Skip to main content

Paradoksnya Hobi Sama Profesi

Pagi ini saya belajar Trauma Thoraks sama Pak Cecep. Serem, kita disuguhi video peperangan di Iran, intinya di video itu diperlihatkan pertolongan emergensi terhadap korban perang (medisnya tentang apa aku kaga tau). Tapi yang bikin lucu sampe aku tertarik bikin tulisan ini tuh bukan itu tapi celetukan Pak Cecep mengenai 'polisi' soalnya beliau menambahkan, "Tapi bukan polisi yang joged India itu."


Haha. Iya, sekarang di youtube lagi heboh tentang videonya Norman Kaharu yang lipsynch lagunya Chaiyya Chaiyya punya Sukhwinder sama Sapna Awasthi, pasti tuh lagu bakal ngedadak booming lagi di Indonesia. Gebrak tumila namanya :D . Yang mau ngelihat videonya bisa diklik disini.
 
Siapa Norman Kaharu?
Konon beliau adalah seorang polisi berpangkat Brigadir Satu dan udah jadi polisi selama setahun lima bulan. Terus ngapain dia joged2 sama lipsynch gitu? Katanya tuh polisi emang suka nyanyi sekaligus menghibur temen2nya yang lagi jaga piket. Tugas jadi polisi dianggap penuh penekanan apalagi dia jajaran Korps Brimob yang dibebani fungsi untuk mampu menangani situasi yang darurat2 gitu deh.

Nah, jadi kalo dipikir2 ada hasrat seni yang tidak tersalurkan dalam diri Akang Norman ini, lha kenapa dia ga jadi penyanyi aja malah jadi polisi. Apa itu berarti namanya penyimpangan tujuan hidup ya? Heu, bahasa aku banget dah. Sekarang  yang menjadi permasalahan adalah Norman ini akan diberi hukuman karena melanggar etika disiplin kepolisian, apalagi dia merekam video itu dengan memakai seragam polisi, kan jadi bisa diledekin tuh polisi-polisi pake lagu Chaiyya Chaiyya.

Saya pribadi tidak ingin begitu menanggapi masalah joged India dan hukumannya itu, tapi saya tertarik dengan hobi Norman yang berdampak pada profesinya. Kata Adrian sih dampak negatif, tapi saya ga berani men-judge demikian. (Eh belum tahu ya Adrian siapa, ntar dah diceritain). Intinya adalah Nurman kan lagi bertugas sebagai polisi dan dia nyari kesenangan dengan hobinya menyanyi itu. Dari pihak atasannya sendiri memang ga melarang nyanyi2 tapi masa pasa lagi jaga dan pake baju dinas, diupload ke youtube pula. Hajuh.

Polisi dan penyanyi, mungkin lebih tepatnya pelawak juga kali ya. Heu. Dan aku, perawat dan penulis. Ga kebayang nanti ketika saya berhasil menjadi perawat (amin amin amin), dan saya akan nyolong-nyolong waktu piket jaga pasien dengan bikin cerpen. Hahahaa, tentu saja tidak akan ada yang memberikan hukuman ataupun memecat saya hanya karena saya menulis cerpen tapi kalau itu bikin saya ga ingat bahwa ada nyawa pasien yang harus saya rawat, waaah itu perkara parah.

Di kampus, saya sudah dikenal sebagai mahasiswa penyimpangan masa depan. Kuliah di keperawatan tapi kerjannya nulis.
Mau pindah jurusan?
Tidak!
Ketika tanggal 17 Juli 2010, saat pengumuman SNMPTN, saya sudah mengikat janji bahwa 'Apa yang hari ini Allah takdirkan maka itu adalah skenario terbaik.'

So, saya akan tetap berusaha menjadi perawat (juga penulis). Dan untuk Nurman? Heu. Tetaplah menghibur, Pak Polisi.

Baiklah, sekarang saya akan SGD dulu. Kasus keempat di Sistem Respiratory, maka selanjutnya saya akan berpusing-pusing ria membuat resume seperti foto ini. Hahahaa :D


Semangat Siang :)

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…