Skip to main content

'Everything's Changing Rapidly' melahirkan Kakolova

Awal semester ini benar-benar jauh dari skenario. Padahal saya memang harus sadar bahwa semua tidak akan berjalan sesuai dengan skenario yang saya buat. Siapa saya?

Hanya saja pengacakan cerita ini menantang saya, benar-benar membuat saya gerah. Oia, sebelum ini saya main sama Teh Hani, dia selalu ngajak ngobrol anaknya dengan bahasa baku. Well, kebiasaan itu menular kepada saya sekarang. No problem.

Jadi, sampai mana tadi?
Iya, membuat saya gerah. Saya harus melakukan sesuatu, tapi terlalu banyak hal yang harus saya lakukan -dan saya enggan-.

Masih menyesuaikan diri dengan semua yang serba menakjubkan dan serba 'kok jadi gini?', saya berusaha berpikir normal dan produktif.

Produktif, menghasilkan uang. Apa lagi?
Dengan cara menulis. Apa lagi?

Kali ini saya tidak mungkin menulis novel. Cerpen pun sebenarnya lumayan mustahil. Argh, siapa peduli, saya masih punya saya. Jadi, saya harus terus berusaha.

Ehm, dengan segala kegilaan saya di semester baru ini, mungkin saya akan membuat Kumcer saja. Entah akan tembus ke Leutika Prio atau Andi Publisher. Dua-duanya bukan penerbit buku yang saya harapkan, ya mau bagaimana lagi, penerbit yang masyhur kan jarang menerbitkan Kumcer.

Kumcer kali ini akan saya beri judul Kakolova. Sebenarnya ini kan project saya jauh-jauh tahun, sebelum saya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok huru-hara kampus. Kakolova itu bukan anaknya Dealova, apalagi Supernova. Bukan istilah yang bisa ditemukan di kamus juga. Kalaupun kita buka kamus, paling cuma ada Kakofonem, artinya suara yang menyakitkan, fonem yang menyakitkan. Jadi, Kakolova? Mengerti lah apa artinya.

Iya, Kumcer saya adalah kumpulan cinta-cinta yang menyakitkan. Kenapa saya memilih cerita-cerita yang tidak bermutu seperti ini? Sudah tentang cinta, pakai menyakitkan pula. Entahlah, saya tidak menerima pertanyaan untuk saat ini.

Dalam Kumcer nanti yang jadi cerpen jagoan saya bukan cerpen Kakolova sebenarnya, tapi cerpen berjudul Jingga, atau Rabu, atau Bianglala, atau malah Imunolova. Naon deuih?
Itu judul-judul cerpen saya, aneh memang, kalau tidak aneh saya tidak kreatif.

Jangan kira cerpen saya cuma cinta-cintaan anak ABG yang alay, cinta kan universal. Rite?
Pecahnya persahabatan, meninggalnya keluarga. Itu juga Kakolova

So, saya hanya menuliskannya untuk sugesti bahwa saya akan melakukannya. Kalian dengar itu?

Baiklah, semenjak tampilan blog saya berubah, sudah tidak ada lagi yang meninggalkan komentar dan semacamnya. jadi, saya tidak akan peduli kalaupun ada yang sakit diare setelah membaca blog saya.

Salam manis,
Saya

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…