Search This Blog

[Dialog Kakak-Adik] Kuliah Jurusan Apa, Ya?

Ehfan’s (S?). Sejak Balita kita dibesarkan dengan bahasa kerinduan. Selalu merindu satu waktu dimana tanggal merah menandakan kita rehat sejenak dari dunia yang sudah kita bangun di kota yang berbeda; Garut, Cimahi, Bogor, Sukabumi, Bandung, lalu kembali ke sebuah tempat yang kita sebut rumah.
Tidak pernah terbayang saya dan adik saya yang dulu kerjaannya ketawa lari-larian di rumah atau cekikikan bersembunyi di balik selimut, sekarang menikmati liburan dengan duduk berhadapan untuk membicarakan suatu hal yang lebih serius. Kita bukan lagi dua bocah yang joged-joged di depan tivi ketika acara musik anak-anak, mengganggu kakak-kakak kita yang sedang belajar, atau sekedar mengacak-acak kamar yang baru saja dirapikan.

Adik saya sudah berhenti merengek minta diceritakan dongeng tiga saudara yang diberi keajaiban oleh malaikat, dongeng yang sudah puluhan kali saya ceritakan dengan nyanyi-nyanyian yang sebenarnya nggak nyambung. Adik saya sudah berhenti meminta digendong, yang bahkan dulu kakinya yang mungil masih bisa bertengger di kedua bahu saya. Sekarang kami sudah sama-sama besar, dia berumur 17, saya 21.

Minggu (13/10), ketika kita sama-sama kembali ke ‘rumah’ dan berbagi kegelisahan dari dunia masing-masing, sama-sama terjebak macet dan kesulitan mendapatkan kendaraan di Limbangan di waktu yang berbeda, sama-sama resah dengan Tugas Akhir, dan … entah dimulai dengan apa, saya sendiri tidak ingat, obrolan semakin serius.

“Jadi di sekolah Dede itusudah ada kuota yang lulus SNMPTN Undangan 70 orang.Terus kata guru Dede, kita itu harusnya bisa memprediksi dengan nilai yang kita dapat kita pantasnya masuk kemana. Kebanyakan kan siswa itu ekspektasinya pada tinggi-tinggi, pengen ke Kedokteran, pengen ke UI, pengen ke ITB, tapi kita nggak sadar kalau ada yang nilainya lebih tinggi dari kita.”

“Orang punya cita-cita kan nggak punya batas kali.”

“Yaa, kalau nilainya kurang terus mau masuk ke level yang tinggi, kuncinya ya … do’a.”

Sama seperti Fajri, sepupu saya, yang akhirnya bisa lulus Pendidikan Dokter karena keajaiban doa ibunya. Bayangkan saja, beberapa bulan sebelum dia diterima disana dia harus konsultasi penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dulu sama saya. Pelajaran SD.

“Tapi emang iya sih.Teteh pernah baca artikel dari Unpad, katanya kemarin kuota SNMPTN Undangan di Unpad nggak terpenuhi gara-gara pendaftarnya nggak cerdas dalam milih jurusan.”

“Iyaaa …” Adik saya berseru dengan penuh semangat.“Makanya sekarang di sekolah Dede diatur kuotanya. Nah, yang bisa masuk Kedokteran itu cuma satu orang, yang jadi juara umum. Itu juga kalau dia mau ngambil jurusan itu.”

Nah loh, apalagi ini? Pengebirian cita-cita. Secara otomatis siswa di SMAN 1 Garut nggak bisa lulus Kedokteran kalau si juara umum daftar ke Kedokteran juga. Dan si juara umum pasti galau mau milih ke Kedokteran atau tidak. Kalau misalnya passion dia bukan disana, dia atau gurunya atau orangtuanya pasti menyayangkan kalau kesempatan ke Kedokteran nggak diambil sementara teman-temannya ingin kesana. Terus dia sudah divonis harus masuk ke Kedokteran karena sistem ini gitu? Oh, world.

