Search This Blog

Mematikan Perasaan

|
PRINSIP
|

"Kau membunuh setiap pucuk perasaan itu. Tumbuh satu langsung kaupangkas. Bersemai satu langsung kauinjak. Menyeruak satu langsung kaucabut tanpa ampun. Kau tak pernah memberikan kesempatan. Karena itu tak mungkin bagimu? Kau malu mengakuinya walau sedang sendiri." Tere Liye ~

|
MAAF
|

Menteri Minta Sekoci

Saya kadang benar-benar khawatir bahwa tulisan saya akhir-akhir ini benar-benar sampah. Sebagian besar karena saya menulis apa yang saya rasakan, bukan apa yang saya pikirkan. Tapi ... no problem, blog ini memang tempat terapi saya. Dimana saya memuntahkan semua perasaan sehingga otak saya bisa berfikir lebih jernah.

Tadi sore Riri, partner saya di BEM, memancing saya bercerita tentang yang terjadi di bulan Oktober (ng ~). Ceritanya agak complicated, saya nggak yakin kalau saya bisa menceritakannya dengan benar.

"Bulan Oktober itu benar-benar waktu dimana saya kecewa dengan Timpres. Ketika akhirnya Kang Nizar dipecat. Atau ... mungkin memang sepakat keluar, apapun lah, yang jelas nggak berakhir baik. Saya tahu Kang Nizar nggak masalah nggak di BEM lagi, tapi bukan dengan cara seperti ini. Kenapa nggak pancing dia untuk resign sendiri sebelum diberi SP. Dan ... saya sebenarnya nggak ada masalah ketika Nizar dipecat dengan alasan ini itu, tapi Wildan, Agil, Rendi, Teh Ela, memberikan jawaban yang salah fatal ketika saya nanya alasan pemecatan. Oke, mereka benci Nizar, tapi kalau saya jadi mereka saya lebih memilih kata-kata 'Nizar sudah tidak nyaman disini dan kita tidak menahannya untuk pergi' dibandingkan dengan jawaban menjelek-jelekan dan membuka aib Kang Nizar."

Sebenarnya penjelasan saya ke Riri lebih panjang dan emosional, tapi sekarang saya sedang mengantuk dan nggak mood untuk membuka memori.

"Mereka udah nggak bisa banget ngerangkul saya waktu itu. Nggak tahu kenapa tiba-tiba Kang Sayyidi ikut-ikutan memohon supaya saya masih di BEM. Dan saya benar-benar berada di tengah-tengah ketika saya bilang kalau saya kecewa sama Timpres dan di sisi lain Nizar juga bilang 'selamat berlayar dengan nahkoda pilihanmu itu'."

Ketika mengatakan hal itu tiba-tiba dunia saya ketarik kedalam dunia sureal. Di tengah-tengah ketika makan ketoprak otak saya berpindah ke laut lepas, badai menghadang sebuah kapal besar dimana Wildan menjadi nahkodanya. Saya mendobrak tempat kerja Wildan setelah dia menenggelamkan seorang awak kapal, Nizar.

"Kenapa Nizar ditenggelamkan?" Tuntut saya.

"Kapal kita sedang kena badai. Dan para awak kapal setuju jika Nizar ditenggelamkan maka badai itu akan surut sedikit demi sedikit."

Sejak awal menaiki kapal ini saya sudah tahu bahwa Wildan menjalankan kapal dengan caranya sendiri yang membuat saya yang sudah pernah menaiki kapal lain terkadang ambruk, mual, dan oleng sendiri.

"Kamu tidak meminta pendapat saya sebelum Nizar ditenggelamkan."

"Separuh dari awak kapal setuju bahwa selama badai ini berlangsung, Nizar membuat kapal ini semakin oleng dan mengganggu awak kapal yang lain." Wildan berargumen.

"Berapa dari 22 awak kapal yang mengatakan hal itu?" Saya menatapnya tajam.

"Setengahnya." Jawabnya cepat. "Bahkan dia tidak menjaga muatannya dengan baik."

Saya menatap Wildan penuh emosi. "Unbelieveable."

Di tengah badai, saya pun ke luar menuju geladak untuk mencari sekoci. Namun untuk mengambil sekoci itu saya harus melalui Rendi dan Agil yang menjadi penanggung jawab muatan saya.

"Saya minta sekoci saya. Saya akan keluar dari kapal ini."

"Saya tahu ini pasti terjadi." Ucap Agil. "Ketika kami memutuskan untuk menenggelamkan Nizar, kita sudah mengantisipasi kalau kamu akan meminta sekocimu dan pergi dari kapal ini."

"Syukurlah kalau kalian sadar. Kalau kalian punya hak untuk menenggelamkan Nizar, saya punya hak untuk meminta sekoci saya."

Kapal semakin terasa oleng, keseimbangan saya hampir rubuh.

"Kamu perlu mendengarkan penjelasannya lebih dulu." Kali ini Rendi yang bersuara. "Nizar sudah membuat kapal ini oleng."

"Saya sudah cukup banyak mendengar dari Wildan."

"Tapi belum dari saya."

"Dia ..." Saya menunjuk tempat yang baru saya tinggalkan. "Adalah kapten saya dan dia bertanggung jawab, dalam bentuk ucapan ataupun perbuatan, atas apa yang terjadi di atas kapal ini. Dan Anda tidak bisa serta merta dan secara terus menerus menyalahkan Nizar atas olengnya kapal ini."

Saya mencoba melangkah untuk mengambil sekoci tapi mereka berdua dengan sigap menghalangi jalan.

Sambil menahan emosi saya menghela nafas dan melihat Kang Rendi. "Kapal ini sudah hampir membuat saya ambruk. Selama Wildan masih menjadi kapten kapal ini, saya tidak akan bisa nyaman berada di atasnya. Tolonglah ... saya harus pergi."

"Kamu punya muatan yang harus kamu jaga."

Akhirnya Kang Agil mengatakan hal yang paling tidak bisa saya tinggalkan begitu saja di kapal ini.

"Selama ini kita sama-sama tahu bahwa saya telah menjaga muatan saya dengan cara yang salah. Bahkan kamu hampir mencampurkan muatan saya dengan muatan yang lain. Saya sudah minta pindah geladak dan kalian bilang itu tidak bisa. Saya serahkan muatan saya kepada kalian."

Saya pun berbalik meninggalkan kedua orang itu dan menatap lautan lepas dengan langit yang menghitam sebelum akhirnya Agil kembali bersuara.

"Apa yang harus saya lakukan agar kamu tidak pergi dari kapal ini?"

Saya masih membelakanginya, menatap air laut yang menggoyangkan kapal.

"Saya harus pergi." Tanpa kembali menoleh saya menenggelamkan diri ke laut, menikmati asinnya air yang menyentuh setiap kulit. Berenang bersama makhluk laut seolah saya terlahir kembali dan menjadi seseorang yang lain. Sampai akhirnya saya menemukan pulau kecil tempat Nizar mengucilkan diri setelah ditenggelamkan dari kapal.

"Seharusnya kamu tidak kesini." Nizar bersuara pelan. "Saya membenci apapun tentang Wildan dan kapal itu. Dan kalau kamu kesini atas nama Wildan, itu artinya saya membencimu."

Saya memandangi pulau kecil itu hingga akhirnya menatap Nizar. "Saya baru saja meminta sekoci saya. Itu artinya saya berencana pergi dari kapal."

"Kamu tidak seharusnya melakukan itu. Apalagi hanya karena saya."

"Bukan karena kamu, tapi karena Wildan. Kita sama-sama tahu bahwa saya tidak menyukai perjalanan ini dan ... perjalanan ini sudah mengambil banyak hal dari kita semua. Saya sudah meninggalkan ibu dan adik saya sampai sejauh ini ... dan saya selalu berharap Wildan dan kapal itu cukup pantas untuk menjadi alasan untuk pengorbanan saya dan juga awak yang lain. Kejadian ini hanya pemantik untuk membuat saya sadar bahwa ... keputusan saya menaiki kapal ini tidak berasalan kuat."

"Wildan tidak pernah tahu cara menjalankan kapal." Nizar berkomentar. "Dia tidak tahu bagaimana mengatur awak kapalnya dengan baik. Kalau bukan karena awak kapalnya yang bekerja bagus, dia tidak akan bisa melewati badai itu."

"Tidak sepenuhnya begitu." Ucap saya. "Dia hanya memakai cara yang berbeda. Dan ... sayangnya cara dia menjalankan kapal sering membuat kita oleng. Mungkin yang lain malah nyaman dengan cara Wildan. Kita yang enggak."

"Apa kamu nggak bisa untuk tidak membela Wildan di depan saya?"

Saya menarik nafas udara yang begitu segar, memandang lautan. "Ketika saya masih di dalam kapal. Saya tidak terima bahwa mereka yang paling benar dan kamu adalah orang yang bersalah. Ketika saya turun dari kapal dan mendatangimu, saya tahu bahwa Wildan pun tidak sepenuhnya salah. Hidup bukan tentang protagonis dan antagonis, atau tentang pro dan kontra. Terkadang kapal yang oleng hanya karena kesalahpahaman kita dalam menjalankan kapal."

Nizar tidak bersuara, saya tahu dia tidak akan suka diceramahi dalam keadaan seperti ini.

Akhirnya saya menoleh, menatapnya yang masih geram, ikut memandang lautan. "Apakah kamu bahagia? Apakah kamu tenang sekarang?"

Tidak ada jawaban. Nizar hanya berdiri menatapku dengan ekspresi tidak suka. "Pulanglah ke kapal dan selamat berlayar dengan nahkoda pilihanmu."

Tanpa menunggu respon dari saya, Nizar berlalu memasuki pulau lebih dalam sehingga tak terlihat lagi.

Setelah itu, berhari-hari saya kembali terombang-ambing di lautan. Langit begitu tenang saat itu, meski secara jelas saya tahu bahwa langit di bawah kapal pasti masih mengalami badai. Mungkin saya yang terlalu penakut untuk kembali ke kapal, atau ... saya yang sangat berambisi menghujat Wildan ketika dia sampai di dermaga bersama awaknya. Atau ... Tuhan tengah memberi saya waktu untuk memahami bahwa selalu harus ada keputusan-keputusan sulit yang harus diambil ketika genting dengan konsekuensi yang sangat berat.

Kehilangan dua awak kapal, misalnya.

Setelah berlama-lama menatap langit, saya kembali menatap laut. Kosong. Saya sudah terbiasa dengan kekosongan, tapi ketika menatap ke sekeliling saya sadar bahwa tujuan saya untuk kembali berlayar adalah melihat lautan sambil melakukan sesuatu untuk makhluk laut, awak, para muatan, dan para awak kapal yang lain. Itulah kehidupan, saat kita menjalaninya bertautan dengan yang lain. Entah manfaat atau kerusakan, yang jelas berlayar sendirian bukan pilihan yang baik.

