi, dan hidup bersama.

Mam berambisi menjadi bintang film. Jon tidak. Baginya satu kali bermain film dengan Mam dan bisa hidup bersama dengannya sudah cukup. Tapi Mam selalu menerima film apapun yang datang kepadanya, termasuk film yang sebenarnya tidak pantas. Ketika dalam suatu perhelatan, Jon menerima award dan dalam ucapan persembahannya dia mengatakan bahwa Mam, yang dulu dia kenal sebagai wanita baik telah berubah menjadi wanita murahan.

Drama pertengkaran pun (kembali) terjadi. Mereka berpisah selama 7 tahun. Jon menjadi seorang ahli biota laut, sementara karir Mam semakin terpuruk. Ketika ada kabar bahwa film yang dulu mereka bintangi akan dibuat sekuel, Mam bersemangat untuk mencari Jon karena dia tahu ini kesempatannya untuk mengembalikan karirnya yang hilang.

Disinilah konfliknya, ketika Mam mendesak Jon untuk mau kembali berakting dengannya tapi Jon menolak. Baginya dunia keartisanlah yang membuat Mam berubah dan mengubah perasaan Jon, membuatnya jatuh cinta secara cepat dan membenci secara cepat pula.

“Aku tidak mau main film lagi denganmu karena aku tidak mau jatuh cinta lagi kepadamu.”
Tapi Mam tidak peduli. Dia hanya peduli dengan karirnya. Akhirnya Mam pun berusaha dengan semua cara yang bisa dia lakukan tapi karena tidak ada progress dari Mam dan Jun, pembuat film tersebut akhirnya menerima artis pemeran utama melalui casting.

Meski cerita “14” dan “21/28” sama-sama bercerita mengenai ambisi seseorang dan penolakan pasangannya terhadap ambisinya itu, namun cerita “21/28” menunjukan bahwa orang dewasa lebih mudah memahami masalah dan mengalah karena di akhir cerita ketika Mam mengamuk di depan Jon, ada satu kalimat dari Jon yang membuat Mam tersenyum dan terlihat menerima.

Cerita terakhir adalah “42.195”. Mengenai perumpamaan hidup yang diibaratkan seperti berlari maraton. Seorang wanita muda bernama She ditinggalkan oleh suaminya yang meninggal karena kecelakaan pesawat dan dia sampai di titik ingin ‘lari dari kenyataan’. Akhirnya dia berlari dalam arti sebenarnya. Jogging.Dalam perjalanan dia bertemu dengan seorang lelaki bernama He, berkenalan, berbincang, lalu mengajaknya untuk ikut lomba lari maraton tanpa mengerti bahwa maksud perkataan She bahwa dia ‘ingin berlari’ adalah lari dari nasibnya yang tidak baik.

Di cerita ini saya mulai memahami bahwa ketika kita berlari, pertanyaan terbesarnya adalah bukan sekedar ‘kamu lari dari apa’ tapi ‘kamu mau berlari kemana, sampai kapan, berapa lama’. Dan dalam cerita tersebut He memberikan garis finish-nya kepada She.

“Kamu akan berlari sampai garis finish.”

Titik-titik penting kehidupan manusia ibarat tanda kilometer yang kita temui ketika kita berlari maraton. Bahkan diceritakan bahwa He selalu mendengar pikiran-pikiran yang menyuruhnya menyerah ketika di KM tertentu, beberapa meter sebelum garis finish. Sama seperti ungkapan ‘Ketika kamu menyerah di percobaan yang ke-99, mungkin sebenarnya kamu akan sukses di percobaan yang ke-100’. Seperti Edison.

Bukankah hidup memang seperti itu. Sebuah perjalanan panjang dimana kita tahu bahwa kita memiliki garis finish. Sebutlah capaian atau targetan yang kita inginkan dan terkadang apa yang kita cari kita temukan dalam perjalanan, bukan tujuan. Seperti She yang merasa tenang ketika melihat matahari terbit ketika berlari di lomba maraton. Hal lain yang lebih keren dari cerita ini adalah tidak seberapa penting apakah kamu sampai di garis finish lebih cepat atau lebih lama. Kapanpun kamu sampai di garis finish, kamu adalah juara, dan akan ada yang mengalungkan medali ketika kamu sampai di garis finish. Jadi jika peserta lomba lari ada 1000 orang, maka ada 1000 medali yang siap dikalungkan.

Dua hal yang saya pelajari dari ketiga cerita ini yaitu mengenai perjalanan dimana kita tahu ada titik-titik kilometer yang kita perhatikan. Sudah berapa kilometer ini? Masih lamakah? Apakah saya bisa mencapai garis finish? Mungkin bisa jika saya terus bergerak. Tapi mungkin saya bisa menyerah saat ini juga. Seberapa berharganya mencapai garis finish sehingga saya harus kelelahan untuk mencapainya? Itulah hidup.  Kumpulan pertanyaan. Bukankah Allah menyuruh kita berfikir?



Hal lain yang saya pelajari adalah mengenai teman perjalanan dimana kita ditakdirkan untuk bertemu seseorang yang Allah titipkan untuk saling mengenal dan menjadikannya mulia karena taqwa. Akan banyak pertanyaan tentang manusia yang ada di hadapan kita. Apa maunya dia? Kenapa dia melakukan itu? Tidakkah dia mengerti? Mungkin seharusnya saya bisa mengingatkannya dengan lebih baik. Tapi mungkin saya bisa memilih berpisah saat ini juga. Seberapa berharganya orang ini sampai saya harus kesulitan memahaminya. Itulah pasangan. Saling mempertanyakan. Bukankah Allah menyuruh kita saling mengenal?

Menentukan Garis Finish. Goals. Ayolah ...

Akhirnya saya kelelahan ...

Setelah beberapa hari ngasuh Sahla, lalu Roif dan Miftah yang gantian sakit panas sementara orang tuanya ke Cirebon, lalu terburu-buru berangkat ke Jatinangor tanpa sempat makan siang. Besoknya menemani Teteh dan Mamah ikut seminar di ITB, lalu janjian dengan Dhya ke alun-alun Bandung, nyasar-nyasaran cuma mau ke Viaduct doang karena saya sotoy, ikut kajian tentang Pemilu, malamnya Mabit, tidur jam setengah satu malam. Pagi-pagi meluncur ke Pindad untuk penggalangan dana, lalu saya ke Cimahi karena Mamah dan kedua kakak saya sedang disana. Lalu pulang lagi ke Jatinangor dengan seperti biasa ... lupa makan dari pagi. Makan sih, bakso.

