Skip to main content

Pak Urip Rahayu; Ayah Saya di Kampus

IPK ... IPK ... Oh, IPK ...
Sekarang pikiranku dipenuhi oleh euforia IPK setelah satu bulan rehat dari segala yang berbau Unpad dan perkuliahan yang memuakkan. Aku tegang, bagaimana tidak, sepertinya dari seluruh mahasiswa keperawatan angkatan 2010 hanya aku saja yang tidak tahu nilai. Ini semua gara-gara sistem permintaan nilai via SMS dan aku ganti nomor tanpa memberi tahu SBA.

Oke lupakan, aku sudah berjuang jauh-jauh ke Jatinangor untuk memberitahu pergantian nomor hape dan akhirnya aku mendapatkan nilai yang siap dicaci maki oleh ibuku yang merasa tidak mempunyai anak yang bodoh. Aku terpuruk di mata kuliah Basic Science Nursing III, akh terkutuklah!
Itu membuatku tidak bersemangat untuk KRS-an.


Oh, Rektor ... Kenapa harus ada KRS-an? Kenapa harus ada perwalian? Huwaah. Aku merasa jadi tersangka utama dalam penghancuran prestasi seorang Sarah Nurul Khotimah.
Oke, biar aku ceritakan. Semester kemarin aku mendapatkan IPK yang menyedihkan, setidaknya bagi aku pribadi. Aku rasa ini semua gara-gara kakak aku yang juga sama-sama di Unpad mendapatkan IPK 3,8. Dan aku tidak sampai nilai itu! Fyuh.

Aku panik. Seumur-umur aku tidak pernah mendapatkan nilai sejelek ini. Aku berada di komunitas orang-orang bodoh di angkatan. Lebay. Coba pikir! Dulu, saat aku menjadi peringkat dua di kelas saja, Mamah selalu bertanya, “Kenapa tidak ranking satu?” Oh, God. Terima kasih telah memberi seorang ibu yang seperhatian itu. Poor!

Kepanikan mulai membludak saat perwalian. Aku menangis di depan dosen waliku namanya Pak Urip Rahayu.
“Ada apa, Sarah?”
Aku tidak menjawab. Menunduk. Menggeleng. Mengigit (tentu saja menggigit bibirku).
“Kau tidak puas dengan nilaimu?”
Tentu saja!
“Ada masalah?”

Dicecar seperti itu curhatanku jadi membanjir bak ATM rusak. Tentang hobiku. Cita-citaku. Ideologi yang bersarang selama ini. Tentang permintaan keluarga. Tentang sekolah. Dan tentang tidak mengertinya kenapa aku sampai ada di Fakultas Keperawatan.
“Jadi kamu suka menulis? Sudah membuat berapa buku?”
Aku terpaku. Aku memang suka menulis, tapi aku belum pernah membuat buku, tepatnya buku solo. Semua yang aku tulis adalah buku antologi.

Akhirnya mengalirlah semua petuah dari Pak Urip yang mengakibatkan teman-teman yang juga sedang perwalian jadi berlangsung lama. Tri, Karin dan Eva. Mereka juga merupakan mahasiswa didik Pak Urip dan entah mengapa mereka tidak pernah bicara banyak. Beda denganku yang bercerita panjang lebar seperti Bung Tomo sedang orasi.
Hari itu pun Pak Urip menyarankan agar semester depan aku pindah jurusan. Aku disarankan untuk mengikuti SNMPTN lagi. Saran yang sungguh menantang.

Kini, saat IPK-ku hanya naik 0,21 dengan IP sebelumnya dan aku masih bertahan disini tanpa mengikuti SNMPTN lagi adalah sebuah kekalahan telak bagiku. Tapi aku harus menghadap Pak Urip. Harus! Jika aku masih mau belajar di fakultas ini. Oke, aku harus pastikan tidak ada air mata.