Setelah dua minggu berlayar sendirian, saya kembali ke kapal. Saat itu geladak masih ramai dengan awak kapal yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sepertinya hanya sebagian orang yang menyadari kepergian saya dan ... yang mereka tahu adalah sekoci saya masih tersimpan dengan baik di tempatnya.

Saya langsung memeriksa muatan saya dan beberapa saat kemudian kembali ke ruangan terbuka tempat saya selalu beristirahat. Memandang langit yang masih memberikan badai.

Seseorang berlari-lari di dek, mendapatkan kabar bahwa saya terlihat di kapal. Dengan terengah-engah, dia mendatangi tempat biasa dimana saya beristirahat memandang langit sendirian.

"Syukurlah ..." Ucapnya sambil mengatur nafas. "Aku tahu kamu akan pulang."

[CCSA] Fresia Hari Kedua

Departemen/UPF Penyakit Dalam
Ruang Fresia Kelas 2 (masih dikenal dengan nama Anyelir)
Kamis, 7 November 2013
14.00-21.00

Saya berangkat jam 1 siang dari Dipati Ukur karena baru saja mengahadiri wisudanya Kang Ridwan, senior saya di keperawatan. Saya makan siang bareng Riri, Bela, Teh Ela, Kang Zu, Kang Dadieh, dan satu lagi yang saya lupa namanya. Sampai di ruang fresia, teman-teman yang dinas pagi masih bertugas dan terlihat lebih ceria karena tidak ada pembimbing yang datang.

Ketika pergantian shift, saya dan Indah ikut operan di wing dua. Ada 6 pasien hari itu, satu pasien dipindahkan ke HCCU. Ada juga pasien yang pulang dan pasien baru yang datang kemarin malam. Selesai operan, kita berdua langsung bertugas untuk mengecek TTV. Kita bagi dua, jadi masing-masing menegcek 3 pasien tapi kita datang ke pasien barengan. Jadi ketika Indah ngecek TTV, saya ngajak ngobrol pasien dan keluarga sambil mencatat hasilnya. Sebaliknya, kalau saya yang sedang ngecek TTV, Indah yang mencatat dan berkomunikasi dengan pasien dan keluarga.

Setelah memindahkan dokumentasi TTV,  jam 4 sore waktunya memberi obat. Ketika memberi obat kita didampingi perawat penanggung jawab. Namanya Teh Dian, cantik, baik, ceria, komunikatif, dan perawat banget. Lagi hamil mau 8 bulan.

Saya sempat ngoplos obat dua kali, mematahkan ampul kecil dan ampul yang agak besar. Sempat ada aquabides yang tumpah karena saya terlalu kencang menarik spuit. Dan itu bikin suasana di ruangan jadi agak tegang. Tapi ketika memberikan obat melalui selang infus Alhamdulillah lancar, cuma harus dibiasakan ngoplos obat aja. Ada pasien yang diambil darah dan saya masih ngeri melihatnya, bukan darahnya yang bikin ngeri tapi suntikannya. Padahal saya biasa pakai jarum sehari-hari untuk pakai kerudung dan udah bisa menyuntikan jarum ke IV lewat selang. Tapi tetap saja membayangkan jarum memasuki pembuluh darah atau kulit atau otot itu masih terasa ngilu.

Setelah selesai memberi obat, ada pasien yang harus kita bawa ke ruang hemodialisa untuk cuci darah dan ada sampel darah yang harus diantarkan ke lab. Kita langsung bersemangat untuk mengantarkan kesana karena keluar ruangan ketika dinas itu rasanya legaaaaaaaaaaaaa banget. Pressure-nya itu kerasa berkurang.

Memasuki jam lima sore, makanan diantarkan oleh petugas dan ada satu pasien yang harus diberi insulin dulu sebelum makan. Indah semangat ingin mencoba memberikan suntik insulin, saya masih ngeri meskipun jarumnya cuma seuprit. Dan Alhamdulillah, Indah akhirnya berhasil mencoba suntik insulin. Kayaknya besok saya mau coba deh, Insya Allah.

Jam 6 sore kita istirahat. Semuanya sepakat untuk pergi keluar. Total yang dinas sore ada 6 orang. Djoko dan Puspa di wing 1, saya dan Indah di wing 2, Ais dan Syifa di wing 3. Kita kembali ke ruangan jam 7 malam, saya dan Indah hanya tahu agenda kita selanjutnya adalah mengambil sampel darah salah satu pasien dan menjemput pasien di ruang hemodialisa. Tapi ketika sampai di ruangan, ternyata ada pasien dying. Kita langsung ke kamar pasien.

Nafas pasien hanya ada sedikit-sedikit, jadi kita memompakan oksigen ke pasien. Ada dua perawat yang harus di dekat pasien, yang satu memegang cup di mulut pasien supaya tidak ada udara yang terbuang keluar, yang satu lagi memompa udara setiap pasien membuka mulutnya. Karena bantuan pompa nafas itu pasien masih bisa bertahan, nadinya masih ada meskipun tidak teraba ketika hendak ditensi.

Memompa dan memegang cup itu pegalnya luar biasa. Selama dua jam kita berenam ganti-gantian. Saya sempat gantian sampai lima kali dan bolak-balik ke base camp untuk minum dan meregangkan badan. Sekitar 20-an keluarga ada di ruangan ketika itu, ada yang menangis, membaca tahlil, membaca al-quran, dan kita tidak boleh terganggu dengan suara-suara itu.

Saya tetap bolak-balik ke kamar itu, sementara Indah bolak-balik ke kamar lain karena ada yang harus diambil darah, diganti infus, dan sebagainya. Mahasiswa lain, yang tidak ada tindakan di wing-nya membantu kita untuk memompa oksigen.

Menjelang jam 9 malam, perawat penanggung jawab dan dokter sudah menyampaikan kepada keluarga bahwa nafasnya sudah tidak ada,  tapi nadinya masih ada karena bantuan oksigen yang sedang dipompa oleh mahasiswa, pasiennya sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Saya tahu maksud dokter adalah sekarang keputusan ada pada keluarga, meskipun kami sudah pegal-pegal pun kita tetap menunggu keputusan keluarga apa akan dipertahankan atau bagaimana.

Akhirnya ketika perawat dan dokter sudah keluar, salah satu keluarga yang berada di dekat pasien meminta kami untuk mencoba menghentikan pompa. Saat itu yang berada di dekat pasien adalah Indah dan Ais, saya dan Puspa stand by di belakang mereka. Dan ketika pompa dihentikan, nadi pasien menghilang sedikit demi sedikit dan saya langsung memanggil dokter dan perawat penanggung jawab.

Keluarga sudah mengikhlaskan, dokter sudah memutuskan, perawat sudah berjuang sampai akhir. Allah sudah berkehendak. Malam itu untuk pertama kalinya saya berhadapan dengan pasien dying, merangkul istri pasien yang terisak.


Pulangnya saya dijemput A Heri, kakak kedua yang istrinya sedang hamil 37 minggu. Selama perjalanan bahkan setelah sampai rumah, saya masih merenungi proses tadi. Pengalaman spiritual semoga meningkatkan keimanan kita akan hari akhir. Amin.

[CCSA] Fresia Hari Pertama

Ruang Fresia UPF Penyakit Dalam Kelas 2
Day 1
Rabu, 6 November 2013
07.00-14.00 WIB

Hari pertama dinas, saya berangkat dari Cimahi diantar oleh A Heri, kakak kedua. Agak nggak tenang sih soalnya kita berangkat jam 6 pagi, tapi ternyata perjalanan Cimahi-RSHS dengan keselowan A Heri menjalankan motor hanya menghabiskan waktu sekitar 30 menit.

Jam setengah tujuh saya sudah di Gedung Pendidikan RSHS, menunggu Puspa sampai jam 06.45 dan kita agak kesulitan menemukan ruang fresia. Berbekal tanya satpam, saya dan Puspa bisa sampai ruang fresia tepat waktu.

Bu Tati, pembimbing klinik (PK/CI) sekaligus kepala perawat di ruang fresia belum datang, jadi kami hanya bekerja biasa mengikuti ronde keperawatan, bed making, dan memberikan obat. Bed making-nya agak keteteran karena dilakukan dengan sangat cepat, saya sempat mencoba memberi obat dengan mematahkan ampul dan memasukan obatnya melalui selang infus. Lumayan.

Setelah Bu Tati datang kita diorientasi ruangan terlebih dahulu, membagi wing dan shift. Saya mendapat pasien di kamar nomor 5-9, setiap kamar ada dua bed tapi hari itu bed yang terisi hanya 7 bed. Saya bertugas bareng Indah, Nurul, dan Kang Ridho. Kebayang kalau tidak ada mahasiswa praktek, satu perawat harus mengurusi sepuluh pasien. Huwah.

Ketika kita masih orientasi ruangan, Bu Bela yang menjadi pembimbing akademik di ruang fresia, datang dan mendampingi kami untuk menemui pasien. Ada pasien yang memakai CTT dan WSD, ada yang nunggu kemoterapi, ada yang baru dikemo pertama kali dan sudah tiga minggu ada disana, ada yang bercerita kalau dia termotivasi dengan sinetron Surat Kecil Untuk Tuhan (SKUT), macam-macam. Setelah semua bed dikunjungi kami langsung dituntut untuk melakukan pengkajian dan periksa TTV (tanda-tanda vital). Karena tidak ada yang berani melakukannya pertama kali, saya akhirnya mengangkat tangan dan bersedia jadi orang pertama yang melakukan pengkajian ke pasien. Tumbal.

Komunikasi saya tidak terlalu jelek, tapi saya masih tidak terbiasa mendengarkan nadi pakai stetoskop. Kalau mengukur TD, saya biasanya pakai nadi yang di pergelangan tangan, sebenarnya nggak salah tapi lebih bagus di lipatan siku yang kita pasang spigno supaya memastikan spigno itu berjalan dengan baik. Saya juga belum bisa mendengarkan suara nafas pasien dengan benar dan failed ketika menghitung suara bising usus. Stetoskop pun bolak-balik dipakai karena selalu ada yang kelupaan diperiksa. Ketika mengecek refleks tendon pakai hammer pun saya sempat kesulitan karena tidak menemukan tempat yang pas. Dan kesalahan lain adalah kebiasaan saya mengusap wajah sendiri ketika mengobrol itu tidak boleh dilakukan ketika pengkajian karena itu sama saja memindahkan bakteri yang ada di kulit kita ke kulit pasien. Duhh.
Secara keseluruhan lumayan lah untuk pengkajian pertama kali.

Karena ruangan yang saya tempati adalah ruangan penyakit dalam, maka kebanyakan pasien disana adalah pasien kanker. Macam-macam sebenarnya, Ca Colon, Ca Paru, GGK, DM, MM. pasien yang saya kaji mengalami MM (Multiple Myeloma). Sepulangnya dari RSHS saya langsung mencari Askep MM.

