Skip to main content

Sinopsis Novel Ners-Author


Novel tentang Persahabatan Bintang Timur dan Sihir Hujan

“Kita datang ke dunia ini sendiri, dan sendiri pula kita meninggalkannya. Di antara pintu masuk dan pintu keluar itu, kita menghabiskan waktu kita untuk mencari persahabatan.”


Persahabatan merupakan seleksi alam, tanpa harus ada ungkapan mengikat atau komitmen untuk tetap bersama. Persahabatan lahir atas perasaan yang muncul dari hati, kecocokan, perasaan nyaman, obrolan yang mengalir, serta keinginan untuk selalu bersama dan berbagi sehingga mereka tersadar bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain.

Atas aforisme itulah, maka novel ini hadir mengisahkan dua gadis remaja bernama Mia dan Gais yang tengah bertransisi menjadi gadis dewasa. Persahabatan mereka berada pada lintang yang berbeda, Mia memasuki program IPA dan Gais di program IPS. Setelah memasuki dunia perkuliahan pun mereka memiliki jalur mimpi yang berbeda, Mia menjadi mahasiswa keperawatan dan Gais sebagai mahasiswa sastra.

Dunia yang berbeda menumbuhkan mereka dengan kepribadian yang berbeda pula, Mia yang diajarkan ramah dan berempati di kampusnya harus bisa memahami Gais yang lebih urakan dan bersikap apa adanya. Dengan dunia yang berbeda itu terkadang obrolan mereka selalu berubah menjadi lelucon, saat Mia membicarakan teori Einstein, Gais membalasnya dengan filosofi Socrates, atau saat Gais memuja-muja cerpenis dunia Edgar Allan Poe, Mia malah membicarakan Nightingale seorang ahli di bidang keperawatan.

Begitulah, mengikuti kisah Mia dan Gais, kita diajarkan untuk bisa menguasai dominasi egosentrisme dalam persahabatan, bahwa persahabatan bukanlah menuntut untuk selalu bersama, bukan pula kewajiban berbagi tentang segalanya, dan bukan tuntutan untuk mengikuti setiap keinginan satu sama lain, karena persahabatan adalah mengerti.

Mantra mimpi mereka ‘Not Hope but Full Believe’ dan mantra persahabatan ‘Tetap Disitu!’ menjadi jargon yang membuat mereka mampu melangkah dalam euforia kebersamaan yang tak pernah surut. Dan meski Mia adalah yang paling jenius diantara mereka berdua, tapi Gais adalah motivator ulung yang selalu bisa menyulut semangat Mia saat api semangatnya tengah padam.

Selain paradigma pendewasaan diri dalam menyelesaikan masalah, seperti halnya kehidupan wanita dewasa, cerita mereka pun dihiasi oleh kehadiran para arjuna yang juga melakoni kisah hidup mereka. Wishu, mahasiswa sastra yang selalu menganggap wanita adalah sumber kegelisahan untuk membuat sebuah karya sastra, ada Ken mahasiswa kedokteran yang mencintai Gais dengan caranya sendiri, hingga Oppa sang astrofisikawan yang tertarik pada kecerdasan Mia dan membantu Gais untuk membuat sebuah fiksi ilmiah.

Bagi Gais, Mia adalah ‘bintang timur’ yang terlalu tinggi untuk diimbangi. Dia dipuja banyak orang dan selalu menorehkan kebanggaan dengan sejumput prestasi. Meski dia tahu bintang bukanlah apa-apa tanpa kegelapan, karena tanpa kegelapan sinarnya tak akan muncul dan begitu dikagumi banyak orang. Bertemu Mia, dia merasa diajak terbang untuk menggenggam mimpinya yang selalu dia hempaskan berceceran di bumi.

Bagi Mia, Gais adalah ‘sihir hujan’ yang mampu mengalahkan semua teori lurusnya. Dia selalu penuh rahasia namun menyenangkan setiap kali kehadirannya muncul. Seperti hujan yang selalu mengaburkan kebingungann dan perasaan nyaman. Entah hujan itu memberinya musibah ataukah anugerah. Bertemu Gais, dia memiliki ruang untuk istirahat sejenak dan menikmati fase kehidupan yang begitu rumit mengikuti perputaran bumi.

Maka, nikmatilah ketulusan persahabatan mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…