Skip to main content

Kafe :)

Saya duduk menelungkupkan tangan di meja, selesai menceritakan kejadian hari ini. Melirik ke sekeliling kafe seolah tak boleh ada yang terlewatkan untuk dilihat. Padahal saya hanya sedang meyakinkan diri saya bahwa saya menceritakan semuanya dengan tepat.

Ini adalah cerita saya keribuan kalinya. Di hadapannya. Di kafe ini. Semuanya masih sama. Dan entah kenapa bagi saya akan selalu sama. Pria itu tidak pernah membosankan sejak saya bercerita untuk pertama kalinya.

Kami duduk berhadapan. Selalu begitu. Dan dia akan mempersilahkan saya untuk bercerita tentang semuanya tanpa dia sela.

Asap kopi panas dan teh hangat masih mengepul, mengiringi helaan nafas saya.

Senyumnya. Yang akan selalu saya rindukan setiap saya selesai bercerita. Dan semua yang dia ucapkan. Hal yang menyebalkan, terkadang kontra, atau bahkan menyalahkan saya. Tidak ada masalah dengan itu semua.

Saya bertanya. Membantah. Menuntut.
Dan dia akan tersenyum mengucapkan kata-kata yang akan membuat saya menunduk. Paham.

Dan akhirnya dia akan berkata, "Semuanya baik-baik saja."

Hanya tulisan ringan tentang lamunan saya. Entahlah, tiba-tiba ingin menulis seperti ini. Tentu saja ini bukan sekedar 'galau picisan', hanya sekedar memberikan kesadaran kepada diri saya sendiri bahwa teman bercerita saya selama 17 bulan terakhir adalah laptop axioo yang penuh sticker, menggantikan buku agenda bohemian rapshody yang tak kalah dipenuhi sticker zaman saya sekolah. Pria itu tak pernah ada, pun kafenya. Atau mungkin, hanya belum. Dan saya tidak ingin mengkhawatirkan hal itu.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…