Selesai dinas saya langsung menuju perpustakaan di Gedung Pendidikan karena harus menyelesaikan proposal skripsi pada bulan ini. Secara kebetulan saya bertemu dengan A Indra, kakak ipar yang rumahnya saya tinggali selama saya di Cicalengka. Dia sedang kuliah S2 di Kedokteran dan sedang mengerjakan tesisnya.


Selesai di perpustakaan jam 4 karena perpus mau tutup. Saya langsung pergi ke Dago, kunjungan ke D3 FISIP dan pulang diantar oleh Riri, junior saya yang kuliah di FEB, sambil membicarakan langit hitam yang hanya menghadirkan bulan dan satu bintang.

[CCSA] Angkat Janji dan Orientasi

Gedung Pendidikan RSHS
Jumat, 1 November 2013
07.00-14.00

Perjalanan …

Pagi itu saya janjian dengan Wasilah, Ketua BEM Fkep Unpad 2013, untuk pergi angkat janji CCSA jam tujuh pagi di Eyckman. Wasil berangkat dari rumahnya di Rancaekek, saya berangkat dari kosan di Jatinangor. Jam lima pagi saya sudah selesai mandi dan langsung pergi ke Cileunyi, menunggu Wasil. Jam setengah enam Wasil ngasih tahu kalau dia sedang janjian dulu dengan temannya Sinta untuk membawakan name tag Sinta dan Tsaalits yang tertinggal di Rancaekek sementara mereka berdua sendiri sudah di Bandung. Akhirnya saya menunggu Wasil dan itu berasa lamaaaaaaa banget.

Entah apa yang terjadi, mereka salah janjian tempat atau bagaimana, intinya mereka baru bertemu jam enam pagi dan saya baru bertemu Wasil jam 06.10 WIB.

06.15: Tegang, tentu saja. Senior kita teh Suci, telat angkat janji 20 menit karena sakit lalu dia tidak boleh ikut CCSA tahun kemarin dan harus mengulang tahun ini. Dosen CCSA, Bu Bella pun sudah mewanti-wanti kita agar jangan terlambat angkat janji apapun alasannya. Dan membayangkan jalanan Bandung yang macet di pagi hari itu …. Hahh.

06.20: Pagi itu Wasil ngebut sengebut-ngebutnya, saya baru sadar kalau ternyata Wasil bisa juga ngebut seperti itu karena selama ini biasanya dia menjalankan motor dengan santai. Saya yang pagi itu perutnya baru terisi susu ultra langsung dungdeng dan serasa mau terbang.

06.30: Jam setengah tujuh kita masih di Ujung Berung dan itu pun dengan jalanan yang tersendat-sendat. Saya langsung menghubungi Nabila dan Asri untuk mengkonfirmasi kalau kita masih di perjalanan. Horor.

06.40: Bangga juga sama Wasil, diantara pressure khawatir kesiangan dan sedang membonceng saya, dia masih bisa ngebut dengan sadar. Berkali-kali Wasil mengatakan kalau memang rezekinya CCSA tahun ini, insya Allah bisa sampai tepat waktu. Dan berkali-kali saya memberi sugesti kepada diri sendiri ‘tenang, ada Allah. tenang saja.’

Sehari sebelumnya saya baru mengantarkan jenazah teman saya ke Subang, beliau meninggal ketika naik motor di Panyileukan, lalu pagi itu saya malah langsung kebut-ngebutan. Terbayang hal-hal terburuk yang mungkin bisa terjadi, salah satunya ditilang polisi dan perjalanan semakin lama. Kita nggak ada waktu buat ditilang polisi, salah belok, jatuh dari motor, kesenggol, ngedengerin omelan tukang angkot, habis bensin, apapun. Tapi pagi itu perasaan saya penuh dengan rasa percaya bahwa kita akan selamat dan tepat waktu sampai di Eyckman.

Jam 06.50: Akhirnya saya melihat jalan layang. Sebelumnya kita sempat tersendat lamaaaa dengan motor yang membanjiri jalanan, entah jalan apa namanya. Ketika itu penunjuk waktu diantara arloji Wasil, ponsel Wasil, dan ponsel saya berbeda. Ada yang menunjukan jam 7 tepat, jam 7 lebih, ada yang jam 7 kurang 2 menit. Saya langsung menghubungi Hanna dan menanyakan keadaan disana, dia bilang Bu Bela belum datang dan anak-anak masih foto-foto. Syukurlah.

Jam 06.55: Perjalanan lancar selancar-lancarnya. Kita memasuki Jl. Prof. Eyckman yang saat itu sedang diperbaiki sehingga kecepatan Wasil yang masih ekstra membuat kita terguncang-guncang dengan keras. Dinny menelepon tepat saat kita mau masuk gerbang Gedung Pendidikan, ketika Wasil menanyakan siapa yang menelepon hampiiiir saja kita menabrak trotoar sampai Wasil harus spontan membelokan motornya dan saya oleng karena fokus ke telepon. Tapi kita sampai di parkiran dengan selamat, bertemu dengan Tian yang pagi itu juga hampir kesiangan.

06.58: Kita tertawa puas di parkiran. Menertawakan perjalanan pagi itu. Berlari-lari menuju lantai 6 dan bergabung dengan teman-teman lainnya. Sebagian dari mereka yang tahu kalau kita hampir kesiangan memeluk saya dan bersyukur saya sudah datang tepat sebelum kita diminta masuk ruangan. Bahkan Sinta sampai minta maaf karena merasa bersalah.

Tenang, ada Allah.

Angkat Janji …
MC                                                         : Chika 2011
Pembaca Ayat Suci Al Quran       : M. Zaenudin Wasilah
Pembaca Janji                                   : Agustian Barkah Juanda
Wakil Penanda Tangan                  : Dina Sonya dan Aditya Bayu Kusuma
Sambutan                                           : Kusman Ibrahim, Ph.D dan Direktur RSHS Bagian SDM
Pembaca Doa                                    : Rossi Akbar

Ada sepuluh janji yang kita ucapkan, diantaranya akan menghormati pembimbing, CI, perawat ruangan, pasien, dll, akan menjaga kerahasiaan pasien, akan menyelesaikan pendidikan dengan sebaik-baiknya, akan taat peraturan instansi tempat praktek, dan sebagainya. Pak direktur, yang juga dokter spesialis ortopedik, menyampaikan tentang pentingnya pendidikan tinggi dalam profesi keperawatan, bahkan menjadi seorang spesialis keperawatan. Beliau juga menjelaskan mengenai RSHS secara umum dan meminta maaf karena direktur utama berhalangan untuk hadir. Angkat janji tersebut selesai sekitar jam 10 dan ditutup dengan lagu Oleh-oleh Bandung oleh PSM Fkep Unpad.

Selesai angkat janji saya baru sadar bahwa ada satu orang di angkatan kita yang tidak hadir hari itu, Brigita Puspa Juwita, katanya dia tidak diizinkan mengikuti CCSA karena dia tidak mengikuti ujian pra-CCSA, padahal dia tidak ikut ujian karena sedang sakit dan sudah memberikan surat sakit tapi dia tetap harus mengulang tahun depan. Horor ya.

Orientasi …
Ada tiga materi yang disampaikan hari itu, tentang Standar Akreditasi Internasional, Profil RSHS, dan Universal Precaution. Kita diajarkan cara komunikasi efektif ke pasien, cuci tangan yang sudah berubah jadi 6 langkah, penyakit-penyakit yang bisa menularkan infeksi, sejarah RSHS yang dulu bernama Rumah Sakit Rancabadak dan informasi bahwa RSHS adalah pusat rujukan se-Jawa Barat dan yang bisa dirujuk kesana pun hanya yang tingkat keparahannya sudah di grade 3-5. Dari 3000 perawat yang tersedia, RSHS rata-rata menerima pasien 25.000 orang per hari. Huoooooohhh.

Setelah istirahat untuk sholat zuhur dan sholat jumat untuk laki-laki, kita diajak berkeliling ruangan. Hanya sedikit ruangan yang kami kunjungi karena keadaan RSHS yang penuh orang berlalu lalang dan RSHS yang luuaaaaaass banget. Saya pernah bermalam di RSHS ketika sepupu saya, Teh Yomi, dirawat di ruang HCU Kemuning karena komplikasi persalinan. Pertama kali ke RSHS pun ketika SMP, menengok senior yang kecelakaan motor dan diamputasi. Dan saya sering sekali tersesat di RSHS.

Orientasi selesai sekitar jam 2, lalu kita foto angkatan dan haha hihi dulu. Tegang sekaligus excited menjalani mata kuliah ini.


Sepulangnya dari RSHS, saya langsung menuju Jl. Singaperbangsa untuk mengikuti kunjungan ke D3 MIPA dan pulangnya dijemput oleh Dhya, sahabat saya yang tinggal di Katapang. Menikmati perjalanan dan kehidupan.

Video Project [Protagonis Award]

Padahal kerjaan masih banyak. Revisi skripsi belum dikerjain, LPJ belum kelar dan molor seminggu lebih. perencanaan pengkajian komunitas belum diapa-apain. Terus tiba-tiba diminta Kang Zu buat bikin video perpisahan gitu. Nggak ada ide sama sekali konsepnya gimana. Akhirnya saya cuma nanya tentang Protagnis Award.

And then ... saya ketawa-ketawa sendiri dengan hasilnya. Gara-gara ternyata ada beberapa orang yang memberi saya label tergalau. Nggak masalah sih, seniman kalau nggak galau susah menciptakan karya seni yang bisa langsung nyentuh hati orang. Hahaha.

Asumsi saya mungkin karena saya suka ngomong 'nikah' secara gamblang. Dari dulu juga saya sudah begitu. Sejak saya berumur 16 tahun malah, saya selalu bilang ke teman-teman asrama saya kalau saya akan nikah cepat. Itu semacam doa sebenarnya. Lalu misalkan pas akhir BEM 2011, ketika saya ditanya tahun depan saya akan di BEM lagi atau enggak, saya malah bilang enggak ah, saya mau nikah aja. Saya pun ngakak.

Ada apa dengan ngomongin 'nikah'?

Kemungkinan kedua mungkin karena saya sering GR. Yo'i banget, saya emang GR-an, tapi nggak gampangan. Nggak mempan dimodusin, dikodein, diceng-cengin, dan semacamnya. Saya sudah kenyang cuma dijadikan bahan dagelan :D.

Kemarin itu saya pulang dari sekre sekitar jam setengah sembilan. Saya agak risih, bukan karena pulang malam, tapi karena ada Kang Rendi. Haha. Kalau malam-malam lagi ada Kang Rendi bawaannya pengen cepet-cepet pulang soalnya dia islami banget. Saya berasa lagi ketemu sama Ustad saya di pesantren kalau lagi ketemu dia. Makanya saya nulis dia tersoleh, terlepas dari definisi soleh itu apa.