Saya baru sadar kalau tubuh saya ngedrop ketika badan saya agak hangat dan pusing. Saya tahu kalau saya nggak segera makan saya bisa demam. Akhirnya saya makan, pusing berkurang tapi badan masih hangat. Tinggal dibawa tidur supaya kembali ke suhu normal. Asumsiku adalah karena malam kemarin ketika mabit saya tidur di karpet tanpa selimut, lalu mandi dengan suhu air dan udara yang dingin.

Sibuk? Tidak juga. Saya sendiri tidak menyangka agenda saya tetap saja padat meski sudah tidak mengikuti organisasi intra kampus. Lantas kenapa memadati agenda sendiri padahal skripsi belum kesentuh seminggu ini? Suram.

Saya tidak ingin sibuk. Saya ingin produktif. Buat apa agenda padat tetapi gini-gini aja. Badan capek. Agenda, yang mungkin lebih penting, keganggu. Seperti salah satu cerita Seven Something ... gimana ya nyeritainnya, saya selalu terlalu panjang menceritakan sesuatu sampai akhirnya kesana kemari ... mencari alamat ... jreng jreng. Ehm, pokoknya ceritanya tentang seseorang yang dunianya sedang jungkir balik lalu dia ingin 'lari' dari sesuatu. Akhirnya dia benar-benar lari. Lari pagi. Lalu dia bertemu dengan seseorang, siperankan oleh Nickhun yang mengajaknya untuk mengikuti lomba marathon. Jadi ... apa ya ... sesuatu muncul di benak saya, dia ingin lari, pertanyaannya bukan lari dari apa? tapi, dia mau lari kemana?

Nickhun berjanji bahwa ketika dia berlari. Lari dalam arti sebenarnya. Dia akan merasa hidup kembali. Karena sepanjang lari maraton yang panjang banget itu dia akan memikirkan dan menemukan banyak hal. Ada adegan klimaks dimana Nickhun mengatakan bahwa dia selalu mendengarkan suara setan di KM tertentu, beberapa meter menuju garis finish. Setan itu berbisik di kepalanya, 'kenapa kamu berlari?' 'siapa suruh kamu berlari?' Hal itu karena Nickhun sebenarnya didiagnosa penyakit yang membuatnya tidak boleh berolahraga berat. Makanya dia menyukai marathon.

Well, poin yang benar-benar saya cermati di cerita tersebut adalah mengenai 'mengejar garis finish'. Dan sebelum kesana kita harus tahu terlebih dahulu dimana garis finish kita. Kamu tidak mau kan berlari tanpa arah. Dan ... terkadang apa yang kamu cari tidak ada di tempat tujuan, tapi akan kamu temukan di perjalanan.

Baiklah, jadi kita akan fokus membahas mengenai garis finish. Emh, sebenarnya garis finish itu kematian sih. Bagaimana kalau kita ganti menjadi goals. Atau apapun itulah nama yang layak ...

2014 -> lulus sarjana - novel spasi dan insting - nulis nulis nulis sampai mabok
2015 -> lulus profesi - kakolova dan helo, ners - keep nulis atulah
2016 - 2018 -> kuliah S2 psikologi sains, manajamen SDM atau yang sejenis. dimana? saya masih menimbang. nikah? entahlah.
2018 ->

Oke, stop ... saya masih bargaining untuk apa yang akan saya lakukan setelah lulus profesi. Yang jelas saya tidak memikirkan akan bekerja menjadi perawat pelaksana. Mungkin mengajar di Akper. Mungkin bekerja di KPAD Bandung. Atau Askes. Atau langsung bekerja di RS Al Islam di bagian manajerial. Sebenarnya saya masih punya angan untuk ke pedalaman, lewat program Indonesia Mengajar, program Pengabdian Staipi, program Sokola Rimba, atau program manapun. Kamu akan merindukan keheningan setelah kamu menjalani kehidupan yang bising. Kamu ingin menemukan kamu yang baru di perantauan setelah jenuh dengan kamu yang konstan. Itu sih yang saya pikirkan.

Sepertinya saya tidak akan melanjutkan dulu tulisan ini ... I need a rest.

Hi, Daddy. What's Up?

Cicalengka, 17 Januari 2014

Ayah, disini siang hari dengan matahari yang meredup. Dari pagi aku melihat hujan di luar jendela. Apa yang sedang kau lihat disana, Ayah? Lebih indahkah dari kedamaian yang aku lihat di Bumi ini? Maaf Ayah, aku tidak terlalu kuat untuk berusaha mencapai tempatmu. Aku janji akan mencobanyak lebih baik lagi. Apakah kau sudah mulai merindukanku?

Ayah, sekarang aku menulis surat lagi. Seperti kebiasaan-kebiasaanku dulu. Aku harus menemukan keheningan untuk mendapatkan dorongan menulis surat ini. Terlebih Ayah … aku sedang ingin banyak bercerita kepadamu. Aku tahu kau akan diam mendengarkan dan itu sudah cukup untukku.

Ayah, kau akan lihat bahwa gadis bungsumu sudah dewasa sekarang. Aku tidak lagi menghujat dan marah-marah di suratku padamu. Aku sudah lebih tenang dan menerima. Aku tidak lagi merengek tentang kehidupan. Aku sudah mengalami perjalanan yang cukup panjang di kehidupan ini. Dan aku tahu kau selalu menyaksikan.

Ayah, akhir-akhir ini Ibu sering menangis dan tinggal sendirian. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan ketika Ibu menangis di hadapanku. Apakah dulu dia selalu menangis di depanmu juga, Yah? Apakah kau memeluknya ketika dia menangis? Atau sama kebingungan sepertiku? Ibu masih sering berbicara tentangmu seolah kau istimewa. Aku cemburu, Yah. Karena aku bahkan tidak punya hal yang bisa aku bicarakan tentangmu.

