Skip to main content

Cancel Meng-cancel itu Membuat Saya Pusing

Mungkin saya dikenal sebagai orang yang sering membatalkan janji. Entah berapa kali saya diprotes kedua sahabat saya, Dhya dan Salma, karena sering nggak bisa mengikuti pertemuan. Tapi kegiatan cancel meng-cancel itu selalu saja terjadi. Bukan hanya dari sayanya, tapi dari orang di sekitar.

Seperti kemarin saat saya sudah janjian dengan teman di BEM KM IPB untuk menghadiri Jurnalistic Fair pada hari Sabtu (5/10), sudah memesan tiket, sudah bilang sama kakak perempuan saya kalau saya akan menginap di rumahnya, lalu tiba-tiba dengan mudahnya datang Jarkom dari atasan kalau hari Sabtu ada rapat Kabinet Inti. Karena saya bermoral, maka saya mendahulukan tanggung jawab daripada berkunjung ke Jurnalistic Fair. Oke, dengan berat hati saya cancel kepergian saya ke Bogor.

Dan ... you know what, tepat hari jumat jam 8 malam, sehari sebelum rapat digelar, dengan seenak pikirnya rapat Kabinet Inti itu di-cancel. Ya, itu membuat saya pusing karena saya sudah tanggung meng-cancel tiket Jurnalistic Fair dan kalaupun mau berangkat besok pagi, saya harus berangkat subuh sekali. Hhhzzzz ....

Akhirnya saya tidak pergi ke Bogor dan seharian belajar tentang Jaminan Kesehatan Nasional. Agenda besoknya hari Minggu (6/10) kedua sahabat saya itu sudah minta saya datang ke Soreang, sementara itu Kabinet Inti membuat acara jam 10.00-14.00 hari Minggu di Dago. Jauh, kan. Well, karena Kabinet Inti sudah membuat saya meng-cancel acara ke IPB dengan sia-sia maka saya putuskan untuk ke Soreang terlebih dahulu.

Dhya minta hari Minggu janjian di Leuwipanjang jam 10.00, maka saya sudah bersiap akan berangkat jam 09.00 dari Jatinangor. Dan ... tada! Tiba-tiba ada informasi talkshow "Habitable Zone di Eksoplanet" jam 10.00-13.00 di ITB. Pusing, aku benar-benar pusing. Talkshow mengenai astronomi adalah talkshow yang benar-benar langka, apalagi di Unpad. Dan saya excited! Kenapa? Karena saya sedang merampungkan sebuah novel yang mana tokohnya memikirkan kehidupan lain di luar planet Bumi. Saya harus datang, tentu saja saya harus datang. Tapi bagaimana dengan janji saya menghadiri pernikahan teman saya di Soreang?

Ini benar-benar membuat perut saya mual.

Akhirnya saya berteriak dalam hati sambil melihat poster Astra Ganesha "I am not going. Oke?!!" dan ... apa yang terjadi saudara-saudara? Jam 08.11 pagi hari di hari Minggu sejam sebelum saya berangkat ke Leuwipanjang, Dhya bilang bahwa dia akan pergi dulu ke kampusnya di Cimahi jadi kita akan berangkat lebih siang. You! What the ... eugh.

Jam 09.00 saya sudah rapi, sudah mandi, siap berangkat. Berangkat kemana? Soreang? Dago? ITB? Oke, saya sudah izin akan sampai lebih siang di Dago. Lalu bagaimana? Kalau saya berangkat ke ITB, saya hanya bisa disana sebentar karena saya harus berangkat ke Soreang. Sempat terfikir untuk ikut saja talkhsow di ITB sampai selesai dan setelahnya langsung ke Dago. Jadi saya akan meng-cancel untuk pergi ke Soreang. Tapi itu memang gagasan yang buruk. Pasalnya adalah jika saya membatalkan pergi ke Soreang kedua sahabat saya akan kecewa, jika saya membatalkan pergi ke Dago maka Kabinet Inti yang kecewa (like I care), jika saya membatalkan ke ITB, saya sendiri yang sangat amat merasa dirugikan, dikecewakan, dan yeah ... it's my passion. atulah ...

Saya semakin mual saja memikirkannya.

Mungkin pilihan saya salah, mungkin saya terlalu mulia, dan ... entah apalah artinya keputusan saya yang sekarang, jam 10.00, memilih masih di Jatinangor menunggu Dhya memberikan pesan untuk bersiap berangkat ke Soreang.

Perutku mual diantara isak rengekan ingin pergi ke ITB. Mungkin bodoh saya nggak memilih pergi ke ITB disaat saya sedang mengalami block writer's dengan novel bertema astronomi ini. Yeah, saya tahu saya memang selalu tidak cerdas dalam urusan memilih. Ini menyesakkan ~

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…