“Terus Dede mau daftar kemana?”Akhirnya saya melontarkan pertanyaan wajib keluarga di masa kini, selain pertanyaan tentang mana calon suami saya.

“Nggak tahu. Kata senior Dede yang di FMIPA ITB, kan di ITB mah mulai penjurusannya di tingkat dua. Terus katanya kuliah di FMIPA ITB tuh susah-susah, sampai pusing.”

“Ya iya lah, A Heri saja muntah. Nggak sanggup.”Saya menyebutkan kakak kedua saya yang pernah kuliah di jurusan Fisika FMIPA ITB tapi mengundurkan diri.

“Tapi katanya kalau mau daftar ke Astronomi, harus dari awal pas mau daftar ke FMIPA bikin surat pernyataan kalau kita mau daftar ke Astronomi.”

“Yakin mau daftar ke Astronomi?” Saya masih bertanya heran. Sejak saya bikin proyek novel yang tokohnya freak dengan habitable zone di eksoplanet dan makhluk ekstraterestial, adik saya jadi ikut membicarakan Astronomi. Saya sendiri suka Astronomi karena ketika di pesantren saya menyukai ilmu falaq, semacam ilmu perbintangan. Dan yang terbayang oleh saya jika adik saya kuliah di Astronomi adalah dia akan jadi ilmuwan. Membantu saya membuat novel fiksi ilmiah tentang Venusian.Yeah, proyek apalagi ini Miss Deadline?

“Nggak tahu.”Jawaban khasnya sambil merengek.“Kalau kata Mamah sih terserah Dede maunya dimana. Bebas saja. Teh Ami juga kan kuliahnya di Fikom, tapi sekarang kerjaannya dagang.”

“Siapapun kan bisa dagang. Tapi kalau memang sudah tahu mau atau sukanya jadi apa, ya mending dijalani yang itu. Empat tahun loh kita berkutat dengan ilmu yang itu-itu saja.”

Ini salah satu dialog proyek novel saya perasaan. Proyek novel sepanjang masa.

“Kan Dede belum tahu mau jadi apa. Lagian Mamah mah kalau masalah kuliah pasti ngelihatnya ke Teh Ami yang nggak perlu kerja sesuai dengan gelar sarjananya. Kok ke Teteh nggak ya?”

Saya cuma manyun. Mamah memang dulu nggak pernah memaksakan saya mau kuliah kemana atau mau jadi apa, selulusnya saja. Tapi sejak saya kuliah di keperawatan, dia sering protes kalau saya sudah mulai sibuk di depan laptop membuat cerpen atau novel. Dia lebih suka saya melakukan sesuatu yang berhubungan dengan keperawatan. Mungkin dia takut saya kebablasan, hanya melakukan apa yang saya sukai dan lupa kalau saya ini mahasiswa keperawatan. Dia selalu lupa, atau pura-pura lupa sampai saya bisa lulus sarjana, kalau cita-cita saya adalah jadi penulis.

Akhirnya saya berinisiatif untuk mengabsen fakultas-fakultas yang ada di Unpad untuk menggali minat adik saya dimana, dua fakultas yang ada di DU, Hukum dan Ekonomi sudah pasti tidak masuk daftar.Kedokteran dan Kedokteran Gigi juga sudah dia blacklist. Maka saya mulai dari FISIP.

“Suka diskusi masalah sosial sama politik nggak? Mau masuk FISIP?” Hanya itu clue yang terpikirkan ketika menyebut FISIP.

Adik saya menggeleng. Dia mengaku lebih suka diam mendengarkan jika ada orang lain sedang berdiskusi karena lebih seringnya jika dia bicara, orang-orang nggak paham dengan maksud yang dia bicarakan. Wajar. Karena saya sendiri kadang nggak ngerti dia ngomong apa.