Ayah, dua tahun lalu ayah tiriku meninggal. Aku sudah menganggap dia seperti ayahku sendiri. Tidak apa-apa, kan Yah? Aku bahagia bisa mengenal dia. Dia baik sekali, sering memelukku dan memujiku. Dia juga tidak pernah marah meski aku nakal sekali. Apakah seperti itu pula kau akan mengasuhku? Ayah … apa benar kau berharap aku menjadi anak bungsumu? Atau kau sebenarnya tahu bahwa kau akan pergi di tahun yang sama dengan tahun kelahiranku.

Ayah, apakah kau akan memintaku menjadi perawat juga? Katanya kau pintar berdiskusi, kau juga suka membaca, dan menulis. Aku juga suka itu, Ayah. Kau juga pendiam dan lebih suka menyendiri. Aku juga begitu, Ayah. Bolehkah aku tidak jadi perawat? Aku ingin diam di rumah dan menjadi seorang penulis saja. Boleh, Yah?

Ayah, aku dulu mengikuti organisasi di kampus. Sebenarnya Ibu tidak mengijinkan, tapi aku tahu kau akan mengijinkannya. Bukankah kau juga seorang Ustad dan aktivis? Tapi aku tahu kau tidak akan mau menjadi seorang politikus. Aku juga tidak mau. Tapi, Yah, aku sering berbuat kesalahan pada orang-orang di sekelilingku. Aku takut, Yah. Aku takut mereka akan membenciku. Ayah, apakah dulu kau juga seseorang yang mudah tersinggung dan sensitif?

Ayah, tahun ini umurku 22 tahun. Bukankah itu sudah cukup umur untuk hidup mandiri? Tapi, Ayah … aku masih takut menghadapi apa yang akan terjadi di masa depan. Aku masih selalu melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan. Aku masih belum bisa mengontrol apa yang aku pikirkan. Ayah, ajari aku menjadi bijaksana agar aku tak lagi takut dengan masa depan.

Ayah,  bukankah seharusnya aku banyak mendengar nasihat darimu tentang kehidupan. Tentang apa yang seharusnya aku lakukan dan tidak aku lakukan. Apakah sekarang kamu menyesal, Yah … atau aku yang seharusnya menyesal karena aku yang berbuat banyak kesalahan.

Ayah, aku ingin tahu … apa yang kau ucapkan ketika dulu menggendongku? Doa-doa apa yang kau panjatkan? Nasihat apa yang kau bisikan saat aku ada di pangkuanmu? Aku tidak ingat, Ayah … Aku tidak ingat apapun tentangmu.

Ayah, kemarin temanku meninggal. Dia meninggal di umur 21 tahun, sebelum dia menikah. Ayah, aku ingin meninggal muda dan tidak perlu menikah seperti itu. Tapi dosaku masih banyak dan aku masih banyak berhutang budi dan kebaikan kepada banyak orang. Aku bahkan harus meminta maaf kesana kemari karena banyak melakukan kesalahan. Tapi Ayah, aku tetap berdoa supaya aku bisa berada di tempatmu tanpa membawa dosa. Ayah, boleh kan aku berdoa seperti itu?

Ayah, Ibu bilang aku sudah cukup umur untuk menikah. Tapi aku tidak mau, Yah. Aku selalu salah mengambil keputusan. Ayah, bukankah seharusnya kau membantuku untuk mengambil keputusan? Ayah, bolehkah aku tidak menikah saja? Aku takut ketika harus berbagi dunia dengan seseorang. Kenapa Ibu selalu membicarakan tentang pernikahan? Itu membuatku takut.

Ayah, apakah aku harus menikah? Semua kakak-kakakku sudah menikah. Aku ingin banyak berdiskusi dengan Ayah. Mungkin kita cocok, Yah. Mungkin tipeku sama dengan Ayah. Bagaimana kalau Ayah saja yang menyeleksi siapa yang menjadi suamiku. Itu pun kalau memang aku harus segera menikah, Yah.

Ayah, sekarang aku sudah tahu banyak mengenai Negeri ini. Politiknya, budayanya, alamnya, penyebaran agamanya, apa yang harus aku lakukan, Yah? Saudara-saudara Ayah ada yang terjun ke dunia politik, ada juga yang berdakwah di teve, bahkan ada yang jadi artis. Beritahu aku, Yah, apa yang harus aku lakukan untuk Negeri ini? Sepertinya kita bisa berdiskusi banyak hal tentang ini.

Ayah, aku juga baca banyak hal mengenai gerakan-gerakan Yahudi modern. Aku takut pikiran polosku mengikuti teori-teori mereka. Aku dulu dimarahi guruku karena bacaanku yang sekuler. Apa Ayah juga akan memarahiku karena aku membaca banyak buku yang sekuler dan liberal? Dulu buku bacaanmu apa, Yah. Aku dengar buku-buku Ayah banyak sekali sampai mau dibikin perpustakaan. Katanya Ayah juga pernah membuat cerpen. Aku mirip sekali Ayah, kalau begitu.

Ayah, aku ingin jatuh cinta padamu. Tapi aku tidak tahu Ayah seperti apa. Apakah Ayah menyebalkan? Tapi sepertinya tidak. Katanya Ayah itu pendiam, kalem, dan tidak bisa marah. Aku bertemu dengan orang seperti itu, Yah. Dan aku memanggil dia ‘Ayah’. Dia baik sekali, Yah. Aku selalu menganggap dia benar-benar ayahku meski dia masih muda. Apa Ayah lebih baik dari dia? Jika iya, berarti aku sudah kehilangan seseorang yang amat berharga.

Ayah, hidupku tidak terlalu beraturan sekarang. Aku hanya mengetahui bahwa poros duniaku adalah Ibu dan adikku. Tapi tidak ada yang bisa mengikatku lebih kuat lagi. Maaf karena aku terlalu kurang ajar. Tapi aku ingin Ayah …

Ayah, banyak sekali yang menyayangiku. Sampai aku merasa sudah berhutang budi pada banyak orang. Tapi … jika boleh aku meminta, aku ingin Ayah saja. Agar poros kasih sayangku juga hanya berputar pada kehidupan Ayah. Terlalu banyak orang yang harus aku pikirkan karena mereka juga menyayangiku seperti aku ini anak mereka. Dan ketika mereka tertimpa kesusahan aku akan sedih seperti melihat ayahku sendiri kesusahan.

