Search This Blog

Behind Story Novel "NersAuthor"


Guys, masih ingat dengan grup musik Sheila on 7? Saya masih, gila saja kalau tidak dan saya memang terbukti tidak gila. Masih ingat ketika itu lagu ‘Hei Sepia… malam ini ku tak kan pulang’ diiringi dengan rumor horor dalam pembuatan lagunya, hiiy. But, but, and but sekarang saya bukan ingin mengisahkan tentang Sheila dengan Sepianya yang sempat meledak [tabung gas dong :D], tapi saya terkenang dengan lagu Sheila on 7 yang selalu bertemakan persahabatan.

Bersenang-senanglah karena hari ini yang kan kita rindukan, di hari nanti.

Itu lagu tentang persahabatan. Per-sa-ha-ba-tan, wahai kawan! Seperti halnya romansa percintaan, maka persahabatan pun adalah kebutuhan primer bagi para remaja. Bahkan remaja apatis pun pasti mempunyai sahabat, iya! Kesepian adalah sahabatnya. For other example, bagi remaja skeptis, maka keegoisan adalah sahabatnya. Bagi remaja brandal, kekacauan dan penyimpangan adalah sahabatnya. Bagi remaja kutu buku, kalian pasti sudah tahu kan saya bukan mau bilang kutu adalah sahabatnya. So, siapapun kamu dan apapun kamu, kita semua mempunyai sahabat.
Banyak persahabatan unik di sekitar kita. Persahabatannya si senior dan si junior, persahabatannya si girl sama si boy yang katanya selalu menyimpan unsur perasaan lain [ehm], persahabatan bareng si mantan [ehm lagi], persahabatannya yang beda keyakinan, beda strata, beda negara, bahkan kabar persahabatan antarbinatang sudah tidak asing lagi di media. Sungguh, masing-masing punya kesan tersendiri mengenai persahabatan.
Kamu juga begitu kan? Karena saya pun begitu, ajib kan bahasanya hhe. Saya senang berkoresponden dan berkenalan dengan siapapun, berusaha ramah kepada setiap orang agar bisa dikenang sebagai sosok pribadi yang menyenangkan. Namun tentu saja diantara banyaknya teman-teman yang bertebaran, saya memiliki sosok sahabat yang lebih intens [bukan silet lagi kan ya :p] yang hadir dalam kisah klasik ini.

Saat berseragam putih merah, saya punya genk kecil-kecilan, namanya juga bocah, tapi bukan ceritanya anak-anak SD yang urakan dan belajar menindas [nah lho]. Kami bersahabat sekaligus menjadi rival dalam segala hal yang positif. Bersama Ayu, saya bersaing dalam akademik, terkadang kemampuannya dengan ingatan yang kuat melengkapi saya yang hanya menonjol di ilmu matematika. Puri, si puteri sekolah, berwawasan sangat luas dan supel. Meski nilai akademiknya biasa-biasa saja, tapi jiwa sosial Puri sangat bagus dan dialah yang terkadang seperti leader dalam kelompok kecil kami. Sahabat kecilku yang terakhir adalah Sari, bocah polos dari Cianjur, kami menyukainya karena keceriaannya selalu bisa menghangatkan suasana, ga ada loe ga rame tea.

Saat beranjak pada dunia putih biru [padahal seragam saya ga putih biru waktu itu], saya mengenal dua makhluk titisan Tuhan yang menjadi sahabat saya hingga sekarang. Salma, gadis populer di sekolah karena dia adalah salah satu puteri guru kami yang dikagumi banyak orang. Dhya, sosoknya jutek dan sangat blak-blakan, sikapnya selalu apa adanya. Cerita kami sungguh unik karena persahabatan kami tumbuh saat bersama-sama tinggal di sebuah asrama, dan ketika melanjutkan pendidikan di kota yang berbeda entah kenapa persahabatan kami masih saling bertaut dan sulit untuk hanya menjadi teman biasa saja.

Beranjak pada masa putih abu, saya mulai menemukan persahabatan di tahun kedua saat menjadi siswa program IPA. Kami selalu bersama karena kami sama-sama selalu berprestasi di sekolah. Ucu, puteri dari ketua komite sekolah itu menjadi orang yang paling dekat dengan saya, bukan hanya karena kami selalu pulang bersama, tapi karena kami juga ternyata punya hubungan saudara yang lumayan dekat. Revi, gadis rumahan yang selalu bermimpi bisa pergi ke Jepang ini adalah partner saya dalam mengerjakan tugas bahasa inggris, karena diantara siswa yang lain dia memang lebih mahir dalam bahasa asing tersebut. Selpi, kepolosannya membuat kami selalu merasa harus melindunginya. Ketika awal masuk sekolah dia pernah dilabrak kakak kelas dan dari situlah saya tertarik menemaninya.

