Search This Blog

Perempuan Berkalung Sorban dan Persatuan Islam

Seminggu yang lalu saya mejeng lagi di perpustakaan Baca Buku bareng Ria. Ria udah mulai jaga kasir sekarang. Saya masih keliaran diantara buku-buku. Bingung mau pinjam buku apa. Mau pinjam sekuel Supernova, belum mau baca yang berat-berat. Mau pinjam sekuel Immortal, kebanyakan, sekuelnya ada 6 dan saya belum baca satu pun. Mau baca In Deception atau Digital Fortess karyaya Dan Brown, ah liatnya aja udah serem. Tebel. Mau baca Tunnels, ga ada edisi pertamanya. Lihat buku-buku Paulo Coelho, banyak. Ya, saya memang cuman lihat-lihat doang.

Dan akhirnya saya menemukan buku Perempuan Berkalung Sorban karyanya Abidah El Khalieqy. Namanya familiar, mungkin pernah saya lihat di opening film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) yang dibuat oleh Hanung Bramantyo. Film-film islami karya Hanung Bramantyo memang kebanyakan kontroversi, termasuk film Perempuan Berkalung Sorban yang meletupkan perdebatan tersendiri di kelompok-kelompok islam.

Saya tidak tertarik dengan film-film islami. Mungkin karena kebanyakan film islami itu jauh dengan ekspektasi saya, apalagi jika menggambarkan lingkungan pesantren. Film PBS ini pertama disodorkan oleh sahabat saya, Salma, dia memberi banyak kesimpulan melihat film ini. Termasuk, "Sar, sosok Annisa ini kayak kamu ya. Pertanyaannya suka nyudutin."

Alias bikin ngenes yang ditanya.

Saya memang pernah ngasih pertanyaan bodoh, misalnya tentang buat apa sih kita cape-cape belajar nahwu, sharaf, bayan, mustholah hadis, toh kita semua punya cita-cita. Jadi dokter, pramugari, perawat (bukan saya), jadi kenapa tidak fokus mempelajari hal yang berguna untuk masa depan kita nanti. Apa mungkin kita perlu pelajaran balaghah saat hendak nyuntik pasien? Dan ketika itu saya memang tidak menyadari bahwa masa depan kami memang sudah ditentukan untuk menjadi muabaligh dan mubalighot, bukan dokter, pramugari, perawat, atau apapun itu.

Termasuk pemikiran, kenapa laki-laki ketika keluar rumah berhak melirik wanita lain. Halal. Karena dia bisa berpoligami, jadi laki-laki beristri yang memperhatikan wanita lain itu wajar, karena mungkin dia hendak poligami. Di samping itu, ketika suami keluar rumah dengan bebas, istri harus menjaga dirinya, tidak boleh menerima tamu laki-laki, rawan fitnah.

Saya memikirkan itu karena banyak (ya lumayan lah) guru di pesantren saya yang memperlakukan murid perempuannya dengan istimewa, seolah mereka tidak peduli dengan istrinya di rumah. Dan itu wajar.

Kembali ke PBS. Ketika saya menemukan novel tersebut di perpustakaan Baca Buku, kebiasaan pertama yang selalu saya lakukan ketika melihat buku adalah melihat cover belakang. Tentang penulis.

Dan waw, penulisnya adalah alumni Pesantren Persis Bangil di Jawa Timur. Saya pernah mendengar nama pesantren itu, karena itu adalah satu-satunya pesantren Persis yang putera dan puterinya murni dipisah. Setamat nyantren di Bangil, dia mendapatkan ijasah persamaan di SMU dan aliyah. Terbayang, dia pasti benci dengan sistem kurikulum di Persis. Sama seperti saya dan sepupu saya yang mencari ijasah persamaan keluar. Saya di Garut dan sepupu saya di Sukabumi.

Saya dan Mbak Idah (penulis novel PBS) sama-sama alumni Persis. Dia di Bangil dan saya di Cibegol. Persis atau Persatuan Islam memiliki beberapa ratus pesantren, saya tidak tahu jumlah tepatnya, tapi sudah sampai 200 lebih. Masing-masing pesantren punya ciri khas tersendiri. Misalkan pesantren saya, Cibegol, dikenal dengan keortodoksannya. Pajagalan, meski PPI (Pesantren Persatuan Islam) nomor 1, tapi sudah dikenal tidak se-Persis dulu dan alumninya banyak yang melenceng. PPI Benda, dikenal dengan pesantren modern, alumninya banyak yang menjadi dokter dan semacamnya. PPI Tarogong, kabarnya sudah mau berubah menjadi aliyah. Alumni PPI Tarogong biasanya tidak aktif di Persis. Rancabango, dari segi keilmuan masih Persis banget tapi sudah mulai modern karena tuntutan orang tua.

Itu menurut saya. Saya tahu kalau ada anak PPI yang baca ini pasti akan berkomentar kontra, tapi sekali lagi ini hanya opini saya. Hanya saya.

Jadi, bagaimana dengan Bangil? Saya tidak terlalu tahu karena saya pun tidak pernah bertemu dengan alumni Bangil. Cerita di novel pun saya rasa ga Persis banget. Memang, ada beberapa yang menunjukan kebiasaan Persis, seperti ajaran nahwu sharafnya, tapi untuk qiraat, setahu saya hanya beberapa PPI yang mengajarkan qiraat. Pernah ada yang mengatakan bahwa jika kalian mendengar ada orang yang baca quran, tajwidnya benar tapi ragamnya salah, itu berarti orang Persis. Ya, kami hanya belajar tajwid, tidak tahsin.

Adegan Annisa saat mengikuti kajian kitab di film PBS.

Tarbiyatun Nisa, itu yang PPI saya ajarkan mengenai wanita. Kitab yang dipakai adalah kitab karagan KH Aceng Zakaria, pemilik PPI Rancabango. Isinya ya tentang kewajiban perempuan, tektek bengek perempuan. Ketika itu yang mengajarkan kami Tarbiyatun Nisa adalah Ustad Hamdan. saya jadi memikirkan apakah Ustad Hamdan sudah pernah menonton Perempuan Berkalung Sorban? Bagaimana tanggapannya? Apakah dia tahu kalau pengarang novel Perempuan Berkalun Sorban adalah alumni Persis Bangil? Entahlah.

Saya tidak mungkin membanding-bandingkan isi novel Perempuan Berkalung Sorban dengan ajaran Persis. Karena meskipun alumni Persis, penulis novel ini bukan aktivis Persis. Bahkan, tidak mustahil dia sebenarnya tidak suka dengan Persis.

Satu yang saya rasa sesuai dengan keadaan kami, santri Persis, di tulisan novelnya. Bahwa kami tidak ingin masa depan kami dikerangkeng. Hanya tentang masa depan, bukan yang lainnya.

Trailer Perempuan Berkalung Sorban


----> pas lagi kabur dari SUTT. nulisnya ga jelas karena lagi laper.

0 komentar:



Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.