Search This Blog

Tiga Hari Menuju The Wedding

Rasanya kaku bersentuhan lagi dengan keyboard. Cukup banyak orang yang menyadari saya tidak pernah menulis lagi; kontributor PR kampus dan redaksi MaPi (sebenarnya itu orang yang sama), manajer Rumah Pena, teman-teman di WR, di organisasi, teman nyastra saya di ASAS UPI, mahasiswa UGM yang tidak saya kenal, etc. Memang banyak hal yang terjadi dan belum sempat saya abadikan lewat tulisan abal-abal saya. Termasuk cerita dramatisir (setidaknya ada amarah dan air mata) tentang kembalinya laptop yang menyimpan sebagian luahan otak saya.

-----Dan termasuk juga rencana pernikahan Salma-----


Terbayang wajah orang-orang yang bertanya kepada saya tentang rencana pernikahan Salma, bahkan sejak kita buka bersama di Ciwidey tahun lalu. Dan saya tetap yakin tidak ada itu yang namanya rencana pernikahan.

Aaargh, Mae ... dirimu banyak hutang cerita sama saya! Ehm, saya tahu, memang saya yang susah ditemui dan dihubungi.

Bukan hanya saya saja yang shock dengan kabar ini. Sama-sama tahu lah ya, apa yang membuat kabar ini menghebohkan para penghuni rumah Cicalengka. Dan jangan lupa, teman kajian saya di Persis Unpad. Puas rasanya meledeki beliau bareng Dio dan A Yaufik. Haha. Jadi ada dua orang yang shock, orang rumah dan orang kampus.

Oke, lupakan dua orang ga jelas yang sama-sama shock itu.

Sudah dua minggu saya tidak pulang ke Cicalengka, dua minggu juga saya tidak datang ke sekre BEM (ga ada yang nyari juga sih). Besok sepertinya saya akan mulai melihat matahari. Tidak melulu berkutat di kamar tidur-ruang tv-kamar mandi. Dengan bosan melihat TV berisi para musisi Indonesia yang lebih banyak karaokean daripada nyanyi beneran. Saya perlu kajian, kajian kitabnya anak-anak Persis. Kajian politiknya anak-anak BEM. Gerakan sosialnya mahasiswa. Aargh, saya tahu tanpa saya mengemis-ngemis minta pun bakalan banyak job yang nodong pas saya balik lagi ke kampus.

Setidaknya sekarang saya harus segar dan fit, tiga hari lagi kan Salma nikah. *bengong *adegan slow motion

T . . . . .i . . . . g . . . .a . . . .

ti . . . . .. . gaaa . .. . aaaa . . . . h . . . .a . . .r . . .i ?

. . . .l . . .a . . .g . . .i .?

S a l m a ? ?

S . . . .a . . . .l . . . .m . . .a . . . n . . .i . . .k . . .a . . .h

*pletak

Auwww..!

Iya, maaf, saya tahu ini berlebihan. Tapi saya benar-benar membutuhkan tenaga ekstra untuk bisa mencerna kalimat itu.

Rasanya semuanya terlalu cepat melebihi kecepatan racun Tomcat yang bikin kulit kita panas kayak kena Herpes. Eh, sebenarnya saya tidak terlalu yakin, saya tidak pernah meneliti secepat apa racun Tomcat merusak sistem integumen kita, atau mungkin sistem hemato, atau juga sistem imun. Abaikan.

Artinya tiga hari lagi Salma akan memasuki dunia Ummi-Abi, oh mungkin terlalu cepat. Yang jelas dia bukan lagi ada di dunia Ummahatul Ghad yang bagi saya yaumul aan-nya entah kapan, saya tidak pernah ingin menebak.

Dan yang paling mungkin adalah tidak akan ada lagi nginep-nginepan di rumah Salma dan tidur sekasur, tidak akan ada lagi maen nabrak magrib dan mematikan handphone seolah tidak ada orang rumah yang akan mencari, tidak akan ada lagi haha-hihi ngakak guling-guling ngobrolin kebusukan kita selama di asrama, dan mungkin tidak akan ada lagi buku komunikasi yang dulu isinya lebih busuk lagi. Hal-hal abnormal yang tentu saja hanya kita yang tahu, karena bagi kebanyakan orang kita ini manusia normal sejati nan cantik jelita. *fakta valid

