Skip to main content

Musim Jakarta Nyoblos


Pemilihan Gubernur Jakarta selalu lebih ramai dari biasanya. Soalnya di TV juga ramai. Saya ingat beberapa tahun lalu, banyak iklan kampanye Fauzi Bowo yang dibintangi oleh artis. Bukan berarti provinsi lain tidak diramaikan juga. Kemarin ketika ada pemilihan gubernur lain, sama ramainya di TV. Tapi Jakarta beda, mungkin karena itu adalah ibukota negara kita, mungkin juga karena banyak orang dari berbagai suku dan wilayah yang tinggal di Jakarta. Atau mungkin karena memang stasiun TV bermarkas di Jakarta.

Bukan hanya TV. Di Tisera, toko buku tempat saya mejeng, muncul buku-buku mengenai Jokowi. Entah itu adalah sistem kampanye atau tidak tapi itu sukses membuat kepala saya dipenuhi oleh Jokowi setelah pulang dari Tisera. Dan lucunya saya mulai merasa Jokowi agak mirip dengan Presma Unpad tahun 2011, Kang Sayyidi. Haha.

Ini Pak Jokowi

Ini Kang Sayyidi :D

Yaa, saya tahu Jokowi sudah tenar sejak ada mobil Esemka dan saya kaget kenapa tiba-tiba dia mengajukan diri (atau diajukan, entahlah) menjadi Cagub Jakarta. Dan ada calon lain, Hidayat Nur Wahid, atasannya kakak saya, A Heri. Atasan yang sangat aaataaaas banget karena kakak saya ada di kader urutan ke sekian. Lalu Foke, alias Fauzi Bowo, yang saya kenal karena mantan Gubernur jakarta dan nasibnya seperti Aceng Fikri, Bupati Garut. Sama-sama dicampakkan oleh wakilnya.

Lalu ada Hendarman Supanji yang mengusung tageline Jakarta Jangan Berkumis alias Jakarta Jangan BERantakan, KUmuh, dan MISkin, dan Cukur Kumis. Menohok Foke sekali beliau ini. Ketika melihat tageline itu di TV, ibu saya langsung mengoceh, "Mau berkumis atau tidak, apa hubungannya. Memangnya apa pengaruhnya kumis." Wah, wah, wah, beliau harusnya berpikir bahwa tidak semua orang mengerti dengan tageline itu atau memang itu memang maksudnya. Entahlah lagi.

Lalu ada gubernar Sumatera entah mana, sejujurnya saya memang familiar dengan tiga nama itu. Tiga lagi, saya lupa. Saya tahu saya bisa mencarinya di google, tapi saya tidak mau. Sekarang di Metro TV sedang memunculkan dialog dengan Cagub Jakarta khusus mengenai perempuan. Hidayat Nur Wahid lagi nyanyi-nyanyi ga jelas. dan di studio tertawa. Ya, pemilihan ini butuh lebih banyak tawa.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…