Search This Blog

[Spasi] No Writer's Block

Sepertinya banyak penulis lain mengalaminya. Ketika Writer's Block terus tiba-tiba menemukan dialog kunci. Rasanya pengen jumping pakai trampolin.

Saya selalu berpikir kalau mau menciptakan tokoh yang konsisten, saya nya juga jangan galau. Itulah mungkin, kenapa banyak penulis atau seniman lain yang anti sosial. Karena hubungan sosial mereka akan mempengaruhi hasil karya mereka. Ini cuma menurutku loh ya.

Sejak saya menciptakan karakter Shaula Sasikirana (Sasi), saya sudah tahu dia maniak belajar dan dia tidak suka berinteraksi dengan banyak orang. Jadi saya tahu kalau Kedokteran bukan passion-nya karena profesi dokter nanti menuntutnya untuk bekerja melayani banyak orang. Saya jadi bingung bagaimana nasib Sasi. Tapi kalau dari awal dia saya masukan di jurusan yang lebih sains, seperti MIPA dan sebagainya, terus konfliknya dimana? Pelajaran kehidupannya dimana?

Saya tahu pada akhirnya Sasi akan menjadi ilmuwan tapi bagaimana menyadarkan Sasi bahwa dia bisa dan harus mengejar passion-nya untuk menjadi ilmuwan sejak awal. Tokoh yang lain sudah menemukan nasibnya, Sasi belum. Sampai akhirnya saya berpikir ya udah, karena kehidupan Sasi biasanya lurus-lurus saja, kali ini pun nasib dia adalah kuliah rapi, jadi dokter, lanjut S2, lanjut residen, baru profesor. Tapi kok nggak ngerasa ada pemantiknya.

Sampai akhirnya ketika saya sedang di Cicalengka, lahirlah dialog.

"Kalau passion kamu adalah belajar dan kamu harus bekerja, ya sudah, pekerjaan kamu adalah belajar." 
Sasi mengerutkan kening, khawatir Marwan tengah meledeknya. "Sampai kapan aku hanya jadi pelajar? Aku tahu kita tidak seharusnya berhenti belajar sampai akhir hayat. Maksudku ... kita harus menjadi seseorang kan. Memiliki profesi yang menuntut kita untuk terus belajar." 
"Kamu bisa memiliki profesi sebagai pembelajar murni. Fokus kepada pengembangan ilmu, menjadi ilmuwan. Menurutku itu juga profesi."

And that's it! Itu kata-kata yang aku butuhkan untuk menyadarkan Sasi dengan passion-nya. Dan aku tidak tahu betapa lamanya aku harus menunggu lahirnya dialog sesederhana itu. Dialog yang ... bisa dibilang biasa banget buat orang yang nggak ngalamin ... tapi dialog semacam itu juga yang memunculkan ekspresi Kugy seolah-olah dia berpikir, "Ya, ya. Kamu benar. Itu yang selama ini ada di kepalaku dan aku hanya butuh seseorang untuk mengucapkannya." Dan itu adalah ekspresi yang ... apa ya, kayak orang menemukan kunci harta karun buat mimpinya. Dan dia baru sadar kalau kunci itu selama ini ada di saku celananya. Saya suka ekspresi itu.

Ekspresi Kugy (dua gambar paling atas) saat Keenan berkata,
"Apa yang orang bilang realistis belum tentu sama dengan apa yang kita pikirin.
Ujung-ujungnya kita juga tahu kok mana yang diri kita sebenarnya,
mana yang kita bukan diri kita, dan kita juga tahu apa yang pengen kita jalanin."

 

No writer's block (again)!