Ini dia project video saya, dimulai jam 9 malam dan akhirnya selesai sekitar jam 12 malam.


Yeah, saya kalau lagi mood emang kadang lupa waktu dan harus selesai saat itu juga. Kalau dibesokin mungkin malah nggak kegarap. Mungkin ada yang heran kenapa di awal ada video Kang Agil lagi ketawa. Menurut saya sih itu ekspresi yang lucu, karena seorang Hilman Agil Satria agak jarang nangkring si sekre kalau memang nggak ada rapat, agenda, dan semacamnya. Terus malam itu dia ada di sekre dan tertular gila dengan teman-temannya.

Mungkin saya akan merindukan mereka. Mungkin juga enggak. Haha. Tapi tawa dan canda yang terdokumentasikan ini akan menjadi tand abahwa kita pernah saling bertaut. Ahay.

Keep Your Eyes Open and Just Close Your Eyes

Saya ingin berbicara tentang dua lagu Taylor Swift yang menjadi soundtrack film Hunger Games. By the way, seminggu lagi Hunger Games 2: Catching Fire mau rilis. Yeay.

Sambil mendengarkan lagu acapella gubahan Mike Tompkins, saya baca-baca tulisan lawas saya di blogspot. Dan, nge-blog adalah godaan terkuat ketika mengerjakan skripsi. Oke, kembali ke lagu Taylor, di lagu pertama yang berjudul Eyes Open. Ada lirik yang berbunyi, keep your eyes open ... kalimat yang meminta kita untuk tetap bertahan membuka mata atas kejadian yang mungkin terjadi. Sementara di soundtrack lain yang berjudul Safe and Sound (apa kebalik ya) ada lirik yang berbunyi, just close your eyes ... seolah meminta kita pasrah menutup mata pada keadaan yang tengah terjadi.

Kedua lirik dalam dua soundtrack Hunger Games ini seolah selaras dengan balasan saya ke twitter @mizanmediautama ketika dia bertanya ceritakan pengalaman inspiratif apa yang membuat kalian sadar bahwa hidup ini indah. Lalu saya menjawab ...




Ya, saya sedang mendalami proses spiritual dalam kelahiran (hidup) dan kematian. Lirik keep your eyes open (tentang bertahan dalam kehidupan) dan lirik just close your eyes (tentang menyerah dalam kematian) kembali menjadi pemicu insprasi saya untuk membuat cerita mengenai kehidupan dan kematian. Apa yang membuat kita merasa usefull untuk tetap bertahan hidup dan apa yang membuat kita bisa merasa berserah bahwa kematian akan menjadi akhir perjalanan kita di dunia.

Jadi begini, setelah menyelesaikan novel 'Spasi', saya berencana membuat novel yang berjudul 'Insting'. Berbeda dengan 'Spasi' yang mengharuskan saya mengambil tema 'Passion', novel 'Insting' ini bertemakan 'Pulang', termasuk pulang kembali ke dalam ketiadaan atau mati. Rencananya (yeah, ini memang baru wacana), tokoh di dalam novel 'Insting' sama dengan tokoh dalam novel 'Spasi'. Sambil praktek di RSHS, saya sambil mempelajari proses lost and grief orang-orang terhadap kematian.

Semoga saya masih bisa menulis novel ^_^

By the way, nge-blog dan menceritakan tentang proyek novel itu benar-benar godaan ketika menulis skripsi.

[Spasi] Pemilihan Judul

Saya memulai novel Gais-Sasi sejak tahun 2011. Selama 3 tahun nge-BEM, selama itu pula proyek ini terbengkalai. Ketika itu tokoh utamanya masih Gais dan Mia, ditambah tokoh pelengkap Wishu, Ken, dan Intan. Setelah saya ada masalah dengan Wishu dan Intan, teman saya yang kuliah di UPI, maka di akhir tahun 2012 nama tokoh saya ganti jadi Gais dan Sasi dengan tokoh pelengkap Mia, Regi, dan Arga.

Awalnya judul novel ini adalah Nersauthor. Akhir tahun 2011, saya ganti jadi Bintang Timur dan Sihir Hujan. Akhir tahun 2012 saya memulai lagi proyek ini dari nol. Lalu tiba-tiba saya masuk BEM lagi, proyek ini jadi tersendat. Tapi di pertengahan 2013, ketika saya KKN dan istirahat sebentar dari BEM, saya mulai menyelesaikan proyek ini. Dan saya baru sadar, judul Bintang Timur dan Sihir Hujan ini terlalu aneh.

Akhirnya ketika saya memandag laptop keyboard sambil memikirkan judul yang pas, saya menemukan tombol Spasi. Lalu saya menulis, "Kamu dan bintang memiliki jarak yang sangat jauh. Maka, jika kamu menyimpan mimpimu setinggi bintang, kamu harus terus bergerak untuk mencapainya."

Bintang itu terletak di luar angkasa. Saya jadi ingat salah satu bab di novel ini yang saya beri nama 'Another story from space'. Ya, mimpi kita ada di bintang, mimpi kita ada di luar angkasa (space), kita dan mimpi memiliki jarak yang sangat jauh. Dan tanpa pikir panjang saya memberi proyek novel ini dengan judul 'Spasi'.

Beberapa kutipan yang membicarakan 'Spasi'.

Dialog Gais dan Arga:



“Oh ya, Ga. Aku mau tanya, kamu tahu nggak kenapa tombol spasi di keyboard laptop menjadi satu-satunya tombol yang tidak diberi label?”
“Emh, emang iya ya? Aku tidak terlalu memperhatikan.” Arga balik bertanya. “Menurutmu kenapa?"
“Menurutku?” Gais berseru girang, semangat untuk menjelaskan hipotesisnya. “Karena … kamu tahu kan spasi dalam bahasa inggris adalah space. Dan space juga bisa diartikan luar angkasa. Jadi, sebenarnya mereka yang tahu rahasia spasi tidak ingin membiasakan mata manusia dengan tulisan dan tombol itu.”
“Rahasia spasi?”
“Bahwa tombol spasi adalah tombol penghubung kita dengan makhluk ekstraterestial.”
“Caranya?”
“Memencetnya di keyboard yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat, dan oleh orang yang tepat.” Gais tergelak seketika, menyukai ekspresi Arga ketika menyadari bahwa hal yang tadinya dia kira serius merupakan lelucon dari Gais.




Dialog Gais dan Regi:
“Re, lo tahu nggak kenapa spasi di tombol keyboard laptop menjadi satu-satunya tombol yang tidak diberi label tapi sering dipakai ketika mengetik. Spasi juga satu-satunya tombol yang bentuknya beda dari yang lain.”
“Itu kamu tahu jawabannya.”
“Maksudnya?”
“Kamu tanya 'kenapa' tapi sebenarnya kamu bukan sedang mencari jawaban. Karena jawaban apapun yang keluar nanti, kamu sebenarnya sudah punya jawaban sendiri.
Gais menerawang. “Karena spasi itu tidak haus popularitas. Dia tidak perlu dikenal meskipun dibutuhkan setiap saat. Dan … spasi itu unik, beda dari yang lain tapi tetap bersatu menjadi bagian dari keyboard. Itu yang aku pikirkan.” 

Celotehan Weekend: No Hope!

Woo. Weekend! Betapa saya sering merindukan weekend sekarang ini. Dua hari tanpa suntikan, selang, urine bag, pispot, bau obat, darah, luka, kursi roda, dan sebagai-bagainya itu. Bukannya saya nggak senang melakukan tindakan keperawatan, tapi jenuh banget rutinitas setiap hari kayak begitu, bertarung antara rasa lelah dengan suara alarm ponsel biar nggak kesiangan dinas. Huwah.

Weekend ini, seperti biasa, saya menumpuk tugas skripsi. Baru satu jam ngerjain inventory, saya udah malas. Nggak sukaaaa, sesuka-sukanya saya menulis, saya tetap tidak suka menulis skripsi.

Setelah kemarin ikut Padjadjaran Sehat, tadinya hari ini saya mau ke VOC-nya PSDMO. Tapi saya batalin. Ada unsur justice, kenapa saya nggak mau pergi ke acara VOC. *naon sih*. Terus karena stuck ngerjain skripsi, saya nge-medsos, saya nonton youtube, saya pesen makan ke sandi dellivery, saya tiduran, terus ke laptop lagi, terus ... eh, ada dua blog yang bikin saya ngakak.

Satu komik yang di-share oleh Elvira, partner saya di Medfo berjudul "Ketika Kau Jatuh Cinta". Tentang seorang akhwat yang nge-fans sama seorang ikhwan, terus berdoa semoga ikhwan itu jadi jodohnya. terus tiba-tiba si ikhwan itu ngelamar dia. Haha.  http://janur.km.unair.ac.id/archives/138#sthash.pERM945F.dpbs

Terus bolg walking ke blog-nya Eci, panitia SPMI. Judulnya Perbedaan Antara Laki-laki, Cowo, Pria, dan Ikhwan. Isinya juga tentang pasangan. Hmm.
 http://graceshaa.tumblr.com/post/66562985478/perbedaan-antara-laki2-cowo-pria-ikhwan

Kegalauan para akhwat umur 20-an ya begini adanya. Kemarin saya diledekin Fadel, aktivis Hubeks BEM cuma gara-gara saya bilang saya mau ke nikahan temen tanggal 30 Nopember nanti. Terus dia bilang, ngebet banget sih nikah. Sampai saya nyeletuk, "Lihat aja ya, kalau kamu umur 30 tahun belum dapet jodoh dan belum nikah. Saya bakalan ketawa depan kamu."

"Ya, saya mah santai. Umur 23-25 mah nikahnya."

"Terus kamu kenal calon kamu setahun sebelum kamu nikah? Saya sih nggak mau. Kalau saya mau nikah umur 23 nih ya, minimal di umur saya sekarang saya udah kebayang mau nikah sama orang kayak apa."

Padahal nggak gitu sih kenyataannya. Saya hanya asal ngomong aja kemarin. Saya nggak tahu mau nikah umur berapa, saya juga nggak tahu mau nikah sama orang kayak apa. Saya hanya ingat bahwa ketika umur saya 17 tahun, saya pernah punya ikrar kalau saya nggak akan pacaran sampai saya umur 20-22. Tua amat. Emang, soalnya saya tahu saya nggak akan nikah di umur belasan.

