Skip to main content

Celotehan Weekend: No Hope!

Woo. Weekend! Betapa saya sering merindukan weekend sekarang ini. Dua hari tanpa suntikan, selang, urine bag, pispot, bau obat, darah, luka, kursi roda, dan sebagai-bagainya itu. Bukannya saya nggak senang melakukan tindakan keperawatan, tapi jenuh banget rutinitas setiap hari kayak begitu, bertarung antara rasa lelah dengan suara alarm ponsel biar nggak kesiangan dinas. Huwah.

Weekend ini, seperti biasa, saya menumpuk tugas skripsi. Baru satu jam ngerjain inventory, saya udah malas. Nggak sukaaaa, sesuka-sukanya saya menulis, saya tetap tidak suka menulis skripsi.

Setelah kemarin ikut Padjadjaran Sehat, tadinya hari ini saya mau ke VOC-nya PSDMO. Tapi saya batalin. Ada unsur justice, kenapa saya nggak mau pergi ke acara VOC. *naon sih*. Terus karena stuck ngerjain skripsi, saya nge-medsos, saya nonton youtube, saya pesen makan ke sandi dellivery, saya tiduran, terus ke laptop lagi, terus ... eh, ada dua blog yang bikin saya ngakak.

Satu komik yang di-share oleh Elvira, partner saya di Medfo berjudul "Ketika Kau Jatuh Cinta". Tentang seorang akhwat yang nge-fans sama seorang ikhwan, terus berdoa semoga ikhwan itu jadi jodohnya. terus tiba-tiba si ikhwan itu ngelamar dia. Haha.  http://janur.km.unair.ac.id/archives/138#sthash.pERM945F.dpbs

Terus bolg walking ke blog-nya Eci, panitia SPMI. Judulnya Perbedaan Antara Laki-laki, Cowo, Pria, dan Ikhwan. Isinya juga tentang pasangan. Hmm.
 http://graceshaa.tumblr.com/post/66562985478/perbedaan-antara-laki2-cowo-pria-ikhwan

Kegalauan para akhwat umur 20-an ya begini adanya. Kemarin saya diledekin Fadel, aktivis Hubeks BEM cuma gara-gara saya bilang saya mau ke nikahan temen tanggal 30 Nopember nanti. Terus dia bilang, ngebet banget sih nikah. Sampai saya nyeletuk, "Lihat aja ya, kalau kamu umur 30 tahun belum dapet jodoh dan belum nikah. Saya bakalan ketawa depan kamu."

"Ya, saya mah santai. Umur 23-25 mah nikahnya."

"Terus kamu kenal calon kamu setahun sebelum kamu nikah? Saya sih nggak mau. Kalau saya mau nikah umur 23 nih ya, minimal di umur saya sekarang saya udah kebayang mau nikah sama orang kayak apa."

Padahal nggak gitu sih kenyataannya. Saya hanya asal ngomong aja kemarin. Saya nggak tahu mau nikah umur berapa, saya juga nggak tahu mau nikah sama orang kayak apa. Saya hanya ingat bahwa ketika umur saya 17 tahun, saya pernah punya ikrar kalau saya nggak akan pacaran sampai saya umur 20-22. Tua amat. Emang, soalnya saya tahu saya nggak akan nikah di umur belasan.

Terlepas dari definisi pacaran itu yang seperti apa ya, maksudnya adalah saya nggak akan menjalin komitmen 'aneh' dengan lawan jenis. Hasilnya adalah ada teman sekelas saya yang telapak tangannya dia gores silet gara-gara saya tolak, ada yang jadi playboy yang katanya sih gara-gara sakit hati sama saya, ada yang punya ikrar tersendiri ga akan nikah sebelum saya nikah, bahkan ada yang ngomong siapa pun yang mau sama Sarah langkahin dulu mayat dia. Macam begitu itu tuh, pemuda labil jaman sekarang.

Terus sekarang umur 21 saya masih jomblo aja. Haha. Ada yang bilang karma karena dulu banyak yang saya tolak. Ada yang bilang saya terlalu pilih-pilih. Ada yang bilang saya terlalu anti sosial dan menutup hati. Halah. Kalau saya sih lebih percaya bahwa Allah benar-benar ngejaga saya. Secara jujur, saya tidak terlalu susah jatuh cinta kok. Dan saya selalu aware sama perasaan sendiri, mana pria yang menurut saya boleh juga, mana pria yang nggak yang ini deh kayaknya, dan mana pria yang menyebalkan buat saya.

For example nih ya, ada poin-poin yang saya ... emh sok tahu sih sebenarnya, terhadap perasaan saya sendiri.

