Skip to main content

Tulisan 'Sarah El Zohrah' yang Berserakan

Dulu saya pakai nama pena Sarah El Zohrah sampai saya lebih dikenal dengan nama itu daripada Sarah Nurul Khotimah. Kini saya sudah memakai nama Sarah Nurul Khotimah di semua akun jejaring sosial. Terakhir, ketika tulisan saya dipublikasikan oleh majalah Blitz edisi November, saya pakai nama Sarah Nurul Khotimah.

Sudah setahun ini saya macet menulis. Banyak yang harus dipikirkan, kuliah, keluarga, dan organisasi. Saya mundur di salah satunya, yaitu organisasi. Pokoknya di tahun 2013 tidak ada lagi yang namanya Sarah Nurul Khotimah si aktivis yang doyan nongkrong di Sekre. No, no, no.

Saya sedang mencari independensi diri. Lagaknyaaa. Dan independensi diri ini saya temuka di dunia menulis. Yaa, saya belum menjadi penulis profesional tapi sudah nyampah banyak tulisan ketika tahun 2010. Di tahun 2011 dan 2012 saya berhenti menulis karena fokus di organisasi. Jadi, kalau ada yang beranggapan saya berhenti berorganisasi karena ingin menulis. Yap, itu benar.

Saya tiba-tiba kangen dengan nama Sarah El Zohrah, lalu saya tulis di Google 'Sarah El Zohrah'. Ada banyak result. Cieee ... Dan tiga diantaranya membuat saya tercengang.

Pertama adalah http://www.anggareni.net/pecandu-rindu.html
Blog milik seseorang yang bernama Anggraeni itu memasukan puisi saya jaman lebay, judulnya Pecandu Rindu. Asli, itu puisi jaman saya masih suka geje menggalau. November 2010 bikinnya juga. Salah satu cuplikan puisinya adalah 'Aku selalu rindu ... sebab perasaanku tak terbendung oleh friksi.' Huahahahaaa demi apa lah aku ngakak bacanya. Agak ajaib juga entah apa yang terjadi ketika itu sampai saya membuat puisi seperti ini. Yang jelas saya berterima kasih kepada orang-orang yang sudah mengapresiasi puisi saya dan tetap mencantumkan nama Sarah El Zohrah sebagai penciptanya. Terharu :').

Yang kedua adalah http://tiyaradam.wordpress.com/2011/10/05/cinta-salah-sambung-buku/
Yang ini lebih ngakak lagi. Saya lupa bikinnya kapan. Yang jelas isi cerita ini adalah masa-masa abege ketika SMP sampai SMA dalam menilai cowok. Tulisan yang ada disini judulnya Dari yang Jutek Hingga yang Gokil di urutan 11. Saya sendiri lupa tepatnya isi cerita itu apa dan aku baru tahu kalau ternyata tulisan itu sudah dibukukan tahun kemarin. Benar-benar lah.

Yang ketiga adalah http://cupid3.wordpress.com/2011/08/19/seribu-cinta-yang-menyala-persembahan-apik-untuk-keluarga/
Sama nasibnya seperti tulisan Dari yang Jutek Hingga yang Gokil. Saya menulis cerita ini entah kapan, mengirimnya entah kapan pula, dan baru tahu sekarang bahwa tulisan ini dibukukan karena diterbitkan tahun 2011 akhir. Itu adalah masa-masa aku terobsesi dengan organisasi.
Oh ya, kembali ke tulisan yang mereka muat. Tulisan yang dimasukan ke dalam buku ini judulnya Cinta Kasih Kelapangan Hati. Tentang keluarga kalau nggak salah. Saya ingat ketika menuliskan cerita ini dan meminta ibu saya untuk membacanya dan dia menangis.

Daaan ... begitulah. Tiba-tiba saya terbangun dengan suatu kesadaran bahwa ternyata dulu saya memang sangat rajin menulis, mengirimkannya, dan mendapatkan respon dari orang lain. Sooo ... tunggu apa lagi. Saya akan merindukan Sarah Nurul Khotimah si aktivis yang kerjaannya aksi di Jakarta, tapi aku juga sangat merindukan Sarah El Zohrah si tukang begadang di depan laptop sambil memuntahkan imajinasinya.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…