Skip to main content

Jadi Notulensi di Rakornas BEM SI ^,^


Minguu, 2 Oktober 2011            
Jam setengah 6 pagi HP saya sudah bergetar rame. Dua kali telpon dari Teh Fae ga keangkat, saya heran ada apa Teh Fae pagi begini nelpon. Ada dua jadwal yang saya batalkan hari ini, pertama adalah seminar Myelin 3 dan yang kedua adalah pernikahan Yani, teman Tsanawiyyah saya. Saya sengaja membatalkan keduanya karena entah kenapa saya merasa perlu istirahat, maklum lah seminggu saya ikut keliling fakultas untuk acara Koma dan akhirnya selalu pulang Magrib, saya ngerasa bahagia aja rasanya bisa full satu hari di rumah.
Jadi, ada apa Teh Fae menelpon?

“Kenapa Teh?” Tanya saya ketika HP saya berdering lagi.
“Sar, lagi ada di mana sekarang?”
“Di rumah. Ada apa, Teh?” Lanjut saya.
“Hari ini ada agenda ga?”
Agenda? Banyak. Ngerjain tugas, nyuci baju, tidur siang, baca novel, nonton film. Fyuuuuh...
“Tadinya mau ketemu Pak Timbul, Teh. Tapi kan ga jadi. Kenapa, Teh?”
Siiiing. Suara telpon terputus-putus dan akhirnya sambungan telpon pun benar-benar putus. Saya memeriksa sinyal HP saya, memang parah betul sinyal esia di Cicalengka! 
Ternyata saya ga tenang juga, habisnya kenapa Teh Fae dengan sengaja nelpon, kenapa ga SMS aja? Saya intip HP saya yang lagi pelit sinyal itu, ga ada tanda-tanda ada SMS masuk. Penasaran, ada apaan sampai Teh Fae harus menelpon lintas operator gitu. Akhirnya dengan ragu dan penuh keraguan yang meragukan, saya SMS Kang Sayyidi. Kenapa ke dia? Karena setelah HP saya raib, nomor petinggi yang saya punya hanya Teh Fae, Teh Kantry, Teh Dika, Kang Are, dan Kang Sayyidi. Jadi kenapa Kang Sayyidi yang saya SMS? Ga tahu atuh, pengen aja weh, biar akunya ga kaku aja ke dia.
‘Kang, tau ga Teh Fae dimana? Tadi dia nelpon tapi putus.’
Dan balasannya.
‘Saya ga tahu. Tapi saya sedang ada di FK, sini aja.’
Belum saya menanyakan ke Kang Sayyidi ada acara apa di FK, Teh Fae nelpon lagi.
“Sar, tadi kamu nelpon Sayyidi ya?”
Glek, kaget digituin. Berasa saya kerajinan amat nelpon Kang Sayyidi. “Nggak, Teh. Cuma SMS nanyain Teteh dimana.”
“Iya, Sar. Bisa ke kampus ga sekarang? Ada pertemuan BEM SI di FK.”
Ooooh, pertemuan BEM SI toh...
“Bisa ga, Sar?”
“Emang mulainya jam berapa, Teh?”
“Jam 8 sih, tapi sekarang belum mulai kok.”
Saya melirik jam dinding. Jam setengah 9.
“Umh, saya siap-siap dulu ya, Teh. Ini juga belum mandi soalnya, paling jam 10-an, ga apa-apa ya?”
“Iya, ga apa-apa Sar. Ditunggu ya.”
Klik. Telpon mati. Dan saya termenung memasuki kamar. Melirik agenda weekend yang tertempel di dinding kamar, tanggal 2 Oktober hanya ada tulisan Myelin 3, Nikahan Yani, ke Erlangga, atau Home. Dan ternyata saya mendadak harus ke FK untuk pertemuan BEM SI. Saya katakan mendadak karena pertemuan ini pasti memang mendadak, Teh Fae saja bilang 3 hari yang lalu kalau minggu ini dia kosong dan sekarang mendadak ada pertemuan BEM SI di FK Unpad. Dan kenapa saya iya iya saja ketika disuruh datang? Ga tahu atuh ya. Udah tahu saya mah penurut kalau disuruh apa-apa.

Akhirnya saya sampai jam 09.45 ketika itu, bertemu dengan Teh Tya dan Teh Vivin di depan Sekre. Saya menghampiri mereka dan basa-basi sebentar.
“Di FK ya, Teh?”
