Skip to main content

Rancabango Kambek


"Nurul, di Rancabango berapa lama? Satu minggu? Dua minggu?"

Tiga minggu. Tepatnya tiga minggu saya mesantren di PPI 99 Rancabango milik K.H Aceng Zakaria. Satu minggu sebelum bulan Ramadhan, dua minggu di bulan Ramadhan, lalu keluar. Bukan karena saya tidak betah, bukan juga sengaja main-main. Saya tahu itu pasti yang ada di benak para sesepuh di rumah. Saat itu saya hanya tengah mengalami post power syndrom.

Post power syndorm. PPS.

Gejala yang selalu dituduhkan kepada mereka yang alumni BEM lalu tidak nyaman dengan kepengurusan selanjutnya. Saya mengalami PPS di BEM? Jelas, tidak. Saya tidak punya power di kepengurusan BEM sebelumnya dan saya malah ingin segera menyelesaikan tanpa harus mengenang-ngenang kejadian post BEM. Jadi, sebelum saya melanjutkan catatan ini saya tegaskan tidak ada PPS di BEM. Bagi saya.

PPS di Rancabango saya sadari ketika tengah melakukan kegiatan. Saya yang murid baru, hanya terdiam melongo tidak bisa diandalkan. Hanya ditunjuk-tunjuk.

Gila. Di sekolah saya yang lama, Cibegol, saya punya kekuatan superior. Apa-apa Sarah, yang ngatur Sarah, yang tahu semuanya Sarah. Saya sampai mendapat julukan 'nyonya besar', 'gegedug angkatan', dan berbagai julukan yang menunjukan power saya.

Di Rancabango saya jadi from hero to zero. Shock!

Selain itu, garis kekuasaan murid lama (yang tsanawiyyah disana) dan murid baru (yang masuk ketika muallimin seperti saya) sangat terlihat. Maklum baru semester awal. Meskipun Persatuan Islam memiliki koneksi yang luas dari satu PPI ke PPI lain yang bisa membuat murid baru hanya seperti menemukan keluarga yang lain tapi bagi saya tetap terasa diskriminasi. Di Cibegol, ketika muallimin kami tidak terlalu banyak menerima murid baru karena periode kenaikan kelas yang berbeda, Syawal-Sya'ban, sementara PPI lainmengikuti pemerintah, Juli-Juni. Maka, keberadaan murid baru di Cibegol tidak terlalu terasa dan buat saya sama saja.

Selain merasa terdiskriminasi, saya juga selalu teringat sahabat saya, Salma. Di Rancabango ada dua orang sahabat yang terkenal, Ira dan Tania. Hampir sama dengan persahabatan saya yang terkenal di Cibegol, Sarah dan Salma. Setiap melihat kedekatan Ira dan Tania, saya selalu teringat Salma.

Tidak sulit mendapatkan sahabat baru di Rancabango. Tapi memikirkan bahwa saya harus memulainya lagi dari awal terasa mengerikan. Karena hal-hal yang mengerikan sudah saya lalui bersama Salma.

Akhirnya belum genap satu bulan, saya keluar dari Rancabango. Membunuh PPS dan kembali ke CIbegol. -___________________-

Dua tahun kemudian, saya ditakdirkan bertemu dengan teman-teman saya di Rancabango karena mereka melakukan P2RSR, semacam praktek mengajar, di tempat saya tinggal.

Betapa saya tidak pernah teringat pada Rancabango tapi teman-teman saya di Rancabango ternyata masih mengingat saya. Hiks.

Ketika P2RSR banyak hal yang terjadi. Cerita P2RSR sudah saya posting di Kompasiana. Setelah itu saya mulai enggan mengingat apapun mengenai Rancabango dan mulai menyibukkan diri sebagai mahasiswa Unpad.

Sampai hari ini. Rancabango kembali ke kehidupan saya.

---> saya tengah dalam perjalanan menuju Rancabango untuk mengikuti haflah imtihan. wish me fine!

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…