Terlepas dari definisi pacaran itu yang seperti apa ya, maksudnya adalah saya nggak akan menjalin komitmen 'aneh' dengan lawan jenis. Hasilnya adalah ada teman sekelas saya yang telapak tangannya dia gores silet gara-gara saya tolak, ada yang jadi playboy yang katanya sih gara-gara sakit hati sama saya, ada yang punya ikrar tersendiri ga akan nikah sebelum saya nikah, bahkan ada yang ngomong siapa pun yang mau sama Sarah langkahin dulu mayat dia. Macam begitu itu tuh, pemuda labil jaman sekarang.

Terus sekarang umur 21 saya masih jomblo aja. Haha. Ada yang bilang karma karena dulu banyak yang saya tolak. Ada yang bilang saya terlalu pilih-pilih. Ada yang bilang saya terlalu anti sosial dan menutup hati. Halah. Kalau saya sih lebih percaya bahwa Allah benar-benar ngejaga saya. Secara jujur, saya tidak terlalu susah jatuh cinta kok. Dan saya selalu aware sama perasaan sendiri, mana pria yang menurut saya boleh juga, mana pria yang nggak yang ini deh kayaknya, dan mana pria yang menyebalkan buat saya.

For example nih ya, ada poin-poin yang saya ... emh sok tahu sih sebenarnya, terhadap perasaan saya sendiri.

*Tipe yang boleh juga*
Kalau saya mengidolakan pria, biasanya saya tetap akan ada di lingkarannya tapi jaga jarak aman. Saya nggak akan banyak ngajak ngobrol. Kalau dia ngajak ngobrol pun saya cuma jawab secukupnya. Contohnya adalah pria pertama yang saya idolakan ketika umur 13 tahun. Haha. Anak ustad soalnya dan saya ngefans banget sama ustad tersebut sejak umur 11 tahun. Pertama kali saya menyapa pria itu ketika saya masih murid baru di pesantren tahun 2004.
"Kamu anaknya Ustad -------- ya?"
"Bukah, eh iya hehe. Kok tahu?" Jawab dia usil.
"Saya kan baca semua tulisannya dia di majalah --------. Nama lengkapnya Ustad -------- kan?"
"Bukan." Jawab dia sambil bercanda lagi. "Eh, iya kok. Kok tahu sih?"
"Saya kan fansnya."
Obrolan yang singkat banget dan setelah itu saya sadar, saya jadi ikut ngefans ke anaknya. And you know what, setelah itu saya nggak pernah ngajak ngobrol si anak Ustad tersebut selama sekolah, sampai sekarang di tahun 2013, ketika di nikahan teman kita ketemu lagi. Saya lagi ke parkiran motor buat ngambil Ponsel yang ketinggalan, dia lagi duduk sendirian di tempat duduk dekat parkiran. Obrolan singkat juga sih.
"Eh, rumah kamu itu di ------- ya?" Saya menyapanya dari jauh.
"Iya. Kenapa? Sini atuh, jauh-jauh amat ngobrolnya."
Saya maju beberapa langkah. "Nanti saya praktek sebulan di -------. Rumah kamu disana ya? Nanti bakalan ada mahasiswa Unpad loh yang datang ke rumah kamu. Rumah kamu di RT berapa?"
"Di RT .... RW ...."
"Ooh. Itu bagian kelompok 11, saya kelompok 1. Masih suka ada pengajian nggak di -------? Saya kan selama sebulan bakalan bolak-balik kesana."
"Ada hari Jumat, Sabtu, Minggu. Datang aja."
Just like that. Selama sembilan tahun kita nggak pernah ngobrol dan obrolan sesederhana itu terekam jelas di otak saya. Sudah jadi rahasia umum kalau saya ngefans sama dia dan keluarganya, dan saya tahu kok dia punya pacar. Jadi untuk jadi pasangan ... emh, lupakan.

*Tipe yang bisa jadi*
Teman-teman pria or ikhwan or cowok whatever yang masuk tipe ini banyak banget. Maksudnya mereka masuk kriteria, nggak pacaran, tapi nggak tahu mau sama saya apa enggak. Dan sayanya juga nyantai ngelihat mereka, ngefans enggak, jaga jarak juga enggak. Orang-orang kayak begini biasanya rekan-rekan saya di BEM atau senior saya di Persis. Untuk menghindari fitnah dan geer nggak jelas, saya nggak akan kasih contoh untuk tipe ini.

*Tipe yang kayaknya nggak mungkin deh*
Ini adalah teman ikhwan (oke, karena saya dari pesantren jadi saya sebut mereka ikhwan) yang sudah akrab sama saya sampai saya bisa manggil mereka 'ente' dengan santai. Jadi, kalau saya sudah memanggil kata 'ente' dan berani meledek ikhwan itu berarti saya sudah nganggap dia teman dekat yang kayaknya nggak mungkin deh kalau kita jodoh.
Biasanya ini teman-teman saya di Baraya (angkatan 11 di PPI Cibegol), teman-teman di Brankas (angkatan 17 di PPI Rancabango), dan teman-teman di Brilliant (angkatan 2010 di Fkep Unpad). Kayak teman saya yang masih di Mesir sejak tahun 2010. Kita bisa membicarakan hal paling konyol dan paling serius di Negeri ini. Obrolan paling menyenangkan sekaligus paling menyebalkan. Kalau ada list siapa pria yang nggak mungkin jadi pasangan hidup, orang ini ada di list teratas.
Atau teman saya, yang sudah sekelas sama saya sejak SD, namanya Ardi, ketika kita ngobrol beberapa minggu lalu sebagai teman.
"Ente mah rek nikah teh lain nungguan lulus. Nungguan nu hayang." Terus dia ngakak, ngetawain saya.

*Tipe yang please bukan yang ini*
Maksudnya adalah orang yang dia mau banget sama saya, tapi saya nggak mau. Memang sih, kita nggak boleh terlalu pilih-pilih. Tapi kan nggak boleh salah pilih juga. Biasanya saya bukan jaga jarak aman lagi, tapi mengabaikan. Jahat, ya. Ini pernah terjadi sama teman saya di Baraya, teman sekelas sih, saya tahu banget dia sering gonta-ganti pacar, suka ngomong kasar, orientasi masa depan kurang. Mendekati perempuan ya untuk pacaran. Kan saya nggak mau ya dibegituin. Misalkan orang tersebut bilang akan berubah demi saya, ga ngaruh, saya nggak mau jadi sandaran untuk orang.
Bersandar ke Allah aja, jangan ke saya.
Contoh lain adalah seorang ... pria sih, bukan ikhwan, yang sudah bekerja sebagai tentara. Dia pernah punya pacar yang pakaiannya terbuka, orangtuanya nggak setuju, terus orangtuanya pengen anaknya itu nikah sama saya. Ih ... kan ... bukan cuma dia nggak mungkin tipe saya, tapi juga kayaknya saya bukan tipe dia banget.

*Tipe yang biasa aja sih*
Orang-orang yang menyebalkan masuk ke dalam tipe ini. Bisa karena saya nggak suka karakternya, cara dia ngomong, cara dia mengomentari, cara dia menertawakan sesuatu. Sepele. Tapi kan saya pengen keluarga yang sakinah, toh. Karena saya orangnya open, jadi orang-orang kayak begini biasanya sudah sadar kalau saya nggak suka sama dia.

That's it. Bagaimana saya berteman dengan ikhwan.

Bangga juga sama diri sendiri karena setua ini bisa nggak bikin komitmen (a.k.a pacaran) meskipun sama ikhwan-ikhwan. Teman-teman saya di pesantren, bahkan yang dicap sholehah, pada pacaran soalnya. Kuliah di kampus sekuler, alhamdulillah Allah menempatkan saya di fakultas yang cowoknya dikit banget. Bergabung di BEM, alhamdulillah disibukkan dengan Proker jadi nggak ada space buat jatuh cinta. Terakhir saya mengidolakan orang itu pas di BEM tahun 2011. Setelah BEM bubar, perasaan itu pun bubar jalan.

Jujur-jujuran sama blog (entah siapa ini yang akan baca). Selepas dari pesantren, Cibegol dan Rancabango, nggak ada yang kepikiran kira-kira siapa jodoh saya. Bahkan saya pernah terpikir, mungkin saya akan meninggal sebelum saya menikah. Nggak masalah. Dan ... bahkan, saya pernah berpikir nggak nikah juga nggak masalah. Saya bisa ngurus keluarga yang ada, Mamah, keponakan. Bahkan saya yang dulu pengen nikah muda mulai terobsesi untuk jadi independen woman. Itu saking saya belum jatuh cinta mungkin. Bohong banget kalau ada yang bilang Sarah itu sukanya sama ini, maunya sama itu. Saya sih merasa belum pernah men-judge diri saya suka sama ini atau mau sama itu ya.

Misalkan nih saya ngobrol sama teman saya, obrolan ala remaja labil.

"Sarah sekarang sukanya sama siapa?"
"Wallahu a'lam, Allah yang paling tahu perasaan saya. Kan dia yang membolak-balikan hati saya. Saya aja kadang ragu saya beneran suka, atau cuma ngefans, atau sebenarnya biasa aja. Wallahu a'lam deh. Saya nggak mau sok tahu."

Begitulah.

Saya nggak pernah berdoa, mudah-mudahan si fulan jodoh saya. Nggak ada. No hope. Kalau ternyata nih ya, misalkan saya mengidolakan si anak Ustad terus besok dia nikah sama yang lain, ya udah saya datang ke nikahannya dengan pemikiran mungkin saya bertemu jodoh saya di nikahannya dia. Saya cuma percaya kalau Allah sudah mendatangkan jodoh saya, maka hati saya yang milik Allah ini, akan tergerak dengan sendirinya. Allah yang membuat saya jatuh cinta, bukan manusia.

Kalimat 'Saya mencintaimu karena Allah' mungkin diartikan banyak orang sebagai saya cinta karena kamu taat sama Allah, atau saya cinta karena cinta ini mendekatkan saya sama Allah. Kalau saya, entah kenapa, berpikirnya kalimat 'Saya mencintaimu karena Allah' berarti saya jatuh cinta karena Allah yang menggerakan hati saya untuk jatuh cinta.

Ya, begitulah kurang lebih.

Terima Kasih. Saya Baik-baik Saja. Sudah.

Sore ini agak random. Selesai mengikuti Mubes Rohis QA dan mampir cuma sebentar di acara Medfo, saya transit di kosan dan dapat email dari dosen pembimbing tentang skripsi yang nggak memuaskan. Heuh. Lalu melihat komentar anak eks-BEM di facebook yang mengatakan  bahwa salah satu rekan saya tidak mendapat bimbingan dan pengawasan yang baik. Berasa pengen ngomong depan mukanya, emangnya tahun kemarin ente bisa stand by di BEM. Ngomong doang. Nggak solutif. Bikin opini sendiri. Sok.

