Skip to main content

Linglung Ongkos @.@

Sebenarnya tragedi ini terjadi pada tanggal 17 April ketika saya selesai menghabiskan waktu dengan kedua temanku di alun2 Bandung.

Ceritanya begini … aku turun di Leuwi Panjang setelah menumpangi angkot Cipatik-Tegal Lega bersama Salma. Disana aku berharap menemukan bis menuju Tasik namun nihil. Bis Tasik itu irit sekali terlihat di LP (baca: Leuwi Panjang). Ya sudah, akhirnya aku kembali menjadi Gadis Elp Sejati seperti semasa SMP.



Saya duduk di jok belakang supir yang sebenarnya tu adalah tempat duduk yang paling saya hindari. Why? Panasnya itu loh, Bo … Tapi karena tidak ada lagi tempat saya dengan sukarela menduduki ntu kursi.

Kemudian sampailah disaat paling menyebalkan, penagihan ongkos. Sumpah! Saya sudah lama tidak pake elp lagi. Sejak di Jatinangor saya selalu memakai Damri dan jika pulang ke rumah, saya pake Primajasa. Alhasil, saya mengingat-ingat sendiri berapa ongkos yang harus saya keluarkan. Yang lebih membingungkan adalah saya tidak turun di gank rumah seperti biasanya melainkan di Mlb untuk menghampiri tempat kerja FM.

Saya mengaduk-aduk isi recehan di tas saya. Lalu teringat ongkos sebesar Rp 5000,- yang selalu saya keluarkan jika turun di gank depan rumah tapi karena akan turun di Mlb maka saya akan melebihkan sebesar Rp 2000,- tapi karena ceritanya saya lagi ultah, maka ongkos saya lebihka jadi Rp 8000,- dan Pak Kondekotur itu ga banyak omong ketika saya memberikan ongkos dan berkata akan turun di Cipeundeuy.

Lama tak terjadi apapun, tiba2 tu Kenek nyolek2 lagi.
“Neng, turun dimana?”
“Cipeundeuy, Bang.”
“Kurang atuh …”
Aku tak menanggapi apa2, hanya mengerutkan keningku. Maruk amat sih nih Kenek, udah dilebihin juga.
“Harusnya mah Rp 15.000,- Neng!”
Kenek itu mengucapkannya dengan sedikit nyolot. Aku hanya menahan nafas tak bergerak (ga lama2) tapi Si Kenek langsung asik dengan aktivitasnya sendiri tanpa maksa menagih, ya sudahlah nanti saja ketika turun aku tambahkan.

Dalam perjalanan aku menghitung2 sendiri kenapa naik elp segini mahalnya hingga harus mengeluarkan kocek dua kali lipat, yaa kalau tarif agak naik juga paling beda beberapa ribu. Sambil misuh2 dalam hati aku mengingat2, jika naik elp pun biasanya tidak semahal ini. Dari Mlb ke rumah paling Rp 2000,- rumah ke Cicalengka saja sudah ditagih Rp 5000,- lalu jika dari Cicalengka ke Cileunyi paling Rp 3000,- naik angkot dan Rp 2000,- kalau naik elp tapi ini kok mahal banget ya dari sini ke Mlb.

Dari sini??
Dari sini dimana??!

Oh God! Aku baru ngeh bahwa hitung2an ongkos yang dari tadi aku bahas adalah ongkos dari Cileunyi sementara sekarang saya naik dari LEUWI PANJANG. Jelas ongkosnya lebih mahal.

Hahahaaa.
Mentang2 legi ultah, makin tua linglungnya makin menjadi yaa @.@
Sori Bang Kenek …

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Ragam Budaya Indonesia Terhadap Kesehatan

SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perjalanan dan Renungan Tentang Spiritual

Siang ini hectic. Ceritanya saya ngejar UP bulan ini tapi bimbingan aja jarang. Susah emang kalau nggak punya motivasi hidup terikat orang lain, menemui dosen pembimbing aja mengumpulkan niatnya harus jungkir balik dulu. It's time to regret. Besok pengumpulan draft tapi saya masih nguwel-nguwel proposal.

Kalau besok bisa bimbingan sama Pak Iyus, kayaknya saya bisa UP bulan ini. Kalau nggak, see you in April kayaknya.
Seperti biasa, saya keluar dari perpustakaan jam 4 sore. Nyimpen draft di meja Pak Iyus sama Pak Irman, lalu pulang jalan kaki. Karena sendirian, sepanjang perjalanan saya melamun, eh merenung. Saya akan memasukan nama Dewi Lestari dan Reza Gunawan di skripsi saya, karena karya merekalah saya membuat judul skripsi seperti ini.
Dewi terlahir sebagai Nasrani. Menjelang dewasa, dia mempertanyakan Tuhan. Saking hausnya dengan informasi mengenai Tuhan, dia mempelajari semua agama. Dalam satu hari Dewi bisa menghabiskan tiga buku tentang agama. Dari pengalaman spiritual ya…