Skip to main content

Mana Ada! Masa Saya Kena Liver??!


Kaget ya, iya saya juga kaget waktu nulis ini. Kok judulnya gini sih. Oke, ga usah dibahas, coba dengerin dulu saya mau cerita apa.
Pagi itu saya apes. Oh iya, saya belum cerita mengenai hape saya yang menghilang dimakan siluman moh toha. Ah, sudahlah, memang banyak yang tidak saya ceritakan akhir-akhir ini. Ceritanya Selasar 34 ke Ciwidey, ceritanya di Fiksi Ganesha, ceritanya di RSKG Dago. Kapan-kapan lah ya itu mah, atau ntar kalau lagi mood nulis.


Lanjut ...
Kenapa pagi itu saya apes? Ceritanya karena ga tahu jadwal (kan ga ada yang ngejarkom da ga ada hape), saya so pake insting kalau masuk tuh jam 8 pagi. And then, saya berangkat jam 7 dari rumah tapi ketika sampai di kampus ternyata eh ternyata judi itu haram (udah tahu, basi) ternyata masuk kuliah itu jam 10 wahai saudara-saudara yang bersaudara.

Oke, tak masalah. Yang bermasalah adalah saya tidak membawa laptop ke kampus. Tapi setidaknya saya bawa buku bacaan, jadi seharusnya tidak ada masalah. Ah, tetap saja ada masalah, saya kan siluman kampus, si bolang, bocah menghilang, dan rentetan julukan lainnya yang menandakan bahwa saya adalah makhluk invisible di kampus karena jarang terlihat eeeeh tapi sekarang saya malah nangkring di kampus dari pagi.
Menyebalkan!

Singkat cerita, kuliah udah masuk nih. Bu Wiwi yang ngajar, dosen yang sangat mudah tersinggung dan sangat mencintai bahasa Sunda. Bukan, bukan kuliah dia yang ingin saya ceritakan tapi Ibu satunya lagi yang masuk jam 11, siapa namanya ya saya lupa. Pokoknya dia menjelaskan mengenai  Asuhan Keperawatan Penyakit Anemia. Saya yang emang buta medis nyeletuk (untung pelan), “Kok ngebahas anemia? Bukannya kita lagi sistem Imun.”
Uphi yang duduk di sebelah kiri saya langsung mengoreksi, “Immunology dan Hematology System.”
“Hubungannya sama anemia?”
“Kan hematology.”

Saya mengerutkan kening. Ga mungkin lah ya saya nanya emang hematology itu apa, bisa ketahuan lah kalau SMA saya jauh dari peradabaan dunia ilmu IPA yang kental disini. Sampai akhirnya saya tahu bahwa Hematology itu adalah ilmu tentang darah. Bodo amat sih ya, bukannya pas tahu kalau saya dapet Imun sama Hemato dari KRS-an ya harusnya saya nyari tahu dulu apa itu Imun sama Hemato. Sudah, sudah, ga guna juga ngomongin kedunguan sendiri.

Di tengah perkuliahan, awalnya si Ratih iseng mainin tangan saya (emang mainan ya), sampai akhirnya dia ngerasa heran sendiri. “Sar, tangan kamu putih banget sih?”
“Ga pernah ada yang bilang tangan aku item kok.”

Ciee, sombong. Bukan gitu, tapi asli kulit aku emang putih, kalau wajah sih itu bisa dimanipulasi dengan dandanan ondel-ondel. Sebenarnya dulu saya lebih putih, makanya kalau bertemu dengan teman SMP, komentar mereka hanya dua tentang saya, ‘Makin kurus dan makin item.’

Tapi sekarang masih banyak yang bilang kulit saya putih, termasuk adik saya sendiri yang kadang malah berteriak histeris kalau liat saya pake celana pendek. “Teteh ... kok putih banget sih.”

Emang ada yang salah? Ya nggak sih, tapi keluarga saya kebanyakan memang pada item. Termasuk babeh sama mamih (lebay) emang ga ada yang putih-putih amat, kakak saya juga ga ada yang putih (tapi mereka bercahaya, kan keluarga ‘nur’). Tapi yang diherankan Ratih bukan itu, dia bilang. “Sar, urat-urat kamu jadi keliatan jelas ih. Serem.”
 “Yee ... tetep aja ada kulitnya. Ngapain serem, orang aku bukan zombie.”
Ratih malah manyun dan ngeliatin Uphi. “Phi, liat deh tangan kamu. Bandingin sama punya Sarah.”
Uphi yang memang berkulit putih nurut aja lagi nyodorin tangannya dekat saya dan langsung nyeletuk. “Si Sarah mah putihnya pucat kekuning-kuningan.”

