Skip to main content

JKN dan Tatanan Dunia Baru

Suatu sore di teras Sekre …

“Kalau dari SJSN ini grand issue yang bisa diangkat apa sih, Teh? Yang jadi permasalahan besar dari kemunculan sistem ini. Kira-kira apa, Teh?” Tanya Jaya Sukmana, mahasiswa Farmasi 2011 yang juga rekan saya di organisasi.

Saya mengerutkan kening, memikirkan jawaban yang pas. Dalam BPJS Kesehatan dan JKN yang dari tadi kita diskusikan saja permasalahan besar yang muncul hanya dua. Iuran dari peserta ke BPJS, yang akhirnya menimbulkan protes dari buruh, dan pembayaran BPJS ke Rumah Sakit, yang juga menimbulkan penolakan dari beberapa Rumah Sakit yang jadi tempat uji materi JKN.

Kembali ke sistem, akhirnya saya berkicau tentang ‘tatanan dunia baru’ yang dianggap sebagai solusi permasalah dunia sejak PD 1 berakhir.

“JKN kan memang mengikuti sistem kapitalis Amerika. Bener kata Menkes yang dulu, JKN ini neoliberal. Satu tatanan pemerintahan memang tujuannya membuat ketergantungan rakyat sama Negara. Kalo kamu mau hidup sejahtera di Negara ini, maka ikutilah aturan yang ada. Yaitu iuran. Iya kan? Oke lah kita nggak bahas masalah laba dan alokasi dana dulu. Tapi apa dampak dari sistem ini? Negara memberi kesejahteraan untuk orang yang sakit? Ya. Siapapun yang ingin sakit, sakitlah. Silahkan, kalian bisa sakit dengan bebas. Jangan takut sakit karena biaya berobat sudah ditabung, kan. Pertanyaannya adalah, kenapa Negara menjamin orang sakit akan sehat, meski tidak 100%. Bukan orang sehat tidak akan sakit?”

“Lebih ke kuratif ya, Teh. Nggak ada usaha preventif-nya.” Komentar Jaya.

Saya mengangguk bersemangat. “Salah satu agenda ‘tatanan dunia baru’ adalah mengurangi populasi manusia di Bumi. Planet ini sudah terlalu penuh sementara alam sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan manusia. Mereka merencanakan untuk mengurangi 93% dari populasi manusia yang sudah ada. Caranya? Program Keluarga Berencana, memelihara peperangan, menciptakan virus-virus. Dan … membiarkan penyakit menjadi sesuatu yang wajar.”

Jaya mulai tertawa mendegar ocehan saya. “Konspirasi ya, Teh. Pentagon.”

“Yaa, iyaa.” Saya ikut tertawa mengkhawatirkan ocehanku yang mulai terdengar konyol. “Tapi masyarakat kan nggak aware dengan isu itu. Yang mereka sadari hanya perubahan sistem dari yang asalnya bernama Askes, Taspen, Jamkesmas, Asabri, dll, menjadi JKN dengan pembayaran yang berbeda.”

Seperti UKT. Pikiran yang selalu terlintas ketika saya mempelajari JKN.

“Ada hal lain yang lebih masuk akal untuk memlihara kesehatan di Indonesia.” Saya melanjutkan ocehan saya. “diantaranya adalah menjaga harga makanan tetap terjangkau. Buah-buahan, sayur-sayuran, susu, daging, dan semua makanan sehat seharusnya bisa dijangkau oleh siapapun. Mengingat Negara kita adalah Negara agraris, seharusnya mendapatkan pangan sehat tidak terlalu bermasalah. Program preventif itu hanya masalah habitual kok.”

Setelah menyadari diksusi ini sudah melenceng dari yang seharusnya, kita menyelesaikan pertemuan dan menulis terlebih dahulu beberapa kesimpulan yang tadi sudah dibuat. Ya, sebelum saya kembali mengoceh mengenai Yahudi, konspirasi, tatanan dunia baru, dan sebangsanya.
Sebelum saya membahas novel Dan Brown yang penuh konspirasi. Apalagi di novelnya yang terakhir, Inferno, dimana organisasi tersembunyi memang sedang mencoba untuk melenyapkan beberapa populasi manusia. Tuh kan, jadi pengen beli novel Inferno -_-

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…