Tapi saya juga langsung mengevaluasi diri. Yeaaaa, boro-boro mau membimbing dan mengawasi yang ada di Jatinangor, dalam satu hari saja saya harus membimbing dan mengawasi sepuluh pasien rawat inap di RSHS. Bed making, TTV, ngoplos obat, nyuntik obat, ambil darah, ganti infus, nebulasi, dorong pasien kesana kemari, nananna nininini nunununu dan sebagainya, hoaaaammh. Pulang ke Cimahi langsung dihampiri keponakan yang baru berumur 1 tahun 8 bulan. Akhirnya saya nggak jadi ngekos di dekat RSHS. Hemat biaya hidup. Tapi saya harus tetap stand by di Bandung dalam keadaan sehat dan bugar. Saya nggak mau mengulang CCSA tahun depan. Lulusnya kapan? Nerbitin novelnya kapan? Nikahnya kapan? Lebih berdosa mana, resign ketika dirasakan sudah tidak sanggup untuk memegang amanah atau tetap memegang amanah yang sudah disadari tidak akan dilaksanakan secara optimal? Rasanya pengen nyiram air seember sama orang yang bilang kalau saya masih bisa bolak-balik Bandung-Jatinangor selama CCSA.

Tetiba jadi ngerasa iri banget sama Kang Nizar.

Saya sudah sampaikan resign ke Kang Rendi dan Kang Agil. Bisa saja sih Menteri hanya di PJS-kan ke Sekmen. Tapi kagok atuh jadi PJS sampai Kongres itu mah, sekalian saja dipegang Vira langsung. Akhirnya saya tetap tidak diberi izin karena yaa ... oke lah secara moralitas saya bisa terima, tapi secara nurani, mereka belum bisa memberikan rasionalitas yang bisa masuk ke spirit saya. Akhirnya saya masih harus menjadi Menteri Medfo, and you know what, baru kali ini loh saya meminta sesuatu ke dua orang cowok dan dua-duanya nolak permintaan saya. Sakit banget ditolak itu. Secara ga jelas lagi ditolaknya.

Tapi ya sudah lah, Allah cuma meminta saya buat ibadah, jangan bikin kerusakan di Bumi, salah satunya merusak hubungan sosial. Toh mereka berbuat bergitu pun atas kehendak Allah. Kalau memang harusnya nggak di BEM, pasti dikasih jalan sama Allah. *menghela nafas dulu*. Tapi akhirnya malam ini bikin saya agak bad mood diam di kosan. Sendirian. Nggak ada keponakan yang bisa diajak haha hihi meskipun saya lagi capek. Dan ga ada gairah buat ngerjain skripsi. Ga ada feel buat melanjutkan nulis novel. Emmmh, alau baca-baca ilmu penyakit dalam buat CCSA? *geleng-geleng*. Pengennya diem di pinggir pembatas jalan jembatan layang yang di Surapati itu kalau boleh. Menikmati hutan kota.

Lalu merenung, lalu menulis, lalu nge-blog ...

Tadi sore juga rekan saya yang lain, Sholeh, nanya gimana rasanya sudah tiga tahun di BEM?

Ng ~

Jadi ingat dulu ketika Kang Agil baru pertama kali menjadi Menko dan meminta saya menjelaskan Proker Medfo di Sekre, ada momen ketika saya mengatakan bahwa BEM ini membantu saya untuk terapi sosial soalnya saya termasuk orang yang anti sosial. Yaa sebenarnya nggak terlalu Ansos sih, saya masih bisa berteman dengan siapapun, tapi kalau tidak ada kepentingan dengan orang lain saya lebih suka sendirian. Diam di Sekre dan ngajak anak-anak makan termasuk salah satu strategi sosialisasi yang saya lakukan, kalau nggak gitu saya bisa dikenal sebagai salah satu menteri paling jutek dan pendiam mungkin.

^_^

Pernah waktu kita makan bareng-bareng di Shofa Yoghurt, Kang Ridwan ngomong, "Seneng banget bisa ngobrol (bercanda) sama Sarah. Itu salah satu cita-cita Ridwan. Akhirnya bisa kesampaian."
Bukan apa-apa, di fkep itu saya memang nggak kenal banyak orang. Datang telat ke kampus, pulang paling cepet. Nggak ada sosialisasi banget. Saya nggak kenal banyak senior, apalagi junior. Cuma Rohis QA, Brilliant Family, dan agenda kuliah yang membuat saya terhubung dengan orang-orang di Fkep.

:-/

Tapi beberapa hari yang lalu ada anak BEM namanya Juan, dia ngajak ngobrol saya dan ketika dia tahu saya pindah-pindah tempat tinggal dan sekolah, dia berkomentar, "Pantas saja kalau liat kamu tuh karakternya kemana-mana. Soalnya banyak kenal orang baru ya."

Yeah, tergantung mood :D. (terus tertarik nulis sesuatu tentang karakter, tapi ga sekarang)

Lalu ingatan saya berpindah ketika kumpul Kabin di Sekre. Waktu itu yang memimpin Kang Rendi, dan dia menanyakan kabar masing-masing orang. Lalu saya bilang sehat, imun saya kuat. Selanjutnya Kang Rendi tanya, oke itu fisiknya, kalau psikisnya?

Pengen ketawa sebenarnya pas ditanya itu, saya jadi berasa orang sakit jiwa yang lagi dicek kewarasannya. Tapi memang saya sendiri yang sering mengatakan bahwa saya tidak pernah merasakan sakit apapun secara fisik, cuma kalau dari kejiwaan banyaaaaak banget yang dirasakan. Fluktuatif kalau kata Kang Dadieh.

Saya review lagi alasan saya yang akhirnya menerima amanah ini. Saya berpikir bahwa Allah sayang banget sama saya, berbulan-bulan saya hidup anti sosial karena ayah yang sakit-sakitan, bolak-balik rumah sakit, lalu meninggal dan saya harus ada untuk adik dan ibu saya sementara kakak yang lain sudah berumah tangga dan tinggal di rumah pasangan masing-masing. Kehidupan sosial saya hanya berputar di sekitar Garut-Cicalengka-Jatinangor-Bandung.

Berbulan-bulan saya apatis seapatis-apatisnya di kampus. Seharusnya saya mempertanggungjawabkan omongan saya ke Kang Agil bahwa saya sadar BEM ini menjadi terapi sosial buat saya. Terapi itu nggak selamanya menyenangkan. Pasien kanker yang saya tangani sekarang saja dapat Kemoterapi dan itu sakitnya luar biasa. Tapi kembali lagi, pertanyaannya adalah mau sembuh atau nggak?

Mengenai hubungan sosial, saya termasuk orang yang menilai orang dari karakternya langsung dan kalau saya sudah tidak suka dengan karakter orang itu saya tidak pernah repot-repot untuk mendekatinya. Itu penyakit sosial, saya tahu, jadi tahan tenaga untuk menceramahi saya bahwa kita tidak boleh menilai orang dari luar. Itu akibat kebiasaan saya baca novel. Selalu ada karakter yang secara umum kita sukai, atau kebanyakan orang membencinya, ada ekspresi-ekspresi tertulis yang menggambarkan tokoh ini menyebalkan, tokoh ini sedang marah, tokoh ini tidak menyukai tokoh yang lain, tokoh ini di luarnya begini tapi dalam hatinya begitu. Saya memang belajar kehidupan sosial dari novel, yaaa selain dari kehidupan asrama dan sekolah.

Contoh simpel dari karakter adalah cara berkomunikasi. Dan saya agak peka dengan komunikasi nggak sadar, kayak respon langsung atau raut muka. Misalnya ada yang kebiasaan ngomong belagu secara nggak sadar. Ya udah, di otak saya kerekamnya dia belagu. Atau kebiasaan berkomentar tanpa tahu apa-apa, banyak ngomong tapi nggak guna. Ya udah, di otak saya kerekamnya ini orang sok tahu. Bukan berarti saya membenci loh, saya nggak pernah berani membenci orang. Lah kita sama-sama ciptaan Allah. Saya hanya memperhatikan karakter orang, mana yang menyenangkan, mana yang menyebalkan. Lumayan buat referensi untuk tokoh novel.

Kembali lagi ke BEM (terus saya bingung tulisan ini nanti dikasih judul apa). Jadi ... saya mau bicara tentang psikososial dulu. Ada alasan kenapa saya jarang sakit, atau sakitnya yang ringan-ringan kayak demam, alergi, pusing, lapar. Menurut definisi WHO maupun Depkes, lapar termasuk sakit juga, oke. Itu pun hanya beberapa hari, paling parah ketika demam selesai ikut TOEFL, itu juga karena Hanna teman sekosan saya lagi demam jadi ketularan tapi saya masih kuat ke kampus. Kedua paling parah pas alergi kedinginan karena tengah malam kejebak di tol setelah mengantarkan Restu dari RSHS. Sisanya keluhan biasa aja.

Kenapa saya jarang sakit? Karena imun saya kuat. Yeeee prok prok prok.

Kenapa imun saya bisa kuat? Menurut ilmu psikoneuroimunologi (skripsi, skripsi, yeeeay) yang saya pelajari, tingkat stres atau penyakit jiwa lainnya berpengaruh kepada imunitas tubuh. Mau yang lebih ilmiah? Oke, saya kasih abstrak jurnal dari anak FK UGM.

Kondisi sehat dapat dipertahankan karena individu mempunyai ketahanan tubuh yang baik. Stres terjadi karena tidak adekuatnya kebutuhan dasar manusia yang akan dapat bermanifes pada perubahan fungsi fisiologis, kognitif, emosi dan perilaku. Paradigma yang banyak dianut pada saat ini adalah memfokuskan pada hubungan antara perilaku, sistem saraf pusat (SSP), fungsi endokrin dan imunitas. Responsivitas sistem imun terhadap stres menjadi konsep dasar psikoneuro-imunologi. Mekanisme hubungan tersebut diperantarai oleh mediator kimiawi seperti glukokortikoid, zat golongan amin dan berbagai polipeptida melalui aksis limbik hipotalamus-hipofisis-adrenal yang dapat menurunkan respon imun seperti aktifitas sel natural killer (NK), interleukin (IL-2R mRNA), TNF-dan produksi interferon gama (IFN). 
That's it. Clear?

Ketika saya pahami lebih lanjut dan merunut gejala stres yang saya alami selama di BEM, saya mendapatkan satu hal. Bahwa imun saya bisa stabil karena stres yang saya rasakan bisa diobati secara langsung. How?

Hari itu, ketika ditanya kabar oleh Kang Rendi saya jawab. "Saya sehat kok, imun saya kuat. Pas di pesantren saya justru lebih sering sakit."

Why?

