Skip to main content

Ini Mengenai Pengabdian, Bukan Sekedar Pengakuan

Aku dan BEM Kema Unpad (deskripsi yang menggambarkan diri saya, motivasi masuk BEM Kema, dan mengapa saya harus diterima menjadi staff akan saya sampaikan melalui memoar ini karena untuk esai mungkin akan sama dengan apa yang buat tahun kemarin)

Ini Mengenai Pengabdian, Bukan Sekedar Pengakuan

Desember 2008
Pertama kali saya mendatangi Universitas Padjadjaran saat diajak oleh kakak perempuan saya, Teh Ami, untuk menginap di kosannya. Unpad saat itu masih berantakan karena sedang masa pembangunan, gersang sekali. Saya berjalan dari Alfa Mart menuju kampus Unpad, hiruk pikuk terdengar dari panggung yang berisi orang-orang berjas almamater. Waw mahasiswa, pikir saya.
“Apa itu, Teh?”
“Debat … debat calon Presiden Mahasiswa.”
“Presiden?” Tanya saya heran.
Kakak saya hanya mengangguk tanpa banyak bicara, dia memang tipe orang yang pendiam. Saya bertemu dengan Teh Hani, sepupu saya yang kuliah di Fikom angkatan 2007, dia menyalami saya dan memberikan selembar leaflet. Tulisan yang sama dengan baligho besar yang terpampang di tengah kampus. Tepat diatas tulisan Unpad dari rerumputan hijau.
Ahmad Fakhruddin Isfron bareng Mei Susanto (Afgan) Kabinet Mantap (menjulang, mengakar, dan menetap). Saya tidak terlalu ingat redaksinya seperti apa, kurang lebih mungkin seperti itu. Saya memperhatikan mereka yang sedang berdebat, entah memperdebatkan apa, yang saya ingat ada pertanyaan dari penonton mengenai sikap mereka terhadap RUU BHP juga yel-yel menjatuhkan dari lawan kubu Afgan. Melihat hal tersebut, saya yang masih kelas 2 SMA merasa takjub dengan apa yang saya lihat, mahasiswa dan dinamikanya. Mereka luar biasa.

Desember 2010.
Kampus dan dinamikanya. Ternyata saya merasakannya di Unpad. Ketika teman saya bersemangat mengumpulkan mahasiswa di lobi L3 untuk menyaksikan kampanye calon Presiden Mahasiswa dan saya masih berdiam diri di gazebo atas dengan laptop saya. Seorang pria kurus duduk di sebrang saya dengan tampang bingung menunggu seseorang. Saya mengenalnya, wajahnya terpampang di baligho besar seperti baligho yang saya lihat dua tahun yang lalu. Dia calon presiden di kampus ini.
Ketika itu saya masih mahasiswa kikuk yang tidak tahu harus mengambil langkah apa. Mendadak menjadi mahasiswa Keperawatan Unpad yang tidak pernah terpikirkan oleh saya cukup menguras kesadaran saya di semester pertama. Saya apatis sekali di semester pertama.

Januari 2011
Ketika memutuskan menjadi aktivis.
Betapa Unpad telah menjadi sesuatu untuk saya dan betapa saya ingin menjadi sesuatu untuk Unpad. Betapa saya setiap hari merasa lelah karena menjadi mahasiswa dan menyisakan pertanyaan apakah semua kelelahan ini berkualitas. Kakak saya mengajarkan saya bahwa menjadi aktivis bukan hanya sekedar masalah pengakuan, namun juga pengabdian. Ketika saya memilih menjadi aktivis maka saya harus bertanggung jawab penuh dengan apa yang saya pilih.
Dan saya pun memilih, bismillah …
Februari 2011
“Ada satu penghargaan yang sebelumnya tidak kami janjikan dalam Raker ini,” Kang Sayyidi, Presma terpilih berbicara di hadapan kabinetnya saat Raker. “Yaitu individu terbaik. Dan yang mendapatkan penghargaan ini adalah Sarah Nurul Khotimah.”
Surprise! Saya tidak pernah terpikir tentang penghargaan apapun itu. Ketika Raker, yang saya pikirkan hanyalah ‘Lakukan dengan seharusnya’. And, wow, ini hasilnya.

April 2011
Saya menangis di hadapan semua pengurus BEM. Kedua kalinya saya dipanggil dalam forum, kali ini karena mendapatkan penghargaan BEM of the Month. Penghargaan yang saya pikir diberikan karena Proker-nya terlaksana dengan baik. Tapi tidak bagi saya, saya sendiri bahkan tidak mengerti kenapa mereka memberikan penghargaan ini kepada saya yang mereka sebut ‘si kecil dengan karya besar’.
Ketika itu saya hanya mengatakan, “Sekecil apapun amanah yang kalian dapatkan, tolong … lakukan dengan seharusnya.”

