Skip to main content

Entah Salah Apanya dan Dimananya

Emosi. Ini yang saya rasakan sekarang. Entah sudah ke berapa kalinya saya emosi di minggu ini. Mungkin memang ada kekeliruan dari sayanya juga. Tapi kali ini saya emosi sampai perut saya mulas. Tidak seemosi saat tahu laptop saya sekarat, tapi emosi ini bikin saya lemas.

Saya sedang mengajukan beasiswa KSE. Sempat ada kesalahan dalam pengumpulan berkas karena saya tidak membawa fotokopi buku tabungan. Akhirnya kesalahan itu dapat diperbaiki. Di wawancara pertama saya optimis, sampai ketika ditanya, "Ada saran untuk paguyuban?"
Otomatis saya jawab, "Saya merasa seharusnya pemberitahuan tidak dilakukan hanya lewat fesbuk. Kebetulan saya bukan anak fesbuk banget. Panitia kan banyak, satu orang pegang 20 nomor telepon untuk dijarkom kan bisa."

Pada saat saya bertanya pada teman saya, kira-kira kapan hasil wawancara keluar, dia jawab Agustus. Saya pun mulai melupakan tentang beasiswa KSE.

Dan akhirnya terjadilah hari ini. Saya buka fesbuk hari Sabtu jam 12 siang dan mendapat pemberitahuan dari grup bahwa saya harus mengikuti wawancara beasiswa KSE pada hari itu mulai dari jam 8 pagi. Ketika itu saya sedang ada di Garut, tepatnya di Tarogong Kidul, sementara wawancara dilaksanakan di Bandung, ITB. Membayangkan perjalanannya saja sudah pasti saya akan sampai di ITB jam 3 sore. Belum berputar-putar mencari lokasi. Sempat terpikir untuuk meminta panitia menunggu saya setidaknya sampai jam 3 sore. Tapi mengingat insiden yang terjadi antara saya dan panitia pada saat pengumpulan berkas membuat saya mulas. Tidak ada lagi harapan.

Saya benar-benar bingung apa yang harus saya lakukan. Ehtah salah apanya, atau dimananya, yang jelas hari ini saya tidak bisa mengikuti wawancara dan sudah jelas pula tidak akan bisa mendapatkan beasiswa itu. Apa yang harus saya katakan pada ibu saya nanti kalau tahu saya tidak mendapatkan beasiswa hanya karena telat membuka fesbuk.

Kesal.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…