“Iya, di SC-nya ya, Dek.”
Saya mengangguk.
Teh Tya dan Teh Vivin pergi membawa konsumsi dengan memakai motor dan saya berjalan kaki. Meskipun saya berjalan kaki ternyata saya sampai ke SC FK bersamaan dengan mereka. Kenapa ya? Saya juga ga tahu kenapa saya bisa berjalan secepat ini, sampai Teh Vivin mengira saya naik ojeg ke FK.
“Berarti jalan kakinya semangat banget ya, Sar.”
“Ah.” Saya gelagapan. “Ga juga sih, kebetulan aja hari ini belum lari pagi.” Jawab saya asal.
“Kenape telat, lu?” Itu pertanyaan pertama yang muncul dari Kang Iqbal.
“Orang dikasih tahunya juga telat.” Jawab saya.
“Isi daftar hadir nih.” Kali ini Kang Ucen yang ngomong.
Sejak saya lebih rajin mengikuti kegiatan eksternal, saya memang lebih dekat dengan teman-teman Deplu dan KP, hanya saja sayangnya saya masih jarang mengikuti kegiatan PKM.
Saat mengisi daftar hadir, keluarlah orang yang dari subuh sibuk nelponin saya. Teh Fae. Tanpa basa-basi dan kesepakatan bersama, saya ditunjuk untuk menjadi Notulensi. Saya melirik teman-teman BEM lainnya. Parah! Ga ada angkatan 2010 selain saya dan saya akan ada di depan untuk menjadi notulensi. Sarapan apa saya tadi pagi?
Pesertanya tidak terlalu banyak meski memenuhi ruang rapat di SC FK. Ada dari Unila, ITB, ITS, Undip, Unnes, UGM, UNJ, IPB, UB, SEBI, dan Yarsi. Teh Fae menjadi MC, Kang Ucen menjadi Qori, dan Kang Dini jadi moderator.
Ketika Kang Sayyidi menyampaikan pemaparannya, beliau menyinggung mengenai perpecahan mahasiswa pasca Deklarasi Siliwangi. Oh, untunglah saya hadir saat itu karena secara tidak langsung Kang Sayyidi megklarifikasi kepada saya mengenai permasalahan saya yang dianggap bagian dari BEM SI dengan Hima Persis Bandung Raya. Saya juga menjadi lebih paham mengapa BEM SI tidak mengambil langkah untuk menurunkan SBY.
Teman-teman dari IPB memaparkan mengenai audiensi mereka dengan Pak Misbahun dan Pak Suswono yang masing-masing membahas mengenai kasus century dan harga pangan. Selain iut teman-teman dari IPB juga mengajukan nama Senat Hukum Atmajaya yang ingin bergabung dengan BEM SI.
Ada lagi teman-teman dari ITS yang mengatakan bahwa mereka akan turun aksi pada tanggal 20 Oktober dengan atau tanpa nama BEM SI dan jika tidak ada kejelasan dari BEM SI, maka BEM ITS akan berpindah ke BEMNUS tapi ternyata hal itu tidak akan mereka lakukan karena adanya ketidakadilan dalam pembagian peran di BEMNUS. Hmm, ada-ada saja, patut dipertanyakan dong ya loyalitasnya mereka.
Yang menarik adalah pembahasan dari FP mengenai hasil survey. Dari pihak FP menyatakan kekecewaannya kepada BEM SI karena ada beberapa yang telat mengumpulkan survey bahkan ada yang belum mengumpulkan sama sekali. Beliau mengatakan bahwa Deklarasi Siliwangi harus dibuktikan bahwa itu adalah atas nama rakyat, bukan hasil kajian. Eh bentar dh, kayanya tulisan saya formal amat ya kalau udah ngomongin rapat hahaha. Biarlah ya, kita mah fleksibel sajalah.
Pembahasan berlanjut hingga mereka memikirkan gerakan yang akan diusung pada tanggal 20 Oktober nanti. Sementara teman-teman BEM meributkan isu, teman dari UNJ  keukeuh ingin membahas teknis lapangan hari itu juga. Ada hal lucu ketika pembahasan ini, Kang Dini yang mendadak ingin ke kamar mandi meminta Kang Irfan untuk menggantikannya. Kang Irfan yang bingung karena tidak mengikuti jalan diskusi secara keseluruhan, tiba-tiba bertanya, “Oke jadi sekarang siapa setuju untuk turun aksi dan siapa yang tidak?”