Ayah … Ayah sakit apa sebenarnya? Kenapa Ayah tidak menjaga kesehatan? Kenapa Ayah tidak berobat dengan baik? Ayah masih harus menasihati aku banyak hal. Ayah masih harus membantuku mengambil keputusan. Ayah masih harus memarahiku setiap aku melakukan kesalahan. Ayah berhutang banyak kepadaku. Percayalah Yah, menjadi yatim sejak bayi itu tidak enak. Aku merasa naik perahu sendirian di samudera yang luas. Terapung, terombang-ambing, terbawa arus. Ayah, aku bukan pelaut yang handal. Ayah sendiri tahu kan, kesalahan apa saja yang telah aku buat. Ayah boleh memarahiku, kok.

Ayah, bagaimana rasanya meninggal? Aku juga ingin meninggal karena sakit, bukan karena kecelakaan. Tapi tubuhku kuat sekali, Yah. Aku hampir tidak pernah sakit meski kecapean ataupun cuaca yang buruk. Apa dulu Ayah mendoakanku supaya aku selalu sehat? Atau jangan-jangan Ayah mendoakanku agar berumur panjang? Apa Ayah juga berdoa agar aku berguna untuk agama dan bangsa? Jika iya, sekarang aku belum berguna apa-apa, Yah.

Ayah, maaf … aku tidak pernah pulang ke Tasik untuk berdoa di makammu. Aku canggung untuk pergi kesana sendirian. Aku tidak mengenal siapa-siapa, Yah. Terakhir kali aku kesana sendirian dua tahun lalu, aku seperti anak hilang yang tersesat. Tasik tidak seperti rumahku, Yah. Aku merasa asing disana. Merasa bukan siapa-siapa.

Ayah, maaf jika surat kali ini terlalu melankolis. Mungkin efek hujan dari pagi, aku jadi sedikit dramatis. Sebenarnya sekarang aku ingin duduk merapat di sebelahmu, memeluk sebelah tanganmu, dan menyembunyikan kepalaku di bahumu sambil berbisik, “Ayah, aku capek. Ngantuk. Aku mau tidur.” Mungkin saat itu kau sedang membaca buku, atau sedang menonton berita di televisi. Tapi sebelah tanganmu ikut membelai kepalaku dengan sayang. Maaf jika permintaanku terlalu tinggi.

I love you, Ayah.

Dari anak bungsumu.


[Dialog Kakak-Adik] Mamah, Kenapa Sih.

Satu bulan ini saya membantu mahasiswa S2 Fapsi Unpad untuk menjadi objek konselingnya. Hal yang saya konsulkan adalah terkait emosi saya, hubungan sosial, dan trauma masa lalu.

Panjaaaaaannggg banget kalau diceritakan disini. Dari tiga pertemuan, saya sudah menghabiskan lima jam untuk berceloteh. Mungkin di pertemuan selanjutnya saya akan meminta rekaman curhatan saya. Dan enak banget ternyata bisa bercerita panjang lebar sementara orang yang ada di hadapan kita diam mendengarkan seolah cerita kita itu istimewa. Yeah, itulah kenapa saya sering bercerita panjang lebar di blog. Karena saya perlu bercerita tanpa interupsi.

Di pertemuan kedua, ketika saya ditanya tentang kehidupan masa lalu, saya sempat menangis berderai-derai gitu. Udah nggak bisa ditahan banget. Pertanyaannya simpel, pake banget. "Coba ceritakan masa kecil kamu sama Uwa kamu."

Saya selalu merasa lebih sedih menceritakan masa kecil saya daripada menceritakan kematian ayah saya.

Setelah saya agak tenang, sang konselor memberikan pertanyaan lain yang sama-sama bikin saya berderai-derai lebay. "Menurut kamu Ibu kamu itu seperti apa sih?"

------------

Oke, terkahir, sebelum saya berangkat ikut-ikutan geng Akhwat Traveller. Saya mau mendokumentasikan sesuatu. Percakapan keluarga saya di grup WA. Dengan obrolan ini sepertinya wajar ketika ada orang yang 'mengorek' masa lalu dan keluarga saya, membuat saya mendadak berderai-derai gitu.

Teh Fitri:
Teh, ngadu nih soal Mamah. Meuni kebiasaan Mamah mah sosialna tinggi jadi anaknya deh yang terlantar. Hahahahaha

Teh Nenden:
Mamah teh ngerasa banyak hutang budi sama jasa ke saudara-saudara, Fit. Jadi ya balas budinya gitu. Peupeuriheun ku acis heunteu. Tapi Mamah mah bageur pisan mun aya acis mah.
Kasaha nurun na nya sifat sosial tinggi Mamah. Tinggal nu 2 tah parawan.
Alhamdulillah dipasihan rizki suami nu saroleh, bageur, and perhatian.
Karunyaaaaaaaaaa... teteh mah ningal Mamah teh. Teu kabayang mun teteh siga Mamah. Bakal kuat moal.
Teu tega we ningali na ge. Teteh terang kehidupan mulai di Tasik, Garut...
Ari urang mah istri pami bade ka Mamah teh kan izin suami. Paling ge Abub tah kedah rajin nengok Mamah ka Cagak diagendakan. Minimal sebulan sekalin, kana motor nyalira ge.

Teh Ami:
Kumaha kitu, Teh, sosial tinggi anak terlantar?
Iya sepakat, Teh Nenden.
Nanti kalau udah pada sukses kita patungan buat Mamah naik haji, yuk. Ahmad juga pernah bilang tanpa diminta, kalau udah sukses and ada rizkina mau bantuin Mamah buat naik haji ke Mekkah.

Nurul:
Itu gara-gara pas di Bogor.

Teh Dwi:
Di Bogor aya info naon, Nul?

Teh Ami:
Mamah na udar-ider deui kitu? Anak-anakna dimarana?

