Skip to main content

Si Nyonya Besar Jadi Tuan Puteri

"Hanafi, ada yang nyari tuh."
"Siapa?"
"Nyonya besar."

Saya yang saat itu tengah menungg di depan kelas A, kelasnya Hanafi, langsung mengerutkan kening. Sejak kapan saya disebut Nyonya Besar? Tapi Hanafi tidak bertanya siapa itu Nyonya Besar, RG yang lain juga tidak heran ketika menyebut Nyonya Besar lalu ketika dilirik keluar ternyata saya tengah berdiri sambil melipat tangan.

Resmilah mulai saat itu saya dipanggil Nyonya Besar.

Tentu saja saya dipanggil Nyonya Besar bukan karena tubuh saya yang besar. Sejak kecil saya sudah diledeki 'rorongkong hirup' oleh Ardi, teman di SD, teman ngaji, dan teman di pesantren. Jadi, satu-satunya alasan saya dipanggil Nyinya Besar adalah karena saya otoriter, selalu menginstruksi, galak, ketus, dan sepertinya menyebalkan. Persis Nyonya Besar yang dengan menyebut namanya saja orang-orang sudah mengkeret, melihat saya lewat langsung menunduk. Saya tidak pernah, sangat tidak pernah, memikirkan ingin dihormati, disegani, ditakuti, bahkan dimusuhi. Mana saya tahu kalau sikap saya ternyata terlalu galak sama mereka.

Masuk kampus, saya kembali menjadi orang baru. Pendiam, tentu saja. Ayah saya sangat pendiam, jadi kalau saya pendiam itu berarti saya sedang memerankan gen ayah saya. Memasuki organisasi di tahun ketiga yang bagi saya lebih seperti terapi sosial buat saya. Hah.

Kemarin saya minta tolong, minta tolong loh ya, bukan menginstruksikan atau memerintahkan, atasan saya untuk menyampaikan pesan. Lalu dibalas dengan 'oke, tuan puteri'. Tersanjung? Enggak. Saya lebih merasa tersindir. Waktu kecil saya diledekin tuan puteri oleh ibu asuh saya kalau saya mengeluh ketika diminta cuci piring, ngepel, nanak nasi, dll. Jadi entah kenapa sebutan tuan puteri ini saya anggap bahasa halus dari teman-teman asrama saya yang memanggil saya nyonya besar.

Ada pula salah satu staff saya yang menyebutkan kalau saya otoriter.
Apa iya saya masih otoriter? -_-

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…