[Dialog Kakak-Adik] Berorganisasi dan Kuliah


  • Hari Ini
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    teteh
    janten ka teh ami?
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    jadi dong
    mamah nuju di teh ami
    hayu urang ka oyen
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    kerjasama dan mengkoordinir orang itu penting ya
    lpj kan buat hanya tugas seorang sekre aja, kalo bendahara sama anggotanya ga ngasih data ya ga kelar kan lpjnya
    *bukan
    kenapa coba laporan keuangan harus ngintil ke laporan sekretaris
    oh termasuk ke administrasi juga ya haha
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    bukan harus dikerjain sekertaris sih, tapi bendaharanya ngerjain (kan dia yang punya data) tapi ditemenin sekertaris kalo ditagih susah.
    ditungkulan
    ya tanya kendalanya dimana? ada yang ga ngerti? ada data yang hilang? namanya juga belajar team work, bantu si bendahara buat menyelesaikan tugasnya. tapi ula diculkeun
    *ulah
    kan koordinasi
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    nah itu, dd ga ngerti dd punya wakil tapi dd ngerjain sendiri
    ga bisa nyuruh orang
    kenapa coba wakilnya ga hideung sendiri nanyain --"
    nah kalo bantu bendahara, dd nya suka ikutan mumet
    suka ngerasa egois gimana gitu, tapi kalo lagi nyalse suka dibantuin sih --"
    salah dd nya juga yang tidak berani berkata-kata
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    wakilmu tidak pintar berorganisasi kali
    berkomunikasi maksudna ketang
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    dd oge --"
    terus wakilnya kan punya vertigo jadi suka ga tega nyuruh --"
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    jadi dia punya barrier di dirinya, yg ga mau nanya duluan, minta kerjaan duluan. kalo barrier kan terbukanya emang harus diserang sama kitanya
    atau karena makna wakil selalu diartikan kalo kerjaannya adalah mewakili jika ada yg ga bisa dikerjain ku dd. terus wakilna ngerasa dd bisa melakukannya
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    barrier itu apa ya
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    pertahanan tubuh
    semacam tameng
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    oh ga bisa nyerang, terus dd nya kaya yang ga percayaan soalnya bendahara aja suka lebih ngaret daripada dd yang sama-sama kelas 12
    jadi takutnya kalo dibagi-bagi malah tambah molor pekerjaannya --"
    alay
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    pokoknya kalo mau ngerjain kerjaan orang lain, meski emang dia yg untung kita yg cape. tetep izin aja dulu. kayak misalnya, "eh laporan harusnya masuk tanggal 25 loh, maaf ya daripada ngaret saya kerjain dulu. tapi kalo kamu mau ngerjain sekarang ga apa2."
    kalo teteh sih pengalaman malah punya sekertaris menteri yg sibuk banget sampe ga pernah ngirim tugasnya.
    teteh udah bilang deadline nya tanggal 30 tiap bulan
    dan dia harus ngirim dulu ke teteh tanggal 28 supaya bisa dibaca dulu sama teteh
    kalo misal tanggal 29 dia ga ngirim2, biasanya teteh ancang2 bikin laporan sendiri
    terus kalo tgl 30 ga ngirim juga teteh tegur
    kalo lebih dari tgl 30 dia ga ngerjain, teteh bakal bilang udah ga usah dikerjain, udah beres kok.
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    dd mah te wantun negur, isin pasti bilangnya sambil sinis --"
    oke terimakasih telah mendengarkan kicauan saya
    dd kuliah kamana nya
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    yaa ga negur gimana2 juga, nanyain kan wajar
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    hahaha, ya ya ya
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    ya wajar umm keduanya SITH ITB gitu?
    oh iya tadi kan dibagiin hasil kuisioner tentang minat pekerjaan, dd minat kerjanya lebih ke guru, dosen,psikologi yang bisa ngaruhi orang lain
    wkwkwkwk
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    singkatan naon eta teh?
    tuh, udah psikologi sih
    kalo psikologi unpad setuju
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    sekolah ilmu teknik hayati ada yang sain sama ada yang rekayasa asa namah
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    naha bet kadinya? psikologi unpad sama fmipa itb we sih
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    euh, masalahnya temen sekelas yang se-sekolah rank-8 mau kesana
    soalna anu lebih rendah ti FMIPA eta, SITH kan aga baru bilih unpad alim dijadikan yang kedua
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    meuni geuleuh
    ari psiko unpad jeung mipa itb ageungan mana?
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    duka, kela aya sih datana PG taun kemaren
    atuda kumaha, da kitu atuh
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    psikologi unpad jeung fisika upi atuh
    ari nilai dede bisa masuk psiko unpad teu?
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    ga tau, nah kalo prediksi nilai biasanya di GO suka ada, tapi kalo di lesan dd sekarang ga ada teh
    tapi taun kemaren pas dd di GO kalo mau masuk FMIPA itu rata-ratanya 85, berapa gitu, nahdd masuk kategori sih
    nah, fmipa 52,94 pend. fiisika :39,51 fisika : 43,08 psikologi : 53,28
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    emh, mepet2 nya mipa itb jeung psiko
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    puguhan


