Skip to main content

Perbandingan Battle Royale dan Hunger Games


Pertama kali membaca nama Suzanne Collins di sampul buku Hunger Games, saya merasa namanya sudah tidak asing lagi. Mungkin karena di tahun-tahun kemarin saya sering melihat namanya di daftar buku Best Seller.

Yang unik dari novel ini adalah tidak adanya daftar isi, kata pengantar di awal, cuap-cuap penulis, maupun abstrak mengenai isi novel ini. Seolah menunjukan bahwa novel ini untuk dibaca isinya, jadi langsung baca saja sampai habis. Sekuel Harry Potter dan Twilight Saga memasukan daftar isi, keduanya memunculkan abstrak diawalnya. Setidaknya di buku terakhirnya, Harry Potter and The Deathly Hallows dan Breaking Dawn, terdapat pembukaan. Saya jadi teringat novel-novel Dan Brown yang tidak memiliki daftar isi karena memang setiap sesi dipisahkan dengan nomor dan tidak ada sub judul. Dalam pembukaan, novel Dan Brown diisi dengan fakta dan peta lokasi yang ada di dalam novel tersebut. Tentu saja karena isi novelnya sangat sarat konspirasi.

Kembali pada penulis Suzanne Collins yang menulis sekuel Hunger Games. Sejak membaca review-nya saya langsung membandingkannya dengan Battle Royale, film yang saya tonton ketika SMA, tahun 2008. Film Battle Royale adalah film unggulan di Jepang yang tayang tahun 2000. Pokok permasalahannya hampir sama, di masa depan akan ada hal mengerikan terjadi, pemerintah membuat sebuah permainan yang mengharuskan pesertanya saling membunuh satu sama lain hingga menyisakan satu peserta. Hunger games memang tidak muncul bersamaan dengan Battle Royale, sehingga kemiripan ceritanya tidak terlalu dipermasalahkan. Bahkan mungkin banyak yang tidak tahu film Battle Royale.

Namun, agak mengada-ngada jika Collins mengaku tidak tahu mengenai Battle Royale. Sebagai seorang novelis, dan termasuk pihak penerbit, ketidaktahuan mereka akan cerita Battle Royale untuk menghindari tuduhan plagiat malah menunjukan bahwa pengetahuan mereka mengenai novel sangat minim. Padahal Battle Royale yang diadaptasi dari novel dan komik, sangat terkenal di Jepang. Bahkan di Indonesia pun pasti sebagian remaja sudah tahu.

Setelah saya mencoba membandingkan cerita Hunger Games dan Battle Royale. Persamaannya adalah:
1. Sasaran permainan ini sama-sama remaja. Battle Royale, anak SMA. Hunger Games, usia 14-18 tahun.
2. Permainan ini diciptakan sebagai hukuman. Battle Royale, hukuman kepada anak remaja yang nakal. Hunger Games, hukuman terhadap pemberontakan.
3. Permainan ini sama-sama kebijakan dari pemerintah. Battle Royale, pemerintah Jepang. Hunger Games, pemerintah Panem (yang dulunya Amerika Utara).
4. Munculnya permainan ini sama-sama diakibatkan oleh kegagalan dalam pemerintahan.
5. Permainan ini sama-sama dihancurkan oleh peserta melalui alat elektronik

Selain itu, tentu saja kedua cerita ini sama-sama ditempatkan di tempat terpencil, mengusung cerita cinta, persahabatan, persekongkolan, pengkhianatan, dan juga pemberontakan.

Sementara perbedaannya, meskipun tidak terlalu menonjol, adalah:
1. Battle Royale memberikan batas waktu 3 hari. Hunger Games tidak.
2. Juri Hunger Games memberikan tantangan di arena dengan mutt, dsb. Battle Royale tidak.
3. Battle Royale memasang kalung sebagai pelacak dan akan meledak jika tidak ada satu pemenang yang tersisa. Hunger Games menyuntikan pelacak tersebut ke tangan peserta.
4. Peserta Hunger Games dipilih secara terbuka melalui undian. Peserta Battle Royale dipilih secara tertutup dengan cara diculik.
5. Peserta Hunger Games yang berbeda Distrik tidak saling mengenal. Peserta Battle Royale adalah teman satu kelas, sehingga pembunuhan terasa lebih dramatis.
6. Peserta Hunger Games diberi waktu untuk berlatih dan harus mengikuti rangkaian acara sebelum permainan dimulai, mendapatkan makanan dan senjata di arena dengan cara rebutan. Battle Royale hanya diberi senjata dan makanan dengan cara diacak.
7. Tageline Battle Royale adalah "Have You Ever Killed Your Best Friend?". Tageline Hunger Games adalah "May the odds be ever in your favor!"
8. Peserta Battle Royale berjumlah 42 siswa. Peserta Hunger Games berjumlah 24 remaja.
9. Battle Royale menyediakan senjata api. Hunger Games tidak.

Namun, sebagaimanapun miripnya kedua cerita ini, saya tetap angkat dua jempol buat keduanya. Battle Royale dan Hunger Games, meskipun tema permainannya hampir sama, namun latar belakang kisah peserta dan pembuat permainan berbeda. Antara Presiden Snow, peran antagonis yang menjadi pemimpin negara, berbeda dengan Takeshi Kitano, pemeran antagonis yang menjadi guru murid-murid yang bertarung. Lalu perbedaan antara Peeta-Katniss dengan Shuya-Noriko meski keduanya sama-sama tokoh sentral namun latar belakang pertemanan mereka berbeda.

Battle Royale...





Hunger Games...


Comments

  1. peserta The Hunger Games umur 12-18 tahun...

    ReplyDelete
  2. terima kasih koreksinya. berarti adiknya katniss berumur 12 tahun yak.

    ReplyDelete
  3. belum nonton battle royale,,, memalukan

    ReplyDelete
  4. Waktu hunger game jadi juara film versi oscar ato apa ya penghargaan yg bergengsi kaya gitu jujur ane kaget, padahal film nya kagak wah2 banget menurut ane,, malah battle royal yg seinget ane nontonnya waktu kelas 2 smp.. jujur ngeri banget, malah sekarang keinget pengen nonton lagi, trus nyasar deh di blog ini hehe :)

    ReplyDelete
  5. Klo versi anime mirip Mirai Nikki yg jg sling bunuh cm sisa 1 org sm Deadman Wonderland jg pake kalung cm sling bertarungny d arena

    Ketinggalan deh ane blm nntn 22ny, sbg pecinta gore ane ckp malu....

    ReplyDelete
  6. makasih banget,pas untuk tugas senibudaya hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…