Search This Blog

[Spasi] No Writer's Block

Sepertinya banyak penulis lain mengalaminya. Ketika Writer's Block terus tiba-tiba menemukan dialog kunci. Rasanya pengen jumping pakai trampolin.

Saya selalu berpikir kalau mau menciptakan tokoh yang konsisten, saya nya juga jangan galau. Itulah mungkin, kenapa banyak penulis atau seniman lain yang anti sosial. Karena hubungan sosial mereka akan mempengaruhi hasil karya mereka. Ini cuma menurutku loh ya.

Sejak saya menciptakan karakter Shaula Sasikirana (Sasi), saya sudah tahu dia maniak belajar dan dia tidak suka berinteraksi dengan banyak orang. Jadi saya tahu kalau Kedokteran bukan passion-nya karena profesi dokter nanti menuntutnya untuk bekerja melayani banyak orang. Saya jadi bingung bagaimana nasib Sasi. Tapi kalau dari awal dia saya masukan di jurusan yang lebih sains, seperti MIPA dan sebagainya, terus konfliknya dimana? Pelajaran kehidupannya dimana?

Saya tahu pada akhirnya Sasi akan menjadi ilmuwan tapi bagaimana menyadarkan Sasi bahwa dia bisa dan harus mengejar passion-nya untuk menjadi ilmuwan sejak awal. Tokoh yang lain sudah menemukan nasibnya, Sasi belum. Sampai akhirnya saya berpikir ya udah, karena kehidupan Sasi biasanya lurus-lurus saja, kali ini pun nasib dia adalah kuliah rapi, jadi dokter, lanjut S2, lanjut residen, baru profesor. Tapi kok nggak ngerasa ada pemantiknya.

Sampai akhirnya ketika saya sedang di Cicalengka, lahirlah dialog.

"Kalau passion kamu adalah belajar dan kamu harus bekerja, ya sudah, pekerjaan kamu adalah belajar." 
Sasi mengerutkan kening, khawatir Marwan tengah meledeknya. "Sampai kapan aku hanya jadi pelajar? Aku tahu kita tidak seharusnya berhenti belajar sampai akhir hayat. Maksudku ... kita harus menjadi seseorang kan. Memiliki profesi yang menuntut kita untuk terus belajar." 
"Kamu bisa memiliki profesi sebagai pembelajar murni. Fokus kepada pengembangan ilmu, menjadi ilmuwan. Menurutku itu juga profesi."

And that's it! Itu kata-kata yang aku butuhkan untuk menyadarkan Sasi dengan passion-nya. Dan aku tidak tahu betapa lamanya aku harus menunggu lahirnya dialog sesederhana itu. Dialog yang ... bisa dibilang biasa banget buat orang yang nggak ngalamin ... tapi dialog semacam itu juga yang memunculkan ekspresi Kugy seolah-olah dia berpikir, "Ya, ya. Kamu benar. Itu yang selama ini ada di kepalaku dan aku hanya butuh seseorang untuk mengucapkannya." Dan itu adalah ekspresi yang ... apa ya, kayak orang menemukan kunci harta karun buat mimpinya. Dan dia baru sadar kalau kunci itu selama ini ada di saku celananya. Saya suka ekspresi itu.

Ekspresi Kugy (dua gambar paling atas) saat Keenan berkata,
"Apa yang orang bilang realistis belum tentu sama dengan apa yang kita pikirin.
Ujung-ujungnya kita juga tahu kok mana yang diri kita sebenarnya,
mana yang kita bukan diri kita, dan kita juga tahu apa yang pengen kita jalanin."

 

No writer's block (again)!

1 komentar:



Anonymous said...

pengen baca novel teteh.. --a -_-

Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.