Skip to main content

Memanusiakan Orientasi dan Kaderisasi

Baru saja selesai reporting Kasus 2 Komunitas. Kita akhirnya mengurusi komunitas setelah berlama-lama tenggelam bersama sistem. Respiratori, hematologi, integumen, endokrin, dan lain sebangsanya. Kini kami belajar keperawatan komunitas. Maka alurnya sudah jelas, saya belajar komunitas, dapat nilai A, saya ambil skripsi keperawatan komunitas, kerja di Dinkes, kerja di Menkes. Jalan-jalan ke luar negeri. Huahahaa.

Bukan itu yang sedang ingin saya tulis.

Beberapa hari yang lalu saya baca-baca blog orang. Dan sering saya lakukan. Orang menulis di blog kan untuk dibaca orang juga toh. Kali ini blognya Yogi Febriansyah, saya mengenalnya saat sama-sama memenangkan kompetisi menulis di STMJ, Sekolah Tinggi Menulis Jogja.

Ketika itu dia masih siswa SMK. Sekarang dia sudah menjadi mahasiswa UPI. Seni Rupa. Iya, ya, ada kan Seni Rupa UPI. Ceritanya dia menulis mengenai masa-massa menyebalkan kaderisasi di kampusnya. Entah, ospek atau apa. Tulisan itu berjudul SUMPAH! Ampun PEMUDA dan Babi Terbang, Tolong Gue. Ga tahu deh ya, dia mungkin memang lebih suka peri babi daripada peri lain yang lebih imut.

Saya mau selipin tulisan di blog Yogi yang judulnya SUMPAH! Ampun PEMUDA.

Gue udah di kosan. Tak lama setelah shalat magrib, ada sms kaya gini “Jarkom, semua segera kembali ke gymnas, dipercepat, pentng, gaswat darurat ada komdis”.

Belum gue makan, belum gue sempet lipat sejadah gue. Babi ronda. Apa hubungannya dengan ada komdis atau tidak dikumpulan tadi. Para komdis itu bakalan teriak-teriak total kaya di ruangan gelap gitu? Ayolah teman, jangan jadi budak k****. Ga baik buat janin eh buat batin. Gue yakin, semua yang dapet sms itu bergumam hal negatif.

Antara pengen ketawa, prihatin, dan menghela nafas. Bagaimana tidak, dulu saat saya jadi target kaderisasi, saya juga mencak-mencak kegilaan. Apa-apaan ini?

Dan sekarang, saya jadi senior mereka. Saya jadi panitia kaderisasi. Argh, bakar saja itu babi terbang. Naon, jadi ikut-ikutan si Yogi.

Saya jelaskan saja alur orientasi dan kaderisasi di kampus saya dari awal masuk sampai di tingkat akhir.

1. Prabu (Penerimaan Mahasiswa Baru) dilakukan di tingkat universitas oleh mahasiswa tingkat 1, 2, dan 3. Biasanya dilakukan selama 1-2 hari.
2. PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) Care dilakukan di tingkat fakultas oleh mahasiswa tingkat 1 dan 2. Dilakukan selama satu minggu.
3. Mabim (Masa Bimbingan) dilakukan di tingkat fakultas oleh mahasiswa tingkat 3. Dilakukan selama satu bulan dengan pertemuan rutin setiap akhir pekan.
4. LDKO (Latihan Dasar Kepemimpinan dan Organisasi) dilakukan di tingkat fakultas oleh mahasiswa tingkat 2. Dilakukan selama satu bulan dengan pertemuan pra-TM, mid-TM, TM, dan 3 hari menginap di dalam kampus dan di luar kampus.
5. SOL (School of Leader) dilakukan di tingkat universitas oleh alumni SOL, rata-rata mahasiswa tingkat 3.

Awalnya saya tidak ada keinginan untuk menjadi panitia apalah itu kegiatannya. Jadi peserta kaderisasi saja sudah terengah-engah, apalagi jadi panitia. Rrrrh. Tidak di Prabu, tidak di PMB, dan sepertinya tidak pula di Mabim. Tapi tender LDKO sudah diserahkan sepenuhnya pada mahasiswa tingkat 2 saja. Hanya angkatan 2010 yang berjumlah 139 secara keseluruhan. Belum dikurangi yang pasifis, dikurangi yang tidak lulus Mabim, dikurangi yang sibuk di kepanitiaan lain, dikurangi anggota BPM yang menjadi pengawas LDKO. Mengingat hal itu, saya sudah meramalkan, tanpa ikut wawancara pun saya pasti masuk panitia LDKO.

Entah apa yang salah. Di SMP dan SMA, apalagi SD, saya tidak pernah mengalami yang namanya orientasi. Pun kaderisasi. Karena SMP saya di pesantren. Hari pertama sekolah langsung pemiliha Ketua Kelas, tidak ada yang namanya MOS. Di SMA saya telat masuk. Murid baru. Katanya saya harus mengikuti MOS tahun depan, tapi mana bisa, di tahun kedua saya sudah jadi Ketua MPK dan sekretaris OSIS. Apanya yang harus diorientasi dan dikaderisasi coba?

Karenanya saya shock mendapatkan orientasi di Unpad. Tegang, bingung, lebih banyak hal yang menyebalkan. Niat awal adanya orientasi jadi entah apa. Yang ada saya belajar lebih banyak tentang bagaimana caranya mencari alasan kalau melakukan pelanggaran, bagaimana caranya selamat dari bentakan senior, atau bagaimana caranya bersembunyi di punggung orang lain jika ada evaluasi.

-----> bersambung~ ending-nya ngegantung. saya mau simulasi dulu buat jadi MC di TM LDKO. Kang Mawan masih cuap-cuap, cempreng.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…