Saya dibesarkan oleh orangtua asuh yang otoriter, tidak mentolerir kesalahan, dan sering marah (menasihati) sambil membentak, itu membuat Sarah 'kecil' stres dan yang lebih membuat stres adalah ketika itu saya tidak bisa protes, saya tidak bisa balik marah, saya tidak bisa mengatakan bahwa saya sakit hati, kesal, tersinggung, dan sebagainya. Mau bagaimana lagi, dia bukan ibu kandung saya, wajar kalau saya berbuat kesalahan dan beliau langsung marah. Mau bagaimana lagi, beliau yang mengasuh dan memberi saya makan, masa saya mau marah-marah sama beliau. Saya tidak pernah berani marah, sedikit pun (pernah sih kelepasan :p), sama orang tua asuh saya. Uwa saya itu teh. Kakanya Mamah. Oke, nggak ada yang nanya.

Nah, ketika di asrama saya keluarkan semua emosi saya. Siapa yang berani membuat saya marah, akan saya buat sakit hati sampai saya ngerasa puas. Oke, saya tahu itu salah. Saat itu umur saya 14-15 dan saya baru belajar mengeluarkan emosi setelah bertahun-tahun ditahan. Bahkan seorang ustad pernah berurusan sama saya, dia marah sama saya terus saya protes balik, akhirnya beliau melempari saya botol yang masih berisi air dengan keras. Kalau saya laki-laki, saat itu dia pasti langsung menampar wajah saya. Setelah itu Ustad tersebut tidak mau mengajar ke angkatan kami selama seminggu. (jadi pengen nulis tentang kehidupan di asrama. nanti lah)

Kasus lain, saya pernah membuat sakit hati beberapa santri puteri, ada yang sampai nangis. Akhirnya saya dimusuhi semua santri puteri seangkatan. Didiamkan oleh teman sendiri itu horornya masih berbekas. Sejak saat itu saya berjanji sama diri sendiri, saya nggak akan berurusan sama perempuan, nggak akan bikin sakit hati anak perempuan, dan kalau ada sesuatu yang saya tidak suka dari teman perempuan saya tidak akan mengatakannya langsung ke perempuan itu. Dan itu jadi kebiasaan sampai sekarang.

Respon negatif yang saya terima ketika saya marah malah membuat saya semakin stres. Akhirnya saya jadi gampang sakit. Ditambah dengan keadaan asrama yang tidak terlalu higienis, jam makan dan jam tidur yang nggak teratur, maka sempurnalah penyebab saya sering sakit-sakitan di asrama.

Lalu bagaimana ketika saya di BEM? Dua kategori yang saya hindari untuk meluapkan emosi. Perempuan dan staff, termasuk Sekmen. Dan akhirnya orang-orang yang menjadi korban adalah Kang Rendi, Kang Agil, Kang Ridwan, Kang Azis, dan Kang Dadieh. Kalau ada nama lain yang pernah saya sakiti, terutama lewat ucapan, itu berarti saya memang marah sama orang itu, bukan karena orang itu sekedar jadi korban.

Entah berapa kali saya harus meminta maaf sama para 'korban'. Bukan salah mereka karena mereka laki-laki, bukan salah mereka juga karena mereka nyaman jadi tempat saya meluapkan emosi. Saya aja yang memang 'terganggu'. Saya sendiri sempat berpikir, setidaknya kalau saya resign, mereka tidak akan jadi korban saya lagi. Saya biasa marah-marah lewat tulisan. Lalu selesai. Tapi kalau ada teman ngobrol, otomatis saya marah di depan mereka.

Pernah suatu hari saya memberi pesan ke Kang Azis, 'Selalu siap sedia maafin sarah kapanpun yaa. Kalau ada sesuatu yang ga termaafkan minta sama Allah supaya kesalahan sarah langsung dibalas di dunia yaa. Atau doain sarah biar sadar dan ga ngulangin kesalahan itu.' Waktu itu momennya lagi sedih karena saya baru menangani pasien sekarat. Saya ga tahu ada berapa orang lagi yang terzolimi, tapi saya lebih siap kalau kesalahan saya dibalas di dunia saja.

Sering sekali ketika saya marah, emosi, nggak nyaman karena sesuatu, saya SMS panjang-panjang dan saya nggak peduli mereka balas atau nggak. Lebih seringnya ke Kang Rendi dan Kang Agil karena garis pelaporan kementerian saya ada di dua orang tersebut. Bersyukur sama Allah karena saya dikasih legalitas untuk marah sama orang, mereka sendiri yang bilang kalau ada apa-apa langsung disampaikan, ya emosi saya termasuk 'apa-apa'. Dan lebih seringnya ketika saya sudah selesai menulis SMS panjang-panjang, sudah mengirimkannya, lalu perasaan saya pun lega. Rasa stres yang saya alami langsung surut sedikit demi sedikit, rasa kesal saya terbang menjauh bersama SMS yang sudah kekirim, sampai akhirnya saya lupa bahwa beberapa saat yang lalu saya sedang marah.

Itu yang membuat imun saya kuat dan akhirnya saya jarang sakit. Karena tidak ada emosi yang ditahan-tahan. Emang iya kayak begitu? Ada lagi penjelasannya:
Peneliti dari Universitas Valencia di Spanyol tertarik dengan apa yang terjadi pada tubuh manusia ketika sedang marah. Dan temuan ini muncul untuk mendukung teori psikologi umum yang menyatakan bahwa 'ventilasi' emosi lebih baik untuk kesehatan mental ketimbang membiarkannya tetap terkunci alias dipendam.
Penelitian ini menemukan bahwa mengekspresikan kemarahan dapat meningkatkan aliran darah ke bagian otak yang terlibat dengan perasaan bahagia.
Tapi kehidupan manusia itu kan King of Relativity ya. Jadi relatif, tergantung kondisi tubuh orang itu juga, ada juga orang yang lebih sehat ketika menahan marah karena terhindar dari hormon noradrenalin yang dapat memicu penyempitan pembuluh darah lalu akhirnya mengakibatkan dadanya sesak dan nafasnya tersengal-sengal. Menurut saya sih yang terpenting kita mengenal tubuh kita sendiri, apa yang bisa membuat kita lebih sakit dan apa yang bisa membuat kita lebih sehat. Naha asa jadi kuliah keperawatan jiwa -_-.

Dan hal penting lain dari marah adalah dampak untuk hubungan sosial. Ini yang sering saya takuti ketika saya dicap pemarah dan dijauhi semua orang. Keempat kakak saya pernah kena emosi saya ketika marah, bahkan Teh Ami yang pendiam pernah nangis gara-gara saya, saya inget banget waktu itu kita lagi kumpul setelah sholat idul fitri. Saya marah, kapan lagi saya bisa marah coba. Selesai lebaran saya harus kembali ke keluarga asuh saya. Tapi mereka nggak pernah menjauhi saya karena saya keluarganya.

Lalu bagaimana dengan keluarga-keluargaan di BEM? Satu orang menteri pernah diberhentikan, atau apapun namanya, karena dia ... apa ya, kalau kata Presma sih, beliau tidak bisa menjaga hubungan sosial dengan baik, beliau marah dan berkata kasar di depan Presma, setengah dari Kabin pernah disakiti sama beliau, ya ... macam begitu lah. Alasannya tentang perilaku dan hubungan sosial loh, bukan karena alasan Proker, kinerja, atau macam-macam alasan profesional lainnya. Tuh, (yang katanya) keluarga itu akhirnya diberhentikan karena perilaku dan hubungan sosial yang nggak baik.

Ngaca! Saya langsung ngaca! Hubungan sosial sebagus apa yang bisa saya bina. Perilaku menahan emosi apa yang bisa saya kontrol. Kalau saya tidak belajar banyak dari kehidupan sosial dan kalau saya laki-laki, mungkin saya bisa melakukan hal yang lebih buruk dari menteri yang diberhentikan tersebut. Untuk ukuran perempuan kata-kata menyakitkan adalah sindiran halus. Saya sering mengucapkannya ke Kang Rendi. Kata-kata seperti 'Anda bukan Dewa yang titahnya harus saya turuti terus.' atau kata-kata 'pernah mikir ga sih'. Menurut saya sih itu kurang ajar ya untuk ukuran perempuan dan adik kelas, pernah pesantren pula.

Dan ... ya, Allah. Pahala mereka pasti ngucur banyak banget lewat saya, atau orang-orang yang lebih pemarah dari saya. Ah, please, saya nggak mau disebut pemarah. Mana ada laki-laki yang mau sama wanita pemarah. Ada mungkin sih, kan ada Allah yang mengadakan. Lagipula ada juga sebagian orang yang masih menilai saya pendiam. Fleksibel sih, saya hanya akan berani marah kepada orang-orang terdekat dengan permasalahan yang memang bikin saya nggak nyaman. Jadi kalau ada yang pernah saya marahi berarti orang itu dekat sama saya dan hal itu mempengaruhi kesejahteraan hidup saya.

Well, kembali ke karakter. Ada respon yang berbeda-beda dari masing-masing orang yang pernah kena semprot sama saya. Kang Rendi selalu merespon positif apapun yang saya katakan dan itu membuat saya nyaman-nyaman aja marah sama dia. Terlebih dia suka meminta diri untuk menjelaskan, ya sudah makin lanjut lah saya marah. Saya berpikir ya udah sih, Kang Rendi mah baik, dizolimin juga nggak akan mendoakan saya yang enggak-enggak. Kalau Kang Agil selalu langsung mengevaluasi diri dan itu membuat saya segan buat marah lagi. Pernah Vira bilang kalau dia kasihan lihat Kang Agil, mungkin karena salah satu menterinya macam saya ini. Terus saya jadi ngerasa antagonis karena udah jahat sama Kang Agil. Makanya saya sempat minta kalau koordinasi saya langsung ke Pres-Wapres saja, saya nggak mau marah lewat Kang Agil lagi. Dianya mah nggak apa-apa (tahu sih kadang dia marah tapi ditahan), tapi orang lain kan langsung mikirnya saya yang jahat.

Kang Dadieh lebih polos, biasanya saya akan marah sebentar-sebentar, lalu biasa lagi, terus marah lagi, direspon tapi nggak ngaruh apa-apa, terus biasa lagi. Dan kang Azis lebih aneh, bisa-bisanya dia ngajak senyum pas saya lagi marah. Tapi itu jadi bikin saya nggak tega marah sama dia. Saya cuma sempat marah dua kali ke dia (yang saya ingat doang). Ketika saya telat mengumpulkan berkas beasiswa karena saya bingung dengan berkas-berkas yang harus disiapkan ditambah waktu itu sedang KKN, satu lagi ketika adik saya repot banget cuma mau ikut PEF doang harus diurus sama saya sementara saat itu saya lagi fokus ujian pra CCSA. Kang Ridwan lebih aneh lagi, entah mungkin karena di otak saya Kang Ridwan itu kocak jadi respon apapun yang dia berikan malah bikin saya ketawa. Jadi nggak ada efek apapun ke sayanya. Kesel masih ada, urusan nggak beres. Saya juga nggak terlalu sering marah ke dia.