Sahabat sejatiku hilangkah dari ingatanmu di hari kita saling berbagi.

Oh, dunia berseragam itu sekarang telah lewat. Saya sungguh bahagia bisa melaluinya bersama sahabat-sahabat yang selalu menghiasi setiap lembaran kisah yang terbuka; berjalan kaki dari alun-alun bersama Ayu karena kekurangan ongkos, saling seret dengan Salma saat menyetor hapalan hingga tersungkur merobohkan papan triplek, hingga pengalaman menegangkan bersama Ucu meraih piala cerdas cermat. Torehan-torehan kenangan itu akan selalu saya genggam sebagai sebuah kisah klasik.

Sampai jumpa kawanku, semoga kita selalu menjadi kisah klasik untuk masa depan.

Kini saya adalah mahasiswa. Masa dimana kedewasaan adalah sebuah tuntutan mengiringi pertambahan umur. Dalam teori psikologi perkembangan, dikatakan bahwa usia mahasiswa, yang kemudian disebut usia dewasa dini, adalah usia dimana individu tersebut mulai belajar mengenali diri sendiri, memikirkan masa depan, dan fokus pada cita-citanya. Hal tersebut kemudian mengerucut pada suatu kesimpulan bahwa usia dewasa dini bukanlah insan sosialis yang haus akan persahabatan seperti masa-masa di sekolah. Mereka lebih individualis dan mendahulukan apa yang menjadi kepentingan hidupnya.
Benarkah? Jika benar, apa artinya masa persahabatan akan berakhir di usia dewasa?
Tentu saja tidak benar. Lebih tepatnya usia dewasa dini bukan berarti tidak merasakan kebutuhan persahabatan seperti masa sekolah, tapi di usia itu persahabatan pun mengalami transisi menuju persahabatan yang dewasa. Mungkin ada beberapa prinsip yang berubah yang tentu saja harus disesuaikan dengan perkembangan diri.
Sudah mulai merasakannya? Saya sudah karena saya tengah mengalami transisi tersebut. Dulu saya adalah remaja yang haus akan persahabatan, saat harus terpaksa beradaptasi dengan lingkungan baru saya akan cemas jika tidak memiliki orang terdekat, ibaratnya seperti burung yang tak bersayap, diam saja melongo begitu mengkhawatirkan. Namun saat menjadi mahasiswa, kekhawatiran itu tidak pernah muncul. Saya selalu liar sendiri di kampus, tak peduli orang menganggap saya skeptis atau apatis, saya tengah bersahabat dengan mimpi-mimpi saya yang sudah sekian lama menunggu untuk digenggam.
Emh, mungkin saya hanya belum menemukan sosok yang pas untuk saya jadikan sahabat dalam masa pendewasaan ini. Tapi saya tidak cemas sekarang, bagi saya persahabatan adalah seleksi alam, maka dengan sendirinya ia akan hadir menemani kita meski kita tak sedang menantinya.
Sambil menanti sosok sahabat dalam fase pendewasaan ini saya ingin mencoba mengisahkan sebuah kisah persahabatan antara Mia dan Gais. Mereka hanyalah sosok imajiner dalam karya saya. Mereka bersahabat dalam usia remaja, dan dalam ketidakmengertian mereka akan arti persahabatan mereka mencoba tetap bersama di usia dewasa hingga berbagai sisipan kisah menghiasi persahabatan mereka.

Dan tak pernah kita pikirkan ujung perjalanan ini.
Dan tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini.

Ikutilah kisah mereka dalam indahnya persahabatan dalam dunia bintang timur dan sihir hujan. Karena persahabatan adalah keperluan jiwa.

Dan seorang remaja berkata, bicaralah pada kami tentang persahabatan.
Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa inginkan kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata.
“Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam, hatimu berhenti dari mendengar hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berduka cita;
Karena yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan.
Karena dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan gairah segar kehidupan.
~ Kahlil Gibran ~

Aksioku, 10 Januari 2011
Ara

0 komentar:



Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.