*Tipe yang boleh juga*
Kalau saya mengidolakan pria, biasanya saya tetap akan ada di lingkarannya tapi jaga jarak aman. Saya nggak akan banyak ngajak ngobrol. Kalau dia ngajak ngobrol pun saya cuma jawab secukupnya. Contohnya adalah pria pertama yang saya idolakan ketika umur 13 tahun. Haha. Anak ustad soalnya dan saya ngefans banget sama ustad tersebut sejak umur 11 tahun. Pertama kali saya menyapa pria itu ketika saya masih murid baru di pesantren tahun 2004.
"Kamu anaknya Ustad -------- ya?"
"Bukah, eh iya hehe. Kok tahu?" Jawab dia usil.
"Saya kan baca semua tulisannya dia di majalah --------. Nama lengkapnya Ustad -------- kan?"
"Bukan." Jawab dia sambil bercanda lagi. "Eh, iya kok. Kok tahu sih?"
"Saya kan fansnya."
Obrolan yang singkat banget dan setelah itu saya sadar, saya jadi ikut ngefans ke anaknya. And you know what, setelah itu saya nggak pernah ngajak ngobrol si anak Ustad tersebut selama sekolah, sampai sekarang di tahun 2013, ketika di nikahan teman kita ketemu lagi. Saya lagi ke parkiran motor buat ngambil Ponsel yang ketinggalan, dia lagi duduk sendirian di tempat duduk dekat parkiran. Obrolan singkat juga sih.
"Eh, rumah kamu itu di ------- ya?" Saya menyapanya dari jauh.
"Iya. Kenapa? Sini atuh, jauh-jauh amat ngobrolnya."
Saya maju beberapa langkah. "Nanti saya praktek sebulan di -------. Rumah kamu disana ya? Nanti bakalan ada mahasiswa Unpad loh yang datang ke rumah kamu. Rumah kamu di RT berapa?"
"Di RT .... RW ...."
"Ooh. Itu bagian kelompok 11, saya kelompok 1. Masih suka ada pengajian nggak di -------? Saya kan selama sebulan bakalan bolak-balik kesana."
"Ada hari Jumat, Sabtu, Minggu. Datang aja."
Just like that. Selama sembilan tahun kita nggak pernah ngobrol dan obrolan sesederhana itu terekam jelas di otak saya. Sudah jadi rahasia umum kalau saya ngefans sama dia dan keluarganya, dan saya tahu kok dia punya pacar. Jadi untuk jadi pasangan ... emh, lupakan.

*Tipe yang bisa jadi*
Teman-teman pria or ikhwan or cowok whatever yang masuk tipe ini banyak banget. Maksudnya mereka masuk kriteria, nggak pacaran, tapi nggak tahu mau sama saya apa enggak. Dan sayanya juga nyantai ngelihat mereka, ngefans enggak, jaga jarak juga enggak. Orang-orang kayak begini biasanya rekan-rekan saya di BEM atau senior saya di Persis. Untuk menghindari fitnah dan geer nggak jelas, saya nggak akan kasih contoh untuk tipe ini.

*Tipe yang kayaknya nggak mungkin deh*
Ini adalah teman ikhwan (oke, karena saya dari pesantren jadi saya sebut mereka ikhwan) yang sudah akrab sama saya sampai saya bisa manggil mereka 'ente' dengan santai. Jadi, kalau saya sudah memanggil kata 'ente' dan berani meledek ikhwan itu berarti saya sudah nganggap dia teman dekat yang kayaknya nggak mungkin deh kalau kita jodoh.
Biasanya ini teman-teman saya di Baraya (angkatan 11 di PPI Cibegol), teman-teman di Brankas (angkatan 17 di PPI Rancabango), dan teman-teman di Brilliant (angkatan 2010 di Fkep Unpad). Kayak teman saya yang masih di Mesir sejak tahun 2010. Kita bisa membicarakan hal paling konyol dan paling serius di Negeri ini. Obrolan paling menyenangkan sekaligus paling menyebalkan. Kalau ada list siapa pria yang nggak mungkin jadi pasangan hidup, orang ini ada di list teratas.
Atau teman saya, yang sudah sekelas sama saya sejak SD, namanya Ardi, ketika kita ngobrol beberapa minggu lalu sebagai teman.
"Ente mah rek nikah teh lain nungguan lulus. Nungguan nu hayang." Terus dia ngakak, ngetawain saya.