Nurul:
Nya begitu.
Anak-anakna lagi di rumah Teh Fitri, Mamah na udar-ider.

Teh Ami:
Ooh... jadi jalan-jalan di Bogor na nggak bareng Mamah? Mmh hobi bersilaturahim.

Teh Nenden:
Alhamdulillah Mamah mah rizkina gaduh mantu pameugeut teh nyaraaheun plus balageur ka Mamah teh.
Ayo Abub jangan mau kalah.

Teh Fitri:
Iya Mamah udar-ider baru duduk udah berangkat lagi. Baru anaknya mau curhat udah berangkat lagi.

Teh Nenden:
Ikut-ikutan kumaha nu punya mobil na, Fit.

Teh Fitri:
Bukan gitu... Acara berubah setelah ada yang minta ditengok di Jakarta. Hehehe. Arina can digendong udah ditinggal lagi.

Teh Ami:
Oh, tapi terus Mamag langsung pulang ke Bogor deui? Iya ya, kita teh kebersamaannya kurang. Dari kecil sudah terpisah-pisah. Ngumpul bareng full semua adalah hal yang langka.

Teh Nenden:
Muhun saur Mamah teh kapapay sadayana. Bi Otoh keukeuh ngajak ka Jakarta.

Teh Fitri:
Nggak ke Bogor lagi, nginep di Jakarta.

Teh Nenden:
Malah Teteh nggak nyangka Mamah ikut ke Bogor. Da cape ceunah.

Teh Ami:
Ayeuna Mamah bade ka Wa Acep saurna.

Teh Nenden:
Sebelum ke Bogor ge nganterin Alfi. Sampai Limbangan we janjan.

Teh Ami:
Iya alhamdulillah sehat nya Mamah sok jalan-jalan.

::: lalu obrolan berpindah tentang hal lain tetoret totet :::

Teh Ami:
Pan Teh Nenden nyai na, Abub Ustad/kiyaina, Teh Fitri bidan na. Kitu sanen nya wasiat almarhum Bapak teh? Abi, Nurul, Dede jadi naon na nya.

Teh Nenden:
Jadi naon nya... Sigana jadi IRT nu sukses we nyaa... Suamina nu karir.

Teh Ami:
Oia, kan Nurul mah tos jelas writer and nurse.
Iya, cape geuning jadi IRT. Lebih cape dibanding kerja di luar sigana. Hehe. Tapi bisa santai bersantai tak dikejar deadline. Full bareng anak.
Kadang cape ku bosen ketang. Tapi tos aya bayi mah tara bosen deui.
Emang kehidupan Mamah di Tasik, Garut, kumaha kitu?
Baru bener-bener ngerti and ngerasain pas udah nikah. Teu kabayang kumaha sedihna Mamah pas ditinggal orang-orang terkasih.

Teh Nenden:
Iya, Mi. Teteh ge neumbe uih. Cape, Mi.

Teh Ami:
Ditinggal bayi perempuan pertama. Ditinggalin A Zen-zen. Ditinggalin Umi. Ditinggalin suami, pendamping hidup. Asa sararedih ngabayangkeun kumaha rasana ge teu kuat. Ternyata peran keberadaan suami-auah teh penting pisan nyaa. Pantesan anak-anak Mamah dari kecil terpisah-pisah. Da nggak akan kuat kayaknya kalau ngurus sendiri mah.

Teh Fitri:
Iya, Mi. Penting kudu aya dua-duanya. Tapi meskipun dikencar anak-anak jangan full ada di luar.

::: Terus ngobrolin hal lain lagi :::

^_^

Satu Minggu Untuk Keluarga

::: Senin, 23 November 2013 :::
Perjalanan ini dimulai ketika saya terkapar di kosan karena uang yang sudah habis sejak tiga hari yang lalu. Karena jadwal komunitas yang random tapi hectic, karena Kongres yang diperpanjang seminggu lagi, karena input data cluster 30 yang tidak diketahui keberadaannya.

Diah mengirim SMS, bertanya apakah saya akan ikut ke rumah A Heri di Cimahi atau tidak. Dengan sisa tenaga yang ada saya balas kalau saya tidak akan ikut. Ketika itu saya sedang tidak bisa berpikir jernih. Perut lapar, kepala pusing, mual. Membayangkan pergi ke Cimahi rasanya mengerikan. Malam sebelumnya saya motor-motoran tanpa jaket karena nggak ada ongkos untuk pulang ke Nangor, lalu mengikuti Kongres sampai jam 10 malam. Pagi-pagi saya bongkar celengan dan pesen lumpia. Ya, dalam keadaan seperti itu masih sempet-sempetnya saya membeli makanan bergizi kurang.

Dengan sisa tenaga yang ada saya tertidur dan sempat membayangkan bagaimana kalau saya hipoglikemi lalu … collaps.

Lalu tiba-tiba Teh Fitri, kakakku yang tinggal di Bogor, menelepon dan bilang kalau dia mau transfer uang besok. Alhamdulillahh.

Malamnya saya bongkar celengan lagi dan pesen mi goreng. Ya, pilihan menu makan saya memang jelek.

::: Selasa, 24 November 2013 :::
Bersyukur sama badan sendiri. Mungkin karena sudah terbiasa kelaparan ketika di asrama, jadi saya bisa bertahan hidup di Nangor tanpa uang. Karena bantuan konsumsi Kongres dan celengan juga sih. Berasa pengen meluk lambung sama usus dan berterima kasih sama mereka karena sudah mau sama-sama hidup perih :D

Pagi itu, tanpa sarapan, saya pulang ke Cicalengka. Kebetulan sudah nggak ada agenda Komunitas dan saya sudah nggak tega bongkar celengan lagi. Dan, seakan dapat durian runtuh sepohon, karena sudah membantu input data tesis punya A Indra akhirnya honor saya turun. Satu juta rupiah. Dan itu adalah uang terbesar yang saya punya selama ini.

Hal pertama yang saya beli ketika saya punya uang adalah … Cha Cha dan Indomie. Woo, koprol.

