Skip to main content

Sajak Reofilia



Enyahku pecandu gerimis
Enyahku pecandu gemericik aliran sungai
Enyahku pecandu gelombang danau
Enyahku pecandu pengisi dahaga

Ah, airku alamku
Siapa kata?

Aku tak ingin semuanya begitu saja
Tiba-tiba Kau titipkan pada mereka duka dan air mata
Mengalicau cita yang sudah terpupuk
Mengubur cinta yang sudah tertenun

Tanah Wasior terbelah
Hancur mengeringkan hamparan
Kemana air itu?
Merapi dan Mentawai berebutan melumatkan riang
Menyihir alam dengan ketakutan akan kehadiran kaldera
Dimana air itu?
Sekarang tsunami bukan wacana
Masihkah air menyejukkan?

Wahai yang diharapkan
Mereka merindukan kesejukanmu
Bagai bayi yang mengais nanah merindukan air susu ibunya

Pondok Kaca II, 22 November 2010

Diikutkan dalam antologi Kasih; Tanah, Air, Udara

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…