    to be continued *kaselang sholat magrib*

[Dialog Kakak-Adik] Kuliah Jurusan Apa, Ya?

Ehfan’s (S?). Sejak Balita kita dibesarkan dengan bahasa kerinduan. Selalu merindu satu waktu dimana tanggal merah menandakan kita rehat sejenak dari dunia yang sudah kita bangun di kota yang berbeda; Garut, Cimahi, Bogor, Sukabumi, Bandung, lalu kembali ke sebuah tempat yang kita sebut rumah.
Tidak pernah terbayang saya dan adik saya yang dulu kerjaannya ketawa lari-larian di rumah atau cekikikan bersembunyi di balik selimut, sekarang menikmati liburan dengan duduk berhadapan untuk membicarakan suatu hal yang lebih serius. Kita bukan lagi dua bocah yang joged-joged di depan tivi ketika acara musik anak-anak, mengganggu kakak-kakak kita yang sedang belajar, atau sekedar mengacak-acak kamar yang baru saja dirapikan.

Adik saya sudah berhenti merengek minta diceritakan dongeng tiga saudara yang diberi keajaiban oleh malaikat, dongeng yang sudah puluhan kali saya ceritakan dengan nyanyi-nyanyian yang sebenarnya nggak nyambung. Adik saya sudah berhenti meminta digendong, yang bahkan dulu kakinya yang mungil masih bisa bertengger di kedua bahu saya. Sekarang kami sudah sama-sama besar, dia berumur 17, saya 21.

Minggu (13/10), ketika kita sama-sama kembali ke ‘rumah’ dan berbagi kegelisahan dari dunia masing-masing, sama-sama terjebak macet dan kesulitan mendapatkan kendaraan di Limbangan di waktu yang berbeda, sama-sama resah dengan Tugas Akhir, dan … entah dimulai dengan apa, saya sendiri tidak ingat, obrolan semakin serius.

“Jadi di sekolah Dede itusudah ada kuota yang lulus SNMPTN Undangan 70 orang.Terus kata guru Dede, kita itu harusnya bisa memprediksi dengan nilai yang kita dapat kita pantasnya masuk kemana. Kebanyakan kan siswa itu ekspektasinya pada tinggi-tinggi, pengen ke Kedokteran, pengen ke UI, pengen ke ITB, tapi kita nggak sadar kalau ada yang nilainya lebih tinggi dari kita.”

“Orang punya cita-cita kan nggak punya batas kali.”

“Yaa, kalau nilainya kurang terus mau masuk ke level yang tinggi, kuncinya ya … do’a.”

Sama seperti Fajri, sepupu saya, yang akhirnya bisa lulus Pendidikan Dokter karena keajaiban doa ibunya. Bayangkan saja, beberapa bulan sebelum dia diterima disana dia harus konsultasi penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dulu sama saya. Pelajaran SD.

“Tapi emang iya sih.Teteh pernah baca artikel dari Unpad, katanya kemarin kuota SNMPTN Undangan di Unpad nggak terpenuhi gara-gara pendaftarnya nggak cerdas dalam milih jurusan.”

“Iyaaa …” Adik saya berseru dengan penuh semangat.“Makanya sekarang di sekolah Dede diatur kuotanya. Nah, yang bisa masuk Kedokteran itu cuma satu orang, yang jadi juara umum. Itu juga kalau dia mau ngambil jurusan itu.”