Sore itu Teh Teni, Roif, Miftah, dan Malik berangkat ke Jakarta, ke rumah A Dani. Karena mereka pergi, keadaan di Cicalengka jadi sepi. Saya bertanggung jawab mengasuh Sahla, anak kakak sepupuku, Teh Erna.

Oke, begini. Cicalengka adalah tempat tinggal saya sejak kecil sampai sekarang, bahkan saking saya sudah menjadi bagian dari keluarga ini, jika nanti saya dikhitbah dan walimah nikah maka tempatnya sudah pasti di Cicalengka (kalau nggak nyewa gedung itu juga). Disana ada pasangan Wa Euis dan Wa Agus yang masing-masing saya panggil Mamah dan Bapak. Mereka punya 6 orang anak.

1. Teh Ucu (perawat gigi/ibu camat), menikah dengan A Dani yang sekarang menjadi Camat Cilandak. Anaknya tiga, Faiq (2 SMP), Wafa (Paud), dan Dzikri (4 bulan)
2.  Teh Dewi (ekonom), menikah denga A Oden yang saya nggak ingat kerjanya apa. Anaknya dua, Vini (4 SD) dan Fahri (TK)
3. Teh Teni (perawat), menikah dengan A Esa yang sedang ditugaskan di Cirebon sebagai TNI-AD. Anaknya dua, Roif (3 SD) dan Miftah (TK)
4. Teh Wardah (radiolog), menikah dengan A Dudung yang bekerja sebagai pedagang. Anaknya dua, Malik (4 SD) dan Dila (2,5 tahun)
5. Teh Erna (bidan), menikah dengan A Indra yang bekerja di Komisi Penanggulangan AIDS Kota Bandung. Anaknya satu, Sahla (2 tahun)
6. Fajri (mahasiswa kedokteran). Teman saya ketika SD sampai pesantren. Jadi kalau ada status saya yang menulis kata ‘Partner’ itu merujuk kepada sepupu saya ini. Gimana nggak partner, dia di kedokteran, saya keperawatan.

Sahla termasuk anak yang nggak suka kalau di rumah sepi. Dia anak yang tomboy karena sepupunya kebanyakan laki-laki, kecuali Dila. Jadi, ketika Miftah, Roif, dan Malik, liburan ke Jakarta, Sahla banyak galaunya alias rewel. Dia nggak suka suasana sepi.

Saya jadi kangen sama keluarga saya sendiri. Seindividualisnya saya, nggak boleh sampai lost contact sama keluarga sendiri. Sebagai salah satu tipe keluarga terpisah sejak bayi, kemungkinan lost contact dan cuek satu sama lain itu sangat besar. Saya bisa menutup diri dari teman-teman sekitar, tapi kalau sama keluarga juga menutup diri … ah, akhirnya saya SMS Diah dan bilang kalau saya akan ikut ke Cimahi.

::: Rabu, 25 November 2013 :::
Pagi-pagi saya dijemput di Cicalengka. Di mobil ada A Acep, Teh Nenden, Mamah, Diah, Alfi, Irfa, dan Zaini. Tapi Mamah tidak ikut ke Cimahi, dia memilih istirahat di Cicalengka. Katanya sih Mamah lagi pusing. Mungkin karena mengurus madrasah barunya. Dan … ini formasi keluarga saya. Yee, prok, prok, prok. Naon, sih.

1. Teh Nenden (guru), menikah dengan A Acep yang juga guru dan Ustad di desanya. Anaknya tiga, Alfi (5 SD), Irfa (2 SD), Zaini (5 bulan).
2. A Heri (guru/wiraswasta), menikah dengan Teh Dwi yang masih mengerjakan skripsi dengan dua anak, Afiya (2 tahun), Jaisyi (3 bulan).
3. Teh Fitri (bidan), menikah dengan A Riki yang bekerja di apa namanya lupa pokoknya sebagai ahli IT. Anaknya satu, Arina (1,5 tahun)
4. Teh Ami (wirausaha), menikah dengan A Ahmad yang baru mendapatkan gelar Dokter. Anaknya satu, Isyfi (3,5 bulan)
5. Sayaaaa, yang di keluarga dipanggil Nurul. Why? Karena nama Sarah baru terungkap ketika saya kelas 6 SD.
6. Diah (3 SMA). Lagi galau mau kuliah dimana.

Hari itu termasuk hari makanan terburuk buat saya. Karena tanpa sarapan, saya diberi pop mie ketika di perjalanan. Sementara sesampainya di rumah A Heri, kita beli mie ayam.

A Heri dan Teh Dwi adalah pasangan tarbiyah yang di-taarufkan oleh murabbi. Sayangnya, sampai punya anak dua begini, dua-duanya belum menyelesaikan sarjana. Meski begitu A Heri sudah hafiz dan punya pekerjaan. Dan … meski jodoh memang Allah yang mempertemukan, saya tetap merasa sebenarnya A Heri dan Teh Dwi terlalu nggak cocok karena saya jarang melihat sisi romantisme dari mereka. Ada sih dulu, tapi dikit, atau mungkin karena masa pengenalannya ketika sudah menikah jadi mereka masih malu-malu. Tapi kayaknya nggak malu-malu juga sih, soalnya mereka sering berantem. Entahlah … yang jelas saya nggak kepikiran buat pake jasa taaruf kalau calonnya nggak saya kenal.

Sorenya kita ke Jatos. A Heri, Teh Dwi, Afiya, dan Jaisyi ikut juga ke Jatos. Teh Ami, A Ahmad, dan Isyfi nyusul ke Jatos dari Tanjung Sari. Terus kita main-main di AmaZone. Foto-foto. Haha hihi. Pulang deh ke Tanjung Sari, kontrakan A Ahmad.

Ceritanya A Ahmad sedang bekerja jadi Asisten Dosen di FK Unpad. Jadi, tinggal di sekitar Jatinangor. Eh, kebetulan tuh ya ada temannya A Ahmad yang mau over kontrakan secara gratis tapi di Tanjung Sari. Ambil deh.

Inilah kenapa saya katakana bahwa ini termasuk hari makanan terburuk (nikmat juga sih). Karena setelah sarapan dengan Pop Mie, makan siang dengan mie ayam, lalu di rumah A Ahmad pun kita dikasih bakso. Untungnya itu adalah bakso Ojo Dumeh yang segede mangkok itu. Jadi di dalamnya ada daging-dagingan, ati ampela, dan segala macamnya.



