Skip to main content

_Seni Pertunjukan_


(Tulisan ini dibuat saat penerimaan anggota baru teater lakon)


            Tidak semua seni mampu diapresiasi oleh berbagai pihak, baik itu di kalangan para pecinta seni maupun yang awam terhadap dunia seni. Dilihat dari hal tersebut, timbul pemikiran perspektif bahwa seni adalah hal yang langka diminati oleh khalayak. Hal tersebut memang dapat timbul jika masyarakat tersebut terlalu menilai seni dengan bobot yang berat, karena terkadang seni tersebut dianggap rumit meski menakjubkan, ada pula yang menganggap seni hanyalah sekedar seni yang dapat kita temui sehari-hari, bernyanyi meski hanya senandung kecil itu dianggap seni, mencorat-coret hingga menjadikannya sebuah gambar itu dianggap seni, dan menari lagu apapun itu dianggap seni. Namun, pada hakikatnya seni adalah hobi, seni adalah cita-cita, dan seni adalah profesi, hingga julukan ‘para pecinta seni’ atau ‘ahli seni’ menjadi suatu gelar yang hanya mampu didapat oleh individu tertentu.
            Siapa masyarakat yang ingin melewatkan sebuah pertunjukan? Dalam keseharian dengan berbagai ragam aktifitas, seni menyuguhkan sebuah oase tersendiri karena seni itu hidup dan mampu menghidupkan. Seni apapun itu, pertunjukan seni lukis, pertunjukan seni tari, pertunjukan seni teater, akan mampu hadir melingkupi setiap orang. Dan tak perlu memiliki latar seorang seniman untuk menikmati sebuah seni. Karena seni hadir untuk pembelajaran bukan untuk dipelajari. Sehingga, masyarakat seni bukan hanya mereka para pecinta seni karena semua masyarakat adalah objek seni itu sendiri.
            Oleh karena hal tersebut, dapat dikatakan bahwa seni pertunjukan adalah wujud dari pengolahan seni yang siap untuk dikonsumsi oleh masyarakat seni dalam bentuk visual. Seni pertunjukan, hanya salah satu dari cabang ilmu seni yang mampu menghadirkan keunikan dalam setiap akses kehidupan nyata. Karena yang disajikan dari suatu seni adalah kehidupan yang dikemas dengan sisi lain yang mampu dilihat dari sudut pandang mereka yang membuat sebuah seni pertunjukan. Mereka yang mempelajari kehidupan untuk pengabdian seni, dan mereka yang mencintai seni.
            Pada akhirnya, seni pertunjukan, sebuah memosis dunia yang dirangkum menjadi sebuah karya seni adalah pekerjaan hati. Karena seni itu jiwa, dan karena seni itu jasad. Karena seni terlahir dari hati, dan karena hati bisa melahirkan seni.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…