Nah loh, asli saya juga pengen ketawa waktu itu, pasalnya seisi ruangan sudah setuju aksi, yang jadi permasalahan hanyalah isu apa yang mau diangkat dan kapan mau membahas teknis lapangan. Untungnya Kang Irfan masih bisa menguasai situasi dan mengoreksi kengacoannya.
            Pembahsan tema ini mencapai klimaks ketika seorang teman dari BEM IPB menggertak mereka dengan ucapan BEM SI yang isinya mahasiswa intelek semua ternyata tidak bisa memutuskan tema. Selain ramai membahas tema yang akan diangkat pada aksi tanggal 20 Oktober mendatang, mereka juga ramai membahas apakah koalisi dengan EGM lain atau tidak, lalu press release dan pernyataan sikap yang hanya ada pada Korpus dan Humjar, juga pembahasan mengenai jumlah massa yang akan mereka pertaruhkan. Halah kaya main togel aja ya.
Kalian bisa bayangkan lah ya bagaimana jika para aktivis BEM Seluruh Indonesia berkumpul untuk membahas suatu perkara. Sumpah! Saya berasa lagi nonton acara Metro TV atau TV One yang udah mah pembahasannya ngejelimet, istilahnya pada aneh, dan cara ngomong mereka yang naik turun itu loh. Mantap dah.
Jadi teringat Rakornas BEM BR di Polban, saya yang hadir sebagai pelengkap itu memang murni hanya menjadi pemerhati. Namun, dua orang teman-teman Polban yang menjadi moderator dan notulensi akhirnya kena getahnya karena kebingungan dengan sistematika pembahasan teman-teman BEM BR. Akhirnya sang moderator berdalih bahwa dia masih angkatan 2010 jadi tidak tahu apa-apa.
Nah loh, saya juga ga tahu apa-apa dan mendadak jadi notulensi. Saya pun menepuk dada kiri saya dan berbisik, “All is well ... all is well ...
Alhamdulillah, tugas saya sebagai notulensi pun lancar meski ada hal lucu saat saya menuliskan keputusan akhir dalam penentuan isu. Ketika saya seharusnya menuliskan “Pemerintah Gagal, Turunkan SBY” saya malah menghilangkan koma dan menggantinya dengan kata sambung. Sudahlah, hal sepele itu mah, mereka juga malah ketawa aja ngeliatnya.
Ketika pertemuan sudah selesai dan diakhiri dengan penyiraman Kang Randi dengan gula bubuk kue salju (nah loh?), saya berdiri di depan SC memperhatikan teman-teman BEM SI yang berpamitan, hingga saya melihat Kang Dalu dari ITS ngobrol sama Kang Iqbal dan Kang Roni.
“Angkatan berapa?” Kang Dalu menunjuk Kang Iqbal dan Kang Roni.
“2009.” Dua-duanya menjawab kompak.
“Kamu?”
Saya yang ditunjuk tiba-tiba tergagap sebelum menjawab, “Eh... Saya ... Sepuluh.”
“Oh, 2010?” Ekspresi heran yang biasa muncul ketika tahu saya angkatan 2010. Ayolah, apa muka saya kelihatan seperti aktivis 98??
“Apa tidak kaget ya melihat kelakuan senior-senior kamu ini?” Ujarnya sambil tertawa kecil.
“Umh ...” Saya mengangkat bahu. “Yang saya lihat kan ga jauh beda sama perdebatan yang suka ada di berita-berita TV.”
Kang Dalu nyengir. “Nanti lanjut di BEM kan?”
Kan? Kenapa harus pake embel-embel ‘kan’? Hmm ...
“Entahlah. Masih mencari jawaban yang terbaik.” Jawab saya so bijak.
Kita pun pulang berjalan kaki menuju gerbang pejalan kaki. Huft, hari ini begitu banyak hal baru yang saya dapatkan, khususnya dari BEM SI. Semakin saya mengenal BEM, maka semakin sulit pula membiarkannya berlalu. Saya sudah diajak ke BEM BR, disuruh ikut Purnabakti Bagir Manan, dan sekarang pertemuan BEM SI. Rasanya tidak mungkin saya berhenti di BEM hanya tahun ini saja. Ah, dilema kan ...
“Teh Fae, makasih ya udah ngajak-ngajak saya.” Akhirnya itu yang bisa saya ucapkan ketika berpisah di depan gerbang.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…