Nah loh, apalagi ini? Pengebirian cita-cita. Secara otomatis siswa di SMAN 1 Garut nggak bisa lulus Kedokteran kalau si juara umum daftar ke Kedokteran juga. Dan si juara umum pasti galau mau milih ke Kedokteran atau tidak. Kalau misalnya passion dia bukan disana, dia atau gurunya atau orangtuanya pasti menyayangkan kalau kesempatan ke Kedokteran nggak diambil sementara teman-temannya ingin kesana. Terus dia sudah divonis harus masuk ke Kedokteran karena sistem ini gitu? Oh, world.

“Terus Dede mau daftar kemana?”Akhirnya saya melontarkan pertanyaan wajib keluarga di masa kini, selain pertanyaan tentang mana calon suami saya.

“Nggak tahu. Kata senior Dede yang di FMIPA ITB, kan di ITB mah mulai penjurusannya di tingkat dua. Terus katanya kuliah di FMIPA ITB tuh susah-susah, sampai pusing.”

“Ya iya lah, A Heri saja muntah. Nggak sanggup.”Saya menyebutkan kakak kedua saya yang pernah kuliah di jurusan Fisika FMIPA ITB tapi mengundurkan diri.

“Tapi katanya kalau mau daftar ke Astronomi, harus dari awal pas mau daftar ke FMIPA bikin surat pernyataan kalau kita mau daftar ke Astronomi.”

“Yakin mau daftar ke Astronomi?” Saya masih bertanya heran. Sejak saya bikin proyek novel yang tokohnya freak dengan habitable zone di eksoplanet dan makhluk ekstraterestial, adik saya jadi ikut membicarakan Astronomi. Saya sendiri suka Astronomi karena ketika di pesantren saya menyukai ilmu falaq, semacam ilmu perbintangan. Dan yang terbayang oleh saya jika adik saya kuliah di Astronomi adalah dia akan jadi ilmuwan. Membantu saya membuat novel fiksi ilmiah tentang Venusian.Yeah, proyek apalagi ini Miss Deadline?

“Nggak tahu.”Jawaban khasnya sambil merengek.“Kalau kata Mamah sih terserah Dede maunya dimana. Bebas saja. Teh Ami juga kan kuliahnya di Fikom, tapi sekarang kerjaannya dagang.”

“Siapapun kan bisa dagang. Tapi kalau memang sudah tahu mau atau sukanya jadi apa, ya mending dijalani yang itu. Empat tahun loh kita berkutat dengan ilmu yang itu-itu saja.”

Ini salah satu dialog proyek novel saya perasaan. Proyek novel sepanjang masa.

“Kan Dede belum tahu mau jadi apa. Lagian Mamah mah kalau masalah kuliah pasti ngelihatnya ke Teh Ami yang nggak perlu kerja sesuai dengan gelar sarjananya. Kok ke Teteh nggak ya?”

Saya cuma manyun. Mamah memang dulu nggak pernah memaksakan saya mau kuliah kemana atau mau jadi apa, selulusnya saja. Tapi sejak saya kuliah di keperawatan, dia sering protes kalau saya sudah mulai sibuk di depan laptop membuat cerpen atau novel. Dia lebih suka saya melakukan sesuatu yang berhubungan dengan keperawatan. Mungkin dia takut saya kebablasan, hanya melakukan apa yang saya sukai dan lupa kalau saya ini mahasiswa keperawatan. Dia selalu lupa, atau pura-pura lupa sampai saya bisa lulus sarjana, kalau cita-cita saya adalah jadi penulis.

Akhirnya saya berinisiatif untuk mengabsen fakultas-fakultas yang ada di Unpad untuk menggali minat adik saya dimana, dua fakultas yang ada di DU, Hukum dan Ekonomi sudah pasti tidak masuk daftar.Kedokteran dan Kedokteran Gigi juga sudah dia blacklist. Maka saya mulai dari FISIP.

“Suka diskusi masalah sosial sama politik nggak? Mau masuk FISIP?” Hanya itu clue yang terpikirkan ketika menyebut FISIP.