Berbekas. Mungkin ada yang masih berbekas ketika saya selesai marah. Itu yang selalu saya khawatrikan, efek dari marahnya saya. Sayanya baik-baik saja, udah nggak marah, malah kadang saya lupa kenapa waktu itu saya marah. Tapi orang yang saya marahi? Biasanya saya akan menyapa duluan orang yang sudah saya marahi dan ... yaaa karena orang yang saya marahi kebanyakan laki-laki jadi selow aja. Mungkin ada sih yang sakit hati, kayaknya sih ada, tapi mungkin juga nggak ada. Nggak tahu deh.

Seenggaknya mereka nggak talk too much, nggak sedikit-sedikit dimasukin ke hati (kelihatannya sih gitu), dan terlebih lagi kapanpun saya marah nggak ada hubungan sosial yang rusak. Bahkan saya pernah terus terang ke Kang Dadieh dan bilang, "Maaf ya Kang, Kang Dadieh baik banget sih jadi enak buat dimarah-marahin."

Daaaan, by the way, emosi saya sama anak eks-BEM yang berkomentar di facebook sudah hilang setelah didistraksi dengan menulis, yeey. Pasca BEM saya akan kembali menjadikan tulisan sebagai media meluapkan emosi.

Oke, dicukupkan sekian tumpahan sisa-sisa perasaan hari ini. Karena saya lapar, baru sadar belum makan nasi seharian karena bolak-balik jalan kaki Faperta-Fkep terus. Dan ... apa ya, terima kasih sepertinya tidak cukup. Makanya saya menulis panjang-panjang, supaya perasaan saya bisa terjelaskan secara gamblang. Intinya, sewaktu-waktu saya mungkin marah, tapi bukan berarti benci. Saya tidak pernah berani membenci siapapun. Dan sewaktu-waktu saya mungkin tidak mampu mengucapkan maaf secara gamblang, bisa karena khawatir yang dimarahi masih sakit hati, atau sayanya yang marahnya belum keluar semua, atau emang lagi nggak mood buat maaf-maafan :p.

Terakhir.
“Dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah saw. : (Ya Rasulallah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Seseorang itu menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah.”(HR. Bukhori )

[Spasi] No Writer's Block

Sepertinya banyak penulis lain mengalaminya. Ketika Writer's Block terus tiba-tiba menemukan dialog kunci. Rasanya pengen jumping pakai trampolin.

Saya selalu berpikir kalau mau menciptakan tokoh yang konsisten, saya nya juga jangan galau. Itulah mungkin, kenapa banyak penulis atau seniman lain yang anti sosial. Karena hubungan sosial mereka akan mempengaruhi hasil karya mereka. Ini cuma menurutku loh ya.

Sejak saya menciptakan karakter Shaula Sasikirana (Sasi), saya sudah tahu dia maniak belajar dan dia tidak suka berinteraksi dengan banyak orang. Jadi saya tahu kalau Kedokteran bukan passion-nya karena profesi dokter nanti menuntutnya untuk bekerja melayani banyak orang. Saya jadi bingung bagaimana nasib Sasi. Tapi kalau dari awal dia saya masukan di jurusan yang lebih sains, seperti MIPA dan sebagainya, terus konfliknya dimana? Pelajaran kehidupannya dimana?

Saya tahu pada akhirnya Sasi akan menjadi ilmuwan tapi bagaimana menyadarkan Sasi bahwa dia bisa dan harus mengejar passion-nya untuk menjadi ilmuwan sejak awal. Tokoh yang lain sudah menemukan nasibnya, Sasi belum. Sampai akhirnya saya berpikir ya udah, karena kehidupan Sasi biasanya lurus-lurus saja, kali ini pun nasib dia adalah kuliah rapi, jadi dokter, lanjut S2, lanjut residen, baru profesor. Tapi kok nggak ngerasa ada pemantiknya.

Sampai akhirnya ketika saya sedang di Cicalengka, lahirlah dialog.

"Kalau passion kamu adalah belajar dan kamu harus bekerja, ya sudah, pekerjaan kamu adalah belajar." 
Sasi mengerutkan kening, khawatir Marwan tengah meledeknya. "Sampai kapan aku hanya jadi pelajar? Aku tahu kita tidak seharusnya berhenti belajar sampai akhir hayat. Maksudku ... kita harus menjadi seseorang kan. Memiliki profesi yang menuntut kita untuk terus belajar." 
"Kamu bisa memiliki profesi sebagai pembelajar murni. Fokus kepada pengembangan ilmu, menjadi ilmuwan. Menurutku itu juga profesi."

And that's it! Itu kata-kata yang aku butuhkan untuk menyadarkan Sasi dengan passion-nya. Dan aku tidak tahu betapa lamanya aku harus menunggu lahirnya dialog sesederhana itu. Dialog yang ... bisa dibilang biasa banget buat orang yang nggak ngalamin ... tapi dialog semacam itu juga yang memunculkan ekspresi Kugy seolah-olah dia berpikir, "Ya, ya. Kamu benar. Itu yang selama ini ada di kepalaku dan aku hanya butuh seseorang untuk mengucapkannya." Dan itu adalah ekspresi yang ... apa ya, kayak orang menemukan kunci harta karun buat mimpinya. Dan dia baru sadar kalau kunci itu selama ini ada di saku celananya. Saya suka ekspresi itu.

Ekspresi Kugy (dua gambar paling atas) saat Keenan berkata,
"Apa yang orang bilang realistis belum tentu sama dengan apa yang kita pikirin.
Ujung-ujungnya kita juga tahu kok mana yang diri kita sebenarnya,
mana yang kita bukan diri kita, dan kita juga tahu apa yang pengen kita jalanin."

 

No writer's block (again)!

[Dialog Kakak-Adik] Berorganisasi dan Kuliah


  • Hari Ini
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    teteh
    janten ka teh ami?
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    jadi dong
    mamah nuju di teh ami
    hayu urang ka oyen
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    kerjasama dan mengkoordinir orang itu penting ya
    lpj kan buat hanya tugas seorang sekre aja, kalo bendahara sama anggotanya ga ngasih data ya ga kelar kan lpjnya
    *bukan
    kenapa coba laporan keuangan harus ngintil ke laporan sekretaris
    oh termasuk ke administrasi juga ya haha
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    bukan harus dikerjain sekertaris sih, tapi bendaharanya ngerjain (kan dia yang punya data) tapi ditemenin sekertaris kalo ditagih susah.
    ditungkulan
    ya tanya kendalanya dimana? ada yang ga ngerti? ada data yang hilang? namanya juga belajar team work, bantu si bendahara buat menyelesaikan tugasnya. tapi ula diculkeun
    *ulah
    kan koordinasi
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    nah itu, dd ga ngerti dd punya wakil tapi dd ngerjain sendiri
    ga bisa nyuruh orang
    kenapa coba wakilnya ga hideung sendiri nanyain --"
    nah kalo bantu bendahara, dd nya suka ikutan mumet
    suka ngerasa egois gimana gitu, tapi kalo lagi nyalse suka dibantuin sih --"
    salah dd nya juga yang tidak berani berkata-kata
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    wakilmu tidak pintar berorganisasi kali
    berkomunikasi maksudna ketang
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    dd oge --"
    terus wakilnya kan punya vertigo jadi suka ga tega nyuruh --"
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    jadi dia punya barrier di dirinya, yg ga mau nanya duluan, minta kerjaan duluan. kalo barrier kan terbukanya emang harus diserang sama kitanya
    atau karena makna wakil selalu diartikan kalo kerjaannya adalah mewakili jika ada yg ga bisa dikerjain ku dd. terus wakilna ngerasa dd bisa melakukannya
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    barrier itu apa ya
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    pertahanan tubuh
    semacam tameng
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    oh ga bisa nyerang, terus dd nya kaya yang ga percayaan soalnya bendahara aja suka lebih ngaret daripada dd yang sama-sama kelas 12
    jadi takutnya kalo dibagi-bagi malah tambah molor pekerjaannya --"
    alay
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    pokoknya kalo mau ngerjain kerjaan orang lain, meski emang dia yg untung kita yg cape. tetep izin aja dulu. kayak misalnya, "eh laporan harusnya masuk tanggal 25 loh, maaf ya daripada ngaret saya kerjain dulu. tapi kalo kamu mau ngerjain sekarang ga apa2."
    kalo teteh sih pengalaman malah punya sekertaris menteri yg sibuk banget sampe ga pernah ngirim tugasnya.
    teteh udah bilang deadline nya tanggal 30 tiap bulan
    dan dia harus ngirim dulu ke teteh tanggal 28 supaya bisa dibaca dulu sama teteh
    kalo misal tanggal 29 dia ga ngirim2, biasanya teteh ancang2 bikin laporan sendiri
    terus kalo tgl 30 ga ngirim juga teteh tegur
    kalo lebih dari tgl 30 dia ga ngerjain, teteh bakal bilang udah ga usah dikerjain, udah beres kok.
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    dd mah te wantun negur, isin pasti bilangnya sambil sinis --"
    oke terimakasih telah mendengarkan kicauan saya
    dd kuliah kamana nya
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    yaa ga negur gimana2 juga, nanyain kan wajar
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    hahaha, ya ya ya
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    ya wajar umm keduanya SITH ITB gitu?
    oh iya tadi kan dibagiin hasil kuisioner tentang minat pekerjaan, dd minat kerjanya lebih ke guru, dosen,psikologi yang bisa ngaruhi orang lain
    wkwkwkwk
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    singkatan naon eta teh?
    tuh, udah psikologi sih
    kalo psikologi unpad setuju
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    sekolah ilmu teknik hayati ada yang sain sama ada yang rekayasa asa namah
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    naha bet kadinya? psikologi unpad sama fmipa itb we sih
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    euh, masalahnya temen sekelas yang se-sekolah rank-8 mau kesana
    soalna anu lebih rendah ti FMIPA eta, SITH kan aga baru bilih unpad alim dijadikan yang kedua
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    meuni geuleuh
    ari psiko unpad jeung mipa itb ageungan mana?
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    duka, kela aya sih datana PG taun kemaren
    atuda kumaha, da kitu atuh
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    psikologi unpad jeung fisika upi atuh
    ari nilai dede bisa masuk psiko unpad teu?
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    ga tau, nah kalo prediksi nilai biasanya di GO suka ada, tapi kalo di lesan dd sekarang ga ada teh
    tapi taun kemaren pas dd di GO kalo mau masuk FMIPA itu rata-ratanya 85, berapa gitu, nahdd masuk kategori sih
    nah, fmipa 52,94 pend. fiisika :39,51 fisika : 43,08 psikologi : 53,28
  • Sarah Nurul Khotimah
    Sarah Nurul Khotimah

    emh, mepet2 nya mipa itb jeung psiko
  • Diah Rodiyah Juhara
    Diah Rodiyah Juhara

    puguhan


    to be continued *kaselang sholat magrib*