Skip to main content

Pilihan dan Proses

Ketika kita dilahirkan menjadi seorang manusia kita tidak bisa memilih melalui sperma siapa kita akan berbenih dan di dalam rahim siapa kita akan dikandung. Bukan kita pula yang memproses kejadian pembuahan tersebut, perubahannya dari semenjak janin menjadi bayi. Dan juga pilihan dan proses yang dialami oleh si bayi merah, menjadi batita, lalu balita. Siapa yang memilih? Siapa yang memproses? Siapa aku? *oke ini lebay.

Well, hari ini Presiden Mahasiswa Terpilih, Kang Wildan, mengirim SMS ke nomor saya, menelepon ke ponsel adik saya. Sumpah, saya jadi berasa jadi buron dan saya memang terbiasa menjadi buron kampus.

Kang Wildan membicarakan tentang ... you know what, apa yang akan dibicarakan seorang Presma baru kepada seorang eks-BEM yang pernah mendapat penghargaan BEM of the Month (oh yeah *hwek)kalau bukan masalah ....

Saya mau minta tolong untuk bantu saya di Kabinet ini.

Sedih lah. Kayak orang lagi ditembak, bukan ditembak buat jadi kekasih pujaan hati, tapi ditodong pistol beneran. Biasanya orang yang ditodong pistol akan menyerah, angkat tangan, dan menuruti apa yang dikatakan oleh sang penodong. Sementara saya ingin memilih mati saja, tapi itu sulit.

Beberapa minggu sebelum ini, saya ditodong juga untuk jadi Kadep di Rohis QA (lagi) setelah tahun lalu menerimanya dan sudah lengser. Rasanya sesak nafas, salting ... ehm, yang nodong akhwat kok jadi saya asli salting karena tawaran itu. Jabatan, yang buat saya jabatan itu panas membara. Saya tidak pernah berfikir akan berada setinggi itu ketika mengikuti sebuah organisasi. Organisasi manapun.

Ajakan di Rohis QA saya tolak, dan saya merasa sangat bersalah bergelimang dosa karena saya menolak untuk berjuang di jalan Allah. Tapi saya tetap menjadi Presidium Sidang di Rohis QA dan saya berjanji akan membantu mereka dan mengikuti kegiatan yang mereka adakan. Tanpa ikatan.

Sebenarnya pilihan tertinggi adalah ketika memutuskan untuk tidak menjadi Ketua Himi Persis PK Unpad. Saya bahkan tidak mengikuti pemilihannya karena bentrok dengan jadwal kuliah. Dan itulah organisasi pertama yang saya tinggalkan di Unpad. Entahlah, gelimangan dosa saya sepertinya sudah membanjir karena saya hengkang dari organisasi dakwah.

Lalu bagaimana dengan permintaan Kang Wildan. Ya balik lagi ke kang Wildan yang sudah saya kenal dari semenjak saya mengikuti BEM. Saya sudah mengatakan 'tidak' dengan sangat hati-hati dan sangat disesalkan dia malah berusaha meyakinkan saya. Sedih ... Untuk menolak tawarannya saja sudah sulit apalagi untuk mendebat rasional yang sama-sama kami anggap benar.

Saya sendiri merenung, mungkin tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti ini, tapi pastinya bukan saya saja yang mengalaminya. Dan kenapa saya? Apa yang telah saya lakukan? Apa yang telah mereka lihat? Apa yang mereka pikirkan sampai menganggap Si Sarah ini pantas.

Sedih ... sebenarnya proses yang ingin saya lalui adalah hanya satu tahun di organisasi, hanya tahun pertama dan saya jalani dengan sungguh-sungguh. Mungkin kesungguhan itulah yang mereka lihat dan mereka menganggap kesungguhan itu tidak ada tanggal kadaluwarsanya. Sedih ...

Pilihan dan proses mungkin sejatinya adalah miliki kita, dan kita yang menjalani. Dan kita ... adalah individu yang bersosialisasi. Socius-individum. Saya tahu penutup ini nggak nyambung dan ngawur, biarin, yang penting mint.

Note: Besok saya akan bertemu dengan Kang Wildan untuk menyelesaikan hal ini. Katakan TIDAK padanya. FIGHT!

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…