Skip to main content

Seperti Bermain Musik

Sepertinya sekarang saya sedang jenuh-jenuhnya dengan segala hal. Entah apapun itu, organisasi, kuliah, keluarga, persahabatan. Sepertinya saya tengah ingin menarik diri dari sesuatu. Padahal itulah yang membuat saya hidup.
Bisa dibilang sekarang saya lagi lebay, memang biasanya saya lebay kan. Tapi asli, otak saya ga tahu gimana kerjanya sekarang. Stuck abis lah!

Sekarang saya sedang ada di Fikom, Selasa kemarin saya ada di Jakarta, dan Selasa kemarinnya lagi saya nangkring di Fisip. Oh, sepertinya mata kuliah hari Selasa memang sangat menantang dan memerlukan komitmen yang tinggi. Nah, saya memang tersesat disini karena ini adalah Fikom, tempatnya anak-anak sosial yang katanya borjuis, hedonis, dan yang kaya2 gitu dah pokoknya. Setiap wajah yang masuk kampus ga ada roman-roman semangat kuliahnya. Jadi ingat pas saya ada acara keliling fakultas, itu yang namanya FMIPA bahkan Faperta di kantin aja pada bawa-bawa buku, jadi kantin itu udah jadi tempat belajar bukan tempat makan. Mungkin karena mereka memang ga punya tempat belajar kali ya. Sudah pasti itu terlihat di FK, di meja hanya ada buku bukan makanan. Ah, mahasiswa.

Nah, saya juga mahasiswa! Seharusnya saya bisa semangat seperti mereka. Tapi sulit! Mungkin memang karena saya ga niat kuliah dari awal. Jangankan jadi mahasiswa berprestasi, dikenal dosen saja tidak.
Padahal sesulit apapun langkah yang akan dihadapi kalau kita enjoy rasanya itu tidak akan jadi masalah. Ibaratkan memainkan musik, begitu banyak not-not dan nada yang harus dipatuhi tapi kita memainkannya dengan enjoy jadi aturan sesulit apapun tentu saja dapat dilalui.

Jadi, karena saya memang menyukai musik maka analoginya adalah, kenapa bisa saya frustasi hanya karena harus memainkan musik sesuai dengan nada yang berlaku??

Oh, ayolah, Sar. Enjoy it!

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…