Skip to main content

Paradigma Sastra Keperawatan


            “Materi kuliah apa nih?”
“Fundamental of Nursing.”
“Oh,” Aku duduk di pojok belakang. Aku lebih suka tempat duduk yang strategis di  belakang untuk menulis sebuah karya fiksi.
          Ya, aku adalah Si Sastra Gila. Pecinta sastra yang ditodong keluarga untuk masuk Fakultas Keperawatan.
          Bla… Bla… Bla…
          Seperti biasa lecture kali ini penuh dengan teori, karena kami baru semester satu maka yang dipelajari hanyalah pendekatan terhadap ilmu keperawatan. Baguslah, ada waktu agar pikiranku tetap menerawang jauh dari dunia keperawatan.
          “…Contohnya adalah paradigma ilmu keperawatan dan ilmu sastra…”
          Ups, baru kali ini konsentrasiku terfokus pada perkuliahan.
          “Sastra adalah sebuah ilmu,” Dosen tersebut melanjutkan, “Sementara keperawatan adalah sebuah profesi. Implementasinya adalah kebutuhan masyarakat terhadap disiplin ilmu tersebut. Masyarakat membutuhkan aplikasi dari ilmu keperawatan di dalam hidupnya, seperti membutuhkan obat, pelayanan kesehatan, dan yang lainnya. Sementara terhadap sastra, bagi masyarakat itu bukanlah sebuah kebutuhan pokok. Karena itu sastra disebut sebuah ilmu bukan sebuah profesi.”
          Aku melirik kanan kiriku, mungkin hanya aku yang bergairah mendengar kata sastra keluar di perkuliahan ini.
          “Baiklah, sampai disini ada yang mau ditanyakan atau dibagikan untuk didiskusikan?”
          Spontan aku mengangkat tanganku.
          “Ya, silahkan.”
          “Paradigma sastra keperawatan,” Entah apa yang akan aku ungkapkan, ini pertama kalinya aku berbicara dalam perkuliahan, “Aku hanya ingin mencoba mengemukakan pikiranku. Menjadi seorang perawat memang memiliki gengsi tersendiri, namun profesi perawat sekarang sudah menjamur dimana-mana, sementara pecinta sastra yang juga disebut sastrawan sangat langka ditemukan.”
Aku memperhatikan perubahan mimik penghuni aula. Aku tahu seharusnya aku lebih membanggakan profesi sendiri. Otakku berputar dalam sepersekian detik, “Namun jika kalian menjadi seorang sastrawan kalian tak akan bisa menjadi seorang perawat, sementara jika kalian menjadi seorang perawat kalian bisa menjadi seorang sastrawan.”
Tak aku duga banyak tepuk tangan setelah itu. Akupun duduk, termenung tak bisa mencerna tanggapan dosen. Aku sendiri kaget, ternyata aku juga mencintai ilmu keperawatan.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…