Ketika menyebutkan FIB, adik saya tertarik di sastra, terutama Sastra Jepang. Tapi rasanya adik saya terlalu ‘otak mesin’ untuk kuliah di jurusan sastra.Lalu saya beranjak ke Keperawatan, fakultas saya sendiri. Sebelum dia bicara panjang lebar tentang ketertarikannya saya sudah mencegah, “Jangan, deh, jangan.”

“Kalau Perikanan dan Ilmu Kelautan?”

Adik saya menggeleng sambil mengerutkan kening.

“Pertanian?Peternakan?”

Adik saya kembali menggeleng dengan ekspresi yang sama.

“Teknik Industri Pertanian?”

“Bedanya sama yang tadi apa?”

“Kalau pertanian bahan mentah. Kalau teknik industri pertanian bahan baku. Lagian anak SMA kenapa sih kalau bahas fakultas pasti fakultas kesehatan sama ilmu-ilmu yang pernah dipelajari di sekolah; MIPA, ekonomi, sastra.”

“Ya, kan nggak ngerti nanti mau ngapain. Emang sih kalaupun masuk pertanian bukan berarti bakalan jadi petani tapi kan pasti ada hubungannya dengan tanam menanam. Kan nggak ngerti.” Adik saya juga mengutip dialog proyek novel saya, ketika tokohnya mengatakan ‘masuk pertanian bukan berarti bakalan jadi petani’. Proyek novel yang nggak kelar-kelar, by the way.

“Kalau farmasi?”Saya kembali mengabsen.

“Jangan.Teman Dede ada yang mau daftar ke Farmasi terus nilanya lebih kecil dari Dede. Jadi dia bilang Dede jangan daftar SNMPTN Undangan ke Farmasi, nanti dia yang nggak lulus.”

“Ya biarin sih.” Saya protes. “Kalau gitu daftar Farmasi di ITB saja.”

“Ah, jangan juga. Soalnya teman Dede ada yang mau daftar kesana terus nilainya lebih besar dari Dede. Nanti Dede yang nggak lulus.”

Sistem-yang-aneh.

Adik saya juga bercerita kalau temannya ada yang tertarik di jurusan Fisika. Temannya ini sangat jago di fisika sampai sering mengikuti olimpiade fisika.Tapi nilai keseluruhannya kecil. Jadi dia hanya harus berharap teman-temannya tidak ada yang daftar di jurusan fisika juga. Ini jadi lebih seperti persaingan diantara teman satu sekolah. Bukan seleksi nasional. Malah lebih seperti seleksi terencana satu sekolah.

Akhirnya saya menawarkan MIPA dengan jurusan-jurusannya. Adik saya ternyata berminat di Statistika, Fisika, dan Matematika. Tapi ketika saya mengatakan bahwa kalau mau masuk FMIPA mending di ITB saja, adik saya kembali tidak pede dengan pressure di ITB.

“Lagian Dede nggak mau cuma fokus di ITB atau Unpad saja. Peminatnya pasti banyak.”

“Terus dimana lagi? UPI? UIN?” Saya menyebutkan dua kampus negeri lain di Bandung karena memang perjanjiannya adik saya tidak akan kuliah di luar Bandung. Alasannya simpel, Ibu.

“Emang kampus negeri di Bandung cuma empat itu aja?” Adik saya melongo.

“Iya lah. Tapi jangan UPI deh, udah lah ITB atau Unpad aja. UPI itu jauh tahu.” Entah karena pengaruh teman-teman UPI di BEM SI atau pengaruh teman-teman saya di Sastra UPI, saya lebih suka adik saya jadi mahasiswa ITB atau Unpad saja.

Dan ketika saya menyebutkan FTG Unpad, adik saya tertarik hanya karena jaket himpunan mereka berwarna oranye. Tapi saya tidak menyarankan dia masuk FTG, selain karena memang kehidupan FTG agak keras, sementara adik saya manja tingkat dewa, saya juga tidak pernah paham bersosialisasi dengan anak FTG yang saya kenal di kampus.