Dan apa kamu akan menceritakan cerita aneh kita pada orang itu? Dia yang entah siapa bisa membuatmu berkata ... “yes, yes, yes yes, yes ... if you love me say.” Itu lagu Hitz, maaf. Jadi siapa dia? Kebanyakan orang yang Salma kenal, saya tahu. Setidaknya familiar. Saya tidak pernah menyangka Salma akan menikah dengan seseorang yang tidak saya kenal. Iya, oke, dia memang senior saya. Tapi dia angkatan 5 (Iya bukan sih? Saya ragu) sementara saya angkatan 11. Jadi wajar kalau saya tidak kenal. Tapi ayahnya Salma memang terkenal, jadi wajar kalau pria itu mengenal Salma sementara saya tidak mengenalnya meski dia mengenal orang-orang yang saya kenal. Ngomong apa sih ini, begitu lah pokoknya. Siapa pun dia, saya yakin dia tidak melewati tes menalar kitab di depan Ustad Utsman seperti yang ditakutkan oleh teman-teman RG kalau mau melamar Salma.

Oh iya, dulu. Entah kapan, saya lupa tepatnya kapan. Kita pernah berceloteh tentang sosok yang bernama ‘Utsman’. Lucu ya, jika kelak Salma menikah dengan seseorang bernama Utsman. Anaknya akan memiliki ayah dan kakek dengan nama yang sama. Seperti Tom Riddle sama Barty Crouch yang sama kayak nama ayahnya (Maaf ya ,saya tidak ingat tokoh muslim yang menamai anaknya sama dengan nama ayah, sekali lagi maaf *berasa murtad).

Dan celotehan itu jadi kenyataan. Meskipun tidak terbayang Utsman seperti apa yang akan menikahi Salma. Setelah dipikir-pikir banyak sekali yang bernama Utsman di kalangan Persis. Teh Erna bilang saya harus menyaksikan ijab kabulnya. Tapi membayangkannya saja saya sudah merinding. Kita sudah cukup lama bersama dan secara tidak sadar bertukar pikiran, bertukar cerita, bertukar kebiasaan, bertukar karakter. Berlebihan ga sih cerita saya, entahlah, saya merasakannya seperti itu. Mengenal Salma sejak umur 13, tinggal bersama di asrama sejak November 2003 sampai Februari 2008, entah kenapa selalu bersama, presensi sebelahan, selalu membicarakan apa saja, sedang di jalan menuju kelas, menuju mushola, sedang les, sedang nunggu antrian, entah kenapa ada saja yang jadi bahan obrolan. Dan menjalani long distance friendship sejak Februari 2008 sampai saat ini.

Jadi, apa yang akan terjadi ketika saya mendengar seseorang bicara lantang. Dengan ini ... saya terima ... nikah dan kawinnya ... salma fathia alhuda ... binti ... utsman bin affan ... dengan mas kawin ... entahlah ... Saya rasa bayangan ijab kabul ini tidak sah, bukankah seharusny satu nafas ya, lagipula mungkin ijab kabulnya akan diucapkan dengan bahasa arab atau mungkin bahasa sunda.

Sampai saat ini saya masih berharap berita ini keliru atau mungkin imajinasi saya sedang bermain dengan keras hingga terasa nyata. Bukan berarti saya tidak bahagia mendengar pernikahan ini, hanya saja saya masih kaget. Salma Fathia akan menikah, dia yang pernah duduk di tangga asrama bersama saya dan berbagi makanan. Entah tempe, tahu, atau ikan. Saya lupa. Entah sudah berapa konflik dan kesalahpahaman yang sudah ditebas, entah sudah berapa sakit hati dan kekeliruan yang diinjak bersama. Tahu-tahu dia sudah mau menikah saja. Fyuh ...

Dear, Salma ...

Selamat membuka pintu baru di berbagai celah di hatimu. Membuka pikiranmu untuk karakter baru yang berdiri di sebelahmu.

Ada seseorang yang akan kamu gapai. Karena dia sudah siap menggenggammu, akan berbeda dengan genggaman kita, mungkin lebih kuat dan lebih hangat. Lebih siap menyanggamu saat kamu terpeleset jatuh. Dan lebih kuat menarikmu menuju jalan-Nya.

Senang rasanya ada seseorang yang lain. Bukan ayahmu, ibumu, adik-adikmu, bukan juga kita.

Dia seseorang yang lain.

Dia istimewa karena di matanya dirimu juga istimewa.

Saya tidak ingin mengkhawatirkanmu karena Allah selalu bersamamu.

Kami bahagia karenamu dan untukmu.



NB: Jangan jadi tua dan menyebalkan :D

0 komentar:



Post a Comment

Jika tidak memiliki akun di google, wordpress, dan yang lainnya, bisa menggunakan anonymous.