Search This Blog

Teori Absolutivitas (2)


Teori Absolutivitas kedua ini didasarkan pada eksperimen yang telah dilakukan Edwin Hubble tentang redshift (pergeseran merah) galaksi-galaksi, George Gamow tentang teori Big Bang (Ledakan Dahsyat), dan Arno Penzias-Robert Wilson tentang Cosmic Background Radiation(Radiasi Sinar Kosmik).
 Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson California, ahli astronomi Amerika, Edwin Hubble membuat salah satu penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi. Ketika mengamati bintang-bintang pada galaksi jauh dengan teleskop raksasa, ia menemukanredshift (pergeseran merah), yaitu bahwa bintang-bintang itu memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa bintang-bintang ini “bergerak menjauhi” kita. Sebab, menurut hukum fisika yang diketahui, spektrum dari sumber cahaya yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung ke warna merah. Selama pengamatan oleh Hubble, cahaya dari bintang-bintang cenderung ke warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang ini terus-menerus bergerak menjauhi kita, berarti juga bahwa alam semesta terum mengembang dan meluas semakin besar. Pergeseran warna merah ini sesuai dengan efek Doppler pada gelombang elektromagnetik dan dari kesesuaian dengan pergeseran merah Hubble ini dia telah mampu menentukan kecepatan gerak relatif dari Bumi. Selain itu berdasarkan pengamatannya juga dapat ditentukan hubungan linier antara jarak dengan kecepatan gerak galaksi.
Jauh sebelumnya, Hubble telah membuat penemuan penting lain.Bintang dan galaksi bergerak tak hanya menjauhi kita, tapi juga menjauhi satu sama lain. Satu-satunya yang dapat disimpulkan dari suatu alam semesta di mana segala sesuatunya bergerak menjauhi satu sama lain adalah bahwa ia terus-menerus “mengembang” dari pengamat yang berada di bumi. Fakta ilmiah dan bukti nyata ini menunjukkan bahwa Bumi adalah pusat alam semesta.
Pada tahun 1948, George Gamow mengemukakan gagasan tentang teori Big Bang (Ledakan Dahsyat).  Teori ini menyatakan bahwa berdasarkan hasil pengamatan Edwin Hubble tentang seluruh galaksi yang bergerak menjauhi bumi, apabila ditarik suatu waktu yang telah lampau, maka akan didapatkan bahwa galaksi-galaksi tersebut sagat dekat sehingga alam semesta ini dahulunya adalah sebuah titik singularitas bervolume nol dengan kerapatan yang tak terhingga lalu meledak denga ledakan yang sangat dahsyat. Ia juga menyatakan bahwa setelah terbentuknya alam semesta melalui peledakan dahsyat, ada radiasi yang melimpah di alam semesta yang tertinggal karena peledakan ini. Lagipula, radiasi ini tersebar merata di alam semesta.
Pada tahun 1965, untuk membuktikan sisa radiasi Arno Penzias dan Robert Wilson yang bekerja di Laboratorium Bell Telephone melakukan uji coba dengan sebuah alat penangkap microwave yang sensitive dalam penelitiannya tentang system komunikasi. Mereka memenemukan gelombang-gelombang ini. Radiasi yang disebut ‘radiasi latar kosmos’ ini, tampaknya tidak dipancarkan dari sumber tertentu, tetapi tersebar ke seluruh ruang angkasa. Mereka berhasil menangkap radiasi latar kosmis dari gelombang mikro ini dari segala arah dengan suhu sangat rendah sekitar 3oK.Dari arah datangnya radiasi para ahli astronomi mengharapkan dapat menemukan pusat jagad raya. Karena radiasi ditangkap dari segala arah, maka disimpulkan bahwa pusat alam semesta maupun asal mulanya ada di sekeliling kita. Atas penemuan ini Arno Penzias dan Robert Wilson mendapat penghargaan Nobel.
Pada tahun 1989, Gearge Smoot bersama tim NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer (COBE) ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menit bagi COBE untuk membuktikan perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE telah menemukan sisa ledakan raksasa yang telah terjadi di awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan kebenaran teori Big Bang. Kemudian dalam tahun 1992 telah dilakukan pengukuran oleh satelit COBE milik NASA, tentang kebenaran keberadaan radiasi latar ini meskipun tidak secara semupurna seragam dalam seluruh daerahnya. Dalam tahun 2003 dilakukan pengukuran kembali oleh NASA dengan Wikinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP) dengan peningkatan resolusi yang lebih tinggi, didaptkan keberadaan radiasi latar ini mdengan lebih tampak tidak seragam (nonuniform).
Berdasarkan hasil penemuan ilmiah dan penjelasannya sebagaimana tersebut di atas, Teori Absolutivitas Kedua menyatakan,
 ”Bumi adalah pusat dari alam semesta berdasarkan kerangka acuan mutlak bumi yang berlaku universal”
 Teori Absolutivitas Kedua di atas memberikan penjelasan bahwa Bumi adalah pusat alam semesta sejak awal diciptakkanya Bumi lalu kemudian diciptakankannya langit dari sebuah ketiadaan dengan apa yang dinamakan dengan sebuah titik singularitas bervolume nol dan memiliki kerapatan alam semesta yang tak terhingga. Titik singularitas sebagai tempat awal mula terjadi Ledakan dahsyat Big Bang ini berada di dekat Bumi oleh karenanya berdasarkan kerangka acuan absolut Bumi yang diam tidak bergerak memandang bahwa di dekat Bumilah titik singularitas Big Bang berada dan sekaligus menjadi pusat alam semesta sampai saat ini hingga terjadinya kehancuran alam semesta karena kemungkinan model alam semesta tertutup (close universe).
Sejak awal diciptakannya Bumi dari ketiadaan lalu diciptakannyalah langit melalui ledakan dahsyat lalu mengembang terus menerus terpisah menjauhi Bumi sehingga terbentuk bintang, planet, galaksi, asteroid dan benda angkasa lainnya di alam semesta.

0 komentar:



Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.