Skip to main content

Tidak Bisakah ...

Sentakan. Teriakan. Pelototan.
Kata-kata yang menyakitkan.
Itu semua jadi sajian yang biasa. Apa aku terlalu lemah, atau manja, atau berlebihan menanggapi kemarahannya.

Keliru sedikit, seakan telah melakukan kesalahan fatal yang bisa menghancurkan seisi rumah.
Apa aku yang terlalu sensitif.
Atau karena aku bukan bagian darinya. Anak kucing yang diasuh oleh singa. Tidak nyaman dengan auman singa sehari-hari. Hanya bisa mengeong, menunduk, dan menangis.
Atau karena keberadaanku mengganggu. Atau karena aku bukan seseorang yang diharapkan ada. Atau ekspektasi-ekspektasi keliru tentang diamnya aku disini.

Terkadang lebih baik menganggap aku tidak ada saja.

Aku tidak mengerti, pun tidak memaksakan diri untuk mengerti. Aku jalani. Setelah 16 tahun terlewati. Tapi bisikan itu masih selalu ada.

Tidak bisakah...
Ia tertawa kala mengajakku bicara.
Tidak bisakah...
Ia bersikap ramah menanyakan kabarku.
Tidak bisakah...
Ia bersikap tenang saat aku melakukan kesalahan.
Tidak bisakah...
Ia tidak selalu menyalahkanku saat aku lupa.

Mungkin, tidak bisa.
Tapi aku masih berharap.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…