*Tipe yang please bukan yang ini*
Maksudnya adalah orang yang dia mau banget sama saya, tapi saya nggak mau. Memang sih, kita nggak boleh terlalu pilih-pilih. Tapi kan nggak boleh salah pilih juga. Biasanya saya bukan jaga jarak aman lagi, tapi mengabaikan. Jahat, ya. Ini pernah terjadi sama teman saya di Baraya, teman sekelas sih, saya tahu banget dia sering gonta-ganti pacar, suka ngomong kasar, orientasi masa depan kurang. Mendekati perempuan ya untuk pacaran. Kan saya nggak mau ya dibegituin. Misalkan orang tersebut bilang akan berubah demi saya, ga ngaruh, saya nggak mau jadi sandaran untuk orang.
Bersandar ke Allah aja, jangan ke saya.
Contoh lain adalah seorang ... pria sih, bukan ikhwan, yang sudah bekerja sebagai tentara. Dia pernah punya pacar yang pakaiannya terbuka, orangtuanya nggak setuju, terus orangtuanya pengen anaknya itu nikah sama saya. Ih ... kan ... bukan cuma dia nggak mungkin tipe saya, tapi juga kayaknya saya bukan tipe dia banget.

*Tipe yang biasa aja sih*
Orang-orang yang menyebalkan masuk ke dalam tipe ini. Bisa karena saya nggak suka karakternya, cara dia ngomong, cara dia mengomentari, cara dia menertawakan sesuatu. Sepele. Tapi kan saya pengen keluarga yang sakinah, toh. Karena saya orangnya open, jadi orang-orang kayak begini biasanya sudah sadar kalau saya nggak suka sama dia.

That's it. Bagaimana saya berteman dengan ikhwan.

Bangga juga sama diri sendiri karena setua ini bisa nggak bikin komitmen (a.k.a pacaran) meskipun sama ikhwan-ikhwan. Teman-teman saya di pesantren, bahkan yang dicap sholehah, pada pacaran soalnya. Kuliah di kampus sekuler, alhamdulillah Allah menempatkan saya di fakultas yang cowoknya dikit banget. Bergabung di BEM, alhamdulillah disibukkan dengan Proker jadi nggak ada space buat jatuh cinta. Terakhir saya mengidolakan orang itu pas di BEM tahun 2011. Setelah BEM bubar, perasaan itu pun bubar jalan.

Jujur-jujuran sama blog (entah siapa ini yang akan baca). Selepas dari pesantren, Cibegol dan Rancabango, nggak ada yang kepikiran kira-kira siapa jodoh saya. Bahkan saya pernah terpikir, mungkin saya akan meninggal sebelum saya menikah. Nggak masalah. Dan ... bahkan, saya pernah berpikir nggak nikah juga nggak masalah. Saya bisa ngurus keluarga yang ada, Mamah, keponakan. Bahkan saya yang dulu pengen nikah muda mulai terobsesi untuk jadi independen woman. Itu saking saya belum jatuh cinta mungkin. Bohong banget kalau ada yang bilang Sarah itu sukanya sama ini, maunya sama itu. Saya sih merasa belum pernah men-judge diri saya suka sama ini atau mau sama itu ya.

Misalkan nih saya ngobrol sama teman saya, obrolan ala remaja labil.

"Sarah sekarang sukanya sama siapa?"
"Wallahu a'lam, Allah yang paling tahu perasaan saya. Kan dia yang membolak-balikan hati saya. Saya aja kadang ragu saya beneran suka, atau cuma ngefans, atau sebenarnya biasa aja. Wallahu a'lam deh. Saya nggak mau sok tahu."

Begitulah.

Saya nggak pernah berdoa, mudah-mudahan si fulan jodoh saya. Nggak ada. No hope. Kalau ternyata nih ya, misalkan saya mengidolakan si anak Ustad terus besok dia nikah sama yang lain, ya udah saya datang ke nikahannya dengan pemikiran mungkin saya bertemu jodoh saya di nikahannya dia. Saya cuma percaya kalau Allah sudah mendatangkan jodoh saya, maka hati saya yang milik Allah ini, akan tergerak dengan sendirinya. Allah yang membuat saya jatuh cinta, bukan manusia.

Kalimat 'Saya mencintaimu karena Allah' mungkin diartikan banyak orang sebagai saya cinta karena kamu taat sama Allah, atau saya cinta karena cinta ini mendekatkan saya sama Allah. Kalau saya, entah kenapa, berpikirnya kalimat 'Saya mencintaimu karena Allah' berarti saya jatuh cinta karena Allah yang menggerakan hati saya untuk jatuh cinta.

Ya, begitulah kurang lebih.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…