Tri dan Karin ternyata telah menyelesaikan perwalian mereka kemarin jadi tinggal aku dan Eva. Hanya saja skenario menghendaki aku perwalian seorang diri, karena Eva menjadi fasilitator ospek. Well, aku memasuki ruangan Pak Urip. Sendirian, dan aku  merasa horor.

“Sarah ...” Pak Urip mengenaliku. Tentu saja, mahasiswa didiknya pasti tidak terlalu banyak apalagi yang menangis saat perwalian mungkin hanya aku saja.

Panjang kami berdialog setelah Pak Urip melihat nilaku. Dia terlihat khawatir dan berkali-kali menggumamkan kalimat Basic Science in Nursing III yang merupakan nilaiku yang paling tidak diharapkan. Dia terus-terusan bertanya, ada kendala apa? Dimana yang sulit? Hingga akhirnya dia bertanya kenapa aku tidak mengikuti SNMPTN lagi. Oh, Pak Urip it’s complicated! Aku tahu aku tidak secemerlang mereka yang jenius disini, hanya saja entah kenapa aku merasa ingin tetap mempertahankan takdir ini dan menantang semua tantangan yang ada. Lebay lagi.

“IPK memang bukan jaminan seseorang akan sukses.” Ujarnya. “Tapi kamu sendiri yang harus menjamin bahwa kamu akan sukses. Semua ada pada softskill dan kamu punya itu. Hanya saja, saya merasa bahwa kamu akan sukses jika kamu mengikuti kata hatimu yang tidak ada di tempat ini.”
“Saya tahu.” Aku mengatakannya sambil menunduk. “Sekarang saya nobody disni tapi saya akan berusaha menjadi somebody. Mungkin tidak secepat teman-teman saya tapi saya merasa tertantang. Entahlah, mungkin saya hanya so atau gengsi tapi saya ingin tetap disini.”

Pak Urip akhirnya mengangguk dan memandangku lekat. “Bagus. Kamu sudah bisa berpikiran positif terhadap hidupmu. Mungkin saat ini kamu hanya sedang berputar ke bawah, saya yakin kamu bisa kembali berputar ke atas.”
Aku mengangguk meyakinkan.
“Baiklah, kamu suka menulis kan?”
“Ya.” Jawabku pelan.
“Saya ingin kamu mengikuti PKM. Kamu tahu kan PKM?”
Aku kembali mengangguk.
“PKM GT. Saya ingin kamu mencoba untuk mengikuti PKM GT.”
Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis, seperti Kang Sayyidi. Oke, aku sangat bersemangat.
“Dan yang kedua. Persiapkan dirimu untuk menghadapi persaingan student exchange.”
“Hah?” Aku kaget mendengarnya. Aku kira dia akan mengatakan acara mahasiswa berprestasi. Tapi ternyata ... Oh, tidak ... pertukaran pelajar memang selalu menjadi impianku tapi itu murni mimpi yang tidak pernah ada niat aku sentuh, dan sekarang Pak Urip menyentuhnya.
“Kamu harus menguasai Bahasa Inggris. Wajib!”

Aku hanya mengangguk sambil masih dalam keadaan kaget. Aku tidak tahu kalau Pak Urip akan seserius ini. Entah bagaimana perlakuannya pada mahasiswa didiknya yang lain tapi aku merasa antara aku dan Pak Urip sudah menjadi sumbu dan apinya yang menyulut. Dia ... mungkin, dia mungkin sekarang ada di posisi khusus di hatiku. Dia ayahku. Ayahku di kampus.

Pak Urip ... aku sangat berharap aku tidak mempunyai kesempatan untuk mengecewakanmu. Betapa banyak waktu yang kamu luangkan hanya untuk berdiskusi denganku, menumbuhkan semangat, dan meyakinkanku bahwa aku tercipta untuk menjadi seseorang yang istimewa.
Terima kasih, Allah. Karena skenariomu begitu indah.

Kamar Mahasiswa, 10 Agustus 2011.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…