The quality time, saat semua anak, menantu, dan cucu Mamah kumpul hari itu. Kecuali Teh Fitri, A Riki, dan Arina yang sedang di Bogor. Menjelang sore, semua bubar, kecuali saya dan Diah. Sejak hari itu saya resmi dilantik sebagai penanggung jawab liburan Diah. Dan liburan itu dimulai di Tanjung Sari. Setelah yang lain pulang, saya langsung berpikir ... ah, selanjutnya kita harus ke Bogor. Ke rumah Teh Fitri.

::: Kamis, 26 November 2013 :::
Siapapun yang misalnya menanyakan tentang saya kepada A Ahmad, meskipun dia kakak ipar baru juga setahun tapi dia sudah tahu keburukan saya bahwa saya bisa tidur siang berjam-jam (bisa sampai 4 jam), saya suka teriak-teriak dan nyanyi di kamar mandi, saya nggak suka ngambil makan sendiri tapi nyemil di piring Diah, saya suka mie dan makanan kurang gizi lainnya, dan saya centil. Ya, keluarga saya mengenal saya itu cerewet dan centil. Cuma di rumah doang.

Hari itu saya dan Diah feel like homes gitu lah, makan es krim, ngerujak, bikin puding, makan pop mie, nonton Catching Fire, nonton Running Man, nonton Supernova, sementara Teh Ami sibuk dengan Isyfi dan ODOJ-nya. Hhe.

::: Jumat, 27 November 2013 :::
Pagi-pagi saya mengajak Diah ke Kiaracondong karena ada jadwal penyuluhan Penyakit Berbasis Lingkungan. Ng ~, tidak ada yang seru untuk diceritakan kecuali kalau saya bikin tulisan khusus tentang mata kuliah Komunitas ini. Setiap perjalanan menyisakan cerita yang panjang sebenarnya.

Setelah dari Kircon, kita ke Jatinangor. Diah lagi sakit perut, geleng-geleng ketika ditawari makan. Sorenya saya nengok Teh Mutya yang baru terkena musibah dan mengambil data punya A Indra yang dititipkan Bella di Teh Mutya. Sepulang dari kosan Teh Mutya kita pesen makan ke Hipotesa. Nonton youtube. Terus … gitu-gitu aja.

::: Sabtu, 28 November 2013 :::
Kita sarapan nasi soto ayam di gerbang lama. Terus beli DVD di Si Maghrib, In Time yang filmnya sudah bikin saya penasaran karena Tatanan Dunia Baru banget, satu DVD yang pemerannya Selena Gomez dan Demi Lovato ketika masih jadi artis Disney, dan satu lagi filmnya Nickhun.

Menjelang siang kita makan ramen di Udin Ramen. Lalu tiba-tiba Diah dapat SMS dari Veni kalau dia diminta ke Buah Batu oleh A Tresna. Mereka adalah keluarga tiri saya. Jadi, ketika Mamah menikah dengan Pak Djuhara, ayahku yang meninggal tahun kemarin, Bapak sudah punya dua anak:


  1.  A Tresna (insinyur), menikah dengan Teh Ning pengusaha ‘Oyen’ di Bandung. Karena A Tresna bekerja di Garuda Indonesia, mereka tinggal di Tangerang. Anaknya dua, Dinar (24 atau 25 tahun ya saya lupa) kerja di Add-In, dan Friska (mahasiswa 2010 IT Telkom).
  2. Teh Reni (Guru), menikah dengan A Apep yang juga bekerja di Garuda Indonesia. Anaknya dua, Veni (22 tahun) baru lulus dari UIN Bandung, dan Veri (19 tahun).

Ketika Friska lulus di IT Telkom, A Tresna membeli rumah di Buah Batu untuk Friska. Bahkan sekarang Friska sudah dibelikan mobil. Sebagai adik bungsunya, Diah juga sebenarnya dimanja. Itulah kenapa uang di dompet Diah selalu lebih banyak dari saya. Hanya saja Diah lebih dekat dengan kakak-kakaknya dari ibunya daripada dari ayahnya. Mungkin itulah kenapa A Tresna nggak terlalu jor-joran ke Diah. Eh, sebenarnya jor-joran juga sih ngasihnya. Cuma … gitu deh.

Diah sempet menggerutu ketika di-SMS Veni yang menyuruhnya ke Buah Batu. “Harus banget ya kesana …” tapi nggak dibilangin ke orangnya. Mana berani. Karena hormat sama A Tresna, akhirnya kita berangkat ke Buah Batu dan … berkumpul dengan keluarga A Tresna dan Teh Reni adalah momen paling awkward dalam hidup saya.

::: Minggu, 29 November 2013 :::
Hari itu saya ada pembukaan Posbindu di Kircon. Diah nggak mau ikut tapi saya jadi bingung nanti pulangnya kemana karena … sebenarnya bagian ini agak susah diceritakan, jadi rencana awalnya adalah hari Minggu kita akan ke Cicalengka dan hari Senin kita akan ke Bogor, rumah Teh Fitri. Tapi karena tiba-tiba kita ada di Buah Batu, rencana baru sulit untuk disusun. Saya sempat berpikir untuk menyerah menyusun agenda liburan dengan Diah dan meninggalkannya di Buah Batu saja.

Sampai akhirnya saya tahu bahwa Teh Ucu dan A Dani, yang rumahnya di Bogor, sedang ada di Bandung. Setelah selesai pembukaan Posbindu, saya kembali lagi ke Buah Batu. Menawarkan kepada Diah, apa masih mau ke Bogor atau tidak. Kalau mau, kita bisa nebeng ke mobil Teh Ucu.

Setelah menunggu A Tresna dan Teh Ning ada di rumah, kita pamit untuk pergi ke Bogor. Dengan perasaan nggak enak karena kita baru semalam menginap, tapi … asertif memang perlu. Akhirnya kita janjian dengan Teh Ucu di gerbang tol Buah Batu. Berangkat dulu ke Cicalengka untuk menjemput Wa Euis dan Mamah yang akan ikut ke Bogor. Lalu karena A Dania ada agenda entah apa, kita menginap dulu semalam di rumah dinas A Dani di Cilandak.

