Search This Blog

Seperti Daun yang Jatuh

Saya berharap tidak menjadi daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Ketika hampir semua anggota keluarga terikat dengan balas budi (kecuali kakak pertama, mungkin). Tiba-tiba obrolan tentang balas budi menyangkut kepada masalah pernikahan. Layaknya Siti Nurbaya.

Tidak seekstrim itu. Saya sendiri yang sering mengatakan bahwa rasanya tidak ingin saya menikah dengan orang yang baru saya kenala.k.a dijodohkan. Itulah kenapa saya tidak tertarik menggunakan cara taaruf, membuat proposal, menghubungi murabi, dan sejenisnya. Saya berharap menikah dengan orang yang sudah mengenal saya. Itu karena kepribadian saya agak ... sulit. Lalu, entah darimana dan sejak kapan, pikiran tentang menikah dengan sepupu sendiri terlintas.

Waktu itu saya memastikan kepada partner di organisasi yang agak islami bahwa sepupu kita bukanlah mahrom. Dan memang bukan.

Sepupu saya baik. Saya sangat mengenal kepribadiannya karena sudah hidup bersamanya sejak saya sudah bisa mengingat. Bahkan saya sempat membuat tulisan tentang kita di http://zohrahs.blogspot.com/2011/04/ceritanya-kang-ujrot-dan-neng-bahrul.html

Saya dekat dengan sepupu saya sejak saya masih bisa mengingat momen. Umur 4 tahun. Ketika itu dia sudah berumur 6 tahun dan sudah belajar membaca. Karena saya tinggal bersama keluarganya sejak umur 4 tahun, maka teman bermain saya baru dia saja. Karena dia sudah belajar membaca, menulis, dan berhitung, maka umur 4 tahun saya melakukan hal yang sama. Jadi ketika umur 5 tahun saya sudah lancar membaca.

Saya masuk sekolah umur 5 tahun, sementara sepupu saya umur 7 tahun. Sepupu saya bungsu dan ga mau sekolah kalau tidak ada yang menunggui. Tapi ketika disekolahkan bersama saya, otomatis dia memaksakan diri untuk berani sekolah karena punya tanggung jawab. Hari pertama sekolah saya duduk sebangku dengannya. Entah sampai berapa hari saya lupa. Sampai-sampai jika ada teman yang iseng sama saya, teman yang lain suka ngeledek. "Jangan ganggu dia. Nanti dilaporin loh sama sepupunya."

Padahal dia lebih manja dari saya karena bungsu ^_^

Kita main bareng di rumah maupun keluar rumah. Kecuali di sekolah. Karena kita punya sahabat sendiri. Saya lebih seperti asistennya dia ketika main.

Sekolah bareng sampai saya umur 16, dia 18. Sampai saat itu saya masih menganggap dia teman sekolah, teman bermain, saudara seumuran. Apalagi sebelum saya paham kalau kita bukan mahram.

Suatu ketika uwa yang menjadi ibu sepupu saya itu nyeletuk ke ibu saya. "Sudah saja Nurul jangan di ke siapa-siapain."
lalu obrolan mengalir tentang kemungkinan saya dan sepupu saya menikah. Saya tahu ini dari kakak pertama saya yang ada di tempat kejadian perkara.

Ibu saya cuma menjawab, "Gimana Nurul saja itu mah."

Saya tinggal dengan uwa saya sejak umur 4 tahun. Tentu saja uwa tidak pernah meminta balas budi. Tapi jika saya menikah dengan anaknya mungkin itu akan terlihat sempurna.

Sepupu saya adalah bungsu yang sangat dimanja dan anak laki-laki satu-satunya. Dan dia satu-satunya dokter dan yang pernah nyantri diantara kita. Pengorbanan uwa untuk menyekolahkannya di asrama dan ke kedokteran lumayan berat. Terutama uang untuk sekolah ke kedokteran yang sepertinya sudah mencapai 200 juta. Kalau saya menikah dengan sepupu saya setidaknya apa yang sudah diberikan kepada anak bungsunya tidak akan mengalir kepada wanita lain yang tidak dikenal uwa saya.

Uwa saya pernah bercerai. Dia juga memiliki beberapa sifat yang keras. Saya sudah sangat kenal itu, bahkan saya mengenalnya melebihi saya mengenal ibu saya sendiri. Dan istri sepupu saya akan menjadi menantu perempuan satu-satunya dan mungkin dia berharap menantu perempuan satu-satunya itu akan memahami dia.

Dan terlebih alasan lain adalah karena mungkin uwa sudah mengenal saya dengan baik. Dan lebih dari apapun uwa tahu kalau saya dan sepupu saya itu sudah jadi soulmate.

Semoga sepupu saya menemukan soulmate lain dalam hidupnya ^_^

0 komentar:



Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.