Adik saya menggeleng. Dia mengaku lebih suka diam mendengarkan jika ada orang lain sedang berdiskusi karena lebih seringnya jika dia bicara, orang-orang nggak paham dengan maksud yang dia bicarakan. Wajar. Karena saya sendiri kadang nggak ngerti dia ngomong apa.

Ketika menyebutkan FIB, adik saya tertarik di sastra, terutama Sastra Jepang. Tapi rasanya adik saya terlalu ‘otak mesin’ untuk kuliah di jurusan sastra.Lalu saya beranjak ke Keperawatan, fakultas saya sendiri. Sebelum dia bicara panjang lebar tentang ketertarikannya saya sudah mencegah, “Jangan, deh, jangan.”

“Kalau Perikanan dan Ilmu Kelautan?”

Adik saya menggeleng sambil mengerutkan kening.

“Pertanian?Peternakan?”

Adik saya kembali menggeleng dengan ekspresi yang sama.

“Teknik Industri Pertanian?”

“Bedanya sama yang tadi apa?”

“Kalau pertanian bahan mentah. Kalau teknik industri pertanian bahan baku. Lagian anak SMA kenapa sih kalau bahas fakultas pasti fakultas kesehatan sama ilmu-ilmu yang pernah dipelajari di sekolah; MIPA, ekonomi, sastra.”

“Ya, kan nggak ngerti nanti mau ngapain. Emang sih kalaupun masuk pertanian bukan berarti bakalan jadi petani tapi kan pasti ada hubungannya dengan tanam menanam. Kan nggak ngerti.” Adik saya juga mengutip dialog proyek novel saya, ketika tokohnya mengatakan ‘masuk pertanian bukan berarti bakalan jadi petani’. Proyek novel yang nggak kelar-kelar, by the way.

“Kalau farmasi?”Saya kembali mengabsen.

“Jangan.Teman Dede ada yang mau daftar ke Farmasi terus nilanya lebih kecil dari Dede. Jadi dia bilang Dede jangan daftar SNMPTN Undangan ke Farmasi, nanti dia yang nggak lulus.”

“Ya biarin sih.” Saya protes. “Kalau gitu daftar Farmasi di ITB saja.”

“Ah, jangan juga. Soalnya teman Dede ada yang mau daftar kesana terus nilainya lebih besar dari Dede. Nanti Dede yang nggak lulus.”

Sistem-yang-aneh.

Adik saya juga bercerita kalau temannya ada yang tertarik di jurusan Fisika. Temannya ini sangat jago di fisika sampai sering mengikuti olimpiade fisika.Tapi nilai keseluruhannya kecil. Jadi dia hanya harus berharap teman-temannya tidak ada yang daftar di jurusan fisika juga. Ini jadi lebih seperti persaingan diantara teman satu sekolah. Bukan seleksi nasional. Malah lebih seperti seleksi terencana satu sekolah.

Akhirnya saya menawarkan MIPA dengan jurusan-jurusannya. Adik saya ternyata berminat di Statistika, Fisika, dan Matematika. Tapi ketika saya mengatakan bahwa kalau mau masuk FMIPA mending di ITB saja, adik saya kembali tidak pede dengan pressure di ITB.

“Lagian Dede nggak mau cuma fokus di ITB atau Unpad saja. Peminatnya pasti banyak.”

“Terus dimana lagi? UPI? UIN?” Saya menyebutkan dua kampus negeri lain di Bandung karena memang perjanjiannya adik saya tidak akan kuliah di luar Bandung. Alasannya simpel, Ibu.

“Emang kampus negeri di Bandung cuma empat itu aja?” Adik saya melongo.

“Iya lah. Tapi jangan UPI deh, udah lah ITB atau Unpad aja. UPI itu jauh tahu.” Entah karena pengaruh teman-teman UPI di BEM SI atau pengaruh teman-teman saya di Sastra UPI, saya lebih suka adik saya jadi mahasiswa ITB atau Unpad saja.

Dan ketika saya menyebutkan FTG Unpad, adik saya tertarik hanya karena jaket himpunan mereka berwarna oranye. Tapi saya tidak menyarankan dia masuk FTG, selain karena memang kehidupan FTG agak keras, sementara adik saya manja tingkat dewa, saya juga tidak pernah paham bersosialisasi dengan anak FTG yang saya kenal di kampus.