Apa itu? mana ada warna pucat kekuning-kuningan.
Dan ternyata ada. Ibu –yang saya lupa namanya- itu secara kebetulan ikut nyeletuk ngomong warna kulit kekuningan (bukan kebetulan sih, kan ada Allah, jadi maunya Dia). Dia bilang warna kulit pucat kekuningan adalah tanda pasien anemia.

Hanya salah satu tanda. Saya ga terlalu khawatir. Tapi ketika dibahas terus, oh tidak. Untuk pucat, memang saya akui tiap saat wajah saya selalu pucat, saya berani mengatakannya karena banyak yang mengatakannya pada saya, “Sar, pucet banget sih, belum makan ya, bangun tidur ya, abis begadang ya, ga punya duit buat makan ya (lha?).”

Ciri selanjutnya adalah mata berkunang-kunang secara tiba-tiba. Ini juga sering sih, terakhir itu ketika bikin kue lebaran di Garut, sekitar seminggu yang lalu. Saya yang berjam-jam nekunin tuh adonan kue, tiba-tiba berdiri dan langsung terasa GELAP! Waktu itu saya langsung menutup mata dan memegang kursi, Mama yang pasti menyadari ada yang ga normal di anaknya yang emang selalu bersikap ga normal ini langsung nanya, “Kenapa?”
Waktu itu kejadiannya memang sekejap, makanya saya langsung jawab. “Emang kenapa?” (ga sopan banget sih ya :P) dan pergi ke kamar.

Lalu ciri lain adalah lemas, lesu, dan selalu merasa lelah. Nah, saya emang suka keliahatan lebay so kuat padahal asli capenya nauzubilah. Kalau saya mengeluh ‘lelah’ di depan para aktivis atau periweuh lainnya saya pasti langsung dikasih nasihat kalau kelelahan ini ga berarti apa-apa, kalau kelelahan ini adalah jalan menuju lillah, kalau kelelahan ini dan kelelahan itu dan sebagainya, padahal maksud ‘lelah’ disini adalah lelah fisik yang sebenarnya. Bisa dibayangkan, gadis mungil berusia 19 tahun dengan BB 40 kg dan TB entahlah ini loncat kesana kemari kaya kancil.

Dan ciri yang paling membuat saya miris adalah anoreksia. Kami belum belajar mengenai anoreksia tapi saya sudah pernah membacanya di majalah wanita. Anoreksia itu semacam kekurangan nutrisi karena diet atau lainnya dan menyebabkan si penderita jadi kurus dan ga nafsu makan. Untuk kurus dan ga nafsu makan memang saya mengalaminya, tapi untuk diet ga mungkin lah ya saya nyiksa diri kaya gitu. Well, entah sejak kapan saya ga nafsu makan, tepatnya ketika lapar banget maka dengan makan sedikit saja saya selalu mudah merasa kenyang.

Jadi bagaimana? Saya kena anemia gitu?
“Phi, anemia bukan penyakit yang berbahaya kan? Kayaknya biasa aja ya?” Tanyaku lugu.
“Kalau kenanya anemia normositik normokrom ya bahaya.”
Saya memandangnya dengan tatapan ngomong-apa-sih-lo, susah sih ya ngobrol sama mahasiswa yang semester pertamanya aja dapet IPK 3,7. Ckckck.

Saya memandangi tangan saya yang lama kelamaan jadi terasa berwarna kuning. Mungkin sugesti, mendadak tangan saya terasa jadi kuning pekat.
“Kalau ga anemia ...” Uphi melanjutkan. “Paling liver.”
Entah bercanda atau tidak, tapi saya asli kaget dengernya. Masa liver sih? Semuda saya? Atau mungkin ini perjalanannya (menuju akhirat. Hush!), lagi pula teman saya uga pernah kena hipertensi di usianya yang 14 tahun tensiannya 300!! Dan dia langsung divonis gagal ginjal di usia semuda itu hingga kini sudah mau 6 tahun melakukan cuci darah. Nggak ah, masa muda saya masih terlalu asik untuk dihabiskan di Rumah Sakit.

Saya tahu bahwa ayah saya meninggal karena liver dan paman saya juga meninggal karena penyakit yang sama, katanya itu penyakit turunan. Kalau ayah saya mendapatkan penyakit itu menurun dari orangtuanya, jadi dia menurunkan penyakit itu pada anaknya yang mana? Apa ini sebabnya hanya saya anak ayah yang berkulit putih pucat kekuningan?

Ah, tidak. Saya tidak boleh kena liver!

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…