Nopember 2011
“Organisasi itu bikin capek, hanya nambah masalah, bohong kalau orang bilang organisasi itu untuk melepas penat selepas kuliah. Jika kamu tidak terlalu siap untuk menghadapinya, amanah itu malah akan menjadi boomerang. Jadi kamu harus ingat, kita disini mengabdi, bukan sekedar berorganisasi.”
Saya mendengar perkataan Kang Sayyidi dengan seksama ketika kita tengah menyelesaikan semua pekerjaan menjelang Kongres.
“Saya juga memikirkan hal itu ketika saya mau daftar BEM, Kang. Kenapa ada orang yang mau menjadi aktivis, membuat dirinya lelah dengan hal-hal yang sebenarnya bisa dia tinggalkan.”
“Karena ada hadis yang menyebutkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya. Itu jawabannya.”

Seperti itulah deskripsi tentang saya juga motivasi saya masuk BEM Kema, selama satu tahun dengan orang-orang luar biasa saya diwarisi banyak hal oleh mereka dan afiliasi saya untuk hal itu adalah saya masih ada di BEM Kema ketika mereka kembali. Salah satu nasihat yang masih terngiang adalah, “Ketika kita bisa melakukan banyak hal maka maksimalkan apa yang bisa kita lakukan.”

Target yang ingin dicapai di BEM Kema

Bertanggung jawab dengan program Kominfo yang setiap tahun pekerjaannya selalu dipertanyakan membuat saya tertantang. Apa saya akan meninggalkan BEM Kema begitu saja? Apa saya akan membiarkan Kominfo kembali menjadi departemen yang pekerjaannya selalu dipertanyakan? Komunikasi dan Informasi adalah nafasnya organisasi, saya yang sudah satu tahun berada di Kominfo tahu bagaimana abecede-nya Kominfo, sehingga merasa bertanggung jawab untuk membuat Kominfo menjadi suatu departemen yang stabil. Itu target saya, karenanya saya memilih masuk Medfo.
Jika boleh memilih, saya tidak ingin memegang Medfo, tapi ada satu pikiran yang membuat saya tertarik tetap berada disini yaitu ketika saya berada di Medfo maka saya akan menjamah seluruh kementerian. Kementerian mana yang tidak membutuhkan Media dan Informasi?
Program yang ditawarkan

Sepuluh program yang dimasukan ke dalam program kerja, beberapa merupakan inovasi program lama.
1. Open House, dalam program ini dianjurkan OH tidak dilaksanakan hanya dalam satu hari dan setiap departemen memiliki brosur produk proker unggulan.
2. Baligho, spanduk, pamflet, dan leaflet.
3. Road to Media (Pikiran Rakyat, Republika, percetakan, dan radio-radio)
4. Makan-makan; Mari Ramaikan Mading Signifikan (mading internal BEM), Pakom Univeritas dan Fakultas (mading eksternal BEM)
5. Document Trail (berupa foto, publikasi media, dan notulensi)
6. So Swit; Saturday Online, Share With Tanri (pengganti ngobras, ngobrol bareng sayyidi, dalam program ini mengadaptasi dari program #satnite anak UI)
7. KOAR; Kema On Air Radio, program yang juga diajukan oleh Tifah FKG 2010.
8. SMS Center (bekerjasama dengan provider), dalam program ini satu minggu sekali harus menghubungi para ketua lembaga (Fakultas, BSO, dan UKM) untuk menjaga komunikasi meski hanya menanyakan kabar atau kegiatan apa yang sedang dilakukan.
9. IT Center (Facebook, Twitter, YM, dan Web), tahun ini memperbarui email BEM dengan kema@unpad.ac.id
10. Interval 21 dan Buletin kang Uun (lanjutan tahun kemarin)

Beberapa program yang harus dilaksanakan namun bukan bagian dari program kerja, melihat dari tahun kemarin Kominfo memiliki 15 proker dan itu membuat penilaian dari BPM menjadi banyak minusnya.
1. Pendampingan publikasi untuk kepanitiaan, kajian, dan aksi (turunan dari proker nomor 2)
2. Menyimpan nomor kontak media massa (turunan dari proker nomor 3)
3. Menyimpan nomor kontak ketua lembaga dan simpul massa (turunan dari proker nomor 8)
4. Mengikuti setiap kegiatan BEM Kema Unpad dan mendokumentasikannya melalui foto dan tulisan (turunan dari proker nomor 5)
5. Membuat company profile BEM Kema Unpad (turunan dari proker nomor 1)
Program lain menyusul dalam rapat.

Mimpi untuk BEM Kema

Saya ingin orang lain tahu, merasakan, dan mengerti bahwa BEM Kema ada untuk seluruh mahasiswa Unpad. Saya ingin orang yang mencemooh BEM Kema merasa malu karena ternyata seluruh mahasiswa Unpad mengakui BEM Kema Unpad sebagai lembaga professional yang bekerja melayani mahasiswa dan masyarakat. Saya ingin orang-orang yang bergabung di BEM Kema hanya menyisakan kesan yang menakjubkan mengenai BEM Kema, bahwa BEM Kema adalah organisasi yang memberikan mereka banyak berkah juga kepengurusan yang solid.
Seorang senior pernah menuliskan testimoninya pada saya, “Berjuanglah bukan hanya untuk diri sendiri, niscaya kamu akan menjadi seorang pahlawan yang besar.”
Maka, izinkan saya menorehkan kepahlawanan saya di BEM Kema Unpad
Jatinangor, 23 Desember 2011

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…