Yang terakhir adalah psikologi. Sebenarnya ini adalah fakultas yang sangat saya sarankan. Hanya saja adik saya, seperti juga saya, sangat lemah di hafalan dan lebih tertarik dengan eksakta. Tapi saya lebih kuat baca, baca buku jenis apapun, daripada adik saya. Jadi kalau adik saya kuliah di psikologi saya bisa membaca buku-buku psikologi tanpa harus menghafalnya. Sama seperti saya baca buku-buku ilmu komunikasi milik Teh Ami karena saya ‘ingin’ membacanya, bukan karena saya ‘harus’ membacanya.

Adik saya juga bercerita kalau dia pernah mengisi semacam kuisioner dari guru BK-nya tentang peminatan tapi belum ada hasilnya. Dia juga bercerita tentang nilainya di semester ini yang akan menentukan dia bisa mengambil jurusan apa saja di SNMPT Undangan nanti.

“Tahu nggak kenapa SNMPTN Undangan sekarang pakai nilai rapot?”

“Kenapa emang?”

“Di Undang-Undang Perguruan Tinggi itu ada pasal yang menyebutkan bahwa Negara tidak boleh memungut biaya untuk seleksi nasional ke PTN. Kan dulu waktu Teteh daftar SNMPTN yang IPC, Teteh bayar 150.000. Friska sama Veni ikut IPA, bayar 100.000. Itu bayar buat apa coba?”

“Nggak tahu.”

“Buat nge-print soal, fotokopi soal, beli tinta, beli kertas, bayar pengawas. Kan butuh uang. Nah, kalau misalkan Negara nggak boleh mungut biaya dari peserta SNMPTN, dari mana mereka dapat uang buat bayar ini itu. Nggak ada. Ya jadilah mereka ubah sistemnya jadi daftar online pakai nilai rapot. Yang repot siapa? Sekolah. Yang ngeluarin biaya untuk online, untuk fotokopi berkas siapa? Peserta. Dan SBM kenapa masih mungut biaya dari peserta? Karena penyelenggaranya bukan Negara, tapi MRPTN, Majelis Rektor PTN.”

And … you know what? Setelah menjelaskan tentang SNMPTN, saya otomatis menjelaskan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang diterapkan tahun ini di PTN. Obrolan yang tadinya santai semi serius jadi agak mirip kajian sosial politik karena yang dibahas adalah sistem. Sistem yang katanya pakai sistem satu birokrasi pemerintahan, sistem yang katanya menganut asas berkeadilan. Kalau dulu dikenal dengan Bidik Misi bayarnya gratis, SNMPTN bayarnya murah, SMUP bayarnya mahal. Sekarang, lulus melalui seleksi mana pun, siapa pun bisa daftar Bidik Misi, siapa pun bisa bayar murah, dan siapa pun bisa bayar mahal. Sesuai dengan gaji orang tua dan tanggungan. Siapa yang dapat menjamin data yang benar? Siapa yang dapat menjamin sistem yang berkeadilan? Allahu a’lam.

Selasa (15/10). Banyak sistem berubah. Banyak kehidupan yang berubah. Sama seperti dua bocah yang kini memikirkan kehidupan dengan masalah lain. Bukan lagi tentang kenapa Usagi, yang berubah menjadi Sailor Moon, memiliki rambut yang panjang sampai lutut. Sementara Shinchan yang sudah TK tingginya pun hanya selutut orang dewasa. Kenapa Anna di film Amigos keningnya nong-nong. Kenapa pemeran Mariana dan Silvana diganti. Dan … bahkan dua bocah yang dulu selepas sholat idul adha berlari-lari ke Madrasah untuk melihat pemotongan binatang kurban, kini memilih tidur sepanjang hari menghabiskan waktu liburan sebelum kembali ke tempat masing-masing dan mengerjakan semua tugas sambil begadang tanpa ada waktu untuk tidur siang.

Everything is change.


Ehfan’s (tapi diah rodiyah juhara nggak ada hurus S-nya? :p)