Skip to main content

Totalitas dan Pengoptimalan Diri untuk Menjadi Keluarga Mahasiswa yang Berkualitas



 (Tulisan ini dikirimkan saat mendaftarkan diri menjadi pengurus BEM Kema Kabinet Sigap)
 
Sarah Nurul Khotimah 220110100134
Fakultas Keperawatan 2010

Menjadi pengurus BEM?
Bagi sebagian mahasiswa apatis mungkin merasa heran melihat sekumpulan orang berbondong-bondong berkontribusi untuk BEM. Berkumpul untuk membahas proker-proker yang harus disepakati bersama. Menjalankan kegiatan yang tidak sedikit menguras keringat.
Saat mengikuti salah satu materi masa bimbingan di fakultas, kami sempat disuguhkan simulasi musyawarah yang terjadi antara BEM dan BPM. Setelah simulasi selesai pemateri meminta kami untuk memberikan simpulan mengenai pandangan kami terhadap kegiatan tersebut. Semua memberikan opini positif, termasuk saya, rata-rata peserta memberikan pandangan bahwa mereka adalah kumpulan orang yang aktif dan menjalankan musyawarah untuk satu tujuan demi kelancaran organisasi tersebut.
Namun ada yang menarik setelahnya. Pemateri memberikan sebuah pancingan dilema untuk kami dengan menanyakan apakah kalian tidak berpikir bahwa orang-orang tadi adalah kumpulan orang-orang yang so eksis, so sibuk, ingin dikenal, belagu, dan haus kekuasaan? Tidak ada yang juga menyangkal apa yang dikatakan pemateri meski saya merasa janggal dengan tuduhan tersebut.
Lain halnya dengan penyampaian materi mabim, di sebuah acara silaturahmi keluarga persatuan islam Unpad saya kembali disudutkan sebuah pertanyaan oleh pemateri. Apa perbedaan dari aktivis dan mujahid? Ketika itu saya menjawab tentu saja objek kontribusinya. Namun dia menambahkan dengan penjelasan bahwa tujuan aktivis adalah apa yang bisa organisasi ini berikan kepada saya, sementara tujuan mujahid adalah apa yang bisa saya berikan untuk organisasi ini? Lagi-lagi saya merasa tidak puas dengan klaim seperti itu.
Selain daripada hal tersebut, kawan saya pernah memberikan saya tantangan untuk meyakinkannya dan mempromosikan agar dia tertarik pada BEM. Memang, pada dasarnya semua mempunyai persepsi masing-masing mengenai suatu organisai. Ada yang menganggap ingin masuk BEM karena BEM lebih keren daripada BPM, ada yang berpikir tidak mau masuk BEM karena pekerjaannya banyak, lebih baik masuk BPM agar tetap eksis, atau ada pula yang berpendapat untuk apa repot-repot masuk organisasi, hanya menambah beban di antara tugas kuliah dan tidak bisa pulang cepat.
Bagaimana dengan persepsi saya?
Bagi saya organisasi adalah saya, sebuah kesinambungan yang saling bertautan. Diri saya adalah organisasi, keluarga saya adalah organisasi, persahabatan saya adalah organisasi, perkuliahan saya adalah organisasi. Maka satu-satunya alasan saya tidak akan ikut BEM adalah jika pengorganisasian inti saya (diri, keluarga, sahabat, dan akademik) tidak berjalan dengan baik. Sebaliknya, jika hal tersebut sudah terorganisir dengan baik maka saya merasa saya siap untuk berkontribusi dalam BEM.
Terlepas dari opini-opini yang beredar di kalangan mahasiswa baru mengenai BEM, saya sendiri merasa BEM tengah memanggil saya, memanggil jiwa saya, memanggil bakat saya, memanggil kemampuan saya, memanggil kemandirian saya, hingga saya tidak mempunyai alasan untuk tidak mencoba mendaftarkan diri menjadi pengurus BEM.
Jika ditanya mengenai motivasi. Motivasi saya masuk BEM adalah persahabatan saya dengan waktu. Saat saya merasa kelelahan entah itu oleh kegiatan apa atau bersama siapa, maka pertanyaan yang muncul adalah ‘apakah kelelahan saya ini berkualitas?’ Intinya adalah waktu seolah mengingatkan saya untuk melakukan rutinitas berkualitas baik itu untuk diri sendiri dan sekitar saya. Melalui BEM saya percaya tidak ada suatu kelelahan yang sia-sia.
Totalitas dan keoptimalan. Mungkin itu yang akan saya tawarkan untuk BEM, terlepas dari status saya yang masih ‘mahasiswa hijau’ saya bisa mulai belajar dan membiasakan diri dengan kehidupan pengurus BEM.
Target yang ingin saya capai di BEM adalah keseimbangan BEM dalam memajukan proker. Melihat dari visi misi yang direncanakan oleh Ketua BEM Terpilih dan juga perencanaan yang sudah disusun, saya optimis bahwa kemajuan BEM mampu diciptakan, dan saya siap menjadi bagian dari kemajuan tersebut.
Untuk menjadi bagian dari keluarga BEM Kema Unpad, saya menawarkan diri untuk menjadi bagian dalam Departemen Media dan Informasi atau Departemen Pengabdian Kepada Masyarakat. Pertama kenapa saya memilih Dept. Medinfo adalah karena kemampuan dalam minat dan bakat saya ada di dunia tersebut. Sederhananya saya adalah penulis amatiran yang baru bisa menghasilkan 4 antologi buku, tapi dengan keberadaan saya sebagai peserta mentoring penulisan kelas esai di FLP Bandung saya ingin mencoba mengoptimalkan diri mengembangkan media dan informasi dalam BEM.
Pilihan kedua yang saya pilih adalah Dept. PKM. Sedikitnya sesuai dengan bidang kesehatan yang saya ambil di Unpad ini, yaitu keperawatan. Maka, saya ingin mengabdi kepada masyarakat melalui bidang kesehatan tersebut juga bidang pendidikan karena saya juga pernah menjadi guru kecil-kecilan di beberapa tempat seperti Kersamanah, Nagreg, dan Cicalengka. Selain karena alasan tersebut, jika saya menjadi anggota Dept. PKM saya bisa mengambil pengalaman dan meminta pelajaran dari kakak saya yang dulu sempat berkecimpung di Dept. PKM BEM Kema Unpad.
Ide yang bisa saya tawarkan melalui dua departemen tersebut sampai saat ini mungkin masih mengikuti kegiatan yang sebelumnya, seperti majalah interval dan taman ilmu. Setelah saya bergabung dengan BEM dan lebih mengerti tentang sepak terjang BEM mudah-mudahan saya bisa terpancing untuk memberikan program yang baru dan berkualitas.

Pondok Kaca II, 6 Desember 2010

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…