Yang terakhir adalah psikologi. Sebenarnya ini adalah fakultas yang sangat saya sarankan. Hanya saja adik saya, seperti juga saya, sangat lemah di hafalan dan lebih tertarik dengan eksakta. Tapi saya lebih kuat baca, baca buku jenis apapun, daripada adik saya. Jadi kalau adik saya kuliah di psikologi saya bisa membaca buku-buku psikologi tanpa harus menghafalnya. Sama seperti saya baca buku-buku ilmu komunikasi milik Teh Ami karena saya ‘ingin’ membacanya, bukan karena saya ‘harus’ membacanya.

Adik saya juga bercerita kalau dia pernah mengisi semacam kuisioner dari guru BK-nya tentang peminatan tapi belum ada hasilnya. Dia juga bercerita tentang nilainya di semester ini yang akan menentukan dia bisa mengambil jurusan apa saja di SNMPT Undangan nanti.

“Tahu nggak kenapa SNMPTN Undangan sekarang pakai nilai rapot?”

“Kenapa emang?”

“Di Undang-Undang Perguruan Tinggi itu ada pasal yang menyebutkan bahwa Negara tidak boleh memungut biaya untuk seleksi nasional ke PTN. Kan dulu waktu Teteh daftar SNMPTN yang IPC, Teteh bayar 150.000. Friska sama Veni ikut IPA, bayar 100.000. Itu bayar buat apa coba?”

“Nggak tahu.”

“Buat nge-print soal, fotokopi soal, beli tinta, beli kertas, bayar pengawas. Kan butuh uang. Nah, kalau misalkan Negara nggak boleh mungut biaya dari peserta SNMPTN, dari mana mereka dapat uang buat bayar ini itu. Nggak ada. Ya jadilah mereka ubah sistemnya jadi daftar online pakai nilai rapot. Yang repot siapa? Sekolah. Yang ngeluarin biaya untuk online, untuk fotokopi berkas siapa? Peserta. Dan SBM kenapa masih mungut biaya dari peserta? Karena penyelenggaranya bukan Negara, tapi MRPTN, Majelis Rektor PTN.”

And … you know what? Setelah menjelaskan tentang SNMPTN, saya otomatis menjelaskan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang diterapkan tahun ini di PTN. Obrolan yang tadinya santai semi serius jadi agak mirip kajian sosial politik karena yang dibahas adalah sistem. Sistem yang katanya pakai sistem satu birokrasi pemerintahan, sistem yang katanya menganut asas berkeadilan. Kalau dulu dikenal dengan Bidik Misi bayarnya gratis, SNMPTN bayarnya murah, SMUP bayarnya mahal. Sekarang, lulus melalui seleksi mana pun, siapa pun bisa daftar Bidik Misi, siapa pun bisa bayar murah, dan siapa pun bisa bayar mahal. Sesuai dengan gaji orang tua dan tanggungan. Siapa yang dapat menjamin data yang benar? Siapa yang dapat menjamin sistem yang berkeadilan? Allahu a’lam.

Selasa (15/10). Banyak sistem berubah. Banyak kehidupan yang berubah. Sama seperti dua bocah yang kini memikirkan kehidupan dengan masalah lain. Bukan lagi tentang kenapa Usagi, yang berubah menjadi Sailor Moon, memiliki rambut yang panjang sampai lutut. Sementara Shinchan yang sudah TK tingginya pun hanya selutut orang dewasa. Kenapa Anna di film Amigos keningnya nong-nong. Kenapa pemeran Mariana dan Silvana diganti. Dan … bahkan dua bocah yang dulu selepas sholat idul adha berlari-lari ke Madrasah untuk melihat pemotongan binatang kurban, kini memilih tidur sepanjang hari menghabiskan waktu liburan sebelum kembali ke tempat masing-masing dan mengerjakan semua tugas sambil begadang tanpa ada waktu untuk tidur siang.

Everything is change.


Ehfan’s (tapi diah rodiyah juhara nggak ada hurus S-nya? :p)

0 komentar:



Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.