::: Senin, 30 November 2013 :::
Kita pernah memakai baju merah putih di tempat yang sama. Seragam pesantren yang sama. Dan sama-sama merasakan baju putih-abu sebelum akhirnya kuliah. Sekarang kita sama-sama sedang disibukkan dengan baju putih-putih. Saya di RSHS, Fajri di RS Fatmawati. Fight, Partner. Life is simple, fight!

Pagi itu saya agak kaget karena saya sedang tiduran di kursi tamu, tiba-tiba suara Fajri muncul dan mengobrol dengan yang lain. Dia duduk tepat di dekat kepala saya dan ketika dia tahu kalau saya ikut ke Cilandak, dia malah nanya. “Nurul ikut kesini? Mana Nurul?” Spontan saya mengangkat wajah yang masih kusut karena bangun tidur dan dengan entengnya dia menoyor kepala saya sambil ketawa.

Jam setengah tujuh Fajri berangkat lagi karena harus ke RS Fatmawati. Sementara kita bersiap berangkat ke Bogor dan … ada kabar kalau Bi Neng sedang ada di bogor. Bi Neng adalah adiknya Mamah dengan urutan seperti ini


  1. Wa Euis (guru) menikah dengan Wa Agus yang juga guru dan tinggal di Cicalengka
  2. Wa Acep (bekerja di UPI sebagai pegawai) menikah dengan Wa Ai (guru) tinggal di Cikadut
  3. Ibuku :D (guru/janda tangguh). Tinggal di Nagreg dan sedang mengelola sebuah madrasah baru.
  4. Bi Otoh (bidan) menikah dengan Mang Endang yang kerja di PLN entah sebagai apa dan tinggal di Kayumanis, Bogor.
  5. Bi Neng (ustazah) menikah dengan Mang Agus yang bekerja sebagai Kepsek MAN 1 Sukabumi dan tinggal di Sukabumi.

Mang Agus itu setipe dengan A Dani. Sibuk bener dah. Yang satu akademisi, yang satu politikus. Jadi ceritanya hari itu Mang Agus ada kegiatan se-Jabar dan tempatnya di Bogor. Terus Bi Neng dan anaknya, Teh Syifa dan Alfida, mau main tapi nggak ada sopir kalau Mang Agus sudah masuk ke ruangan acara. Ditelfonlah A Riki, suaminya Teh Fitri, supaya jadi sopir selama Mang Agus sedang mengikuti acara.
Nenek-nenek (ibuku dan Wa Euis) yang mengetahui hal itu jadi rempong janjian dengan Bi Neng. You know, terkadang ibu-ibu itu masih merasa diri mereka remaja yang rindu bergosip bersama gitu. Akhirnya kubu Cilandak dan kubu Sukabumi ini pun janjian di Kebun Raya Bogor. Juga datang Teh Dewi dan Vini yang tinggal di Semplak, Bogor, menaiki motor ke Kebun Raya.

Setidaknya saya jadi membuat Diah tahu Kebun Raya Bogor :D

Pulangnya dari Kebun Raya Bogor, kita ke Cilebut, rumah asli Teh Ucu. Terus kita ke Kayumanis, rumah Bi Otoh. Sementara duo nenek ditinggal di Kayumanis bersama adik mereka, Bi Otoh (kayak kubu nenek-nenek kangen-kangenan gitu), saya, Diah, dan Vini pulang ke rumah Teh Fitri di Laladon. Kita sempat tertawa membayangkan kalau kita sudah jadi nenek-nenek dan masih rempong. Lalu anak-anak kita melihat aneh kelakuan kita seperti sekarang kita geleng-geleng kepala ngelihat orang tua kita. Ckckck.

Di Laladon kita makan sate … terus bobo.

::: Selasa, 31 November 2013 :::
Pagi-pagi Teh Dewi, Wa Euis, dan Mamah, datang ke Laladon. Ceritanya Teh Ucu mau ngajak Teh Dewi jalan-jalan ke Chocolava. Sementara Wa Euis dan Mamah tiba-tiba ditelfon Bi Otoh dan diajak untuk pergi ke Bekasi, eh Jakarta tapi deket Bekasi kalau nggak salah, untuk menengok Delisa, cucunya Bi Otoh. Insting nenek gitu deh.

Mamah dan Wa Euis pun pergi bareng Bi Otoh, sementara kita janjian dengan Teh Ucu dan Wafa pergi jalan-jalan dan makan-makan ke Chocolava, Makaroni Panggang, dan Sate Kelinci. Lumayan … kuliner. Agak perbaikan gizi gitu deh.

Satu yang bikin saya agak mikir. Sejak saya sampai di Cilandak, saya nggak pernah ketemu A Dani lagi. Segitu sibuknya ya jadi anak buah Jokowi. Pengennya sih suami saya nggak sesibuk itu nanti. Make our world simple aja lah.

::: Rabu, 1 Januari 2013 :::
Waktunya pulang ke Bandung … kita pulang nebeng mobil Teh Dewi dan A Oden yang akan ke Bandung menjemput Fahri. Kita juga janjian dulu dengan duo nenek di Klender. Sementara mereka pulang ke Cicalengka, kita berdua kembali ke Jatinangor. Tempat dimana awalnya saya terkapar kelaparan dan akhirnya kembali lagi ke kosan ini dengan segar.

Yang membuat saya puas adalah selama satu minggu perjalanan ini saya dan adik saya bisa bertemu dengan semua kakak-kakak kandung maupun kakak-kakak tiri. Bisa bertemu dengan semua Bibi dan Uwa, kecuali … Wa Acep. Hari ini saya mendengar kabar bahwa Wa Acep akan dioperasi hari Jumat. Ketika mendengar kabar itu tiba-tiba saya menangis dan ini pasti hal tercengeng yang pernah orang lihat.

Dan … sore harinya saya langsung mengerjakan tugas Komunitas yang terbengkalai. Oh God, seolah dilempar oleh ombak paling ganas ke daratan realita bernama ‘kuliah’.